[Perspektif Sosiologi] Perspektif Konflik, Perspektif Interaksionisme Simbolik, Perspektif Struktural Fungsionalis dan Kegunaannya Dalam Melihat Realitas Sosial

Definisi Perspektif Dalam Sosiologi: Apa Yang Dimaksud Perspektif Sosiologi?

ilustrasi masyarakat dari berbagai kalangan | www.freepik.com

Dalam diskusi kedua ini, mahasiswa diharapkan telah mengenali dengan baik apa itu perspektif dalam sosiologi dan kegunaannya. Selain tentunya mengetahui apa itu perspektif interaksionisme simbolik, fungsionalisme struktural, dan konflik.
Jelaskan secara singkat  singkat dari ketiga perspektif utama dalam sosiologi tersebut, termasuk siapa tokoh yang dibalik masing-masing perspektif serta bagaimana perspektif-perspektif itu dapat digunakan dalam melihat realitas sosial

Pengertian Perspektif

Perspektif adalah sudut pandang atau sudut penilaian seseorang terhadap suatu hal yang didasarkan pada asumsi-asumsi atau dugaan pribadi yang belum teruji kebenarannya. Perspektif dapat dikatakan pula sebagai pandangan atau paradigma

Ada tiga perspektif utama dalam sosiologi, yakni: perspektif konflik, perspektif interaksionisme simbolik dan perspektif struktural fungsionalis

Perspektif Konflik

Perspektif konflik adalah perspektif yang memiliki pandangan bahwa masyarakat adalah sesuatu hal yang selalu berubah sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha menjaga, memelihara dan meningkatkan kedudukannya. Perspektif Konflik beranggapan bahwa kelompok-kelompok pada masyarakat mempunyai tujuan tersendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Sehingga dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok tidak jarang harus mengorbankan kelompok lain lalu muncul lah konflik karena kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya. Intinya perspektif konflik lebih menekankan pada peranan kekuasaan pada konteks pemeliharaan tatanan sosial

Tokoh Pencetus Perspektif Konflik

  • Karl Marx
  • Frederick Engels
  • Ralf Dahrendorf
  • Max Weber
  • Lewis Coser


Kegunaan Perspektif Konflik Dalam Melihat Realitas Sosial


Perspektif Konflik membantu kita untuk mengidentifikasi permasalahan sosial yang bersifat hubungan vertikal dalam masyarakat misal antar kelompok ruler dengan subversif, penguasa (pemerintah) dengan rakyatnya. Dengan mengetahui penyebab masalah, kita bisa menjembatani kepentingan antar kelompok-kelompok masyarakat ini yakni dengan merancang sistem dan membuat kebijakan win win solution agar pihak yang berkuasa tidak semena-mena dan bisa mengayomi masyarakat sehingga kesejahteraan sosial bisa tercapai dan tidak terjadi kesenjangan (social gap) yang mencolok.


Perspektif Interaksionisme Simbolik

Perspektif Interaksionisme Simbolik dalam sosiologi adalah perspektif yang memandang pribadi manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai perasaan dan pikiran. Dengan demikian setiap orang dianggap mampu untuk memberi makna terhadap situasi yang ditemui, dan mampu bertingkah laku sesuai dengan pemahamannya sendiri. Artinya sikap dan tindakan pribadi ini tidak dipaksa oleh struktur di luar perasaan dan pikirannya, serta tidak hanya ditentukan oleh masyarakat untuk berlaku, berlagak dan bersikap seperti apa.

Perspektif Interaksionisme Simbolik menghargai manusia sebagai subjek sosiologi sebagai makhluk yang mempunyai kehendak individual, mempunyai cipta-rasa-karsa. Sehingga bukan hanya mempunyai kemampuan mempelajari, memahami, dan melaksanakan nilai dan norma masyarakat, tetapi juga dianggap mampu menemukan, menciptakan, serta membuat nilai dan norma sosial yang benar-benar baru. Sehingga orang tersebut dapat membuat, menafsirkan, merencanakan, dan mengontrol lingkungannya sendiri.

Tokoh Pencetus Perspektif Konflik

  • James Mark Baldwin
  • George Simmel
  • William James
  • Charles H.Cooley
  • George Hebert Mead
  • William I. Thomas
  • John Dewey


Apa Kegunaan Perspektif Interaksionisme Simbolik Dalam Melihat Realitas Sosial?

Perspektif Interaksionisme Simbolik sering kita jumpai pada diri sendiri atau pribadi pembuat komunitas. Entah itu kepala suku, pemimpin sekte, founder dan owner perusahaan maupun orangtua kita sendiri.

Umumnya mereka, individu yang memiliki idealisme ini, menciptakan dan menganggap dunia harus sesuai dengan ‘versinya’. Sementara kadang persepsi dan pandangan tiap individu berbeda sehingga memunculkan konflik horizontal maupun vertikal. Dengan Perspektif Interaksionisme Simbolik, kita dapat menelusuri alasan dan pandangan manusia sebagai pribadi yang merdeka terhadap suatu hal untuk kemudian menemukan titik solusi atau titik toleransi dari perbedaan idealisme ini agar masing-masing pribadi bisa bekerja sama untuk hidup dalam harmoni.


Perspektif Struktural Fungsionalis

Menurut Perspektif Struktural Fungsionalis, masyarakat dipandang sebagai suatu kumpulan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi dan teratur yang memiliki seperangkat norma,  aturan atau nilai yang dianut mayoritas anggota masyarakat tersebut. Masyarakat dilihat sebagai sistem yang stabil, selaras, dan seimbang karena setiap kelompok masyarakat melaksanakan tugas tertentu secara terus-menerus yang bersifat fungsional. 

Dengan model perspektif ini, artinya perubahan sosial yang kelak menimpa masyarakat akan mengganggu keseimbangan dan kestabilan tersebut. Namun akan tercipta kembali keseimbangan seiring berjalannya waktu. Perspektif Struktural Fungsionalis lebih menekankan pada stabilitas dan teraturnya kehidupan bermasyarakat. Keluarga, pendidikan/proses sosialisasi, dan agama (norma/aturan/nilai) dapat dianalisis peranannya dalam memelihara stabilitas masyarakat. 

Intinya pola perilaku timbul karena secara struktural fungsionalis bermanfaat bagi keseimbangan dan keteraturan dalam masyarakat. Apabila kebutuhan masyarakat berubah, pola keseimbangan yang lama akan musnah dan digantikan oleh pola keseimbangan yang baru.

Tokoh-Tokoh Ilmu Sosial Penganut Perspektif Struktural Fungsionalis Adalah:

  • Talcott Parsons
  • Kingsley Davis
  • Herbert Spencer
  • Robert K. Merton
  • Emile Durkheim
  • Bronislaw Malinowsky
  • August Comte
  • Radcliffe Brown


Kegunaannya Dalam Melihat Realitas Sosial Adalah

  • Mengetahui norma-norma dan nilai fungsional yang berjalan di dalam suatu masyarakat sehingga keseimbangan dan keteraturan sosial masyarakat tersebut bisa tercapai
  • Menemukan solusi atas perubahan sosial yang terjadi dengan melakukan harmonisasi atau penyeimbangan ulang sistem yang berjalan
  • Menghindari konflik sosial dengan mengajak anggota masyarakat agar dapat menjalankan tugas sosialnya dengan baik sesuai struktural fungsional yang berlaku
  • Mendorong masyarakat untuk berperilaku tertib dan menjaga keseimbangan sosial yang ada


Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin