Latar Belakang Lahirnya Sosiologi, Tiga Perspektif Sosiologi Berikut Tokoh dan Contoh dalam Kehidupan Nyata Sehari-hari


Setelah mendiskusi pengenalan dasar mengenai sosiologi, apa yang Anda dapat dipahami mengenai sosiologi sebagai sebuah ilmu? Apa yang menjadi pemicu sosiologi kemudian muncul sebagai sebuah disiplin ilmu, Anda dapat mengutip pandangan dari salah satu tokoh pencetus sosiologi!


revolusi prancis | credit: www.freepik.com

LATAR BELAKANG LAHIRNYA SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan sosial individu dalam kehidupan bermasyarakat. Sosiologi muncul pertama kali sebagai istilah pada buku August Comte (198-1857) dengan judul Cours De Philosophie Positive.

Pemicu lahirnya ilmu sosiologi adalah Revolusi Prancis yang kemudian disusul oleh Revolusi Industri di Inggris. Sejak adanya Revolusi Prancis dan Revolusi Industri, cendekiawan Eropa mulai merasakan pentingnya pembahasan mengenai hubungan antar manusia dalam kelompok. Yang sebelumnya dibahas dalam filsafat, lantas memisahkan diri dengan membentuk suatu disiplin ilmu baru yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial.

Baca juga: SEJARAH LATAR BELAKANG DAN ASAL MULA LAHIRNYA ILMU SOSIOLOGI MENURUT AUGUST COMTE SERTA TIGA KAJIAN FILOSOFI MASYARAKAT


Secara khusus ilmu sosiologi bermanfaat dalam melihat gejala-gejala sosial masyarakat dan bagaimana mengatasinya. Gejala yang dimaksud adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat karena pada dasarnya sifat dari masyarakat adalah dinamis.


Meskipun perubahan zaman berlangsung cepat berkat kemajuan sains dan teknologi, namun perspektif-perspektif utama dalam sosiologi yakni interaksionisme simbolik, struktural fungsional, dan konflik masih cukup relevan dalam membaca zaman. Dapatkah Anda menjelaskan dengan tepat perbedaan dari ketiga perspektif tersebut, diikuti dengan tokoh-tokoh yang ada dibaliknya serta contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari!

hubungan sosial | credit: www.freepik.com

PERSPEKTIF KONFLIK, INTERAKSIONISME SIMBOLIK DAN STRUKTURAL FUNGSIONALIS - TOKOH-TOKOH PERSPEKTIF SOSIOLOGI


Perspektif adalah sudut pandang atau sudut penilaian seseorang terhadap suatu hal yang didasarkan pada asumsi-asumsi atau dugaan pribadi yang belum teruji kebenarannya. Perspektif dapat dikatakan pula sebagai pandangan atau paradigma

Ada tiga perspektif utama dalam sosiologi, yakni: perspektif konflik, perspektif interaksionisme simbolik dan perspektif struktural fungsionalis

Perspektif Konflik adalah perspektif yang memiliki pandangan bahwa masyarakat adalah sesuatu hal yang selalu berubah sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha menjaga, memelihara dan meningkatkan kedudukannya.

Tokohnya: Karl Marx, Frederick Engels (tokoh pencetus Marxisme - Komunisme), Ralf Dahrendorf, Max Weber dan Lewis Coser

Perspektif Interaksionisme Simbolik dalam sosiologi adalah perspektif yang memandang pribadi manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai perasaan dan pikiran. Dengan demikian setiap orang dianggap mampu untuk memberi makna terhadap situasi yang ditemui, dan mampu bertingkah laku sesuai dengan pemahamannya sendiri.

Tokoh-tokohnya: James Mark Baldwin, George Simmel, William James, Charles H.Cooley, George Hebert Mead, William I. Thomas dan John Dewey

Menurut Perspektif Struktural Fungsionalis, masyarakat dipandang sebagai suatu kumpulan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi dan teratur yang memiliki seperangkat norma,  aturan atau nilai yang dianut mayoritas anggota masyarakat tersebut. Masyarakat dilihat sebagai sistem yang stabil, selaras, dan seimbang karena setiap kelompok masyarakat melaksanakan tugas tertentu secara terus-menerus yang bersifat fungsional.

Tokoh-tokohnya: Talcott Parsons, Kingsley Davis, Herbert Spencer, Robert K. Merton. Emile Durkheim, Bronislaw Malinowsky, August Comte dan Radcliffe Brown

PERBEDAAN PERSPEKTIF KONFLIK, PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK DAN PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONALIS PADA ILMU SOSIOLOGI


Perbedaan-perbedaan di antara ketiga perspektif sosiologi di atas adalah:
  • Perspektif konflik mengedepankan dinamika pemegang kekuasaan daripada hak-hak individu dan masyarakat
  • Perspektif interaksionisme simbolik mengedepankan sisi kemanusiaan masing-masing pribadi sebagai sesuatu yang unik daripada pengaruh kelompok dalam kehidupan sosialnya
  • Perspektif struktural fungsionalis lebih menekankan prinsip kelompok yang memiliki norma, nilai-nilai dan aturan untuk hidup yang seimbang dan stabil
  • Perspektif konflik lebih cocok digunakan sebagai sudut pandang ketika kondisi sosial dalam keadaan genting dan kritis
  • Perspektif interaksionisme simbolik sangat pantas diterapkan di lingkungan sosial yang mendukung liberalisme, menghargai hak-hak individu secara personal dan dapat digunakan sebagai sudut pandang dalam masyarakat plural
  • Perspektif struktural fungsionalis dapat digunakan sebagai sudut pandang dalam melakukan penelitian akan masyarakat homogen seperti masyarakat Jepang, atau dalam pola-pola sosial individu yang tinggal di perumahan milik militer
  • Perspektif konflik melihat hubungan sosial sebagai sesuatu yang vertikal belaka, atau hubungan penguasa-rakyat
  • Perspektif interaksionisme simbolik melihat hubungan sosial sebagai sesuatu dari dalam ke luar individu (intrapersonal)
  • Perspektif struktural fungsionalis melihat hubungan sosial sebagai sesuatu yang lebih horizontal atau lebih mementingkan hubungan kelompok dan antar-kelompok dimana sebagai individu sifatnya kurang diperhatikan (peer-pressure community)

CONTOH NYATA KEHIDUPAN SEHARI-HARI TIGA PERSPEKTIF SOSIOLOGI


Contoh nyata Perspektif Konflik dalam kehidupan sehari-hari:
  • Demonstrasi oleh rakyat kepada penguasa sebagai bentuk kekecewaan sosial
  • Kebijakan pemerintah lebih banyak dipengaruhi oleh suara legislator yang terkadang sama-sama mempunyai kepentingan untuk melanggengkan kekuasaannya
  • Politik dinasti di berbagai daerah termasuk di tempat saya tinggal: Kabupaten Probolinggo yang sarat akan kecurigaan sosial antar penduduk kecamatan basis penguasa dengan penduduk dari kecamatan lain akibat ketidakmerataan pembangunan

Contoh Perspektif Interaksionisme Simbolik dalam kehidupan sehari-hari:
  • Ketua RT yang memberlakukan wajib lapor kepada tamu di kampungnya setiap 1 x 24 jam
  • Pemimpin perusahaan yang mewajibkan karyawannya untuk memakai pakaian tanpa saku dan bersepatu selop
  • Aturan tidak tertulis pada masyarakat di bantaran Sungai Bengawan Solo, Lamongan mengenai pelarungan ayam cemani jika menikah dengan pasangan dari seberang sungai

Contoh Perspektif Struktural Fungsionalis dalam kehidupan sehari-hari:
  • Pada zaman dahulu masyarakat rutin untuk mengadakan siskamling di lingkungan tempat tinggal mereka untuk menjaga keamanan, seiring berjalannya waktu dan tuntutan kehidupan, kegiatan siskamling ditiadakan. Sebagai bentuk respon atas perubahan ini, masyarakat semakin banyak yang memagari rumahnya dengan besi atau tembok tinggi-tinggi. Bahkan melakukan iuran untuk membayar beberapa anggota satpam.
  • Dahulu masyarakat menggunakan moda angkot dengan sistem kekeluargaan yang terkadang tidak menjamin harga dan keamanan penumpang, dengan adanya digitalisasi kini dikenal aplikasi seperti Go-Jek, Grab, Uber, dll. Sehingga pergeseran hubungan sosial bukan lagi berbasis kekeluargaan, melainkan murni bisnis dan kompetisi harga

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin