TUGAS 2 PENGANTAR ILMU POLITIK




Partai Politik memiliki 4 (empat) fungsi, yaitu: (1) sebagai sarana sosialisasi politik, (2) sebagai sarana komunikasi politik, (3) sebagai sarana rekruitmen politik, dan (4) sebagai pengelola konflik.



Menurut Anda, apakah ke-4 fungsi tersebut sudah dijalankan dengan baik oleh Partai Politik di Indonesia saat ini? Kaitkan jawaban Anda dengan kondisi dan situasi faktual dari daerah tempat Anda tinggal saat ini!



Jawab : 

Sebagaimana definisi tentang partai politik yang telah dikemukakan diatas, maka kita memperoleh sebuah informasi mengenai eksistensi dari partai politik sebagai sebuah instrument politik untuk memperoleh kekuasaan. Tetapi permasalahan kemudian muncul ketika individu-individu yang terdapat dalam partai politik hanya berorientasi pada bagaimana cara untuk memperoleh kekuasaan tersebut, sehingga kekuasaan menjadi muara akhir dari kontestasi politik yang dikejar oleh partai politik. 

Sehingga makna luhur dari aktivitas politik yang lebih menekankan aspek fungsional dari politik menjadi terbengkalai, yakni melakukan pemeliharaan atau pengaturan terhadap berbagai macam urusan umat. Aktivitas partai politik hanya berhenti pada level bagaimana cara memperoleh kekuasaan, padahal seharusnya tidak demikian, namun harus dilengkapi pula dengan bagaimana kekuasaan yang telah diperoleh tersebut digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kondisi demikian mengakibatkan “syahwat” politik untuk berkuasa yang dominan, bukan semangat “pengabdian” terhadap masyarakat.

Disisi lain terjadi sebuah alienasi partai politik terhadap masyarakat sehingga berakibat pada timbulnya jarak dan kesenjangan antara partai politik dengan masyarakat. Jarak yang besar ini membuat masyarakat mulai berfikir bahwa mereka bisa hidup tanpa partai politik. Yang paling menyedihkan adalah kekecewaan begitu mendalam di masyarakat karena mereka merasa tidak pernah diperhatikan dan diurusi oleh partai politik. 

Hal ini jelas akan menurunkan angka partisipasi politik masyarakat, yang nantinya akan tercermin dari meningkatnya jumlah Golput. “Kepercayaan rakyat terhadap elite politik hampir mencapai titik nadir. Ini karena para pemimpin tidak lagi berpihak kepada rakyat. Akibatnya, rakyat apriori. Golput akan meningkat.

Selain faktor hanya mementingkan orientasi kekuasaan dan terjadinya elienasi partai politik terhadap masyarakat, permasalahan yang juga dihadapi oleh partai politik adalah “korupsi”.

Disinyalir muara kasus korupsi politik adalah untuk pendanaan politik. Partai politik umumnya enggan ketika dimintai laporan keuangan. Sebagian besar tidak berkenan memberikan dengan dalih pendanaan parpol bukan konsumsi publik, atau memberikan laporan yang tidak lengkap, bahkan ada parpol yang tidak punya laporan keuangan.

Partai politik merupakan saluran organisasi yang dapat dipergunakan untuk memperoleh kekuasaan baik di level legislatif maupun eksekutif dan itu adalah amanat konstitusi dalam konteks Indonesia. Fakta yang disampaikan sebelumnya mengenai keterkaitan antara korupsi politik dan pendanaan partai menjadi sebuah hal yang menarik untuk ditelisik, apakah itu disebabkan karena mereka memang bermental korup, atau ada faktor lain atau Apakah hanya karena persoalan moralitas dari pejabat pemerintahan yang tidak baik.

Secara pribadi, penulis sangat tidak percaya bahwa moralitas dan mentalitas merupakan faktor dominan yang menjadikan banyak diantara anggota Legislatif terlibat korupsi. Banyaknya orang baik yang menjadi jahat setelah menjadi anggota legislatif adalah sebuah petunjuk untuk mengungkap tabir ini. Jadi, ini sebenarnya menyangkut sistem. Maksudnya, sistem politik dan kepartaian di Indonesia memang mendorong anggota legislatif dan pejabat eksekutif untuk melakukan tindakan koruptif. Sistem politik Indonesia memang menciptakan biaya tinggi. Biaya tinggi ini yang harus ditanggung partai politik, anggota legislatif, dan pejabat eksekutif. Nah, biaya politik yang demikian tinggi itulah yang harus ditanggung partai politik dan kader-kadernya yang duduk di legislatif maupun eksekutif di daerah. Pertama, mereka harus mengumpulkan uang untuk membayar utang dari pemilu yang lalu. Kedua, mereka juga harus mengumpulkan uang untuk persiapan pemilu yang akan datang. 

Dari mana mereka mendapatkan uang jika tidak memanfaatkan jabatan yang didudukinya, maka permasalahan-permasalahan yang menimpa partai politik di negeri ini disebabkan oleh faktor sistem yang berakibat langsung terhadap berbagai macam tindakan korupsi politik yang dilakukan oleh kader-kader partai.

Mungkin memang ada benarnya bahwa secara individu tidak semua anggota partai politik yang masuk kedalam sistem itu adalah orang yang jahat, diantara mereka masih ada orang-orang baik yang punya keikhlasan untuk berjuang memikirkan nasib dan permasalahan bangsa, walaupun mungkin itu jumlahnya sangat “jarang” di antara mereka, tetapi yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana mereka dapat terus bertahan dalam kondisi seperti itu, jika tidak terpental karena kuatnya ikatan idealisme yang dipegangnya serta harus terus makan hati, maka ada kecenderungan mereka dapat berubah menjadi individu-individu yang pragmatis dalam aktivitas politik yang dilakukannya dalam parlemen. Selain itu, pola kaderisasi dalam tubuh partai politik juga harus diperbaiki, jangan sampai lahir kader-kader karbitan yang bergabung dengan partai politik hanya karena faktor popularitas dan dana yang dimilikinya sehingga dengan bermodal itu diyakini mereka akan menang dan dapat menyokong partai. 

Untuk itu partai politik harus kembali menata dirinya, dilengkapi juga dengan perombakan total terhadap sistem politik dan kepartaian di khususnya di daerah umumnya di Indonesia, serta perangkat aturan yang kuat untuk memonitoring dan membuka pendanaan parpol agar tidak terjadi perselingkuhan antara politisi dan pengusaha sebagai imbas dari kontrak politik yang mereka bangun. 

Serta yang tak kalah pentingnya adalah faktor komunikasi dan positioning dari ideologi partai politik yang harus mereka pegang utuh agar tidak terjerembab kedalam sikap pragmatisme politik yang menyebabkannya mau berkompromi dengan situasi-situasi politik yang berkembang, sehingga mereka meninggalkan akar filosofis yang sangat mendasar yang menjiwai munculnya partai politik tersebut. 

Tetapi satu yang pasti bahwa kita membutuhkan performance sebuah partai politik yang betul-betul mampu menerapkan sesuai aturan yang ada untuk mengantisipasi dari keterpurukan yang sudah menjangkitinya dan berjuang demi terwujudnya sebuah kesejahteraan yang betul-betul sesuai dengan fitrah manusia.




Nilai : 75 / 100
Bertingkat  : Sabtu, 10 November 2018, 19:25
Dinilai oleh : Siti Nuraini
Komentar umpan balik.
Sumber bacaan ?

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin