Minggu, 21 Oktober 2018, 23:55
PENGANTAR LOGIKA asas-asas penalaran sistematis karya jan handrik rapar.
logika scientifika karya DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph.
wikipedia.org
Segala puji milik Allah Swt., Tuhan pencipta seluruh jagat raya, mempersembahkan segala sesuatu yang tertata disana untuk kebaikan seluruh penghuni-Nya. Shalawat serta limpahan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi dan Rasul Muhammad Saw.
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan banyak perhatian berkaitan dengan kandungan dari makalah ini, karena penulis sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki sehingga berdampak pada hasil dari makalah ini yang kurang maksimal. Terlepas dari semua itu semua, dengan tangan terbuka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak; baik dari dosen pembimbing matakuliah ini maupun teman-teman seperjuangan. Tidak lain untuk memacu kreatifitas dan menambah warna-warni khazanah keilmuan kita semua. Akhirnya tindakan yang kita lakukan atas nama kebaikan, semoga menjadi suatu usaha positif dan dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan komunitas kehidupan kita pada umumnya.
Segala kekurangan milik manusia dan kesempurnaan adalah milik Allah Swt.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................
A. Latar Belakang ......................................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................................
C. Tujuan penulisan ..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................
A. Kesesatan Berfikir .................................................................................................
B. Bentuk-bentuk Kesesatan Relevansi .........................................................................
C. Kesalahan formal .................................................................................................
D. Klasifikasi Fallacy Formal ....................................................................................
E. Kesesatan Bersifat Semantik/Bahasa ........................................................................
F. Kesesatan Karena Bahasa .......................................................................................
PENUTUP .............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dari kesesatan berfikir?
2. Bagaimana bentuk-bentuk dari kesalahan relevansi?
3. Bagaimana kesalahan formal dalam ilmu logika?
4. Apa yang dimaksud dengan Klasifikasi Fallacy Formal?
5. Bagaimana dengan kesesatan bersifat semantik/bahasa dalam ilmu logika?
6. Bagaimana dengan kesesatan karena bahasa dalam ilmu logika?
C. Tujuan Penulisan
1. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah pertama.
2. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah kedua.
3. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah ketiga.
4. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah keempat.
5. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah kelima.
6. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah keenam.
B. Bentuk-bentuk Kesesatan Relevansi:
D. Klasifikasi Fallacy Formal:
Buatlah tulisan atau makalah yang menjelaskan tentang tentang:
1. Ide, Konsep, dan Term
2. Sesat Pikir
Tolong dibuat minimal 1 halaman HVS. Tugas harus sudah diupload paling lambat tanggal 26 Oktober 2018.
Selamat mengerjakan
Salam
1. Ide, Konsep, dan Term
2. Sesat Pikir
Tolong dibuat minimal 1 halaman HVS. Tugas harus sudah diupload paling lambat tanggal 26 Oktober 2018.
Selamat mengerjakan
Salam
Tutor
A. Pengertian Ide atau Konsep
1. MAKALAH IDE ATAU KONSEP, DAN TERM
Berbicara masalah term maka tidak bisa tidak kita harus membahas apa yang menjadi penopang term itu sendiri, ada dua unsur penopang dalam yaitu ide dan konsep.
Lalu apa itu ide? Dalam buku logika scientifika karya DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph. ide adalah sebuah kata yang berasal dari kata Yunani eidos, eidosberarti ‘yang orang lihat’, ‘penampakan’, ‘bentuk’, ‘gambar’, ‘rupa’ yang dilihat.
Lalu yang disebut konsep? Dalam buku yang sama konsep berasal dari kata Latin: concipere, yang artinya mencakup, mengandung, mengambil, menyedot, menangkap. Dari kata concipere muncul kata benda conceptus yang berarti tangkapan.
Dalam keterangan yang lain konsep adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa latin conceptus (kata benda masculinum) yang dibentuk dari kata conceptumyang berasal dari kata kerja (konjugasi III) concipio. Kata ini berarti ‘mengambil ke dalam dirinya’ atau ‘menangkap’.
Penangkapan ide atau konsep bisa terjadi dengan benar atau tidak benar, maka aprehensi sederhana juga dapat diragukan atau ditolak. Apabila ide atau konsep kita tangkap secara tidak sah atau secara tidak benar, maka hal tersebut akan berakibat pada keputusan yang juga tidak sah dan tidak benar.
B. Pengertian Term
Setelah kita mengetahui pengertian tentang ide dan konsep maka apa itu term? Menurut DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph. term merupakan ide atau konsep yang dinyatakan dalam sebuah kata atau lebih. Tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term, meskipun setiap term itu adalah kata atau kumpulan kata.
Sebagai catatan, suatu term, sebagai suatu kegiatan tahu, di dalam fenomologi modern selalu menyandang ciri intensional. Suatu tangkapan selalu merupakan suatu kegiatan menangkap ke arah sesuatu yang lain yakni sesuatu yang atas kesadaran spontan tidak bergantung pada kegiatan menangkap tersebut. Karena tangkapan-tangkapan tersebut berciri abstrak, maka ia mengungkapkan benda-benda secara tidak penuh, tetapi di lain pihak mengungkapkan suatu isi tertentu yang tidak jelas.
C. Term Sinkategorimatis dan Term Kategorimatis
Seperti yang telah diungkapkan pada yang telah lalu, bahwa apa disebut term adalah setiap kata atau kumpulan kata yang mempunyai arti, keterkaitan antara kata yang mempunyai arti dengan konsep atau ide karena kata merupakan suatu pengejawantahan dari ide atau konsep itu sendiri. Dengan kata lain term merupakan pernyataan lahiriah dari konsep atau ide.
Jika sebuah kata-kata tidak memiliki pengertian tertentu sehingga tidak dapat digunakan sebagai term tanpa bantuan kata-kata yang lain, maka ia tidak disebut dengan term atau juga disebut dengan Term Sinkategorimatis. Contoh: kepada, dari, dsb.
Sebaliknya jika sebuah kata telah memiliki pengertian tertentu tanpa bantuan dengan kata yang lain biasa disebut dengan Term Kategorimatis. Contoh: hewan, manusia, dsb.
Term Kategorimatis dapat dibedakan menjadi tiga jenis:
1. Term Kategorimatis Univokal, yaitu term yang dikenakan kepada beberapa hal atau benda dalam arti yang sama, seperti contoh kalimat-kalimat berikut: “Adam adalah manusia”, “Tuti adalah manusia”, “jhon adalah manusia”. Term “manusia dalam contoh ini digunakan dalam arti yang sama.
2. Term Kategorimatis Equivokal, yaitu term yang dikenakan kepada beberapa hal atau benda dalam arti yang berbeda-beda, contoh kalimat-kalimat berikut: “kambing itu adalah kambing hitam”, “Hidayat adalah orang yang sering dijadikan kambing hitam”. Kambing hitam yang pertama merupakan kambing yang memang berwarna hitam, sedangkan yang kedua adalah dimaksudkan orang yang sering dipersalahakan.
3. Term Kategorimatis Analogis, yaitu term yang digunakan kepada beberapa hal atau benda dalam arti yang berlainan namun dari segi tertentu memiliki kesamaan, seperti contoh term sakit untuk “orang sakit” dan “rumah sakit”
D. Komprehensi dan Ekstensi
Kita telah meneropong pengertian ide atau konsep dan juga term, maka penulis merasa perlu juga untuk membahas ruang lingkup dari ide atau konsep itu sendiri, dalam ide atau konsep ada yang disebut dengan Komprehensi dan Ekstensi.
Menurut DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph. komprehensi adalah keseluruhan arti yang tercakup dalam suatu konsep atau term. Yang dimaksudkan dengan keseluruhan arti adalah suatu unit (kesatuan) arti-arti yang kompleks yang terdapat pada suatu konsep. Contoh: term manusia komprehensinya rasional, beradab, berbudaya, dan sebagainya.
Sedangkan Ekstensi lebih mengacu pada luas cakupan, kuantitas, bidang, lingkungan konsep suatu term. Dengan kata lain, ekstensi adalah keseluruhan luas lingkungan dan bidang serta keseluruhan jumlah dari suatu konsep yang terkandung dalam suatu term. Contoh: Ekstensi term manusia ialah semua manusia tanpa terkecuali dan pembatasan apapun juga.
Catatan:
· Semakin miskin komprehensi, semakin luas ekstensi, contoh: ide atau konsep tentang hewan jika tanpa keterangan yang lebih lanjut, maka ide tentang hewan tersebut akan mengacu pada hewan apa saja, bisa saja kucing, ular, anjing dsb.
· Semakin kaya komprehensi, semakin sempit ekstensi, contoh: idehewan yang meringkik keterangan yang meringkik memperkaya komprehensi karenanya maka ekstensinya menjadi sempit dan hanyakuda yang dapat ditunjuk dengan ide atau konsep hewan yang meringkik.
E. Jenis-Jenis Term
Term biasanya dibedakan atas lima jenis:
1. Term konkret, yaitu term yang mengarah kepada suatu benda konkret, dalam logika tradisional termasuk pula nama diri (proper name). misalnya: kursi, meja, kuda, dsb.
2. Term abstrak, yaitu term yang mengacu pada kualitas, sifat, dan hubungan dari sesuatu. Misalnya: kebajikan, kemanusiaan, keindahan, bulatan, hitam, peramah, dsb.
3. Term tunggal, term yang mengacu kepada satu benda atau perorangan, atau kepada suatu himpunan yang terdiri atas sebuah pengertian yang menunjuk kepada suatu diri. Misalnya: kepala SMP Negeri 30 Jakarta yang kedua, direktur utama Garuda Indonesia yang ketujuh, dsb.
4. Term kolektif, yaitu term yang mengacu kepada suatu himpunan atau kelompok dari hal-hal atau benda yang dilihat selaku satu kesatuan. Misalnya: UIN, PERSIS, dsb.
5. Term umum, yaitu term yang mengacu kepada suatu himpunan tanpa pembatasan kuantitas ataupun kualitas (berlaku umum) contoh: manusia, hewan, dsb.
DAFTAR PUSTAKA
logika scientifika karya DR.W.Poespoprodjo, S.H., S.S., B.Ph., L.Ph.
wikipedia.org
2. MAKALAH LOGIKA SESAT PIKIR
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji milik Allah Swt., Tuhan pencipta seluruh jagat raya, mempersembahkan segala sesuatu yang tertata disana untuk kebaikan seluruh penghuni-Nya. Shalawat serta limpahan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi dan Rasul Muhammad Saw.
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan banyak perhatian berkaitan dengan kandungan dari makalah ini, karena penulis sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki sehingga berdampak pada hasil dari makalah ini yang kurang maksimal. Terlepas dari semua itu semua, dengan tangan terbuka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak; baik dari dosen pembimbing matakuliah ini maupun teman-teman seperjuangan. Tidak lain untuk memacu kreatifitas dan menambah warna-warni khazanah keilmuan kita semua. Akhirnya tindakan yang kita lakukan atas nama kebaikan, semoga menjadi suatu usaha positif dan dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan komunitas kehidupan kita pada umumnya.
Segala kekurangan milik manusia dan kesempurnaan adalah milik Allah Swt.
Indragiri Hilir, 15 Oktober 2018
HASBI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................
A. Latar Belakang ......................................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................................
C. Tujuan penulisan ..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................
A. Kesesatan Berfikir .................................................................................................
B. Bentuk-bentuk Kesesatan Relevansi .........................................................................
C. Kesalahan formal .................................................................................................
D. Klasifikasi Fallacy Formal ....................................................................................
E. Kesesatan Bersifat Semantik/Bahasa ........................................................................
F. Kesesatan Karena Bahasa .......................................................................................
PENUTUP .............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Dalam kesempatan kali ini, penulis akan membahas tentang beberapa tema yang menurut penulis penting untuk dikaji dalam keilmuan logika. Pembahasan ini meliputi tentang beberapa kesalahan dalam berfikir dan kesalahan dalam bahasa yang ada dalam ilmu logika.
1. Apa yang dimaksud dari kesesatan berfikir?
2. Bagaimana bentuk-bentuk dari kesalahan relevansi?
3. Bagaimana kesalahan formal dalam ilmu logika?
4. Apa yang dimaksud dengan Klasifikasi Fallacy Formal?
5. Bagaimana dengan kesesatan bersifat semantik/bahasa dalam ilmu logika?
6. Bagaimana dengan kesesatan karena bahasa dalam ilmu logika?
C. Tujuan Penulisan
1. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah pertama.
2. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah kedua.
3. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah ketiga.
4. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah keempat.
5. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah kelima.
6. Memaparkan apa yang ada dalam rumusan masalah keenam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kesesatan Berfikir Ilmu logika lahir bersamaan dengan lahirnya Filsafat Barat di Yunani. Dalam usaha untuk menyebar luaskan pemikiran-pemikirannya, para filusuf Yunani banyak yang mencoba membantah pemikirannya dengan para filusuf lainnya dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Sejak awal, logika telah menaruh perhatian atas kesesatan penalaran tersebut. Kesesatan penalaran ini disebut dengan kesesatan berfikir (fallacia/fallacy)
Kesesatan berfikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah dan menyesatkan. Ini karena adanya suatu gejala berfikir yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.
Kesesatan relavansi timbul ketika seseorang menurunkan suatu kesimpulan yang tidak relevan pada premisnya atau secara logis kesimpulan tidak terkandung bahkan tidak merupakan implikasi dari premisnya.
1. Argumentum ad Hominem.
2. Argumentum ad Veccundiam atau Argumentum Auctoritas.
3. Argumentum ad Baculun.
4. Argumentum ad Misericordiam.
5. Argumentum ad Populum.
6. Kesesatan Non Causa Pro Causa.
7. Kesesatan Aksidensi.
8. Kesesatan Komposisi atau Divisi.
9. Petition Principia.
10. Ignoratio Elenchi.
11. Kesesatan Karena Pertanyaan yang Kompleks.
C. Kesalahan formal
Sesat pikir juga terjadi dalam berbagai hal, seperti:
1. Definisi,
3. Perlawanan,
Kesesatan ini terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak suatu usul yang tidak berdasarkan penalaran, melainkan karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan atau keadaan orang yang mengusulkan dan orang yang diusuli. Contoh:
Menolak land reform karena pembagian tanah itu selalu dituntut oleh orang komunis.
Jadi, usul land reform itu perbuatan orang komunis dan perbuatan orang komunis itu jahat.
Kesesatan ini sama dengan Argumentum ad Hominem, yaitu menerima atau menolak sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya dan seseorang yang ahli.
Baculum artinya tongkat. Kesesatan ini terjadi jika penerimaan atau penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman, jika tidak menyetujui akan dihukum, dipenjarakan, dipukuli, bahkan dipersulit hidupnya dan diteror. Teror pada hakikatnya adalah suatu paksaaan untuk menerima suatu gagasan karena ketakutan.
4. Argumentum ad Misericordiam.
Argumentum ad Misericordiam adalah penalaran yang ditujukan untuk menimbulkan belas kasihan agar dapat diterima. Argumen ini biasanya berhubungan dengan usaha agar suatu perbuatan dimaafkan.
Penalaran ini biasanya diungkapkan dalam pengadilan. Seperti, terdakwa mengingatkan hakim bahwa ia mempunyai anak, istri, keluarga dan yang lain-lain.
5. Argumentum ad Populum.
Argumentum ad Populum banyak dijumpai dalam kampanye politik, seperti pidato-pidato, demonstrasi dan propaganda. Karena Argumentum ad Popolum ditujukan kepada rakyat, kepada suatu masa atau kepada halayak ramai, maka dalam Argumentum ad Populum perlu pembuktian sesuatu secara klogis tidak dipentingkan, yang diutamakan adalah menggugah perasaan masa pendengar atau membakar emosi pendengar agar menerima suatu konklusi tertentu.
Kesesatan Non Causa Pro Causa terjadi apabila kita menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya bukan sebab atau bukan sebab yang lengkap.
7. Kesesatan Aksidensi.
Sifat atau kondisi aksidental adalah sifat yang kebetulan, tidak harus ada dan tidak mutlak. Kesesatan aksidensi terjadi jika kita menerapkan prinsip atau pernyataan umum kepada peristiwa-peristiwa tertentu, tetapi karena keadaannya yang bersifat aksidental, maka menyebabkan penerapan itu tidak cocok. Contoh:
Makan adalah suatu perbuatan baik. Tetapi jika makan pada waktu harus berpuasa, maka penalaran tersebut sesat karena faktor aksidensi.
8. Kesesatan Komposisi atau Divisi.
Kesesatan karena komposisi dan divisi terjadi ketika menyimpulkan bahwa predikat itu juga berlaku untuk kelompok kolektif seluruhnya. Maka disini penalaran kita sesat karena komposisi. Contoh:
Jika film itu bagus, belum tentu semua pemerannya bermain bagus.
Petition Principia adalah kesesatan ketika membuktikan sesuatu. Penalaran yang disusun menggunakan konklusinya atau apa yang hendak kita buktikan itu sebagai premis, sudah tentu dengan kata-kata atau ungkapan yang berbeda dengan bunyi konklusinya. Contoh:
Manusia harus berlaku adil. Karena adil adalah perintah Tuhan yang tercantum dalam Kitab Suci. Sebagai alasan (premis), dikemukakan bahwa Kitab Suci itu berisi perintah Tuhan. Disini dibuktikan bahwa perintah Tuhan itu tercantum dalam Kitab Suci karena Kitab Suci berisi perintah Tuhan.
Ignoraito Elenchi atau disebut pula kesesatan penalaran yang tidak disebabkan oleh bahasa. Kesalahan ini terjadi ketika konklusi yang diturunkan dari premis tidak relavan dengan premis itu. Contoh:
Dalam suatu pengadilan, seorang pembela dengan panjang lebar berhasil membuktikan bahwa pembunuhan adalah suatu perbuatan yang sangat keji dan menarik kesimpulan bahwa terdakwa melakukan perbuatan sekeji itu.
Sebuah pertanyaan atau perintah seringkali bukan pertanyaan yang tunggal dan dapat dijawab dengan tepat dengan satu jawaban, meskipun pertanyaannya berbentuk kalimat tunggal. Contoh:
Rumah itu terdiri atas bagian-bagian apa saja?. Dapat dijawab: atap, dinding, langit-langit, dan sebagainya.
Pertanyaan itu sebetulnya terdiri atas sejumlah pertanyaan. Demikian juga perintah untuk menyebutkan jenis-jenis kalimat dapat dijawab dengan kalimat tanya dan kalimat berita, atau kalimat pasif dan aktif, atau dengan kalimat panjang atau pendek. Kalau kita bertanya: jam berapa kamu bangun?, maka pertanyan itu tidak kompleks. Karena terdiri dari satu peretanyaan, akan tetapi pertanyaan itu mengandung sebuah pernyataan di dalamnya, yaitu “bahwa kamu tidur”. Kalau ASEAN menuntut supaya Vietnam menarik mundur tentaranya dari Kampuchea, di dalamnya terkandung pernyataan bahwa Vietnam telah memasuki Kampuchea dengan tidak sah. Kalau perjanjian Camp David mengenai otonomi Palestina ditafsirkan berbeda oleh Mesir dan Israel, itu disebabkan karena bunyi kalimat-kalimat yang bersangkutan mengandung makna yang kompleks, sehingga Negara yang satu dapat menunjuk makna Negara lainnya. Biasanya suatu persetujuan diplomatik memang mengandung makna majemuk yang kelak dapat ditafsirkan menurut situasinya.
12. Argumentum ad Ignoratiam.
Kesesatan ini terjadi pada hal-hal yang berkaitan erat dengan sesuatu yang tidak terbuktikan. Seperti: gejala psikis, telepati dan semacamnya. Hal itu sulit di buktikan baik oleh pendukung maupun penentangnya.
Penalaran dapat sesat kalau bentuknya tidak tepat dan tidak sahih. Kesesatan inilah yang disebut dengan kesalahan formal. Kesalahan formal adalah kesalahan yang terjadi karena pelanggaran terhadap kaidah-kaidah logika.
Sesat pikir tidak hanya terjadi dalam fakta-fakta saja, melainkan juga dalam bentuk penarikan kesimpulan yang sesat dikarenakan tidak dari premis-premisnya yang menjadi acuannya. Sesat pikir juga bisa terjadi ketika menyimpulkan sesuatu lebih luas dari dasarnya. Seperti: kucing berkumis, candra berkumis. Jadi, candra Kucing.
Sesat pikir juga terjadi dalam berbagai hal, seperti:
1. Definisi,
Kesesatan dalam definisi terjadi karena kata-katanya sulit, abstrak, negatif dan mengulang; (kesesatan: mengulang apa yang didefinisikan). Contoh:
Hukum waris adalah hukum untuk mengatur warisan.
2. Klasifikasi, Kesesatan dalam definisi terjadi pada dasar penggolongan yang tidak jelas, tidak konsisten dan tidak bisa menampung seluruh fenomena yang ada. Contoh:
Musim menurut kegiatannya dapat dibagi menjadi musim tanam, musim menyiangi, musim hujan dan musim panen; (kesesatan: musim kemarau dan musim hujan bukanlah kegiatan).
Kontraris hukumnya jika salah satu proposisi salah, berarti yang lain tentu benar. Contoh:
Jika semua karyawan korupsi dinilai salah, berarti semua karyawan tidak korupsi pasti benar.
4. Dalam mengolah proposisi majemuk.
Menyamakan antara proposisi hipotesis kondisional dan prposisi kondisional. Contoh:
Jika mencuri maka dihukum. Berarti jika dihukum berarti dia mencuri.
D. Klasifikasi Fallacy Formal:
1. Fallacy of Four Terms (kekeliruan karena menggunakan empat term).
2. Fallacy of Undistributed Middle (kekeliruan karena kedua term penengah tidak mencakup).
3. Fallacy of Illicit Process (kekeliruan karena proses tidak benar).
4. Fallacy of Two Negatife Premises (kekeliruan karena menyimpulkan dari dua premis yang negatif)
5. Fallacy of Affirming the Consequent (kekeliruan karena mengakui akibat).
6. Fallacy of Denying Antecedent (kekeliruan karena menolak sebab).
7. Fallacy of Disjunction (kekeliruan dalam bentuk disyungtif).
8. Fallacy of Inconstistency (kekeliruan karena tidak konsisten).
E. Kesesatan Bersifat Semantik/Bahasa
F. Kesesatan Karena Bahasa
1. Kesesatan Karena Aksen atau Tekanan.
Adam adalah mahasiswa abadi.
Jadi, Adam adalah mahasiswa yang bersifat Ilahi.
3. Kesesatan Karena Methaphora (kiasan).
Nilai : 89 / 100
Graded on : Selasa, 23 Oktober 2018, 13:31
Graded by : Didik Setiyadi , S.Kom. M.Kom. FISIP
Komentar umpan balik.
Terimakasih atas jawabannya, semangat untuk tugas selanjutnya, demikian juga untuk forum diskusi..
Salam
Didik Setiyadi
Kekeliruan berfikir karena menggunakan empat term dalam silogisme terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan harusnya terdiri dari tiga term. Seperti :
Semua perbuatan mengganggu orang lain diancam dengan hukuman
Menjual barang di bawah harga tetangganya adalah mengganggu kepentingan orang lain.
Jadi, menjual harga di bawah tetangganya diancam dengan hukuman.
Contoh kekeliruan berfikir karena tidak satupun dari kedua term penengahmencakup:
Orang yang terlalu banyak belajar kurus.
Dia kurus sekali
Karena itu tentulah ia banyak belajar.
Kekeliruan berfikir karena term premis tidak mencakup tapi dalam konklusi mencakup. Seperti:
Kuda adalah binatang, sapi bukan kuda. Jadi ia bukan binatang.
Kekeliruan berfikir karena mengambil kesimpulan dari dua premis negative sebenarnya tidak bisa ditarik konklusi. Contoh:
Tidak satupun barang yang baik itu murah dan semua barang di toko itu adalah tidak murah. Jadi, semua barang di toko itu adalah baik.
5. Fallacy of Affirming the Consequent (kekeliruan karena mengakui akibat).
Kekeliruan dalam berfikir dalam Silogisme Hipotetika karena membenarkan akibat kemudian membenarkan sebabnya. Contoh:
Bila pecah perang, harga barang-barang naik. Sekarang harga barang naik, jadi perang telah pecah.
Kekeliruan berpikir dalam Silogisme Hipotetika karena mengingkari sebab, kemudian disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana. Contoh:
Bila datang elang, maka ayam berlarian. Sekarang elang tidak datang, jadi ayam tidak berlarian.
7. Fallacy of Disjunction (kekeliruan dalam bentuk disyungtif).
Kekeliruan berpikir terjadi dalam Silogisme Disyungtif karena mengingkari alternatif pertama, kemudian membenarkan alternatif lain. Padahal menurut patokan, pengingkaran alternatif pertama bisa juga tidak terlaksananya alternatif yang lain. Contoh:
Dari menulis cerita atau pergi ke Surabaya. Dia tidak pergi ke Surabaya, jadi dia tentu menulis cerita.
8. Fallacy of Inconstistency (kekeliruan karena tidak konsisten).
Kekeliruan berfikir karena tidak runtutnya pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang diakui sebelumnya. Contoh:
Tuhan adalah Mahakuasa, karena itu Ia bisa menciptakan Tuhan lain yang lebih kuasa dari Dia.
Semantik berkaitan dengan ilmu kata, yaitu bagaimana kejadian dan pengertian sesuatu kata. Kesalahan semantik itu dapat disebut dengan ambiguitas. Ambiguitasberasal dari amb (bahasa latin) yang mempunyai arti sekitar atau sekeliling, dan kataagree yang dapat diartikan sesuatu yang mendorong pikiran ke segala arah (Heru Suharto, 1994). Berarti ambiguitas adalah kata-kata yang mempunyai arti lebih dari satu, atau bisa juga disebut hemonim.
Hemonim adalah kesesatan karena adanya kata-kata. Kata disini adalah kata kata yang memiliki banyak arti, yang dalam logika yang biasanya disebut ambiguitas. Diantara cara-cara untuk menghindar ambiguitas adalah:
1. Menunjukkan langsung adanya kesesatan semantik dengan mengemukakan konotasi sejati,
2. Memilih kata-kata yang hanya arti tunggal,
3. Menggunakan wilayah yang tepat, apakah universal atau partikular,
4. Dapat juga dengan konotasi subjektif yang berlaku khusus atau objektif yang bersifat komprehensif. (Heru Suharto, 1994).
Kesesatan karena bahasa terjadi karena beberapa hal; biasanya kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda dan arti yang sama pun bisa ada pada kata-kata yang berbeda. Kesesatan dalam bahasa bisa hilang karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari bahasa disalin ke bahasa lain.
Berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa: 1. Kesesatan Karena Aksen atau Tekanan.
Perbedaan arti dan kessatan penalaran terjadi dalam ucapan tiap-tiap suku kata yang diberikan tekanan, karena perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti. Contoh:
Tiap pagi pasukan mengadakan apel.
Apel itu buah.
Jadi, tiap paagi pasukan mengadakan buah.
2. Kesesatan Karena Term Ekuivok. Term ekuivok (term yang mempunyai lebih dari satu arti) adalah apabila dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama, maka terjadilah kesesatan penalaran. Contoh:
Abadi adalah sifat Ilahi. Adam adalah mahasiswa abadi.
Jadi, Adam adalah mahasiswa yang bersifat Ilahi.
3. Kesesatan Karena Methaphora (kiasan).
Kesesatan dalam kiasan terjadi karena dalam suatu penalaran sebuah arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau arti sebaliknya. Cukup luar biasa apabila orang mencampur adukkan arti sebenarnya dan arti kiasan dari sesuatu kata atau ungkapan. Kesesatan ini sering disengaja dalam lawak.
4. Kesesatan Karena Amfiboli. Kesesatan amfiboli terjadi kalau konstruksi sebuah kalimat itu demikian rupa, sehingga artinya menjadi bercabang. Contoh:
Mahasiswa yang duduk diatas meja yang paling depan.
Apa yang paling depan, mahasiswa atau mejanya?
BAB III
PENUTUP
Demikian apa yang dapat penulis sajikan dan paparkan dalam makalah ini. Semoga apa yang ada dalam makalah yang ringkas ini, para pembaca bisa mendapatkan kesimpulan dan inti-inti dari pembahasan yang ada dalam makalah ini, seperti pengertian tentang kesesatan berfikir, bentuk-bentuk kesesatan relevansi yang meliputi: 1) Argumentum ad Hominem, 2) Argumentum ad Veccundiam atau Argumentum Auctoritas, 3) Argumentum ad Baculun, 4) Argumentum ad Misericordiam, 5) Argumentum ad Populum, 6) Kesesatan Non Causa Pro Causa, 7) Fallacy of Disjunction (kekeliruan dalam bentuk disyungtif), 8) Fallacy of Inconstistency (kekeliruan karena tidak konsisten). Kemudian pengertian tentang Kesesatan Bersifat Semantik/Bahasa dan juga pengertian tentang kesesatan karena bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Surajiyo, Asnanto. Sugeng, Andiani, Sri. Dasar-dasar logika. Bumi aksara: Jakarta, 2006.
Soekadijo, R.G. Logika Dasar Tradisional, Simbolik dan Induktif. Pustaka Gramedia: Jakarta.
Mundiri. Logika. Raja Grafindo Persada: 2012.
R.G Soekadijo. Logika Dasar Tradisional, Simbolik dan Induktif. Pustaka Gramedia: Jakarta. Hlm., 11.
Asnanto Surajiyo, Sugeng, Sri Andiani. Dasar-dasar logika. Bumi Aksara: Jakarta, 2006. Hlm., 105.
R.G Soekadijo. Logika Dasar Tradisional, Simbolik dan Induktif. Pustaka Gramedia: Jakarta. Hlm., 14.
Ibid, hlm. 111.
Mundiri. Logika. Raja Grafindo Persada: 2012. Hlm., 211.
Asnanto Surajiyo, Sugeng, Sri Andiani. Dasar-dasar logika. Bumi Aksara: Jakarta, 2006. Hlm., 107.
R.G Soekadijo. Logika Dasar Tradisional, Simbolik dan Induktif. Pustaka Gramedia: Jakarta. Hlm., 12.
Nilai : 89 / 100
Graded on : Selasa, 23 Oktober 2018, 13:31
Graded by : Didik Setiyadi , S.Kom. M.Kom. FISIP
Komentar umpan balik.
Terimakasih atas jawabannya, semangat untuk tugas selanjutnya, demikian juga untuk forum diskusi..
Salam
Didik Setiyadi