Pengertian Paradigma Ilmu Administrasi Publik
Dalam sejarah perkembangannya, ternyata ilmu administrasi publik telah mengalami beberapa kali pergeseran dan fase paradigma yang menandakan bahwa ilmu administrasi publik adalah ilmu yang tidak statis tetapi melainkan ilmu yang bersifat dinamis. Salah satu indikator dinamika ilmu administrasi publik adalah ditandai dengan adanya pergeseran paradigma yang berlangsung sejak dari munculnya teori-teori klasik, neo klasik hingga munculnya teori-teori kontemporer.Perkembangan suatu ilmu (Keban, 2004:29) dapat ditelusuri melalui perubahan atau pergeseran paradigmanya. Paradigma adalah suatu cara pandang, nilai-nilai, metode-metode, prinsip dasar atau cara memecahkan suatu masalah yang dianut oleh masyarakat ilmiah pada suatu masa tertentu.
Apabila suatu paradigma mendapat tantangan dari luar atau mengalami krisis (anomalies), maka kepercayaan terhadap paradigma itu akan luntur dan menjadi kurang diyakini oleh publik. Lunturnya suatu paradigma baru sehingga muncul suatu paradigma baru.
Perkembangan Ilmu Administrasi Negara/Publik
Dalam proses perkembangan ilmu administrasi publik, telah terjadi anomalies beberapa kali dan hal inilah yang mendorong terjadinya pergeseran paradigma ilmu administrasi publik. Pergeseran paradigma ilmu administrasi publik terlihat melalui pergantian cara pandang yang lama dengan cara pandang yang baru oleh sekelompok ahli.Paling kurang ada dua ahli administrasi publik yang mengemukakan secara utuh tentang paradigma administrasi negara, yaitu Nicholas Hendri dan George Frederickson. Paradigma inilah yang menggambarkan perkembangan ilmu administrasi publik.
Fokus dan Locus Administrasi Negara
Indikator untuk mengetahui perkembangan suatu ilmu adalah standar suatu ilmu. Standar ilmu menurut Robert T. Golembiewski adalah Focus dan Locus suatu ilmu:- Fokus: merupakan metode dasar yang digunakan atau cara-cara ilmiah apa yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah.
- Locus: mempersoalkan tempat atau lapangan atau medan dimana metode itu diterapkan.
Administrasi Publik berkembang sebagai suatu ilmu (Henry, 1988:30-60) melalui rangkaian pergantian lima paradigma yang tumpang-tindih. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Robert T. Golembiewski dalam karyanya yang berjudul “Public Administration as a Developing Discipline, Part I, Prespectives on Past and Present” bahwa tiap fase dari paradigma itu mempunyai ciri berdasarkan locus dan focus yang dimilikinya.
Urutan Paradigma-Paradigma Pada Ilmu Administrasi Negara
Berikut adalah rangkuman dari inti sari paradigma ilmu administrasi publik yang diuraikan oleh Nicholas Henry untuk memudahkan pembaca dalam menangkap esensi dari pergeseran paradigma dan apa yang menjadi penekanan pada setiap paradigma itu.Paradigma I – Dikotomi Politik dan Administrasi (1900-1926)
- Disebut sebagai paradigma ‘dikotomi antara politik dan administrasi’
- Inti dari paradigma pertama ilmu administrasi negara ini adalah politik harus memusatkan perhatian pada kebijakan atau perumusan kehendak rakyat. Sedangkan administrasi memusatkan perhatian pada implementasi atau penerapan kebijakan dan kehendak publik. Jadi ada pemisahan antara politik dan administrasi negara.
- Manifestasi dari pemisahan dan cara pandang ini adalah: 1) Legislatif, bertugas mengekspresikan kehendak rakyat, 2) eksekutif, bertugas mengimplementasikan kehendak rakyat, 3) yudikatif, bertugas membantu badan legislatif dalam merumuskan dan menentukan tujuan kebijakan (kehendak rakyat).
- Adapun implikasi paradigma ini adalah administrasi publik harus netral dan birokrasi pemerintahan diarahkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas.
Meskipun terdengar mendamaikan antara pihak yang tumpang-tindih, paradigma ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya yaitu:
- Hanya menekankan pada aspek Locusnya yaitu birokrasi pemerintahan
- Aspek focusnya, yaitu metode apa yang harus dikembangkan dalam administrasi publik kurang mendapat perhatian.
Paradigma II – Prinsip-Prinsip Administrasi (1927 – 1937)
- Paradigma yang kedua ini dikenal sebagai paradigma “Prinsip-Prinsip Administrasi”
- Sangat dipengaruhi oleh manajemen klasik dari Fayol dan Taylor.
- Fokusnya adalah administrasi negara dengan menerapkan prinsip-prinsip administrasi, antara lain melalui karya L. Gullick yang dikenal dengan akronim POSDCORB.
- Prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan dimana saja (bersifat universal)
- Kelemahan paradigma yang kedua ini, hanya menekankan aspek focus dan mengesampingkan aspek locus
- Locus administrasi publik tidak jelas dengan asumsi bahwa prinsip-prinsip administrasi berlaku secara universal termasuk organisasi pemerintah.
- Pelopor dari paradigma ini adalah Willoughby, Gullick dan Urwick
Baca juga: Fungsi-Fungsi POSDCORB Dalam Studi Ilmu Administrasi Negara
Paradigma III – Administrasi Publik Sebagai Ilmu Politik (1950-1970)
- Fase paradigma ini dikenal sebagai paradigma “Administrasi Publik Sebagai Ilmu Politik”
- Pemisahan antara administrasi publik dan politik tidak mungkin terjadi dan tidak realistis. Ini berdasarkan kritikan dari Morstein Marx dalam tulisannya yang berjudul “Administration Behaviour: A Study of Decision, Making Processes in Administrative Organization, tahun 1947”)
- Teori administrasi publik sebenarnya juga teori politik (kritikan yang diberikan oleh John Gaus)
- Akibat dari kritikan-kritikan itu, muncul paradigma baru yang memandang bahwa administrasi publik sebagai ilmu politik.
- Lokusnya dari paradigma III ini adalah birokrasi pemerintahan. Sedangkan fokusnya menjadi kabur karena prinsip-prinsip administrasi dianggap memiliki banyak kelemahan.
- Kelemahan paradigma III ini sendiri adalah pengkritik tidak memberi jalan keluar tentang focus atau metode apa yang harus dikembangkan dalam administrasi publik.
- Pada periode ini, administrasi publik mengalami krisis identitas karena itu politik sangat dominan dalam dunia administrasi publik.
Paradigma IV – Administrasi Sebagai Ilmu (1956-1970)
- Paradigma ke-empat adalah paradigma yang dikenal dengan “administrasi publik sebagai ilmu administrasi”
- Prinsip-prinsip manajemen yang pernah populer lebih lanjut dikembangkan secara ilmiah dan mendalam.
- Fokus dari paradigma IV adalah perilaku organisasi, analisis manajemen, penerapan teknologi modern (metode kuantitatif, analisis sistem, operation research, econometris dan sebagainya)
- Selanjutnya terjadi dua arah perkembangan administrasi publik yaitu: 1) perkembangan ilmu administrasi murni yang didukung oleh psikologi sosial dan 2) perkembangan kebijakan publik
- Fokus pada paradigma IV yaitu administrasi diasumsikan dapat diterapkan dalam dunia bisnis dan dunia administrasi publik.
Paradigma V – Administrasi Publik Sebagai Administrasi Publik (1970)
- Paradigma yang terakhir disebut paradigma “administrasi sebagai administrasi”. Telah memiliki fokus dan lokus yang sangat jelas.
- Focus dari paradigma administrasi publik sebagai administrasi publik adalah pada fase ini ada teori organisasi, teori manajemen dan teori kebijakan publik
- Sedangkan locus-nya adalah masalah-masalah dan kepentingan-kepentingan publik (kepentingan umum)