DEFINISI ARTI SOSIOLOGI
Sosiologi adalah mempelajari secara sistematik kehidupan bersama manusia sejauh kehidupan itu dapat di tinjau dan diamati dengan memakai metoda empiris.
Sosiologi adalah bagian dari human science. Sosiologi menyoroti perilaku manusia (sama dengan ilmu ekonomi, politik, psikologi yang termasuk dalam bagian human science) yang perilaku manusia tersebut ada kaitannya dengan struktur-struktur masyarakat dan kebudayaan yang di miliki.
ALIRAN DALAM ILMU SOSIOLOGI
Ilmu sosiologi mempunyai berbagai aliran sebagai contoh :
- Verstehende Soziologie (tujuan mencari realitas sosial)
- Sosiologi Positivistis (Keterangan kausal metoda Ilmu Pengetahuan Alam)
- Sosiologi Fungsionalisme (Sebagai suatu kesatuan, dan fungsi)
- Sosiologi Konflik. (kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan masing-masing)
- Sosiologi Kritis (menekankan sosio - budaya, masyarakat lama diganti dengan masyarakat baru yang lebih baik).
LAHIRNYA ILMU SOSIOLOGI
Semula Sosiologi yang mempelajari perilaku manusia tidak dimasukan sebagai ilmu,sampai Aguste Comte menyebutnya sebagai ilmu sosiologi didalam bukunya "Sistem Filsafat Positif" yang dia daftarkan semua ilmu pada waktu itu, dimulai dari Matematika sebagai ilmu pertama dan Sosiologi sebagai ilmu terakhir.
Alasannya sosiologi mempelajari perilaku manusia yang sulit dimengerti dan diramalkan. Kelahiran Sosiologi menunggu berkembangnya ilmu-ilmu yang lain sampai terwujud integral dan sosiologi muncul sekitar abad 19 dan abad 20 diterima di berbagai Universitas dan muncul fakultas sosiologi.
Pemahaman manusia yang adalah satu dan jamak sekaligus, merupakan persimpangan antara individualitas dan sosialitas. Keduanya saling mengisi dan mempengaruhi. Jadi objek mater dari ilmu sosiologi adalah masyarakat, didalam masyarakat ada Individu, sehingga pergumulan yang tidak pernah selesai didalam seluruh perkembangan ilmu.
TIGA KAJIAN FILOSOFI MASYARAKAT DALAM ILMU SOSIOLOGI
Sosiologi adalah mempelajari dan mencoba mengerti perilaku individu dan masyarakat. Itu sebabnya didalam memahami Sosiologi, Veerger membagi Ilmu sosiologi didalam perkembangannya menjadi tiga bagian, Yaitu :
- Bagian Awal. Yang menekankan kepada masyarakat. Dan sifat kajian ini adalah Kolektivisme, Holisme, dan Organisisme.
- Bagian Kedua adalah menekankan kepada Individu, dan kajiannya menjadi Individualisme, Atomistis dan mekanistis.
- Bagian ketiga menyadari bahwa kajian satu dan dua tetap menyisakan persoalan, maka kajian ketiga menjadikan masyarakat sebagai proses.
KAJIAN AWAL: KOLEKTIVISME, HOLISME DAN ORGANISISME
Kolektivisme
Kolektivisme adalah ciri teori sosiologi yang cenderung menekan dan menumpas keunikan dan kepentingan individu. Sebagai makluk yang bebas dan bertanggung jawab, demi kepentingan dan kemauan kolektif masyarakat, bangsa atau negara. Masyarakat mengenakan pola berpikir dan bertindak yang seragam pada anggotanya.
Holisme
Holisme, adalah kecenderungan untuk menekankan secara berlebihan kesatuan kehidupan manusia dengan tidak mengakui perbedaannya. Holisme berarti keseluruhan (Yunani: holos). Kesleuruhan dianggap melebihi jumlah bagian-bagian dan berdiri sendiri.
Organisisme
Organisisme, adalah ajaran bahwa masyarakat berevolusi atau berkembang berdasar suatu prinsip intrinsik didalam dirinya sama seperti organisma atau mahluk hidup yang berkembang.
Organisisme
Organisisme, adalah ajaran bahwa masyarakat berevolusi atau berkembang berdasar suatu prinsip intrinsik didalam dirinya sama seperti organisma atau mahluk hidup yang berkembang.
Pandangan yang kolektivisme, holisme dan organisisme ini menganut faham filsafat Realisme. Yaitu aliran filsafat yang mengajar bahwa konsep-konsep umum seperti manusia, binatang, pohon, keadilan dan keindahan dan sebagainya mewakili suatu realitas yang nyata di luar orang yang memikirkan mereka. Begitu pula dengan konsep masyarakat juga mempunyai realitas dalam dirinya di luar pikiran manusia.
Pandangan ini mirip pandangan panteisme dan monisme, dimana ada ajaran satunya umat berdasarkan suatu realitas adi kodrati. Semua tangkapan inderawi adalah dianggap tidak bisa mencapai realitas, Seluruh jagat raya dikembalikan pada satu asaa terakhir, yaitu Allah, Tao, Brahman, Mana dsb, di Yunani adalah arche (jiwa?) yaitu unsur asali dan prima. Heraklitos dan Epheros mengajar bahwa arche itu adalah api yang mempersatukan semua mahluk.
Apa yang nampaknya berbeda-beda itu hanyalah pencerminan atau pemantulan dari suatu kesatuan dasariah. "Yang terpencar adalah satu", "banyak nada yang berbeda-beda membentuk perpaduan yang amat indah", "Hidup dan mati hanyalah saat-saat proses peralihan, mereka adalah satu, jalan ke atas dan kebadah dan sama".
Disimpulkan bahwa seluruh tertib dan keteraturan dunia dan masyarakat langsung berasal dari suatu tertib dan keteraturan yang adi-manusiawi, abadi, tak terubahkan, dan ahistoris.
Menurut Plato dan Aristoteles susunan masyarakat mencerminkan susunan kosmos yang abadi. Manusia berkewajiban untuk menyesuaikan diri dengan susunan itu dan menaatinya demi keselamatannya.
Begitu juga dengan cara berpikir masyarakat Indonesia berpangkal kepada keyakinan bahwa seluruh jagat raya adalah kesatuan dan perpaduan. Sekalipun ada pemikiran bahwa jagat raya di kuasai dan diceraikan oleh unsur-unsur yang ber-oposisi satu terhadap yang lain - seperti langit-bumi, gelap-terang, basah-kering, jahat-baik, lahir-batin. Namun hasil yang di tonjolkan adalah presatuan, keseimbangan dan perdamaian.
Di masyarakat Eropa muncul koreksi dari pandangan Plato dan Aristoteles, paham otonomi kosmos diganti dengan paham heteronomi, yaitu kosmos tidak berdiri sendiri, tetapi trergantung pada kemahakuasaan Allah. Ketertiban kosmos adalah ketertiban yang di ciptakan. Jagat raya memantulkan kesemarakan dan kehendak Allah.
Paham abad pertengahan sama dengan filsafat Yunani, hanya ketergantungan di alihkan kepada Allah. Manusia menghayati hidup sebagai individu dan masyarakat, dalam keadaan statis di bawah kekuasaan dari luar dirinya sendiri, sehingga tradisi dijunjung dan ketaatan di tekankan. Kebersamaan dan kesatuan dihayati sebagai kesatuan Corpus Christianum.
Begitu dengan Islam, tidak membenarkan otonomi manusia dalam membentuk dan mengatur masyarakatnya. Agama dan kebudayaan di pandang satu dan sama. Nabi Muhammad s.a.w. Diakui sebagai Nabi maupun sebagai negarawan. Islam adalah agama dan negara.
Paham kosmosentris dan teosentris di atas tidak merangsang kearah terbentuknya suatu ilmu sosial sekuler. Agama dan teologi dipandang sebagai satrusatunya sumber pengenalan yang memadai. Satu-satunya sumber kriterium bagi perilaku sosial. Bentuk masyarakat yang tidak sesuai dengan wahyu Allah harus di rombak dan dibangun kembali sesuai dengan ketetapan penetapan Allah.
Di bidang politik pandangan kolektivisme, holisme dan organisisme ini adalah konservatif dan totalitarianisme.
KAJIAN KEDUA: PANDANGAN MASYARAKAT INDIVIDUALISTIS, ATOMISTIS DAN MEKANISTIS
Perpindahan ini adalah asebagai akibat atau jawaban dari pandangan pertama tadi, yang tidak mengakui peranan bebas manusia didalam mengadakan perubahan sosial.
Sejak jaman Renaissance di Perancis, pola pikir masyarakat berubah. Suatu revolusi mental dimana peranan manusia dalam mengubahkan muka bumi dan mengatur masyarakat makin disadari. Muncul tokoh-tokoh pemikir seperti Machiavelli, Hobbes dan Thomas Morus. Lalu disusul sebagai tokoh jaman baru yaitu Locke, Berkeley, Hume, Montequieu, Voltaire, Diderot d'alembert, dan Rousseau yang ajarannya menentang kepercayaan lama bahwa segala di kolong langit telah langsung diatur oleh Allah selama-lamanya.
Revolusi Perancis (1789) meruntuhkan kekuasaan feodal dan mengawali proses demokratis yang dialami sebagai kejutan luar biasa. Gagasan baru yang berpangkal bahwa manusia "bebas" adanya untuk mengatur duniannya dan mencari kebenaran yang berabad-abad lamanya tidak pernah dipermasalahkan. Ilmuwan-ilmuwan sosial bermunculan. Kehidupan bersama, pengorganisasiannya dan lembaga-lembaganya serta tata nilai yang mendasarinya, mulai di pelajari dan dibahas. Sosiologi lahir sebagai ilmu pengetahuan.
Pada mulanya berkembang ilmu biologi dan ilmu Alam, ditemukan hukum penyebab (causa efficiens) yang menerangkan gejala alam, dan sesudah diterapkan menghasilkan proses industrialisasi yang diharapkan dapat menciptakan kemakmuran besar.
Begitu juga dengan teori Sosiologi berkembang dengan harapan mereka dapat menghasilkan masyarakat baru yang bebas dari peperangan, penindasan, dan kemiskinan. Agama dan Ilmu Ketuhanan tidak diperlukan untuk itu. Akal Budi manusia sudah cukup.
Sebaliknya di seiring dengan struktur feodal yang melemah, struktur baru belum kuat dan baru dalam tahap eksperiment dan belum memperoleh doa restu tradisi, sehingga kekacauan sosial politik melanda Eropa. Dalam situasi ambivalen, dimana optimisme di satu pihak dan kegagalan serta frustrasi di pihak lain, Sosiologi mulai berkembang. Hal ini melatarbelakangi munculnya aliran-aliran dalam teori-teori sosiologi yang seolah bertentangan. Contoh aliran Konservative dan Progresif.
Pada permulaan abad 19 satu kutub relasi masyarakat di tekankan, dan bergeser tekanan itu pindah ke individu, sampai pada akhir abad 19 kedua pengertian yang masing-masing ekstrem mulai diperdamaikan, dan dilahirkan konsepsi masyarakat yang lebih seimbang.
Individualisme
Individualisme adalah mendahulukan kepentingan hidup bersama. Masyarakat atau kelompok diharapkan melayani individu, yang dianggap mempunyai hak-hak mutlak yang tidak pernah boleh di kurangi atau di rampas daripadanya oleh mesyarakat dengan berdalih ada kepentingan bersama.
Atomisme
Atomisme adalah ajaran bahwa relasi-relasi antara individu-individu bersifat lahirah saja bagaikan antara atom-atom yang membentuk molekul. Jadi bukanlah kesatuan melainkan kejamakan dan keanekaragaman dipandang sebagai ciri pokok masyarakat.
