FILOSOFI NILAI
Nilai berhubungan erat dengan kegiatan manusia menilai. Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang selanjutnya diambil suatu keputusan.
Keputusan nilai dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau buruk, manusiawi atau tidak manusiawi, religius atau tidak religius.
ASAL MULA BERLAKUNYA SEBUAH NILAI MENURUT PARA AHLI
Penilaian ini dihubungkan dengan unsur-unsur atau hal yang ada pada manusia sepeti jasmani, cipta, karsa, rasa dan keyakinan. Sesuatu dipandang bernilai karena sesuaitu itu berguna, maka disebut nilai kegunaan. Bila sesuatu dipandang bernilai karena benar, maka disebut sebagai nilai kebenaran. Jika indah dipandang, maka sesuatu tersebut dikatakan memiliki nilai keindahan (estetis). Jika sesuatu dipandang sebagai hal yang baik, maka ia memiliki nilai moral atau etis. Bila seseorang atau sesuatu dipandang religius, maka ia memiliki nilai kegamaan. Oleh karena itu, nilai memiliki polaritas dan hierarti.
Artinya terdapat beberapa ciri utama dari nilai dan bentuk penilaian diantaranya:
- Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk, keindahan dan kejelekan
- Bila tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya
Meskipun nilai memiliki aspek negatif, tidak berarti hal tersebut meniadakan keberadaan nilai itu sendiri. Akan tetapi bila ada nilai ang baik tentu ada penyeimbangnya yang berupa nilai buruk.
Demikian pula dalam pemahaman bahwa nilai itu ada hierarkinya, bukan berarti ada klasifikasinya, melainkan ada urutan tingkat kepentingannya, sehingga ada nilai yang lebih diutamakan daripada nilai lainnya. Seperti contoh: nilai religius lebih penting daripada nilai keindahan. Ini bergantung dari perspektif si pemberi nilai.
PERSPEKTIF NILAI MENURUT NICHOLAS RESCHER
Berbeda dengan pendapat seperti pada uraian di atas, Niicholas Rescher (1969, hlm. 14-19) menyatakan adanya enam (6) klasifikasi nilai. 6 klasifikasi nilai menurut Nicholas Rescher ini didasarkan atas:
- Pengakuan
- Objek yang dipermasalahkan
- Keuntungan yang diperoleh
- Tujuan yang akan dicapai
- Hubungan antara pengemban nilai dengan keuntungan
- Hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik
Yaitu pengakuan subjek tentang nilai yang harus dimiliki seseorang atau suatu kelompok, misalnya nilai profesi, nilai kesukuan atau nilai kebangsaan.
Objek yang dipermasalahkan
Yaitu cara mengevaluasi suatu objek dengan berpedoman pada sifat tertentu objek yang dinilai, seperti manusia dinilai dari kecerdasannya, suatu bangsa dinilai dari keadilan hukumnya.
Keuntungan yang diperoleh
Yaitu menurut keinginan, kebutuhan, kepentingan atau minat seseorang yang diwujudkan dalam kenyataan. Contohnya kategori nilai ekonomi, keuntungan yang diperoleh berupa produksi, kategori nilai moral, maka keuntungan yang diperoleh berupa kejujuran.
Tujuan yang akan dicapai
Yaitu berdasarkan tipe tujuan tertentu sebagai reaksi keadaan yang dinilai. Contoh: nilai akreditasi suatu lembaga pendidikan.
Hubungan antara pengemban nilai dengan keuntungan
Terdapat beberapa hubungan antara pengemban nilai dengan keuntungan yang didapatkannya menurut pandangan Nicholas Rescher. Hubungan-hubungan tersebut diantaranya adalah:
- Nilai dengan orientasi pada diri sendiri (egosentris) yaitu dapat memperoleh keberhasilan dan ketenteraman
- Nilai dengan orientasi pada orang lain, yaitu orientasi kelompok
- Nilai berorientasi pada keluarga, hasilnya kebanggaan keluarga
- Nilai yang berorientasi pada profesi, hasilnya nama baik profesi
- Nilai yang berorientasi pada bangsa, hasilnya nilai patriotisme
- Bila yang berorientasi pada masyarakat, hasilnya keadilan sosial
- Sementara nilai yang beroerientasi pada kemanusiaan, yaitu nilai-nilai universal.
Hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik, dimana nilai tertentu secara hierarkis lebih kecil dari nilai lainnya.
