Jenis-Jenis Otorita Birokrasi Legal Menurut Max Weber

credit: studiousguy.com


Dunia birokrasi tidak pernah terlepas dari sosok Max Weber (1864-1920). Seorang sosiolog dan intelektual Jerman. Beliau hidup pada masa Kekaisaran Bismarck. Memasuki dunia akademik di Universitas Heildelberg, Gottingen, dan Berlin mulai tahun 1882. Weber belajar ilmu hukum tetapi bersamaan dengan itu ia mengambil ilmu ekonomi, sejarah dan filsafat.

Menurut Weber, birokrasi mendasarkan diri pada hubungan antara kewenangan menempatkan dan mengangkat pegawai bawahan dengan menentukan tugas dan kewajiban masing-masing, dan perintah dilakukan secara tertulis; ada pengaturan mengenai hubungan kewenangan; dan promosi kepegawaian didasarkan atas aturan-aturan tertentu.

Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa kritik yang dilancarkan terhadap birokrasi disebabkan oleh hal-hal berikut:

  1. Kegagalan dalam menentukan wewenang dan tanggungjawab secara terbuka
  2. Peraturan-peraturan yang bersifat rutin dan kaku
  3. Kebodohan para pegawai
  4. Gerak pegawai yang lamban
  5. Prosedur dan proses yang berbelit-belit
  6. Pemborosan sumber

Weber memusatkan perhatian studinya pada pertanyaan mengenai mengapa orang merasa wajib untuk mematuhi perintah tanpa melakukan penilaian kaitan dirinya dengan nilai dari perintah tersebut. Ini merupakan salah satu perhatian Weber pada organisasi kemasyarakatan, pada umumnya dan peranan negara, pada khususnya.

Baca juga: Karakteristik Birokrasi Menurut Max Weber dan Kondisi Terbaru di Indonesia


Weber mengatakan bahwa kepatuhan bawahan terhadap legitimasi (kekuasaan yang sah) akan menghasilkan kestabilan pola kepatuhan dan perintah dalam sistem organisasi. Otorita tidak dapat bergantung pada ajakan kepentingan bawahan dan perhitungan untung rugi pribadi, atau pada motif suka atau benci. Itu sebabnya tidak ada satu pun otorita yang tergantung pada motif-motif ideal.

Selanjutnya Weber mengemukakan tipe-tipe ideal dari otorita yaitu:

Otorita Tradisional
Otorita jenis ini meletakkan dasar-dasar legitimasi pda pola pengawasan sebagaimana dipraktikkan pada masa lampau. Legitimasi amat dikaitkan dengan kewajiban penduduk untuk menyerahkan loyalitas pribadinya kepada siapa yang menjadi kepalanya. Perubahan sangat dilarang karena disebabkan nantinya akan menggerogoti sumber-sumber legitimasinya. Jika penguasa tradisional meninggalkan nilai-nilai lama, misalnya sebagai penengah, maka kepribadiannya akan luntur, tetapi setiap pengganti atau penguasa yang baru selalu akan dipilih melalui cara tradisional, sehingga dengan demikian sistem otorita akan tetap berlanjut.

Otorita Kharismatik
Otorita ini muncul karena penghambaan diri seseorang kepada individu yang memiliki hak-hak yang tidak biasa. Individu yang dipatuhi itu misalnya mempunyai sikap heroik, berwibawa serta ciri dan sifat-sifat pribadi lainnya yang menonjol. Kedudukan seseorang pemimpin kharismatik tidaklah diancam oleh kriteria-kriteria tradisional.

Otorita Kharismatik tidak bisa menerima satu pun sistem pengaturan bagi organisasi masyarakat. Tidak ada hukum, tidak ada hierarki dan formulasi, kecuali tuntutan penghambaan kepada penguasa-penguasa kharismatik itu. Para pengikut mematuhi komando para penguasa karena penghambaan diri, bukan karena hukum yang memaksanya untuk patuh. Otorita kharismatik merupakan lawan keteraturan rutin.

Baca: Kelemahan dan Masalah-Masalah dalam Sistem Birokrasi Max Weber


Baik otorita kharismatik maupun tradisional secara sah dijalankan berdasarkan inspirasi dan wahyu. Weber percaya bahwa kedua tipe otorita ini yang bertanggungjawab terhadap aktivitas-aktivitas organisasi masyarakat sebelum revolusi industri.

Otorita Legal-Rasional
Aturan otorita bersifat tidak pribadi (impersonal) yang ditetapkan secara legal. Kesetiaan dan kepatuhan terjadi manakala seseorang melaksanakan otorita kantornya hanya dengan legalitas formal dari pimpinannya dan hanya dalam jangkauan otorita kantornya. Otorita legal-rasional didasaarkan pada atura-aturan hukum yang pasti. Intisari dari otorita jenis ini adalah birokrasi.

Chandler dan Plano mengomentari tipe ideal Weber mengenai otorita legal-rasional amat sejajar dengan prinsip yang dikembangkan dalam teori organisasi klasik. Keduanya memberikan tekanan pada efisiensi kerja birokrasi, keteraturan administrasi dan penetapan secara yurisdiksi wilayah tanggungjawab dengan pasti dan resmi sebagai bagian dari pembagian sistematik terhadap bidang-bidang pekerjaan.

Kemiripan ide Max Weber dengan teori organisasi klasik juga dapat ditentutan oleh hal-hal berikut:

  1. Otorita untuk memerintah
  2. Prinsip-prinsip dari hierarki perkantoran dan jenjang tingkatan otorita yang terbangun dalam sistem superior dan subordinasi
  3. Birokrasi rasional seharusnya terdiri dari orang-orang yang bekerja sepenuh waktu, digaji, diangkat secara karier melalui latihan keahlian, dipilih berdasarkan kualifikasi teknis
  4. Mengurangi perbedaan manusiawi

Pun demikian, teori Weber tidaklah sempuran. Ada kelemahan-kelemahan seperti yang dipaparkan oleh Chandler dan Plano. Kelemahan teori Weber tersebut diantaranya:

  1. Tidak mengakui adanya konflik antara otorita yang telah dibangun secara hierarkis itu
  2. Tidak mudahnya menghubungkan proses birokrasi dan modernisasi di kalangan negara berkembang

Tipologi yang diajukan oleh Max Weber ini selanjutnya dikembangkan oleh para sarjana lain, seperti Fritz Morztein Marx, Eugene Litwak dan Textor & Banks


PingMyLinks.com - FREE Website Submission

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin