TUGAS 3 LOGIKA



Tugas 3 ini merupakan evaluasi tentang "penalaran oposisi" dan "silogisme beraturan". Jawablah pertanyaan berikut ini:

Jelaskan apa yang dimaksud dengan "penalaran oposisi" dan bentuk penalaran oposisi sebagai penyimpulan langsung?
Lalu, berikan dua contoh setiap bentuk-bentuk peralaran oposisi?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan "silogisme beraturan" dan bentuk silogisme beraturan sebagai penyimpulan tidak langsung?
Lalu, berikan dua contoh setiap bentuk-bentuk silogisme beraturan?

Tugas harus diupload paling lambat 23 November 2018.

Selamat berkarya!

Salam,

Tutor

Jawab : 

1. Penalaran oposisi adalah Penalaran dalam logika pertentangan dua pernyataan dengan term yang sama, yang didefinisikan pertentangan antara dua pernyataan atas dasar pengolahan term yang sama. Pertentangan di sini diartikan juga dengan hubungak logik, yaitu hubungan yang di dalamnya terkandung adanya suatu penilaian benar atau salah terhadap dua pernyataan yang diperbandingkan. Adapun dua pernyataan yang diperbandingkan itu keduanya berbentuk pernyataan yang terdiri dua term sebagai subjek dan predikat yang menghasilkan penyimpulan langsung.

2. Contoh:

Pertama
a. Benarkah pengertian identitas sebagai bangsa Indonesia pada generasi muda berbeda dengan generasi tua? Benar

b. Identitas bangsa yang dirasakan oleh generasi muda dan generasi tua mengalami perbedaan (distinction) dalam praktiknya. Globalisasi telah memberikan ruang “antara”, sehingga konstruksi identitas “antara” tumbuh di kalangan generasi muda, bukan penipisan rasa identitas sebagai bangsa.

Kedua
c. Dalam studi budaya dan studi poskolonial, poskolonialisme merupakan upaya rekonstruksi diri, yang menjelaskan bahwa “identitas bangsa Indonesia” dikonstruksi di dalam konteks antar-budaya. (Benar)

d. Generasi muda atau generasi tua yang progresif-kritis lebih lekat dan sadar atas identitas “antara” dalam memaknai identitas bangsa. Identitas bangsa sebagai hasil interaksi antar-budaya. Dengan demikian, pluralitas adalah keniscayaan realitas sosial-budaya Indonesia, bukan keseragaman.

3. Silogisme beraturan adalah silogisme lengkap yang terdiri dari dua proposisi yang berupa premis mayor dan premis minor, dan sebuah konklusi.

4. Contoh:

a. Pertama
· Relasi antara habitus, kapital budaya, dan ranah menghasilkan praktik dengan strategi, sesuai dengan formula {(habitus) (capital)} + field = practice (Bourdieu, 1984: 101)

· Gus Dur bersama The Wahid Institute mereproduksi misi plural and peaceful Islam.yang dipraktikkan melalui habitus dengan kapital budaya di dalam ranah (field) pendidikan kritis-emansipatoris

· Konsepsi habitus Bourdieu itu menjelaskan Gus Dur sebagai cendikiawan, budayawan, dan politikus memiliki skemata sebagai wujud dari habitus yang mempunyai kapital budaya, ekonomi dan politik

b. Kedua
c. Identitas bangsa yang dirasakan oleh generasi muda dan generasi tua mengalami perbedaan (distinction) dalam praktiknya. Globalisasi telah memberikan ruang “antara”, sehingga konstruksi identitas “antara” tumbuh di kalangan generasi muda, bukan penipisan rasa identitas sebagai bangsa. Generasi muda atau generasi tua yang progresif-kritis lebih lekat dan sadar atas identitas “antara” dalam memaknai identitas bangsa. Identitas bangsa sebagai hasil interaksi antar-budaya. Dengan demikian, pluralitas adalah keniscayaan realitas sosial-budaya Indonesia, bukan keseragaman







Nilai 84 / 100
Graded on Sabtu, 24 November 2018, 16:41
Graded by Didik Setiyadi , S.Kom. M.Kom. FISIP
Komentar umpan balik.
Terimakasih atas partisipasinya dalam menjawab tugas-2 yang diberikan

Salam

Didik Setiyadi

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin