Napas sudah mulai memburu padahal belum ada setengah jam perjalanan dari Puncak Bayangan.
Medan curam berbatu dengan kemiringan sekitar 70 derajat benar-benar membuat perjalanan yang tampak dekat ini sangat jauh.
Beberapa meter di depan saya, rekan-rekan saya juga sama-sama payahnya. Saling diam berpegangan entah pada rumput, tangkai sisa tumbuhan atau batu, mencoba mengatur napasnya satu-persatu. Berusaha memberikan semangat entah pada dirinya sendiri atau pada siapapun yang melihat, tapi tak bisa membohongi kalau jantung meronta meminta oksigen tambahan.
Kepongahan kami beberapa jam yang lalu terdengar begitu konyol. Gunung yang mudah didaki untuk pemula katanya. Ingin rasanya saya lempar batu mulut yang berkata seperti itu.
Saya mencoba melangkah satu demi satu. Kaki yang jarang berolahraga ini seolah tak mau lagi menopang tubuh yang sedikit kelebihan berat badan.
Ayo dikit lagi, Rai. Puncak udah kelihatan, bentar lagi sampe kok!
Salah seorang rekan saya berjalan lewat. Saya tahu ucapannya itu benar-benar bohong. Satu pelajaran bagi kalian yang ingin mendaki gunung, kalau ada orang yang bilang puncak sudah dekat atau sebentar lagi sampai, percayalah, sebetulnya itu masih jauh.
![]() |
| Gunung Arjuno - Welirang di seberang leher Penanggungan |
Rasa-rasanya kepuasan saat mencapai Puncak Basundara di gunung Panderman beberapa bulan lalu menguap begitu saja. Atau betapa bangganya saya bisa mencapai Ranu Kumbolo hanya dalam waktu kurang dari dua jam dari Ranu Pane, tidaklah ada apa-apanya dengan perjalanan menuju Puncak Pawitra kali ini.
Ya, Penanggungan sungguh tak membuat perjalanan ini menjadi mudah.
Hanya punya ketinggian 1.653 mdpl, bahkan kurang dari setengah tinggi Semeru yang mencapai 3.676 mdpl, Penanggungan benar-benar menempa fisik saya tanpa ampun.
Namun keinginan untuk menuju puncak lebih kuat daripada dorongan untuk menyerah. Gagal ke Mahameru karena terlalu ramai pendaki harus dibayar tuntas dengan mencapai Pawitra. Hanya itu yang ada di benak saya.
Makin ke puncak, angin berhembus makin kencang. Tidak ada pepohonan lebat seperti saat berjalan ke Basundara karena leher Penanggungan benar-benar gersang. Hanya rumput-rumput liar yang bergoyang ke sana ke mari seolah mengejek para pendaki. Saya berhenti sejenak dan mengatur napas, sedikit kaget saat ada awan-awan tipis yang bergerak berarak hanya sejengkal dari tangan saya.
Bukan, ini bukan awan.
Ini adalah kabut.
Sebuah pesan dari alam yang menjadi penyebab kenapa ’atap’ Penanggungan ini dijuluki Pawitra, puncak berkabut.
Semangat saya kembali muncul, sebentar lagi akan sampai.
Memperkuat hentakan kaki saya yang sebetulnya sudah enggan melangkah lagi, saya akhirnya bisa mencapai Pawitra.
Saya biarkan angin menembus tubuh dengan liar. Napas yang sedari tadi mau habis sudah kembali terisi penuh karena pemandangan yang terhampar di depan mata. Bibir saya tersungging penuh kemenangan tiada terkira saat berada di hamparan tanah tandus ini.
Seperti halnya orang-orang yang berhasil mencapai puncak, saya dan teman-teman pun saling tertawa. Tak peduli lagi pada angin yang berhembus luar biasa kencang sehingga sulit untuk berbicara, atau bagaimana matahari menyengat tapi sama sekali tidak terasa panas. Perjalanan kami sejak tadi malam mendaki Penanggungan sepulang dari kerja sudah tuntas dilakukan.
Dari Pawitra, saya bisa melihat dua gunung seolah kembar berdiri gagah di depan mata, Arjuno dan Welirang. Lalu nun jauh di sana, puncak abadi para Dewa itu berdiri dengan sangat perkasa, Semeru.
Dan percayalah, apa yang saya lihat saat itu meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, masih terekam dengan sangat jelas hingga detik ini.
Alasan kenapa saya akan selalu mencintai Indonesia.
Dia panasi air dalam bejana. Menyiapkan secangkir teh yang hangat. Meneduhi Bumi dengan adukan kayunya. Menemani para pengembara ~ Nugie (Pembuat Teh)
Indonesia, Alasan Kaki Harus Terus Melangkah
Salah satu teman saya pernah bilang bahwa seorang pecinta alam sejati adalah mereka yang tidak pernah naik gunung.
Benarkah itu?
Begitu pula saat dia mencibir saya dan berkata, ’Lah, baru inget sama Tuhan waktu di puncak. Emang kaki nggak bisa ke tempat ibadah deket rumah? Emang waktu ibadah di rumah nggak ketemu sama Tuhan?’
Sakit hati?
Tentu saja tidak.
Setiap orang jelas punya kegemaran yang sudah seharusnya kita tidak terlalu ikut campur. Berbincang dengan Tuhan dalam ruang-ruang doa itu adalah kewajiban mereka yang beragama dan rasa-rasanya tak perlu banyak dipamerkan saat melaksanakannya.
Namun bercumbu dengan alam dan menikmati ciptaan-Nya adalah pengalaman religius lain yang mengingatkan kembali bahwa manusia itu memang begitu kecil dan rapuh.
Seperti halnya sosok-sosok kecil yang cuma bisa memandang takjub pada keindahan di depannya, itu yang selama ini selalu saya rasakan saat menikmati keelokan Ibu Pertiwi.
Memiliki 17.504 pulau, 270 juta jiwa, lebih dari 1.340 suku bangsa, 1.916.906,77 km2 luas daratan, bentangan garis pantai sepanjang 108.000 km2 hingga sekitar 400 gunung berapi, cuma berdiam diri di rumah tanpa sekalipun pernah singgah menatap keindahan Zamrud Khatulistiwa, menurut saya adalah keacuhan atas Sang Maha Perkasa.
Mungkin benar, Tuhan menciptakan Indonesia saat sedang tersenyum.
Tak ada yang tidak kalian temukan di negeri ini.
Mau cari gunung?
Sebagai negara yang dilewati Cincin Api Pasifik, Indonesia setidaknya memiliki 127 gunung api aktif. Lempeng tektonik yang menghujam ke inti Bumi inilah penyebab gunung api berderet-deret berada di Nusantara. Ada yang bisa kalian daki seperti Semeru, Kerinci, Raung, Bromo, Merapi, Agung hingga Rinjani. Atau yang mungkin sudah ’mati’ seperti Arjuno, Argopuro, Sumbing sampai Latimojong.
![]() |
| Puncak gunung Rinjani © Trekking Rinjani |
Tak hanya lava berwarna merah menyala, Indonesia juga punya gunung dengan api biru yang cuma ada dua di dunia yang bisa kamu temukan di Ijen, Banyuwangi.
Bahkan kalau ingin melihat secara langsung gletser di Asia Tenggara dan merasakan hawa dingin menusuk tulang seperti di negeri empat musim, jamahlah tanah Papua. Beranikan dirimu menembus Barisan Sudirman, biarkan tubuhmu merasakan ganasnya Puncak Jaya atau Piramida Carstensz, tanah tertinggi di Indonesia yang menjulang hingga 4.884 mdpl itu.
Mau cari pantai?
Dengan luas perairan sekitar 3.110.000 km2, rasa-rasanya saya tak perlu banyak menjelaskan soal wisata alam pesisir di negeri ini. Kamu bisa berlarian di pinggir pantai, snorkeling hingga diving untuk menikmati surga bawah laut atau hanya sekadar menikmati cantiknya matahari terbenam ditelan samudera. Terbentang dari Sabang sampai Merauke, tak perlu dibeberkan lagi betapa termahsyurnya Bali, Bunaken, Labuan Bajo hingga Raja Ampat di mata dunia.
![]() |
| Pulau Padar di Labuan Bajo © Good News From Indonesia |
Kamu bahkan bisa menemukan pantai dengan hamparan pasir warna pink yang terletak di Nusa Tenggara Timur atau Nusa Tenggara Barat sana.
Mau cari savana dan gurun pasir?
Padang rumput luas yang jadi ciri khas alam benua Afrika ini bisa kamu temukan dengan mudah dan luar biasa memukau di Sumba Timur, Sembalun, Komodo hingga Merbabu dan Baluran.
![]() |
| Savana Bekol di Baluran © Kementerian LHK |
Sedangkan untuk gurun pasir, dua bentang alam khas Timur Tengah yang sudah saya kunjungi adalah Gumuk Pasir Parangkusumo di Yogyakarta dan Pasir Berbisik di kaki Bromo. Saya berharap ketika pandemi ini berakhir, Gumuk Pasir Sumalu di Rantebua, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan adalah salah satu wishlist yang menanti untuk diwujudkan.
Mau cari danau?
Menurut Aan Dianto salah satu peneliti LIPI, jumlah danau di negeri ini mencapai 5.807 buah dengan 1.022 di antaranya adalah danau alami dan 3.471 lainnya belum teridentifikasi. Dengan yang tercantik adalah Danau Tiga Warna Kelimutu di Nusa Tenggara Timur. Surga-surga kecil lainnya bisa kamu temukan di Danau Sentani di Jayapura, Labuan Cermin di Berau, Segara Anak di Rinjani, Bratan di Bedugul sampai Ranu Kumbolo di Semeru sana.
![]() |
| matahari terbit di Ranu Kumbolo - Semeru |
Bagaimana dengan hutan belantara?
Sebagai negara dengan hutan hujan tropis terluas di dunia, negeri ini punya 94,1 juta hektar hutan atau setara dengan 50,1% total daratan Indonesia. Tak berlebihan kalau akhirnya saya bilang, menjaga dan melindungi hutan adalah hal terpenting dari seluruh bentang alam negeri ini.
Kenapa?
Karena hutan adalah pusat seluruh kehidupan.
Tak hanya tumbuhan atau hewan, manusia bahkan bergantung pada hutan untuk hidup. Tahukah kalian kalau dalam sebuah penelitian menyebutkan jika satu pohon besar mampu menghasilkan 1,2 kilogram oksigen setiap harinya. Artinya, dua manusia bisa bernapas lewat satu pohon besar tersebut.
![]() |
| © Graphic Designer Life |
Beruntung, hutan-hutan belantara di negeri ini dihiasi oleh pohon damar, akasia, lamtoro gung, daun kupu-kupu hingga beringin yang merupakan tanaman-tanaman terbaik penghasil oksigen sekaligus penyerap karbondioksida.
Hanya saja meskipun menjadi negara dengan luas hutan terbesar kesembilan di dunia, laju deforestrasi di negeri ini selalu terjadi sepanjang tahun. Di tahun 2019 saja, ada 464,2 ribu hektar hutan lenyap sedangkan usaha untuk mengembalikan lahan ’hanya’ 3,1 ribu hektar atau sekitar 0,6% dari total deforestrasi.
Sebuah kondisi cukup miris untuk negara yang selalu membanggakan wisata alamnya.
Ketika aku daki dari gunung ke gunung. Di sana kutemui kejanggalan makna. Banyak pepohonan merintih kepedihan. Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam. Hanya untuk mengumumkan kepada khalayak bahwa di sana ada kibar benderamu ~ Ritta Rubby Hartland (Kepada Alam dan Pecintanya)
Indonesia, Zamrud Khatulistiwa yang Mulai Memudar
Bicara soal menjaga dan melindungi hutan, rasa-rasanya seperti ajakan usang yang selalu didengungkan tapi kemudian mudah dilupakan. Bahkan tak hanya hutan, sudah banyak wisata alam negeri ini yang dirusak oleh tangan-tangan manusia, para budak alam yang bersikap seolah mereka majikan.
Ambisi untuk menjadikan pariwisata negeri ini maju tampak terdengar seperti pepesan kosong karena faktanya, menjaga kebersihan dan merawat keindahan alam masihlah selalu jadi PR di sepanjang zaman.
Kamu tentu tahu saat Rich Horner mengunggah video saat dirinya menyelam di Nusa Penida, Bali tahun 2018 lalu, bukan? Alih-alih memperlihatkan surga bawah laut Manta Point, turis Inggris itu justru merekam kondisi laut Bali yang penuh sampah plastik sehingga membuat ikan pari dan ubur-ubur harus hilir mudik di antara sampah plastik melayang.
![]() |
| penyelaman sampah Rich Horner |
Atau bagaimana Pulau Sempu di Kabupaten Malang tegas melarang wisatawan masuk. Kenapa? Karena serakan sampah dan kebisingan manusia mengancam habitat satwa liar serta tumbuhan langka di cagar alam yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan tersebut.
Namun yang benar-benar menampar Indonesia adalah bagaimana sembilan ton sampah membanjiri pesisir Pantai Kuta, Bali, di malam Tahun Baru 2018 silam. Kondisi ini seolah mengingatkan satu dekade lalu saat Pulau Tidung di Kepulauan Seribu jadi booming dan membuat wisatawan berlomba mendatangi, dan akhirnya meninggalkan sampah dan mencemari lingkungan di sana.
![]() |
| sampah dan bangkai penyu di pantai Kuta © Greenpeace |
Kondisi yang cukup kronis juga dialami si cantik Gunung Rinjani. Meningkatnya hobi mendaki gunung membuat Rinjani didesaki pelancong. Berwisata tanpa merusak alam seolah hanya menjadi slogan yang cuma terucap di bibir, karena setiap harinya terkumpul 12 kilogram sampah plastik dan 20 kilogram sampah lain yang ditinggalkan pendaki, di sepanjang jalur pendakian Rinjani.
Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita ~ Ebiet G Ade (Berita Kepada Kawan)
Indonesia, Memanggil Para Pecintanya
Seandainya negeri ini adalah manusia, tentu sudah memasuki fase tua. Akan ada organ-organ yang mulai semakin lambat berfungsi, sedangkan yang muda-muda bakal menemani.
Namun sebagai sebuah negara, usia Indonesia sebetulnya masih sangat muda. Apalagi jika kamu bandingkan dengan Ethiopia yang diyakini sudah ada sejak 980 SM, Yunani yang sudah berdiri sekitar 5.000 - 6.000 tahun lalu, Portugal yang resmi merdeka pada tahun 1139, Jepang yang punya Kaisar untuk kali pertama di 660 SM, China yang memiliki Dinasti pertama di era 2070 - 1600 SM, hingga Mesir yang sudah muncul di berbagai kitab agama-agama Samawi sejak era ribuan tahun sebelum Masehi.
Dan seperti halnya usia yang masih muda, berbagai kesalahan jelas masih dilakukan.
Kita mungkin seringkali salah dan menyakiti hati Ibu Pertiwi.
Tapi kita masih belum kehilangan kesempatan untuk mencipta keasyikan berwisata tanpa merusak alam.
Saya ingat beberapa tahun lalu saat hendak snorkeling di Pantai Tiga Warna, Desa Tambakrejo, Kabupaten Malang.
Berada di kawasan CMC (Clungup Mangrove Conservation), saya dan rombongan harus melakukan reservasi dulu untuk menentukan hari kedatangan sampai jumlah rombongan yang ikut serta. Ketika memasuki gerbang utama CMC, kami harus mendata seluruh barang bawaan yang dibawa masuk dan kemudian bakal dicek saat keluar.
Kurang satu saja misalkan satu pak rokok seperti yang dialami teman saya, uang Rp100 ribu pun melayang. Denda ini diterapkan agar setiap pengunjung yang masuk ke CMC harus membawa pulang serta sampah yang mereka tinggalkan. Hasilnya, Tiga Warna mungkin jadi salah satu pantai dengan panorama bawah laut yang begitu cantik dan bisa dinikmati oleh amatiran seperti saya.
![]() |
| snorkeling pantai Tiga Warna |
Apa yang diterapkan pengelola CMC itu bukan tak mungkin bisa dilakukan oleh pengelola wisata lainnya demi mewujudkan misi berwisata tanpa merusak alam.
Lantas, langkah kecil seperti ini apakah berdampak pada Indonesia?
Sudah pasti!
Kalian harus tahu bahwa keanekaragaman hayati merupakan salah satu cara mengukur kesehatan sistem biologi. Semakin beragam organisme yang ada, semakin sehat sistem alam tersebut.
Indonesia sendiri adalah salah satu dari 10 besar negara berstatus Mega Diversities, tapi sekaligus kedua tercepat dalam hal kepunahan kekayaan hayati di Bumi ini.
Kondisi yang saling bertentangan ini sudah tentu harus dihentikan, sekarang juga. Langkah-langkah kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, sampai menjaga dan melindungi hutan adalah upaya yang bisa kita lakukan sebagai manusia, untuk membalas seluruh jasa alam sekaligus berkontribusi langsung dalam menjaga keanekaragam alam di Indonesia.
Setiap kali berbicara mengenai Indonesia, sebetulnya merupakan untaian kata cinta, sebuah renjana yang begitu tulus. Seperti kita yang mengasihi seseorang, kita haruslah melindungi dan saling berharap untuk kebahagiaannya.
Saya masih ingin melanjutkan perjalanan ke seluruh penjuru negeri, entah di puncak-puncak gunung, menyelami samudera untuk melihat surga bawah laut, menikmati suara alam di hutan belantara hingga mendengarkan bisikan angin di hamparan savana negeri ini.
Seperti itulah cara saya membalas panggilan renjana yang diteriakkan oleh Indonesia.
Kini Sang Ibu Pertiwi yang selama ini memberikan hidup untuk kita semua tanpa pamrih, membutuhkan bantuan dari seluruh anak-anaknya. Meminta perlindungan agar senantiasa asri agar dapat dinikmati generasi-generasi mendatang. Karena dengan semakin terjaganya keindahan alam Indonesia yang beragam, tentu akan menjadi sebaik-baiknya tempat kehidupan bagi seluruh makhluk di Negeri Seribu Pulau ini.
Jadi, maukah kalian mengindahkan cinta dari Nusantara?
Masihkah terbesit asa, anak cucuku mencumbui pasirnya. Di sana nyalimu teruji, oleh ganas cengkeraman hutan rimba. Bersama sahabat mencari damai. Mengasah pribadi mengukir cinta ~ Dewa 19 (Mahameru)
Sumber:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
- https://kumparan.com/kumparannews/5-tempat-wisata-di-indonesia-yang-rusak-karena-sampah
- https://www.jawapos.com/opini/20/03/2021/hari-hutan-sedunia-21-maret-hutan-untuk-kesejahteraan-masyarakat/
- https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/05/22/hari-keanekaragaman-hayati-internasional-dan-indonesia-sebagai-negara-mega-biodiversity












