Jenis-Jenis Hipotesis (Deskriptif, Asosiatif dan Komparatif), Alat Uji Statistik dan Peran Statistika Dalam Penelitian Sosial

Apa Hipotesis Itu?

ilustrasi gambar pertanyaan | credit: www.freepik.com

Hipotesis berasal dari kata  “hypo” yang berarti “di bawah” dan “thesa” yang berarti “kebenaran”. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji, atau rangkuman dari kesimpulan teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka. Hipotesis statistik dapat didefinisikan sebagai pernyataan matematis tentang parameter populasi yang akan diuji sejauhmana suatu data sampel mendukung kebenaran hipotesis tersebut.


Perumusan hipotesis harus didukung oleh landasan teoritis yang tepat sehingga kebenaran hipotesis dapat dipertanggung jawabkan. Contoh korelasi antara pendapatan dan pengeluaran harus ditentukan berdasarkan teori/substansi.

Macam-Macam Jenis Hipotesis

Jenis hipotesis dapat dibagi berdasarkan hubungan antarpeubah menjadi tiga yaitu:

  • Hipotesis Deskriptif
    Hipotesis deskriptif merupakan hipotesis yang menggambarkan karakter sebuah kelompok atau peubah tanpa menghubungkannya dengan peubah lain. Contoh : 80% mahasiswa IAIN Syekh Nurjati berasal dari daerah wilayah III Cirebon.
  • Hipotesis Asosiatif
    Hipotesis asosiatif merupakan hipotesis yang menjelaskan hubungan antarpeubah, baik secara eksplisit maupun implisit. Contoh : Nilai MK Statistika yang diperoleh mahasiswa berpengaruh positif terhadap nilai MK Matematika.
  • Hipotesis Komparatif
    Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang menyatakan perbandingan antar sampel peubah. Contoh : Terdapat perbedaan secara signifikan hasil belajar (IPK) antara mahasiswa IPS IAIN SNJ Cirebon kelas A dan B.


Jenis hipotesis juga dapat dibedakan berdasarkan keberadaan hubungan antarpeubah yaitu:

  • H0 yaitu hipotesis yang menyatakan ketiadaan hubungan diantara peubah yang sedang dioperasionalkan. Contoh : Tidak ada hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dengan tingkat penghasilan.
  • H1 yaitu hipotesis yang menyatakan keberadaan hubungan diantara peubah yang sedang dioperasionalkan. Contoh : Terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dengan tingkat penghasilan.

Tujuan Uji atau Pembuatan Hipotesis

Tujuan pengujian hipotesis adalah "menolak H0". Jika hal ini berhasil, maka peneliti akan mengatakan "... berhasil menolak hipotesis (H0) yang mengatakan..."
Sebaliknya jika pengujian ini gagal, maka meneliti akan mengatakan"... gagal menolak hipotesis (H0) yang mengatakan...

Benar atau salahnya hipotesis tidak akan pernah diketahui dengan pasti kecuali bila kita memeriksa seluruh populasi. Oleh karena itu kita mengambil sampel random dari populasi tersebut dan menggunakan informasi yang dikandung sampel itu untuk memutuskan apakah hipotesis tersebut kemungkinan besar benar atau salah. Bukti data dari sampel yang tidak konsisten dengan hipotesis membawa kita pada penolakan hipotesis tersebut, demikian juga sebaliknya. Perlu ditegaskan bahwa penerimaan suatu hipotesis statistik adalah merupakan akibat dari ketidakcukupan bukti untuk menolaknya, dan tidak berimplikasi bahwa hipotesis itu benar.


Alat Uji Statistik Untuk Menguji Hipotesis


Alat uji statistik dipakai untuk menguji sebuah hipotesis. Untuk memilih alat uji yang sesuai, haruslah memperhatikan dua hal yaitu jenis hipotesis dan skala pengukuran peubah yang dioperasionalkan. Hubungan antara keduanya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

tabel contoh jenis-jenis hipotesis


Jenis hipotesis tersebut adalah deskriptif dan peubah yang digunakan berskala nominal maka alat uji statistik yang dipakai yaitu Binomial atau X2 satu sampel.
Contoh 2 : Nilai MK Statistika yang diperoleh mahasiswa berpengaruh positif terhadap nilai MK Matematika.

Jenis hipotesis tersebut adalah assosiatif dan peubah yang yang digunakan berskala rasio maka alat uji statistik yang dipakai yaitu Pearson Product Moment, Partial Correlation, atau Multiple Correlation.

Peran Statistika Dalam Penelitian Sosial

Meskipun penelitian sosial ekonomi lebih sering menggunakan metode kualitatif dalam penelitian, hendaklah tetap mengikuti prosedur penelitian. Langkah-langkah dalam penelitian adalah:

  1. merumuskan masalah,
  2. merumuskan hipotesis,
  3. mengidentifikasi peubah dan definisi operasional, 
  4. merencanakan penelitian,
  5. mengumpulkan data, 
  6. menganalisis data dan menafsirkan hasilnya, 
  7. menyimpulkan hasil penelitian.


Masalah adalah suatu kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan, dapat berupa kesenjangan teoritis konseptual dengan praktikal. Untuk menemukan masalah penelitian yang baik, peneliti harus menguasai dua hal yaitu bidang keilmuan yang hendak dikaji dan metodologi penelitian.

Setelah merumuskan masalah, maka peneliti kemudian mengkaji berbagai sumber (teori/asumsi/temuan terdahulu) yang relevan. Atas dasar kajian itulah hipotesis dirumuskan yaitu prediksi tentang hasil penelitian yang akan diperoleh. Kemudian peneliti merumuskan setiap peubah penelitian secara operasional sehingga jelas aspek-aspek yang akan diukur.

Berikutnya, peneliti membuat rencana penelitian berisi uraian rinci tentang metode penelitian (bagaimana penelitian akan dilakukan), desain penelitian (jika penelitian eksperimental), populasi/sampel, teknik pengumpulan data serta teknik analisis dan penyajian data. Pada langkah inilah peran statistika sangatlah penting.

Penentuan sampel hendaklah yang representatif terhadap populasi yang ada. Karena itu, pemilihan penggunaan teknik sampling haruslah tepat. Dalam menyusun alat pengumpulan data, perlu diperhatikan jenis data dan bagaimana data tersebut dikuantifikasikan. Uji coba dan analisis kuesioner (atau alat lainnya) merupakan kegiatan penting untuk meningkatkan validitas dan reabilitas data penelitian.

Hampir semua penelitian ilmiah dilakukan terhadap sampel kejadian, dan atas dasar sampel itu ditarik suatu generalization. Suatu generalisasi pasti mengalami error, disinilah salah satu tugas statistik bekerja atas dasar sampel bukan populasi. Dengan demikian pengujian hipotesis dapat kita lakukan dengan teknik-teknik statistik.

Pada saat penelitian, setiap data perlu dicatat secermat mungkin termasuk kondisi yang terjadi saat itu. Misalnya kuesioner yang dijawab secara tidak sungguh-sungguh perlu ditandai dan tidak diikutsertakan dalam analisis data.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik statistika sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian serta jenis data yang dianalisis. Yang perlu ditekankan adalah teknik statistika harus diperlakukan sebagai alat bantu dalam memahami data penelitian, bukan sebagai pengganti kemampuan dan kearifan peneliti. Artinya, statistik bukan menjadi tujuan yang menentukan komponen penelitian. Oleh sebab itu, yang berperan menentukan tetaplah masalah yang dicari jawabannya dan tujuan penelitian itu sendiri.

Hasil analisis data harus ditafsirkan dengan merujuk pada pertanyaan/hipotesis penelitian yang dikaji, teori yang digunakan, dan temuan lain yang relevan. Hal ini terus dilakukan sampai peneliti merasa yakin akan kesahihan temuannya, sehingga kesimpulan penelitian bukanlah rangkuman hasil analisis data atau temuan yang diperoleh, tapi merupakan hasil berpikir reflektif peneliti.

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin