Kemukakan pendapat Anda mengenai bagaimana terjadinya interaksi sosial dan jelaskan interaksi sosial dengan menggunakan pendekatan dramaturgi dengan disertai salah satu contoh yang relevan
![]() |
| individu dalam masyarakat | credit: www.freepik.com |
DEFINISI INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial adalah kumpulan hubungan-hubungan sosial yang dinamis antara individu dengan individu lainnya, antara kelompok dengan kelompok, atau kelompok dengan individu. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik berupa komunikasi antara individu dengan individu lain, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok melalui proses pengaruh-mempengaruhi tindakan individu atau kelompok tersebut melalui simbol-simbol dan bahasa sebagai bentuk komunikasi (bertukar informasi, aksi-reaksi)
DOWNLOAD RANGKUMAN : Makalah Modul 1 ISIP4110 Pengantar Sosiologi Universitas Terbuka
Tempat terbentuknya penilaian/makna yang dapat diperoleh dari hasil komunikasi disebut sebagai interaksi. Suatu makna dapat berubah apabila individu yang melakukan hubungan sosial memiliki nilai pemahaman yang berbeda terhadap suatu hal atau simbol-simbol tertentu. Perubahan makna ini terjadi melalui proses penafsiran suatu interaksi sosial yang berlangsung.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial terjadi karena faktor alamiah dari manusia sendiri yakni sebagai makhluk sosial yang membutuhkan individu lain untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan hidupnya.
Apa yang diperlukan untuk terjadinya suatu interaksi sosial salah satunya adalah interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan terjadi komunikasi
Kontak Sosial
Untuk melakukan hubungan sosial, orang haruslah melakukan kontak sosial terlebih dahulu dengan pribadi di luar dirinya. Kontak sosial dapat terjadi meskipun seorang individu tidak berjumpa dengan individu lain, melainkan menggunakan perantara seperti dengan menggunakan salah satu alat telekomunikasi, misalnya telepon.
Komunikasi
Arti penting dari komunikasi adalah pemberian tafsiran atas penyampaian informasi oleh orang lain. Informasi yang disampaikan dapat berbentuk pembicaraan, gerak tubuh atau sikap. Setelah menafsirkan, orang tersebut kemudian memberikan reaksi
PROSES ASOSIATIF DAN PROSES DISASOSIATIF PADA INTERAKSI SOSIAL
Bentuk interaksi sosial tidak dapat terlepas dari proses yang menyertainya. Ada dua jenis proses pada interaksi sosial, yaitu Proses Asosiatif dan Proses Disasosiatif.
Proses Assosiatif
Proses Assosiatif adalah proses interaksi yang mengarah kepada bersatunya dua individu atau kelompok dalam mencapai tujuan tertentu (association)
- Kerjasama, kerja sama adalah proses assosiatif yang timbul karena orientasi setiap individu ditujukan pada kelompoknya (in-groupnya) dan kelompok lainnya (out-group) dalam mencapai tujuan.
- Akomodasi, adalah usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dengan mengurangi kepentingan dan ego sektoral serta memperbesar sikap toleransi sebagai usaha untuk mencapai suatu kestabilan.
- Asimilasi, adalah proses dan keadaan dimana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya (meleburkan diri) dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok
Proses Disasosiatif
Proses yang menuju ke arah perpecahan dalam sebuah interaksi sosial dinamakan Proses Disasosiatif yang terdiri dari persaingan, kontravensi, dan konflik.
- Persaingan : persaingan atau kompetisi adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok-kelompok manusia saling bersaing untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan.
- Kontravensi : adalah bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada diantara persaingan dan pertentangan yang ditandai oleh gejala-gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, serta kebencian atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.
- Konflik : suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang (agresif) pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.
PENGERTIAN DAN PENJELASAN TEORI DRAMATURGI
Erving Goffman berpendapat bahwa masyarakat terbentuk karena interaksi antar anggotanya. Tanpa adanya interaksi, dunia sosial dan kemasyarakatan mustahil untuk dapat dipahami.
Lebih dalam lagi, Erving Goffman mengenalkan teori dramaturgi dalam bukunya yang berjudul buku Presentation of Self in Everyday Life (1959). Dramaturgi adalah sudut pandang yang menganggap bahwa kehidupan sosial mirip pertunjukan drama dalam sebuah pentas panggung (masyarakat) dimana seorang aktor (individu) memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh imaji atau bayangan mengenai kehidupan tokoh tersebut sehingga mampu mengikuti alur kisah dari drama yang ditampilkan.
Dalam konsep teori dramaturgi pula disebutkan adanya front stage dan back stage.
Dalam konsep teori dramaturgi pula disebutkan adanya front stage dan back stage.
KONSEP DASAR TEORI DRAMATURGI
Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage (panggung depan) dan Back Stage (panggung belakang).
Front Stage adalah bagian pertunjukan yang berfungsi mendefinisikan gambaran situasi yang ditampilkan untuk dinikmati oleh para penonton. Front stage dibagi menjadi dua elemen yaitu setting (latar belakang) dan front personal (penokohan)
Setting adalah pemandangan fisik indrawi yang dikenakan seorang aktor sebagai penegas peran dan tanda pengenal bahwa aktor tersebut sedang memainkan lakonnya.
Front Personal (penokohan) adalah perlengakapan yang menegaskan peran tokoh namun bersifat abstract alias sebagai pembahasa perasaan dari sang actor melalui properti yang ditampulan. Front personal masih terbagi menjadi dua bagian, yaitu Penampilan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang menandai status social actor. Seperti aktor pengusaha kaya raya yang playboy, hendaknya memiliki mobil mewah dan sering bepergian (pelesir) dengan wanita-wanita muda.
Gaya atau style dapat diartikan sebagai software atau peran apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu yang tentunya telah didukung oleh setting dan properti yang digunakan.
Gaya atau style dapat diartikan sebagai software atau peran apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu yang tentunya telah didukung oleh setting dan properti yang digunakan.
Back stage (panggung belakang) adalah tempat dimana skenario sebuah drama dijalankan. Dalam masyarakat terdapat back stage atau kontrol sosial dan identitas sosial dimana seseorang harus melakukan perannya sesuai skenario pertunjukan.
CONTOH INTERAKSI SOSIAL DENGAN PENDEKATAN DRAMATURGI ERVING GOFFMAN
Contoh pemahaman interaksi sosial dengan pendekatan dramaturgi: kehidupan seorang polisi.
Di mata masyarakat, idealnya seorang dengan profesi ‘Polisi’ adalah sosok figur yang berwibawa, tegas, tidak cengeng, pemberani dan layaknya pahlawan, selalu melindungi dan mengayomi masyarakat.
Karena setting masyarakat seperti itu, maka seseorang dengan profesi polisi harus memenuhi persepsi dan pola pikir masyarakat, ia dituntut harus bisa memenuhi imaji masyarakat bagaimana menjadi seorang polisi yang benar-benar polisi. Dia harus ‘berakting’ how to be a real cop. Sehingga antara dia dan masyarakat bisa menjalankan interaksi sosial sebagaimana seharusnya hubungan yang terjadi antara masyarakat biasa dengan ‘pahlawan’.
Sementara saat dirumah, bisa saja sosok polisi ini memiliki masalah pribadi yang tak bisa dikalahkan oleh persona sosok polisi. Di rumahnya, polisi bisa menangis, tertawa, bersenda gurau, mengumpat dan melontarkan dark humour yang jauh kesannya dari sosok polisi di mata masyarakat.
Artinya teori dramaturgi beranggapan bahwa persona seseorang dibentuk oleh imaji-imaji ideal masyarakat (back stage) sesuai perannya, sesuai lakon yang dijalaninya, agar tercapai tujuan bersama (front stage). Teori Dramaturgi menjelaskan bahwa seorang individu dapat bersikap-berperilaku sesuai dengan tempat dan kondisi dimana ia berada agar interaksi sosial dapat membantunya mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Sumber:
http://sosiologis.com/interaksi-sosial
http://blog.unnes.ac.id/fauzifauzi/2015/11/26/teori-dramaturgi-erving-goffman/
