Akan tetapi berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi prediksi Thomas R. Malthus tersebut tidak selalu terbukti. Mengapa demikian?"
![]() |
| Thomas Robert Malhus (1776 - 1834) - Wikipedia |
Malthus mengemukakan teorinya pada tahun 1798. Malthus percaya bahwa populasi akan bertambah sangat cepat sedangkan persediaan pangan berbanding terbalik dengan jumlah populasi, pangan akan menjadi barang yang sulit untuk didapatkan. Dalam teorinya, Malthus beragumen bahwa alam akan melakukan "seleksi alam" diantaranya banjir, gempa bumi, perang, malnutrisi untuk mengembalikan keseimbangan pada jumlah populasi dan ketersediaan pangan.
Thomas Robert Malthus (1766-1834) dalam karangannya yang berjudul “Essay on Principle of Populations as it Affect the Future Improvement of Society, with Remarks on the Speculations of Mr. Godwin, M. Condorcet, and The Othe Writers”tahun 1798 menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi. Pesatnya laju pertumbuhan penduduk ini tidak setara dengan laju pertumbuhan produktivitas bahan makanan. Padahal manusia tidak bisa hidup tanpa bahan makanan. Apabila laju pertumbuhan penduduk ini tidak dikontrol, maka manusia akan mengalami kekurang bahan makanan. Hal tersebut akan menimbulkan kemelaratan dan kemiskinan.
Menyatakan bahwa penduduk meningkat menurut deret ukur, sementara bahan pangan meningkat menurut deret hitung. Oleh karena itu pertumbuhan bahan pangan selalu dikalahkan oleh laju pertumbuhan penduduk.
Teori Malthus tidak selalu terbukti, meskipun ada beberapa negara dengan populasi terbanyak di dunia, tidak semua negara populasinya bertambah dengan pesat seperti apa yang digambarkan oleh Malthus. Produksi pangan pun bertambah karena inovasi dari teknologi pangan. Teorinya Malthus juga tidak memperhitungkan terjadinya globalisasi yang mana memungkinkan distribusi pangan lebih mudah.
Pprediksi Thomas R. Malthus mengenai teori kependudukannya tersebut tidak selalu benar karena dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dapat menghasilkan sumber bahan makanan dengan berbagai cara. Seperti meat-grown lab (daging buatan hasil laboratorium), gedung bertingkat dan tersistem komputer untuk produksi sayur (Food Computer) yang bahkan dapat mengatur kadar air-cahaya-nutrisi sendiri, membuat mesin penghasil awan, penyulingan air laut dan toilet untuk diolah menjadi air siap konsumsi dan daur ulang makanan tidak layak jual (freegan) seperti di Singapura.
Dewasa ini pula, manusia juga semakin berpikir bahwasannya memiliki anak dengan jumlah yang tidak dianjurkan, akan menambah beban ekonomi keluarga dan tanggungan moral. Sehingga angka kelahiran dapat ditekan dengan misalnya, mengikuti program KB atau memakai alat kontrasepsi. Terlebih lagi trend same sex marriage di berbagai negara yang kini sudah dilegalkan. Hanya saja masalah pangan dunia terletak pada distribusi makanan tersebut yang kurang merata. Di saat orang Amerika dan Eropa melakukan operasi sedot lemak untuk menghilangkan kolesterol mereka, di belahan bumi Afrika sana orang-orang tiada berlemak akibat kekurangan makanan alias kurus.
Idealnya teori Malthus mengingatkan kita bahwa pertumbuhan penduduk tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan, artinya harus disesuaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Hal ini perlu dilakukan karena pembangunan yang lakukan sekarang ini, jangan sampai merebut hak-hak hidup generasi penerus. Pembangunan harus ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat sekarang dan generasi masa depan. Teknologi diharapkan bisa menciptakan peluang kehidupan yang jauh lebih baik dan murah.
