| Stone Forest Tangrante © Ricky Elwarin |
Sang surya tampak malu-malu membelah langit malam bumi Celebes. Subuh memang selalu menjadi malam yang tergelap sebelum siang ganti berjaga. Bison besi ini bergerak tanpa henti dari Makassar sedari malam. Menembus berbagai lintasan buatan yang lurus, menanjak dan berkelok mulai dari Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Pinrang hingga pagi ini di Enrekang.
Sederet daerah yang tak pernah kubayangkan akan dilalui raga Jawa-Minangku ini.
Kulenturkan kakiku yang terlipat marah, tujuh jam lamanya dia harus menjaga kewarasan. Pengaruh Antimo memang mujarab, pikirku.
Kujatuhkan kepalaku ke sebelah kanan. Mengerjap mencari apapun yang bisa dipandang di balik jendela, masih sangat gelap. Dibandingkan gemerlap lampu perjalanan antar kota di Jawa, Sulawesi memang terlihat begitu misterius dalam kelamnya malam. Seolah itu semua adalah selubung raksasa yang menutupi harta moyang mereka.
Perlahan kegelapan terangkat, rasa kantuk itu sirna dalam hamparan kosmos menakjubkan yang kupandang. Enrekang memamerkan pesonanya. Bukit-bukit hijau di seberang jurang berdiri kokoh bak gapura selamat datang.
Mataku mencari-cari, di manakah Latimojong berdiri? Bagi seorang pendaki Jawa sepertiku, Latimojong memang jadi sebuah mimpi. Sayang kendaraan ini enggan berhenti karena memang Enrekang bukanlah tujuan. Enrekang hanyalah gerbang awal dari persinggahanku.
Dan di sinilah aku berhenti untuk lima hari ke depan.
Rantepao.
Kota mungil yang bahkan cuma sepersepuluh luasnya dari Malang, kota kelahiranku.
Aku telah tiba di tanah orang-orang yang berdiam di negeri atas.
Hidup Untuk Mati, Mati Untuk Hidup
Setiap perayaan adat Toraja, selalu dibicarakan dalam konteks keluarga dengan waktu yang lama. Saya tidak mengatakan upacara, karena rambu solo ini adalah sebuah acara hidup dan mati. Bagi saya tidak ada yang kebetulan, karena semua ini kuasa Tuhan ~ Daud Pangarunan
Takjub.
Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi wajahku saat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rambu solo, ritual kematian agung suku Toraja ini digelar.
Satu lagi keinginanku dalam hidup yang berhasil terwujud.
Aku melihat iring-iringan keluarga mendiang Damaris Pasa berjalan menuju Tongkonan-Tongkonan batu a’riri atau pondok-pondok (lantang) dalam balutan busana serba hitam. Bersatu dalam tatapan sedih, bersama mengantar jiwa yang sakit itu menuju Puya, tempat di mana kedamaian abadi berada.
| iring-iringan keluarga Damaris Pasa di Rambu Solo |
Salah seorang tetua berjalan di depan barisan. Sedangkan Daud yang mengenakan kain putih seperti sarung, duduk di bangunan utama. Pada ruang tepat di atasnya, ada peti mati berisi jenazah Damaris. Wajahnya berbinar bangga, bisa mengantar kerabat tersayang ke Puyadalam waktu yang tidak terlalu lama. Daud terus berbicara lantang dalam bahasa adat Toraja yang sama sekali tak kumengerti.
Yang kutahu, kami hari ini datang di acara ma’pasa’ tedong (mengumpulkan kerbau), sebelum akhirnya kembali dua hari kemudian untuk menghadiri ma’tinggoro tedong (penyembelihan kerbau) sejumlah 13 ekor itu.
| tedong saleko (kerbau belang) di rambu solo Damaris Pasa |
Sayang aku tak berkesempatan melihat langsung ritual ma’pasonglo yang jadi ciri khas rambu solo, ketika kain merah panjang dibentangkan oleh pihak keluarga. Begitu pula prosesi ma’badong yang identik dengan tarian banyak orang untuk mengagungkan si mati, dalam perjalanan pertamaku di Toraja Utara ini.
Kubiarkan juga diriku membayangkan hadir di prosesi manombon, saat batu simbuang ditarik lalu ditegakkan dan ditanam berjejer seperti yang kulihat di Bori Parinding, pada hari terakhirku. Di dalam rante Kalimbuang itu, menhir-menhir berdiri bak kompleks megalit Stonehenge di Amesbury, Wiltshire, Inggris sana.
| menhir-menhir di rante Kalimbuang, Bori Parinding |
Tidak semua orang bisa dimakamkan di sini, harus keluarga. Erong yang terletak menggantung di atas tebing itu menandakan kalau si mati punya silsilah raja. Alasan kenapa orang Toraja tidak dikubur adalah mereka tak ingin yang mati menghabiskan tanah, di mana itu seharusnya dimanfaatkan oleh keturunan yang masih hidup
Berasal dari bahasa Bugis yakni To Riaja dengan makna orang yang berdiam di negeri atas, suku Toraja memang masih memegang erat kepercayaan animisme mereka, Aluk To Dolo. Ajaran luhur Aluk To Dolo menyebutkan kalau moyang orang Toraja berasal dari langit yang dibuat langsung oleh Sang Dewa Pencipta alias Puang Matua dari bahan emas murni.
Tak heran kalau dalam rambu solo, kematian dipahami bukan sebagai kedukaan yang memilukan dan berkepanjangan. Kematian adalah cara orang Toraja untuk kembali ke tempat kelahiran mereka yang berujung di langit. Di mana untuk menuju gerbang Puya, mereka melesat dengan menunggangi arwah tedong yang disembelih.
| kuburan batu lo’ko mata Batutumonga |
Baru kemudian raga-raga mereka disemayamkan di pattane yakni rumah kubur beton, atau dimasukkan di dalam liang kuburan batu seperti yang kulihat di lo’ko mata Batutumonga. Bisa juga keluarga memilih untuk diletakkan dalam erong (peti mati kayu) di gua-gua batu, selayaknya pemakaman desa Kete Kesu.
| tengkorak manusia di gua batu Kete Kesu © Prianto Puji Anggriawan |
Khusus untuk bayi-bayi yang belum tumbuh gigi, sejumlah etnis Toraja memilih memakamkan jiwa-jiwa suci itu di pohon Tarra, seperti yang ada di Bori Parinding. Di mana jenazah bayi itu dimasukkan ke lubang-lubang pohon Tarra lalu ditutup begitu saja dengan ijuk. Keluarga berharap getah pohon Tarra yang berwarna putih akan menggantikan ASI dari Ibu tercinta agar arwah mereka bisa damai.
| ijuk di batang pohon Tarra sebagai tanda makam bayi |
Sedangkan untuk keturunan langsung leluhur Toraja, mereka berhak meletakkan erong di pusara khusus. Seperti yang kutemui di Londa, Desa Sandan Uai, perbatasan Makale dan Rantepao. Semakin tinggi kasta mereka, raga mereka bisa ditemani Tao-Tao, patung dengan tatapan mata tak berjiwa yang dibuat semirip mungkin dengan si mati.
| erong dan Tao-Tao di Goa Londa |
Tak hanya Tao-Tao, keturunan bangsawan bisa menggantung erong-erong mereka di langit-langit Londa. Sebuah goa yang menguarkan aura kematian begitu pekat, menandakan entah sudah berapa generasi meninggalkan tulang belulang kekasihnya di sana.
Magnet Kehidupan Toraja itu Bernama Tongkonan
Lahir dan besar di Jawa, aku tak pernah sekalipun membayangkan kalau kaki ini akan berdiri langsung di depan Tongkonan. Rumah-rumah adat suku Toraja yang dulu cuma kulihat di buku pelajaran sekolah itu.
Bagi mereka, Tongkonan lebih dari sekadar hunian.
Tongkonan adalah magnet kehidupan yang mampu memanggil seluruh keturunannya untuk pulang, tak peduli ada di belahan Bumi mana mereka berada. Entah rambu solo sebagai pertanda duka cita atau rambu tuka yang merayakan suka cita, Tongkonan adalah tahtanya.
| jajaran Tongkonan di desa Pallawa |
Dari banyaknya Tongkonan yang kulihat saat di Toraja Utara, apa yang ada di desa Pallawa jelas paling memukau. Bahkan dibandingkan dengan jajaran Tongkonan di Kete Kesu, rumah-rumah adat ini konon berusia jauh lebih tua.
Aku bergidik saat membayangkan legenda yang pernah terjadi di Pallawa. Konon pemukiman ini adalah saksi bisu tradisi kanibalisme. Ya, ratusan tahun lalu saat ada peperangan antar kampung terjadi, darah dan daging lawan yang kalah lalu terbunuh bisa diminum serta disantap. Pa’lawaknama adatnya, menjadi cikal bakal nama Desa Pallawa setelah diubah dalam proses musyawarah adat pada pertengahan abad ke-11.
Kini orang-orang Toraja memang sudah banyak yang tinggal di rumah-rumah modern meskipun Tongkonan Layuk, sebagai pusat kontrol utama yang Maha Tinggi tetap wajib ada. Ciri khas bangunan ini jelas, tanduk-tanduk kerbau tersusun vertikal di depannya.
| rangkaian tanduk kerbau di depan Tongkonan |
Mungkinkah tanduk-tanduk itu berasal dari kerbau-kerbau di pasar Bolu yang kukunjungi pada hari kedua kami di Rantepao? Aku tak tahu. Karena yang pasti itu menandakan bahwa semakin tinggi strata sosial si pemilik Tongkonan, tanduk kerbau bakal membumbung bertumpuk.
Dihiasi rahang babi di sisi kanan yang menghadap ke timur dan rahang kerbau di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat, semua Tongkonan berdiri berjejer ke arah utara, sebagai perlambang di mana leluhur mereka berasal. Rumah panggung kayu yang seluruh bagiannya tak berpaku ini, dilapisi ijuk hitam di bagian atapnya yang melengkung.
Mirip haluan kapal, menurutku.
Tak heran karena dalam penelitian arkeologis ilmiah, nenek moyang suku Toraja diyakini sebagai para pengembara samudera yang berdiam di sekitar Teluk Tonkin, di antara Vietnam utara dan Cina selatan sana.
Mungkin saja Tongkonan-Tongkonan itu adalah gambaran kerinduan mereka pada tanah leluhur yang kini sudah dibatasi kekuasaan negara.
Pesona Utopia Negeri di Atas Awan
| gumpalan awan To'Tombi © Ricky Elwarin |
Pukul empat pagi mobil-mobil kami beriringan meninggalkan hotel Pias Poppies saat hari ketiga dimulai. Aku bergabung dengan mata-mata kantuk para fotografer yang saling memanggul peralatan tempur mereka. Ya, para penangkap cahaya ini akan berlomba memenjarakan mentari di dalam kamera-kamera mereka.
Bison besi yang kami tunggangi berulang kali menggerutu saat sopir memacunya di jalanan menanjak tanpa ujung yang berliku ekstrim. Tujuan kami adalah Lolai, negeri di atas awan. Hawa dingin To’Tombi langsung menusuk kulit saat aku keluar dari mobil. Sebagai manusia Kota Batu, tubuhku ternyata tak terlalu mengeluh pada serangan fajar ini.
Butuh sekitar 30-40 menit untuk menembus jalanan kelam yang dipagari hutan agar sampai di puncak setinggi 1.300 mdpl itu. Semburat merah terlihat di ufuk, sementara gumpalan awan mulai beriring membuka wajah kota Rantepao yang masih enggan terbangun itu. Aku bisa melihat tugu salib Buntu Singki’ berdiri dengan gagah di bawah sana, tanpa pongah menatapku yang sekali lagi terbius utopia Toraja Utara.
tugu salib Buntu Singki’ dari To'tombi © Agustinus Elwan
‘Ayo kita pindah ke Lempe. Di sana awannya lebih bagus’
Aku dan dua rekan bloggerserta beberapa fotografer lainnya pun sepakat masuk ke mobil. Hanya sekitar lima menit saja, kami sudah sampai di Lempe, puncak Lolai.
Aku tersenyum. Benar kiranya pindah ke Lempe.
Di sini gumpalan awan terbentang bak karpet raksasa tanpa malu. Warnanya yang putih seolah menopang sinar emas sang surya di pagi itu. Sebuah pemandangan yang jelas sulit terlupa, membawaku kembali ke memori puncak Semeru, Arjuno, Penanggungan hingga Panderman di Jawa sana.
Aah, aku memang sangat rindu bercumbu dengan alam.
| hamparan awan di Lempe, Lolai |
Tepat jika orang-orang menyebut Lolai sebagai negeri di atas awan. Karena sejauh mata memandang, awan di sini hadir bak ombak di atas samudera, menjanjikan gelombang kehidupan untuk jiwa-jiwa fana di bawahnya.
Puas menikmati kecantikan langit Toraja, perjalanan kami berlanjut di kaki gunung Sesean. Hamparan sawah dengan batu-batu sebesar ukuran rumah tentu menjadi pemandangan yang tak akan bisa kutemui sehari-hari di pulau Jawa. Karena itu aku tak menyalahkan para fotografer yang menuntut mobil berhenti, untuk mengabadikan bentang alam indah itu.
| suguhan tarian Pa'gellu di Desa Tikala |
Kecantikan itu semakin sempurna saat siang harinya kami disambut remaja-remaja Toraja yang menyuguhkan pa’gellu. Tarian sukacita yang yang disajikan enam gadis cantik dan tiga laki-laki remaja penebuh alat musik itu membiusku sambil berlatar kemegahan panorama Sesean.
Namun kalau disuruh memilih apakah perjalanan mayapada di Toraja Utarayang paling berkesan bagiku, mungkin ketika kami semua mendaki gunung karst Tangrante di Tikala pada hari keempat.
Dimulai dari danau Limbong, aku memaksa otot dalam tubuhku yang sudah 1,5 tahun ini terlalu asyik bermanja di rumah karena pandemi Covid-19 untuk bergerak. Kakiku seolah enggan berjalan lagi ketika kami mendaki stone forest di Marimbunna.
| sawah dan bukit karst Batutumonga © Ricky Elwarin |
Toraja seperti tersenyum mengejekku yang berulang kali berhenti mengatur napas. Kalah dengan Ibu-Ibu serta remaja penari pa’gellu yang melangkah cekatan di jalur alam itu, lengkap dengan kostum mereka.
Hingga akhirnya aku sampai di titik karst tertinggi. Menatap Rantepao yang mungil di bawah sana. Tak kupedulikan tangan yang sedikit terluka terkena batu-batu tajam itu, atau kaki yang berdenyut nyeri saat salah langkah. Karena apa yang terhampar di depanku, jelas bukti kalau Sang Maha Esa memang menciptakan tanah orang-orang langit ini dengan senyum penuh cinta.
Inilah sihir tanah Toraja. Dan aku jadi tak berdaya selain terhanyut dalam senandung di dalamnya yang tanpa akhir itu.
Meninggalkan Sepatu Kaca di Toraja Utara
Waktu memang kadang bisa berputar sangat jahat. Melaju tanpa ampun, memaksa diri untuk kembali ke kenyataan dunia.
Ya, perjalananku ini harus segera berakhir. Kubereskan seluruh bawaanku tanpa semangat. Kubiarkan carrier 60L itu memberontak tinggi karena penataan yang sama sekali tidak rapi.
Saling jabat dan senyum mengembang menjadi ucapan terakhir dengan belasan fotografer itu. Para penjerat pendar yang mungkin tak akan pernah bisa kutemui tanpa campur tangan takdir Halikuljabbar.
Aah, mungkin seperti inilah rasa yang membuncah di hati A.J Frost (Ben Affleck) saat harus meninggalkan kekasihnya, Grace Stamper (Liv Tyler) untuk menaiki Freedom menuju luar angkasa di film ARMAGEDDON (1998) itu. Tak sadar aku bergumam lirih, ‘all my bags are packed I’m ready to go, don’t know when I’ll be back again, oh babe I hate to go...’
Tak ada yang bisa kuperbuat memang saat bison besi ini menderu meninggalkan Rantepao, selain melihat lampu-lampu kota berganti dengan pekatnya malam. Berbeda dengan pekan lalu, aku ingin mataku menelan banyak-banyak pemandangan Toraja Utara. Meyakinkan bahwa lima hari yang sudah terlewati ini memang sebuah kisah nyata, bukan sekadar delusi semata.
Awalnya kupikir perjalananku di Geopark Toraja Utara ini seperti mencuri mimpi indah milik orang lain.
Namun ternyata tidak. Akulah yang melangkah secara sadar ke perjamuan magis ini.
Aku adalah Cinderella yang menerima undangan pesta dansa dari panitia Toraja Highland Festival. Mereka pula yang menjadi Ibu Peri dan memberiku gaun cantik serta kereta kencana, lewat rapalan-rapalan sihir adat Toraja. Hingga akhirnya akupun jatuh cinta pada pandangan pertama.
Bukan, bukan kepada pangeran sang pemilik istana, tapi kepada keramahan orang-orang Toraja yang menyambutku dengan tangan terbuka. Entitas Masata (Masyarakat Sadar WIsata) inilah yang mengajakku menikmati harta alam mereka yang luar biasa candu.
Berbeda dengan Cinderella yang tak sengaja melepaskan sepatu kaca di anak tangga istana, aku sepertinya dengan sengaja meninggalkan salah satu sepatu kacaku itu. Pecahannya kubiarkan berdiam di awan-awan yang membungkus Lolai, mengalir di sepanjang sungai sa’dan, tersembunyi di hamparan sawah asri Sesean, atau mungkin hinggap di celah-celah kokoh pegunungan karst di Tikala sana.
Tentu aku tak perlu pangeran berkuda putih untuk menjemputku.
Karena saat raga ini terangkat tinggi di langit Makassar dalam kepak sayap burung besi, aku berjanji untuk menjejak kembali di tanah milik orang langit itu.
Aku belum puas, pekikku dalam hati.
Aku masih ingin melihat ma’nene´dan seluruh ritual rambu solo atau rambu tuka yang luar biasa luhur itu. Aku masih ingin mengecap lezatnya kapurungserta hangatnya sop ubi di malam-malam damai kota Rantepao. Aku masih ingin bersenda gurau sambil mengunyah pa’piong, suguhan bangsawan Toraja yang berupa beras ketan dalam bambu bakar, sambil bercerita ukiran Tongkonan.
Semoga kita bisa bertemu lagi, Toraja Utara.
Dari aku, yang jatuh cinta padamu.