Bangsa Jepang yang terpecah-pecah disatukan oleh Tokugawa dengan bersenjatakan ajaran Konfusianisme, Bushido, dan Shinto. Ajaran ini tidak lain adalah ajaran mengenai filsafat yang dapat ditanamkan ke dalam jiwa bangsa Jepang sehingga terbentuklah perasaan kolektivitas dan kebersamaan di antara sesama mereka.
Filsafat inilah yang menyatukan bangsa Jepang menjadi bangsa yang kuat dan kokoh. Filsafat ini tidak hanya tertanam dalam jiwa patriotisme bangsa Jepang, tetapi juga dalam segala bidang kehidupan termasuk dalam bidang manajemennya.
Dalam bidang manajemen perusahaan maupun pemerintahan tertanam filsafat manajemen yang didasarkan kepada saling percaya-mempercayai, bijaksana, setia dan loyal kepada atasan dan perusahaan, rasa memiliki, tanggung jawab bersama dan partisipasi ternyata telah dapat meningkatkan semangat kerja, kestabilan dan produktivitas dalam organisasi.
Manajemen tradisional Jepang bersifat partisipatif dalam pengambilan keputusan. Pola tradisional ini telah pula menanamkan secara mendalam suatu filsafat manajemen di dada masing-masing pekerja atau manajer Jepang untuk mengamalkannya dalam perusahaan masing-masing.
Filsafat tersebut antara lain ialah saling mempercayai antara buruh dan majikan, rasa memiliki, setia dan loyal kepada senior, tanggung jawab bersama dan sebagainya. Filsafat manajemen ini dapat pula dipandang sebagai kode etik perusahaan. Dengan kode etik dan sistem yang digunakan dalam mengelola perusahaan maka terciptalah suatu keharmonisan dalam perusahaan, sehingga dapat dijaga kestabilan perusahaan tersebut. Hal inilah yang membuat meningkatnya produktivitas perusahaan Jepang secara drastis.
Orang Amerika yakin pola campuran ini dapat diterapkan pada perusahaan di Amerika sehingga mereka mengemukakan suatu model manajemen yang disebut ”Teori Z” sebagai panduan dalam mengubah organisasi perusahaan dari Teori Klasik (Amerika) kepada Teori Z. Teori Z ini adalah campuran antara manajemen Amerika dan Jepang.
Dalam modul ini akan dibahas bagaimana latar belakang manajemen Jepang, perbandingannya dengan manajemen Amerika dan Teori Z dan penerapannya dalam perusahaan-perusahaan Amerika. Dengan memahami manajemen Jepang dan Teori Z kita dapat pula membandingkannya dengan manajemen yang berlaku di negara berkembang yang akan dibahas di modul berikutnya.
Dengan mengadopsi manajemen Jepang tersebut dan mengombinasikannya dengan sistem Amerika sendiri maka terciptalah teori Z. Secara berangsur-angsur perusahaan Amerika mengubah bentuk perusahaan yang semula berbentuk A (Amerika) kemudian diubah menjadi tipe Z. Ternyata tipe Z ini pun cocok dengan masyarakat Amerika. Sebagai pedoman dalam perubahan ini maka ada dua belas langkah yang perlu diikuti perusahaan yang ingin merubah wajahnya ke tipe Z.
