Kesetaraan merupakan konsep penting dalam memaknai beragam budaya. Apa sih arti kesetaraan? Jika kita memberi perlakuan yang sama kepada mereka yang berbeda, maka kita sudah dianggap memperlakukan mereka dengan setara?
Contoh, dalam suatu kelas seorang siswa menganut agama Hindu. Ia meminta ijin untuk tidak masuk bukan karena sakit, melainkan untuk mengikuti upacara potong gigi yang merupakan ritual penting agamanya. Namun siswa lain yang berbeda agama juga menuntut agar mereka juga diberi izin tidak masuk. Demi kesetaraan, maka guru mengizinkan semua siswa tidak masuk 1 hari untuk menjalin ritual budaya masing-masing yang belum tentu ada. Ini adalah karakteristik pertama dari setara. Untuk karakteristik kedua Bhikhu Parekh menitik beratkan manusia sebagai makhluk kultural.
Dalam arti manusia memiliki beberapa kemampuan dan kebutuhan yang sama, tapi perbedaan kultural yang dimiliki dapat membua kemampuan dan kebutuhan baru yang berbeda. Jadi manusia adalah makhluk yang sama, sekaligus berbeda.
Dengan pandangan ini, artinya kesetaraan bukan berarti keseragaman perlakuan, tapi lebih ke interaksi antara keseragaman dan perbedaan. Dengan contoh diatas, berarti sang guru tidak perlu memberikan hari libur yang sama, dan bisa meberi hari libur sesuai dan kepentingan dan kebutuhan dari masing-masing ritual budaya yang berbeda.
Hal ini pada dasarnya mirip dengan konsep keadilan dari Aristoteles. Menurutnya, keadilan mesti dipahami dalam pengertian kesamaan. Namun ada yang namanya kesamaan numerik, dan kesamaan proporsional. Kesamaan numerik menganggap manusia merupakan makhluk yang sama. Ini yang dalam tulisan diatas disebut dengan kesetaraan. Sedangkan kesamaan proporsional, artinya memperlakukan seseorang sesuai dengan haknya, kemampuan dan sebagainya.
Contoh, dalam suatu kelas seorang siswa menganut agama Hindu. Ia meminta ijin untuk tidak masuk bukan karena sakit, melainkan untuk mengikuti upacara potong gigi yang merupakan ritual penting agamanya. Namun siswa lain yang berbeda agama juga menuntut agar mereka juga diberi izin tidak masuk. Demi kesetaraan, maka guru mengizinkan semua siswa tidak masuk 1 hari untuk menjalin ritual budaya masing-masing yang belum tentu ada. Ini adalah karakteristik pertama dari setara. Untuk karakteristik kedua Bhikhu Parekh menitik beratkan manusia sebagai makhluk kultural.
![]() |
| ilustrsi demo kesetaraan | credit: www.unsplash.com |
Dalam arti manusia memiliki beberapa kemampuan dan kebutuhan yang sama, tapi perbedaan kultural yang dimiliki dapat membua kemampuan dan kebutuhan baru yang berbeda. Jadi manusia adalah makhluk yang sama, sekaligus berbeda.
Dengan pandangan ini, artinya kesetaraan bukan berarti keseragaman perlakuan, tapi lebih ke interaksi antara keseragaman dan perbedaan. Dengan contoh diatas, berarti sang guru tidak perlu memberikan hari libur yang sama, dan bisa meberi hari libur sesuai dan kepentingan dan kebutuhan dari masing-masing ritual budaya yang berbeda.
Hal ini pada dasarnya mirip dengan konsep keadilan dari Aristoteles. Menurutnya, keadilan mesti dipahami dalam pengertian kesamaan. Namun ada yang namanya kesamaan numerik, dan kesamaan proporsional. Kesamaan numerik menganggap manusia merupakan makhluk yang sama. Ini yang dalam tulisan diatas disebut dengan kesetaraan. Sedangkan kesamaan proporsional, artinya memperlakukan seseorang sesuai dengan haknya, kemampuan dan sebagainya.
Gambar di sebelah kiri, adalah situasi memperlakukan seseorang dengan setara atau kesamaan numerik. Ke tiga orang tersebut masing-masing diberi 1 buah peti. Apapun penggunaan peti tersebut, yang penting mereka semua diperlakukan sama. Gambar di sebelah kanan, adalah memperlakukan seseorang dengan kesamaan proporsional. Maka orang berbaju biru tidak perlu diberi peti karena kondisinya sudah memungkinkan ia untuk melihat pertandingan. Orang berbaju coklat perlu di berikan 1 peti agar ia dapat melihat pertandingan. Sedangkan orang berbaju biru terang membutuhkan 2 peti agar ia dapat melihat pertandingan. Ini adalah konsep setara manusia sebagai makhluk kultural. Atau yang biasa kita kenal dengan kata keadilan.
Tapi mari kita kembali ke realita, yaitu realita dimana tidak mungkin ada namanya keadilan absolut.
Sebagai individu, sebagai bagian, sebagai masyarakat, kita perlu menyadari realita tersebut. Keadilan pada dasarnya bukan berarti keadilan absolut (kecuali jika Tuhan sendiri yang langsung turun tangan), melainkan sebuah kebijakan dan praktek yang seimbang, adil dan benar.
Namun bukan berarti kita tidak melakukan proses dimana proses tersebut bisa membawa kita lebih dekat dengan keadilan. Kita juga sadar bahwa di titik ini kita masih jauh dari kondisi keadilan, untuk itu kita harus berusaha lebih daripada yang kita bisa.

