MAKALAH PERUBAHAN SOSIAL DI KOTA DAN DAMPAKNYA
DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI PERKOTAAN MODERN
Disusun Oleh :
H A S B I
030679133
MAHASISWA UNIVERSITAS TERBUKA
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
Tahun 2018-2019
Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul “DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI PERKOTAAN MODERN” ini dapat diselesaikan tanpa halangan suatu apapun.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat Kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Indragiri Hilir, 13 Nopember 2018
Penyusun
HASBI
Daftar Isi
Kata pengantar ..................................................................................................
Daftar isi ...........................................................................................................
Bab I Pendahuluan............................................................................................
- A. Latar Belakang...........................................................................................
- B.Rumusan masalah.......................................................................................
Bab II Isi............................................................................................................
- A. Pengertian Masyarakat...............................................................................
- B. Masyarakat Perkotaan................................................................................
· 1. Pengertian Masyarakat Perkotaan...............................................................
· 2. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota.......................................................
- C. Struktur Organisasi Kota............................................................................
· 1. Segi Demokrafi...........................................................................................
· 2. Segi Ekonomi..............................................................................................
· 3. Segi Segregasi.............................................................................................
- D. Ciri-ciri Masyarakat Kota...........................................................................
· 1. Pelapisan Sosial Ekonomi...........................................................................
· 2. Individualisme.............................................................................................
· 3. Toleransi Sosial...........................................................................................
· 4. Jarak Sosial..................................................................................................
· 5. Pelapisan Sosial...........................................................................................
- E. Sifat- Sifat Masyarakat Kota.......................................................................
· 1. Sikap Kehidupan..........................................................................................
· 2. Tingkah Laku...............................................................................................
· 3. Perwatakan...................................................................................................
- F. Mata Pencarian Masyarakat Kota................................................................
- G. Perubahan Sosial Masyarakat Kota dan Dampaknya atau Modernisasi.....
- H. Perbedaan Desa dan Kota ..........................................................................
Bab III Penutup
- A. Kesimpulan.................................................................................................
- B. Penutup .......................................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................................
A. Latar Belakang
2. Mengetahui ciri-ciri sosial masyarakat perkotaan.
3. Mengetahui sifat-sifat masyarakat perkotaan.
4. Mengetahui perbedaan kota dan desa.
5. Memahami dampak modernisasi bagi kehidupan masyarakat kota.
6. Mengetahui Mata Pencarian Masyarakat Perkotaan
A. Pengertian Masyarakat
http://yunitaadilla18.blogspot.com/2013/04/makalah-geolingsum-kehidupan-masyarakat.html
http://fikrigundar.blogspot.com/2012/01/pengertian-masyarakat-perkotaan.html
https://lorentfebrian.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/
https://nenengsuryaniti.wordpress.com/2013/11/22/sifat-dan-hakikat-masyarakat-pedesaan-dan-perkotaan/
· 2. Individualisme.............................................................................................
· 3. Toleransi Sosial...........................................................................................
· 4. Jarak Sosial..................................................................................................
· 5. Pelapisan Sosial...........................................................................................
- E. Sifat- Sifat Masyarakat Kota.......................................................................
· 1. Sikap Kehidupan..........................................................................................
· 2. Tingkah Laku...............................................................................................
· 3. Perwatakan...................................................................................................
- F. Mata Pencarian Masyarakat Kota................................................................
- G. Perubahan Sosial Masyarakat Kota dan Dampaknya atau Modernisasi.....
- H. Perbedaan Desa dan Kota ..........................................................................
Bab III Penutup
- A. Kesimpulan.................................................................................................
- B. Penutup .......................................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
Di Indonesia, pertumbuhan penduduk semakin meningkat, terutama di daerah perkotaan. Banyak masyarakat desa mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Mereka berfikir bahwa di perkotaan adalah sumber mata pencaharian terbesar dibandingkan di pedesaan. Mereka juga menganggap bahwa kehidupan di kota lebih baik daripada di desa. Namun, pada kenyataannya kehidupan di kota tidak sebaik yang mereka bayangkan.
Selain peningkatan jumlah penduduk, tingkat pengangguran di kota juga semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena meningkatnya laju urbanisasi di kota-kota besar dan kurangnya lapangan pekerjaan. Penyebab ini mengakibatkan kekecewaan masyarakat desa yang sebelumnya telah menggantungkan harapannya di kota.
Untuk mengurangi tingkat pengangguran di perkotaan, sebaiknya masyarakat pedesaan yang berharap mendapatkan kehidupan yang yang lebih layak di kota lebih berfikir ulang untuk melakukannya. Karena jika hal itu terjadi, bukan mereka saja yang akan merasakan kekecewaan, masyarakat kota sendiripun akan terbebani karena kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik terhambat. Selain itu juga tingkat pengangguran akan semakin meningkat.
B. Rumusan Masalah
1. Memahami pengertian masyarakat pekotaan.2. Mengetahui ciri-ciri sosial masyarakat perkotaan.
3. Mengetahui sifat-sifat masyarakat perkotaan.
4. Mengetahui perbedaan kota dan desa.
5. Memahami dampak modernisasi bagi kehidupan masyarakat kota.
6. Mengetahui Mata Pencarian Masyarakat Perkotaan
BAB II
ISI
SOSIAL MASYARAKAT PERKOTAAN
A. Pengertian Masyarakat
Sebelum kita bicara lebih lanjut masalah masyarakat,baik kita tinjau terlebih dahulu tentang masyarakat.Secara umum, pengertian masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya serta lembaga yang khas. Masyarakat juga bisa didefinisikan sebagai kelompok orang yang terorganisasi karena memiliki tujuan bersama.
Mengingat banyaknya definisi masyarakat tersebut diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang.
2. Telah bertempat tinggal alam waktu yang lama di suatu daerah tertentu.
3. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengtur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.
Apabila kita berbicara tentang masyarakat,terutama jika kita mengemukakanya dari sudut antropologi,maka kita mempunyai kecenderungan untuk melihat dua tipe masyarakat:
Pertama, satu masyarakat kecil yang belum begitu kompleks, yang belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal struktur dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajari sebagai satu kesatuan.
Kedua, masyarakat yang sudah kompleks, yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang, karena ilmu pengetahuan modern sudah maju, teknologi maju, sudah mengenal tulisan, satu masyarakat yang sukar diselidiki dengan baik dan didekati sebagian saja.
B. Masyarakat Perkotaan
1. Pengertian Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community, adalah masyarakat yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Pengertian kota sendiri adalah suatu himpunan penduduk masalah yang tidak agraris, yang bertempat tinggal di dalam dan di sekitar suatu kegiatan ekonomi, pemerintah, kesenian, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
Kota merupakan suatu daerah yang memiliki ciri-ciri khusus yang dapat membedakannya dengan daerah desa , seperti pemusatan jumlah penduduk , pusat pemerintahan dan sarana dan prasarana penunjang aktivitas manusia yang relatif lebih lengkap di bandingkan dengan daerah desa. Secara umum kota adalah tempat bermukimnya warga kota, tempat bekerja, tempat kegiatan dalam bidang ekonomi, pemerintah dan lain-lain.
Definisi mengenai kota menurut para ahli didasari beberapa aspek menurut perhatiannya masing-masing Hoekveld dalam Daljoeni (1998:41) mengungkapkan bahwa kota ditentukan berdasarkan beberapa aspek , yaitu morfologi, jumlah penduduk, hukum, ekonomi, dan sosial.
1. Morfologi , yaitu perbandingan bentuk fisik kota dengan fisik pedesaan. Di kota dapat dilihat gedung-gedung tinggi besar serba berdekatan sementara didesa rumah tersebar dalam lingkungan alam wajar fisis –biotis.
2. Jumlah penduduk kota diukur berdasarkan jumlah penduduknya, kota kecil , berpenduduk 20.000 hingga 50.000 jiwa. Kota sedang berpenduduk 50.000 hingga 100.000 jiwa, kota besar 100.000 hingga 1.000.000 jiwa, kota metropolitan 1.000.000 hingga 10.000.000 jiwa, dan kota megalopolis ≥ 10.000.000 jiwa.
3. Hukum, maksudnya yaitu adanya hak-hak hukum tersendiri bagi penghuni kota.
4. Ekonomi , ciri kota berdasarkan ekonominya yaitu hidup yang non agraris, kota fungsi khas nya lebih cultural, industri da perdagangan.Diantara semua hal tersebut , yang paing menonjol yaitu ekonomi perniagaan.
5. Sosial , hubungan antar penduduk disebut impersonal, orang yang bergaul serba lugas , hanya sepintas. Hidup terkotak-kotak oleh kepentingan yang berbeda-beda dan manusia bebas memilih dengan siapa yang di inginkannya.
Kota besar merupakan tempat berlangsungnya peningkatan dan pengembangan banyak dimensi kehidupan, serta tempat berkonsentrasinya warga baru yang berdatangan setiap saat. Banyak masalah yang dihadapi masyarakat kota besar, misalnya (1) skala jarak yang semakin besar memisahkan tempat kerja dengan tempat tinggal yang membutuhkan waktu , energi, dan biaya yang besar pula. (2) buruknya kondisi perumahan baik kualiatas maupun kuantitasnya , penanganan limbah yang buruk , pencemaran udara, kebisingan, dan masalah-masalah lainnya yang meningkatkan biaya hidup warganya. (3) keterbatasan fasilitas dan pelayanan publik , lapangan kerja , dan persaingan yang ketat, gejala - gejala pengangguran , bentuk- bentuk kejahatan, dan perilaku-perilaku yang tidak layak lainnya.
Tanggung jawab perbaikan mutu kehidupan kota memang berada ditangan pemerintah baik lokal, regional, maupun nasional akan tetapi partisipasi warga kota ikut menentukan keberhasilan perbaikan kehidupan kota yang bersangkutan , oleh karena itu warga harus ikut berperan dan berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota
Pertumbuhan kota adalah perubahan fisik kota sebagai akibat dari perkembangan masyarakat kota. Pertumbuhan kota berasal dari berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas dan kualitas hidup tenaga kerja (Glaeseret al, 1995). Secara teoritik Charles C. olby (dalam Daldjoeni, 1992) menjelaskan adanya dua daya yang menyebabkan kota berekspansi atau memusat, yaitu daya sentripetal dan daya sentrifugal. Daya sentripetal adalah daya yang mendorong gerak ke dalam dari penduduk dan berbagai kegiatan usahanya, sedangkan daya sentrifugal adalah daya yang mendorong gerak keluar dari penduduk dan berbagai usahanya dan menciptakan disperse kegiatan manusia dan relokasi sektor-sektor dan zone-zone kota.
Terdapat faktor-faktor yang mendorong gerak sentripetal adalah:
1. adanya berbagai pusat pelayanan, seperti pendidikan, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan sebagainya;
2. mudahnya akses layanan transportasi seperti pelabuhan, stasiun kereta, terminal bus, serta jaringan jalan yang bagus;
3. tersedianya beragam lapangan pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih tinggi.
Sedangkan faktor-faktor yang mendorong gerak sentrifugal adalah:
1. adanya gangguan yang berulang seperti macetnya lalulintas, polusi, dan gangguan bunyi-bunyian yang menimbulkan rasa tidak nyaman;
2. harga tanah, pajak maupun sewa di luar pusat kota yang lebih murah jika dibandingkan dengan pusat kota;
3. keinginan untuk bertempat tinggal di luar pusat kota yang terasa lebih alami (Daldjoeni, 1992).
Cheema (1993) menyebutkan adanya beberapa faktor penyebab cepatnya pertumbuhan kota, yaitu bahwa kota lebih memberikan peluang terhadap kesempatan kerja, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial lainnya. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor kemudahan transportasi dan komunikasi juga berperan dalam memacu pertumbuhan kota karena lebih menjanjikan peningkatan kesejahteraan dan peningkatan perekonomian bagi keluarga.
Perkembangan kota dapat diartikan sebagai suatu perubahan menyeluruh, yaitu yang menyangkut segala perubahan didalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi maupun perubahan fisik. Menurut Yunus (1978) perkembangan adalah suatu proses perubahan keadaan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda. Sorotan perubahan keadaan tersebut biasanya didasarkan pada waktu yang berbeda dan untuk analisa ruang yang sama dari waktu ke waktu yang lain.
Menurut Catanese (1989) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kota ini dapat berupa faktor fisik dan non fisik. Faktor-faktor fisik akan mempengaruhi perkembangan suatu kota diantaranya:
a. Faktor Lokasi
Faktor di mana kota itu berada akan sangat mempengaruhi perkembangan kota tersebut, hal ini berkaitan dengan kemampuan kota tersebut untuk melakukan aktifitas dan interaksi yang dilakukan penduduknya. Kota yang berlokasi di jalur jalan utama atau persimpangan jalan utama akan mampu menyebarkan pergerakan dari dan semua penjuru dan menjadi titik pertemuan antara pergerakan dari berbagai arah.
b. Faktor Geografis
Kondisi geografis suatu kota akan mempengaruhi perkembangan kota. Kota yang mempunyai kondisi geografis relatif datar akan sangat cepat untuk berkembang dibandingkan dengan kota di daerah yang bergunung-gunung yang akan menyulitkan dalam melakukan pergerakan baik itu orang maupun barang. Selain itu kota di daerah yang bergunung–gunung akan sulit merencana dan mendesainnya dibandingkan dengan daerah dengan daerah datar. Sebagai gambaran kota yang berada di dataran rendah (rata) lebih cepat berkembang dibandingkan dengan Kota yang berada di daerah yang bergunung-gunung.
Sedang faktor-faktor non fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan suatu kota dapat berupa:
a. Faktor Perkembangan Penduduk
Perkembangan penduduk data disebabkan oleh dua hal , yaitu secara alami (internal) dan migrasi (eksternal), perkembangan secara alami adalah yang berkaitan dengan kelahiran dan kematian yang terjadi di kota tersebut, sedangkan migrasi berhubungan dengan pergerakan penduduk dari luar kota masuk kedalam kota. Menurut Daljoeni (1987) pembahasan tentang laju perkembangan penduduk meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan dan penyebaran. Penyebaran kepadatan penduduk dipengaruhi oleh empat unsur geografis yaitu lokasi, iklim, tanah dan air Kartasapoetra (dalam Novianti 2002 )
b. Faktor Aktivitas Kota
Kegiatan yang ada didalam kota tersebut, terutama kegiatan perekonomian. Perkembangan perekonomian ditentukan oleh faktor faktor yang berasal dari dalam kota itu sendiri (faktor internal) yang meliputi faktor-faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, modal serta faktor-faktor yang berasal dari luar daerah (faktor eksternal) yaitu tingkat permintaan dari daerah-daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan oleh daerah yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut pada gilirannya akan membentuk suatu aglomerasi kegiatan perekonomian yang makin lama akan semakin besar dan menyebabkan kota tersebut.
C. Struktur Penduduk Kota
1. Segi Demografi
Ekspresi demografi dapat ditemui di kota-kota besar. Kota-kota sebagai pusat perdagangan, pusat pemerintahan dan pusat jasa lainnya menjadi daya tarik bagi penduduk di luar kota. Jenis kelamin dalam hal ini mempunyai arti penting, karena semua kehidupan sosial dipengaruhi oleh proporsi atau perbandingan jenis kelamin. Suatu kenyataan ialah bahwa pada umumnya kota lebih banyak dihuni oleh wanita daripada pria.
Struktur penduduk kota dari segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tergolong dalam umur produktif. Kemungkinan besar adalah bahwa mereka yang berumur lebih dari 65 tahun atau mereka yang sudah pensiun lebih menyukai kehidupan dan suasana yang lebih tenang. Suasana ini terdapat di daerah-daerah pedesaan atau sub urban.
2. Segi Ekonomi
Struktur kota dari segi ini dapat dilihat dari jenis-jenis mata pencaharian penduduk atau warga kota. Sudah jelas bahwa jenis mata pencaharian penduduk kota adalah di bidang non agraris seperti pekerjaan-pekerjaan di bidang perdagangan, kepegawaian,pengangkutan dan di bidang jasa serta lain-lainnya. Dengan demikian struktur dari segi jenis-jenis mata pencaharian akan mengikuti fungsi dari suatu kota.
3. Segi Segregasi
Segregasi dapat dianalogkan dengan pemisahan yang dapat menimbulkan berbagai kelompok (clusters), sehingga kita sering mendengar adanya: kompleks perumahan pegawai bank, kompleks perumahan tentara, kompleks pertokoan, kompleks pecinan dan seterusnya. Segregasi ini ditimbulkan karena perbedaan suku, perbedaan pekerjaan, perbedaan strata sosial, perbedaan tingkat pendidikan dan masih beberapa sebab-sebab lainnya.
Segregasi menurut mata pencaharian dapat dilihat pada adanya kompleks perumahan pegawai, buruh, industriawan, pedagang dan seterusnya, sedangkan menurut perbedaan strata sosial dapat dilihat adanya kompleks golongan berada. Segregasi ini tidak akan menimbulkan masalah apabila ada saling pengertian, toleransi antara pihak-pihak yang bersangkutan.
Segregasi ini dapat disengaja dan dapat pula tidak di sengaja. Disengaja dalam hubungannya dengan perencanaan kota misalnya kompleks bank, pasar dan sebagainya. Segregasi yang tidak disengaja terjadi tanpa perencanaan, tetapi akibat dari masuknya arus penduduk dari luar yang memanfaatkan ruang kota, baik dengan ijin maupun yang tidak dengan ijin dari pemerintahan kota. Dalam hal seperti ini dapat terjadi slums.
Biasanya slums ini merupakan daerah yang tidak teratur dan bangunan-bangunan yang ada tidak memenuhi persyaratan bangunan dan kesehatan.
Adanya segregasi juga dapat disebabkan sewa atau harga tanah yang tidak sama. Daerah-daerah dengan harga tanah yang tinggi akan didiami oleh warga kota yang mampu sedangkan daerah dengan tanah yang murah akan didiami oleh warga kota yang mampu sedangkan daerah dengan tanah yang murah akan didiami oleh swarga kota yang berpenghasilan sedang atau kecil.
Apabila ada kompleks yang terdiri dari orang-orang yang sesuku bangsa yang mempunyai kesamaan kultur dan status ekonomi, maka kompleks ini atau clusters semacam ini disebut dengan istilah ”natural areas”.
D. Ciri- Ciri Masyarakat Kota
Beberapa ciri-ciri sosial kehidupan masyarakat kota, antara lain:
1. Pelapisan Sosial Ekonomi
Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Heterogenitas tersebut dapat berlanjut dan memacu adanya persaingan, lebih-lebih jika penduduk di kota semakin bertambah banyak dan dengan adanya sekolah-sekolah yang beraneka ragam terjadilah berbagai spesialisasi di bidang keterampilan ataupun di bidang jenis mata pencaharian.
2. Individualisme
Perbedaan status sosial-ekonomi maupun kultural dapat menimbulkan sifat “individualisme”. Sifat kegotongroyongan yang murni sudah sangat jarang dapat dijumpai di kota. Pergaulan tatap muka secara langsung dan dalam ukuran waktu yang lama sudah jarang terjadi, karena komunikasi lewat telepon sudah menjadi alat penghubung yang bukan lagi merupakan suatu kemewahan. Selain itu karena tingkat pendidikan warga kota sudah cukup tinggi, maka segala persoalan diusahakan diselesaikan secara perorangan atau pribadi, tanpa meminta pertimbangan keluarga lain.
3. Toleransi Sosial
Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan maka mereka mampu akan mempunyai sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Di kota masalah ini dapat diatasi dengan adanya lembaga atau yayasan yang berkecimpung dalam bidang kemasyarakatan.
4. Jarak Sosial
Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya dapat dikatakan cukup tinggi. Biasanya sudah melebihi 10.000 orang/km2. Jadi, secara fisik di jalan, di pasar, di toko, di bioskop dan di tempat yang lain warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial berjauhan, karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan.
5. Pelapisan Sosial
Perbedaan status, kepentingan dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Penilaian dapat didasarkan pada latar belakang ekonomi, pendidikan dan filsafat. Perubahan dan variasi dapat terjadi, karena tidak ada kota yang sama persis struktur dan keadaannya.
Suatu hal yang perlu ditambahkan sebagai penjelasan ialah pengertian mengenai istilah “neighborhood”. Dalam pengertian “neighborhood” terkandung unsur-unsur fisis dan sosial, karena unsur-unsur tersebut terjalin menjadi satu unit merupakan satu unit tata kehidupan di kota. Unsur-unsurnya antara lain gedung-gedung sekolah, bangunan pertokoan, pasar, daerah-daerah terbuka untuk rekreasi, jalan kereta api, jalan mobil dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sesungguhnya “neighborhood” ini sudah tidak merupakan hal baru bagi kita. Dalam kota terdapat banyak unit atau kelompok “neighborhood”, karena “neighborhood” ini dibatasi oleh beberapa persyaratan tertentu, antara lain:
Lingkungan ini terbatas pada jarak pencapaian antara seseorang dengan toko atau sekolah, misalnya dapat dilakukan dengan jalan kaki.
Bila seseorang terpaksa harus memakai kendaraan, maka pekerjaannya tidak perlu melalui lalu lintas yang ramai dan padat.
Dari segi jumlah penduduk, maka satu unit “neighborhood” didiami oleh 5.000 sampai 6.000 orang. Untuk tempat-tempat di Indonesia angka ini tentu tidak akan sama dan mungkin akan menunjukkan angka yang lebih besar.
Sebuah unit “neighborhood” dapat terbentuk kalau terjadi jalinan dan interaksi sosial diantara warga kota sesamanya. Unit atau kelompok “neighborhood” ini dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi dapat juga terjadi dengan suatu perencanaan pembangunan kota, yaitu dengan merencanakan daerah-daerah lingkungan kehidupan yang khusus dan memenuhi persyaratan praktis dan menyenangkan. Bertambahnya penghuni kota baik berasal dari dari penghuni kota maupun dari arus penduduk yang masuk dari luar kota mengakibatkan bertambahnya perumahan-perumahan yang berarti berkurangnya daerah-daerah kosong di dalam kota. Semakin banyaknya anak-anak kota yang menjadi semakin banyak pula diperlukan gedung-gedung sekolah. Bertambah pelajar dan mahasiswa berarti bertambah juga jumlah sepeda dan kendaraan bermotor roda dua. Toko-toko. Warung makan atau restoran bertambahnya terus sehingga makin mempercepat habisnya tanah-tanah kosong di dalam kota. Kota terpaksa harus diperluas secara bertahap menjauhi kota.
E. Sifat- Sifat Masyarakat Kota
Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/ tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non-agraris. Masyarakt perkotaan memiliki sifat-sifat yang tampak menonjol yaitu:
1. Sikap Kehidupan
Sikap kehidupan masyarakt kota cenderung pada individuisme/egoisme yaitu masing-masing anggota masyarakat berusaha sendiri-sendiri tanpa terikat oleh anggota masyarakt lainnya, hal mana menggambarkan corak hubungan yang terbatas, dimana setiap individu mempunyai otonomi jiwa atau kemerdekaan untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
2. Tingkah Laku
Tingkah lakunya bergerak maju mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis. Dari segi budaya masyarakat kota umumnya mempunyai tingkatan budaya yang lebih tinggi, karena kreativitas dan dinamikanya kehidupan kota lebih cepat menerima yang baru atau membuang sesuatu yang lama, lebih cepat mengadakan reaksi, lebih cepat menerima mode-mode dan kebiasaan-kebiasaan baru. Kedok peradaban yang diperolehnya ini dapat memberikan sesuatu perasaan harga diri yang lebih tinggi, jauh berbeda dengan seni budaya dalam masyarakat desa yang bersifat statis. Derajat kehidupan masyarakt kota beragam dengan corak sendiri-sendiri.
3. Perwatakan
Perwatakannya cenderung pada sifat materialistis. Akibat dari sikap hidup yang egoism dan pandangan hidup yang radikal dan dinamis menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi, yang mana menimbulkan efek-efek negative yang berbentuk tindakan amoral, indisipliner, kurang memperhatikan tanggungjawab sosial.
F. Mata Pencaharian Masyarakat Kota
Mata pencaharian penduduk di perkotaan mengarah kepada sektor pembangunan, perindustrian, transportasi, pariwisata dll. Daerah perkotaan khususnya di kota-kota besar di pandang sebagai lahan sumber mata pencaharian dengan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mata pencaharian dalam sektor bercocok tanam ataupun nelayan di daerah pedesaan/pantai. Namun, memiliki mata pencaharian di sektor tersebut juga memerlukan kemampuan dan keahlian yang profesional dalam menjalankan pekerjaannya.
Karena tingginya penghasilan didaerah perkotaan, menyebabkan masyarakat pedesaan tertarik untuk bekerja di perkotaan yang akhirnya mereka meninggalkan desanya untuk transmigrasi ke kota walaupun mereka berbekal pendidikan yang tidak cukup tinggi. Hal ini menyebabkan, terjadinya kepadatan penduduk di daerah perkotaan juga meningkatkan angka pengangguran di kota karena lahan pekerjaan yang terbatas.
Mata pencaharian masyarakat di kota sebagian besar sebagai pegawai kantoran, banyak juga yang berdagang atau membuka bisnis sendiri sebagai mata pencaharian mereka. Perbedaan mata pencaharian antara di kota dengan di desa, dilihat dari lingkungan lahan di pedesaan sebagian besar digunakan untuk pertanian, sedangkan dikota sudah tidak ada lahan yang digunakan untuk penghijauan. Lahan-lahan di perkotaan banyak digunakan untuk pembangunan gedung-gedung bertingkat, perumahan eliet, dan mall-mall besar. Hal ini, dikarenakan daerah perkotaan telah mengalami pengaruh globalisasi yang menyebabkan tingkat perekonomian di kota juga meningkat.
G. Perubahan Sosial Masyarakat Kota dan Dampaknya atau Modernisasi.
Kalau diartikan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, modern diartikan sebagai terbaru atau mutakhir. Modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas agar dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Modernisasi kota merupakan sebuah proses transformasi atau berkembangnya kota dari keadaan sebelumnya yang kurang maju dan kurang berkembang menuju keadaan yang lebih baik, perkembangan berlaku pada bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan lain sebagainya.
Modernisasi kota bertujuan mencapai masyarakat yang lebih maju, berkembang dan sejahtera, hal ini dapat terjadi karena keterbukaan pada masyarakat sehingga dengan mudah menerima budaya dan keanekaragaman pemikiran yang ada. Kota berkembang karena adanya pertumbuhan populasi dan aktifitas dari penduduknya. Modernisasi merupakan hasil dari perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Perkembangan ini dapat dirasakan oleh orang-orang dari berbagai lapisan sosial yang ada, juga dari berbagai tempat, modernisasi menjangkau dari kota hingga desa. Sehingga saat ini masyarakat dapat melakukan berbagai hal dengan mudah, seperti contohnya, kemajuan teknologi, dulu orang mengerjakan tugas dengan cara menulis tangan, lalu ditemukan mesin ketik untuk mempermudah tugas tersebut, semakin lama mesin ketik berkembang lebih kompleks menjadi komputer.
Kita menerima banyak dampak positif dari modernisasi yang senantiasa terus berjalan. Pertama, pola pikir masyarakat yang dulunya irasional sekarang menjadi rasional (ilmiah), dulu seringkali masyarakat menyangkut pautkan suatu kejadian dengan hal-hal yang bersifat mistis, tetapi perkembangan pola pikir menyimpulkan suatu kejadian merupakan proses sebab-akibat, dan hal ini dapat dibuktikan dengan sesuatu yang ada pada realitas. Kedua, teknologi yang terus berkembang sangatlah membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhannya. Tapi selain dari dampak tersebut, tidak dapat dihindari pula dampak negative dari modernisasi. Pertama, pola konsumtif masyarakat yang semakin meningkat dan hal ini menyebabkan persaingan yang tinggi, seperti contohnya dulu orang tidak diharuskan dan tidak terlalu memerlukan ponsel, tetapi kini ponsel merupakan kebutuhan yang sangat penting, tetapi semakin berkembangnya ponsel, orang-orang yang memiliki kelebihan uang selalu mengeluarkan dana untuk mengikuti perkembangan ponsel yang semakin canggih. Kedua, sikap individualistik dan apatis, teknologi menyebabkan manusia merasa tidak membutuhkan orang lain, padahal sebenarnya manusia diciptakan sebagai makluk sosial, contohnya penggunaan gadget yang salah, menyebabkan orang bersikap apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Ketiga, meningkatnya kriminalitas di kota, karena kesenjangan sosial yang semakin jelas tampak pada kehidupan masyarakat kota, hal ini menyebabkan orang miskin semakin frustasi dan perasaan tersebut mendorong untuk berbuat kriminal, selain itu kriminalitas juga terjadi dikarenakan menipisnya rasa kekeluargaan. Keempat, westernisasi, sifat kebarat-baratan tidak dapat kita hindari, seperti model pakaian yang terus berubah, dan ini membawa kita pada pola hidup konsumtif.
H. Perbedaan Desa dan Kota
Ada beberapa ciri yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota, antara lain sebagai berikut :
1. Kota memiliki penduduk yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan desa.
2. Lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh berbeda dengan diperkotaan.Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas,udaranya bersih,sinar matahari cukup dan lain sebagainya.Sedangkan dilingkungan perkotaan yang sebagian besar dilapisi beton dan aspal,bangunan-bangunan menjulang tinggi dan pemukiman yang padat.
3. Kegiatan utama penduduk desa berada di sector ekonomi primer yaitu bidang agraris(pertanian).
4. Corak kehidupan social di desa dapat dikatakan masih homogin(satu jenis),sebaliknya di kota sangat heterogin(beraneka ragam) karena disana saling bertemu berbagai suku bangsa,agama,kelompok dan masing-masing memiliki kepentingan yang berlainan.
5. Sistem pelapisan social di kota jauh lebih kompleks daripada di desa.
6. Mobilitas (kemampuan bergerak) social di kota jauh lebih besar daripada di desa.
7. Bila terjadi pertentangan,di usahakan untuk dirukunkan,karena memang prinsip kerukunan inilah yang menjiiwai hubungan sosial pada masyarakat pedesaan,
8. Jumlah angkatan kerja yang tidak mempunyai pekerjaan tetap di pedesaan jauh lebih besar daripada di perkotaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masyarakat kota memiliki arti warga yang tinggal dan menetap di wilayah metropolitan atau ibukota yang menjadi pusat perekonomian dan segala macam hal yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupan dengan kegiatannya yang tiada henti setiap harinya. Kehidupan di perkotaan dapat dijadikan sebagai trend setter di berbagai wilayah lainnya.
Dalam pergaulan sehari-hari haruslah mawas diri agar tidak terjerumus dalam hal negatif. Karena wilayah perkotaan adalah ‘sasaran empuk’ bagi para pelaku kejahatan untuk menjalankan setiap aksinya. Karena itu, kepada setiap orang yang hendak melakukan urbanisasi haruslah mempunyai kenalan keluarga yang sebelumnya telah tinggal di kota.
Media komunikasi perkotaan jauh lebih unggul dibanding pedesaan. Sekarang, anak sekolah dasar pun telah mengetahui media internet. Jalur komunikasi tidak hanya melalui telepon ataupun handphone. Ini terjadi karena kemajuan teknologi dan berpusat di wilayah perkotaan dalam penyebarannya.
Masyarakat perkotaan mempunyai kehidupan yang lebih kompleks dibanding masyarakat pedesaan. Karena ciri khas perkotaan sebagai pusat kehidupan telah menjadi momok di setiap lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, banyak terdapat hal-hal yang membuat warga desa tergiur untuk mencicipi kehidupan di kota, maka setiap tahunnya banyak orang-orang desa yang merantau pergi kekota untuk mencari nafkah. Tetapi banyak pula yang akhirnya menjadi pengangguran karena tidak memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup.
B. Saran
Penulis mengharapkan saran dan masukan-masukan yang membangun dari pihak pembaca dan sangat di harapkan sekali demi kesempurnaan makalah ini. Karena penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak memiliki kekurangan dan kelemahan.
Daftar Pustaka
http://fikrigundar.blogspot.com/2012/01/pengertian-masyarakat-perkotaan.html
https://lorentfebrian.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/
https://nenengsuryaniti.wordpress.com/2013/11/22/sifat-dan-hakikat-masyarakat-pedesaan-dan-perkotaan/
