Paling tidak ada 3 kasus utama yang dituduhkan kepada Prabowo Subianto terkait Hak Asasi Manusia, yaitu: kasus penculikan akitivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan dalang kerusuhan Mei 1998. Namun tidak satupun tuduhan tersebut yang terbukti nyata. Seandainya Prabowo bersalah bukankah Pangab saat itu Wiranto? Seharusnya Wiranto yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Dimana sosok Wiranto saat Kerusuhan Mei 1998 berada?
Disadur dari sumber berita lawas yakni KompasTV tertanggal Jum’at (14/3/2014), yang menayangkan wawancara eksklusif Prabowo Subianto dalam acara Aiman.
Mari mengenal sosok Prabowo Subianto lebih dekat. Prabowo adalah salah capres yang maju dalam pemilihan presiden Republik Indonesia untuk ketiga kalinya. Karena posisi presiden di RI, sesungguhnya lebih berkuasa daripada presiden Amerika Serikat maupun Rusia, presiden RI haruslah yang terbaik dari yang ikut bertarung.
Sebenarnya kami menulis ini bukan karena kami bagian dari BPN, prinsip kami adalah netralitas dan kerahasiaan pemilih, sehingga kami hanya akan mengulas sosok Prabowo Subianto yang kontroversial dari sudut pandang sedikit berbeda seperti di sangkaan masyarakat umum. Tujuan kami adalah agar masyarakat mendapatkan informasi yang lengkap dan berimbang tentang calon pemimpin yang akan dipilihnya termasuk Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Mengingat begitu krontroversial dan banyaknya disinformasi mengenai tokoh yang satu ini. Utamanya mengenai peristiwa Kerusuhan Mei 1998.
Prabowo lahir di Jakarta 17 Oktober 1951. Beliau adalah mantan Danjen Kopasus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus), pengusaha sukses, politisi, dan calon presiden 2014 dan saat ini calon presiden 2019 bersama Sandiaga Uno. Prabowo adalah putra dari ahli ekonomi Indonesia,Soemitro Djojohadikusumo, cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan juga merupakan pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI).
Dari silsilahnya tampak bahwa Prabowo memiliki warisan ‘darah’ elit pemimpin-pemimpin dan orang besar di Indonesia bahkan jauh sebelum republik ini lahir.
Prabowo Subianto menikahi Titiek, putri Presiden Soeharto saat itu. Keputusan yang tampak prospektif saat itu namun menjadi blunder dalam hidupnya dikemudian hari. Dengan latar belakang keluarga intelektual, Prabowo mewarisi kecerdasan ayahnya, Soemitro. Terkenal sebagai pribadi yang sangat cerdas di tingkat akademik semasa sekolah maupun di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Selain menjadi alumni AKABRI (1974), tidak banyak yang tahu bahwa setelah lulus SMA, Prabowo juga diterima di American School In London, Britania Raya.
Karir beliau di bidang militer sangat gemilang dan membanggakan. Karir militer Prabowo termasuk yang tercepat dalam sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dengan tanpa mengindahkan hubungan beliau dengan sang Presiden waktu itu (menjadi menantu Soeharto). Prabowo Subianto sering juga disebut sebagai “The Brightest Star”. Beliau seorang jenderal termuda yang pernah ada yang meraih 3 bintang pada usia 46 tahun. Apakah ini karena cawe-cawe sang mertua? Wallahualam.
Prabowo bisa dianggap sebagai antitesa dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam dunia militer. Mungkin karena karir beliau yang banyak diisi dengan penugasan di satuan tempur, di lapangan langsung. Meski sama-sama merupakan “The Rising Star” di tubuh ABRI saat itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira intelektual ABRI, ibaratnya Prabowo adalah sensor sensitif dan reseptor terbaik yang bisa bergerak dengan cepat maka SBY adalah otak, atau sensor motorik yang membutuhkan keputusan-keputusan secara matang. Karena juga Pak SBY lebih banyak bergerak di belakang meja. Sedangkan Prabowo adalah executor lapangan.
Susilo Bambang Yudhoyono yang cenderung analitis dan berhati-hati dalam mengambil keputusan berbeda dengan Prabowo sebagai perwira lapangan. Beliau, Prabowo Subianto dikenal cenderung cepat, take action. Tidak heran jika kemudia suatu hari warga mendemo presiden SBY dengan membawa kerbau Si Buya. Prabowo akan menjalankan misi dengan penuh determinasi sekali sebuah keputusan final dibuat. Beliau siap menanggung segala konsekuensinya. Terdengar seperti orang ceroboh dan grusa-grusu. Tetapi begitulah penampilan Prabowo. Seperti Donald J. Trump di Amerika dan Presiden Rodrigo Duterte di Philippines saat ini.
Salah satu contoh keputusan yang menyebabkan karirnya hancur di dunia militer adalah perihal peristiwa penculikan aktivis. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki kasus ini tidak pernah mengungkapkan hasil pemeriksaannya kepada publik. Tidak juga kepada Prabowo yang menjadi pihak tertuduh
Tampaknya Wiranto sengaja mengambil manfaat agar prasangka publik menghukum Prabowo lebih berat daripada “dosanya”. Meski Prabowo bersikeras mengatakan tak pernah perintahkan. Namun beliau mengambil alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya.” Begitu kata beliau saat itu.
Sikap sembrono dan ksatria yang harus dibayar mahal dengan hancurnya karir militer yang gilang-gemilang. Jika Prabowo dinyatakan terbukti benar bersalah, mengapa kemudian korban-korban penculikan seperti Pius L Lanang dan Desmond J Mahesa malah menjadi pengurus Partai Gerindra?
Meski begitu, kualitas kepemimpinan Prabowo justru sudah teruji di saat-saat paling kritis yang pernah dialami negeri ini. Bagi mereka yang lelah dengan pemimpin lemah, lama mengambil keputusan, terkesan ragu-ragu, tampaknya Prabowo adalah jawabannya. Namun tidak menutup kemungkinan resiko apa yang akan dihadapi bangsa ini kelak di kemudian hari. Kuncinya, apakah kita tetap menggunakan prinsip berhati-hati dalam mengambil keputusan bahkan di saat yang kritis sekalipun?
Ini karena dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, Prabowo memilih untuk ambil alih tanggungjawab dan menanggung sendiri resikonya.
Berbicara tentang Prabowo kita tidak bisa lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoreng nama bangsa Indonesia selamanya. Sebagai pihak yang kalah Prabowo menjadi tertuduh dari semua kejadian tersebut. Seperti kata pepatah, tinta sejarah adalah milik pemenang. Ini tentu saja berpotensi menjadi pengganjal pencapresannya. Label sebagai penjahat kemanusiaan, perusak HAM pasti akan dimanfaatkan sebagai senjata lawan-lawan politiknya untuk menjatuhkan Prabowo.
Jika memang benar Prabowo adalah tokoh yang bertanggung jawab terhadap peristiwa itu maka dia sudah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan Prabowo yang karir gemilangnya di dunia militer yang begitu dicintainya itu harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib akibat kerusuhan Mei 1998?
Lalu bagaimana jika semua itu tidak benar? Apakah pantas sosok Prabowo tersandera oleh prasangka tanpa bukti?
Mengenai hubungan dengan Wiranto, ketidakharmonisan Prabowo dan Wiranto memang sudah berlangsung sejak lama. Mungkin karena latar belakang keduanya yang jauh berbeda.
Prabowo yang kosmopolitan cenderung memiliki pola pikir yang terbuka. Sementara Wiranto dengan latar belakang Jawa yang kental dan lebih tertutup. Namun Prabowo yang terbiasa dengan persaingan terbuka sejak kanak-kanak menganggap rivalitas semacam itu sebagai hal biasa dan tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang sangat “Jawa Tradisional” itu, dia lebih mirip dengan Soeharto dalam menyikapi suatu persaingan.