Mekanistis
Mekanistis adalah ajaran bahwa tidak ada perubahan atau evolusi dari dalam. Susunan masyarakat dan pergolakannya adalah hasil hukum-hukum mekanis bagaikan konstruksi dan geraknya mesin atau kendaraan bermotor. Seluruh alam semesta termasuk manusia dikuasai oleh hukum penarikan dan penolakan. Kebebasan manusia
Pandangan masyarakat yang bersifat Individualistis, atomistis dan mekanistis mempunyai akarnya dalam Nominalisme. Suatu aliran filsafat yang mengajar bahwa konsep-konsep umum tidak mewakili realitas apapun. Jadi masyarakat juga tidak mempunyai "ada" dalam dirinya. (Jika masyarakat itu tidak ada lagi, maka individu masih tetap ada. Jika dibalik Individu yang lenyap maka kita tidak akan menjumpai masyarakat)
Yang nyata itu adalah individu. Oleh karena jumlah oindividu terlalu banyak, mereka tidak dapat disebut satu demi satu. Oleh karena kesulitan itulah istilah "masyarakat" telah dibuat sebagai shorthand untuk menyebut semua individu.
Selain pandangan nominalisme, ada pendangan materialisme. Yaitu tidak diakuinya peran prinsip kerohanian diantara manusia selain hukum-hukum fisik dan biologis. Hanya ada alam kebendaan. Seluruh alam raya termasuk manusia baik dalam individualnya maupun dalam kehidupan bersama, terdiri dari materi saja, yang menampakan dirid alam berbagai bentuk, termasuk kesadaran.
Dibidang politik paham ini melahirkan liberalisme. Yaitu paham yang tidak menyetujui campur tangan pemerintah dalam urusan hidup individu maupun dalam kehidupan bersama, kecuali jika sangat diperlukan dan dalam kondisi terbatas. Termasuk didalamnya adalah kapitalisme.
KAJIAN KETIGA: MASYARAKAT SEBAGAI PROSES SOSIOLOGIS
Muncul pandangan yang langsung merangkaikan dan mempersatukan masyarakat dengan perilaku anggotanya. Pandangan ini bercorak dinamis. Masyarakat di pandang sebagai proses, dimana manusia sendiri mengusahakan kehidupan bersama menurut konsepsinya dan bertanggung jawab atas hasilnya.
Manusia (individu) tidak didalam masyarakat melainkan bermasyarakat. Masyarakat bukanlah wadah, melainkan aksi, yaitu social action. Masyarakat terdiri dari sejumlah pengertian, perasaan, sikap dan tindakan yang tidak terbilang jumlahnya.
Masyarakat sebagai proses dapat di lihat dari sudut pandang :
- Masyarakat di tinjau dari segi anggotanya yang membentuk, mendukung, menunjang dan meneruskan suatu pola kehidupan bersama yang kita sebut masyarakat. Tanpa peranan aktif anggotanya tidak akan ada keluarga, kelompok, masyarakat, atau negara. Tanpa pendukung dan penegak tidak akan ada hukum, bahasa, adat istiadat atau kebudayaan, dan peradaban pada umumnya.
- Masyarakat dapat ditinjau dari pengaruh strukturnya atas anggotanya. Pengaruh itu penting, sehingga tanpa pengaruh itu manusia tidak dapat hidup., apalagi berkembang. Tanpa kepemimpinan, tanpa bahasa, tanpa hukum, tanpa keluarga, tanpa ekonomi, tanpa pertahanan, tanpa moralitas, agama dll. Individu akan tidak berdaya dan dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan alam dan nalurinya sendiri. Peralihan dari mahluk hidup dan menjadi manusia yang berpribadi dan perkembangannya langsun berkaitan dengan dependensinya dari masyarakat.
Masyarakat dalam proses mengandung dua arti sekaligus yaitu individu yang menegakkan masyarakat dan bertangung jawab atas keadaannya, dan masyarakat berperan sedemikian didalam diri individu, sehingga eksistensinya sebagai manusia tergantung daripadanya.
Keberadaan dua wajah ini semakin disadari didalam sosiologi modern, dan akhirnya tidak dipermasalahkan lagi melainkan di pandang sebagai suatu hakekat kesatuan dalam arti masyarakat itu sendiri. Masyarakat adalah realitas sui generis, yaitu bercorak sendiri dan khusus.
Masyarakat harus dilihat sebagai realitas objektif dan subjektif. Kita mengerti masyarakat didalam proses dialektik terus menerus yang terdiri dari tiga saat, yaitu externalization, objektivation dan internalization.

