Lagu Donna Donna dalam film GIE dinyanyikan oleh Ira (Sita Nursanti) dengan gitarnya dalam salah satu adegan syahdu, ketika para mahasiswa berkumpul di kampus waktu malam pentas seni. Saya masih ingat apa dialog yang diucapkan Gie ketika lagu itu terputar di layar,
"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat, dimana kita tidak bisa menghindari diri lagi, maka terjunlah!"
Mungkin ketika pertama kali menonton film GIE saat masih remaja, saya hanya menyukai Donna Donna sebagai lagu mellow dengan sentuhan dark yang enak didengar. Namun ketika usia saya bertambah, terutama saat melewati quarter life crisis, saya jadi paham kalau Donna Donna lebih dari sekadar lagu yang merdu, tapi mempunyai makna sangat mendalam.
Baca juga: Berkunjung ke Istana Pagaruyung, Replika Sejarah Abadi Suku Minangkabau
'Donna Donna', Teriakan Pilu Bangsa Yahudi
Meskipun di Indonesia lagu Donna Donna dikenal berkat film GIE dan dinyanyikan oleh Sita, usia lagu ini justru lebih tua daripada negeri ini. Dari berbagai literatur, lagu yang sangat disukai Gie ini rupanya ditulis oleh Shalom Secunda, seorang komposer Amerika keturunan Yahudi-Ukraina dan Aaron Zeitlin, putra dari Hillel Zeitlin, seorang penulis dan sastrawan besar Yahudi.
Shalom dan Aaron menciptakan lagu yang mempunyai judul asli Dana Dana ini pada tahun 1941. Tidak seperti sekarang yang berbahasa Inggris, Donna Donna dalam versi aslinya ditulis menggunakan bahasa Yiddi (Yiddish). Sekadar informasi, Yiddi adalah bahasa kelas atas Jerman yang dituturkan oleh umat Yahudi Eropa Timur, alias kaum Ashkenazim.
Berikut adalah lirik asli lagu Dana Dana dengan sistem penulisan abjad Ibrani:
אויפן פירל ליגט דאָס קעלבל,
ליגט געבונדן מיט א שטריק,
הויך אין הימל פליט דאָס שװעלבל,
פרײט זיך, דרײט זיך הין און קריק.
לאכט דער װינט און קאָרן,
לאכט און לאכט און לאכט,
לאכט ער אָפּ א גאַנצן טאָג,
מיט אַ האלבער נאכט.
דאנא, דאנא, דאנא, דאנא,
דאנא, דאנא, דאנא, דאנא, דא,
דאנא, דאנא, דאנא, דאנא,
דאנא, דאנא, דאנא, דא.
שרײַט דאָס קעלבל, יאָגט דער פּויער,
װער־זשע הײסט דיך זײן א קאלב,
װאָלסט געקענט צו זײן אַ פויגל,
װאָלסט געקענט צו זײן א שװאַלב.
לאכט דער װינט און קאָרן ……
בידנע קעלבער טוט מען בינדן,
און מען שלעפּט זײ און מען שעכט,
װער עס האָט פליגל, פליט ארויפצו,
איז בײ קײנעם ניט קײן קנעכט.
Hampir satu dekade kemudian, Arthur Keeves dan Teddi Scwartz menerjemahkan Dana Dana ke dalam bahasa Inggris dan dikenal dengan judul Donna Donna. Popularitas lagu ini melonjak ketika Joan Baez menyanyikannya pada tahun 1960. Dibandingkan versi Sita yang sangat mellow, Joan menyanyikan Donna Donna dengan irama yang lebih cepat khas vintage.
Berikut adalah versi bahasa Inggris untuk lagu Donna Donna:
On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye.
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky.
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer’s night.
Dona, dona, dona, dona,
dona, dona, dona, do,
dona, dona, dona, dona,
dona, dona, dona, do.
“Stop complaining,” said the farmer,
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free?”
How the winds are laughing …
Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
Like the swallow has learned to fly.
Saat pertama mendengarnya, saya pikir lirik Donna Donna itu adalah nama perempuan. Namun jika didengarkan dengan seksama, Donna Donna itu tak ubahnya seperti sebuah panggilan dan ratapan berulang. Yang cukup menarik, Donna Donna atau Dana Dana juga terdengar sama dengan Adonai, sebuah kata sekaligus nama lain untuk Tuhan dalam bahasa Ibrani yang bermakna Tuan atau Tuanku atau Allah yang Perkasa.
Jika dilihat dari tahun pembuatannya dan dua komposer Yahudi yang terlibat, saya akhirnya paham kenapa Donna Donna menjadi sebuah folksong bagi kaum Yahudi. Donna Donna menggambarkan kepiluan dan penderitaan Yahudi di tahun 1940-an. Seperti yang sudah kamu tahu, saat itu bangsa Yahudi menjadi incaran rezim NAZI pimpinan Adolf Hitler.
Dalam tragedi mengerikan sepanjang sejarah peradaban manusia bernama Holocaust itu, jutaan warga Yahudi diseret ke kamp-kamp konsentrasi untuk dibunuh secara keji, bak seekor anak sapi yang siap dibantai. Tak heran kalau lirik-lirik dalam Donna Donna menggambarkan seekor anak sapi (dos klbl/the calf).
Baca juga: 8 Drama Korea Tentang Kesehatan Mental yang Wajib Kamu Tonton
Shalom dan Aaron tampaknya ingin memberitahu dunia betapa perihnya hidup kaum mereka kala itu. Tidak memiliki pilihan karena terlahir sebagai Yahudi, sehingga harus berakhir dengan pembantaian kejam, tanpa tahu apa dosa mereka. Hingga akhirnya dalam keputus asaan itu, mereka cuma bisa meratapi nasib dan merapalkan bantuan kepada Sang Adonai.
'Donna Donna', Belajar Jadi Manusia yang Bisa Terbang
Meskipun merupakan lagu yang sangat identik dengan kisah pilu bangsa Yahudi, Donna Donna justru bisa menjadi lagu yang sangat related dengan kehidupan masyakat saat ini.
Jika kamu membaca lirik Donna Donna secara utuh, kamu tentu sadar kalau lagu ini berisikan dialog sentimental antara seorang petani/peternak dan seekor anak sapi yang hendak dibawa ke pasar. Si anak sapi begitu sedih dan meratapi nasibnya yang akan mati sesaat lagi di pasar. Tak ada yang peduli padanya, bahkan angin pun seolah menertawakan nasibnya.
Dalam kepedihannya, si anak sapi melihat seekor burung walet yang terbang bebas di atasnya. Melihat burung walet yang terbang bebas, si anak sapi cuma bisa menatap dengan air mata penuh kepedihan dan terus mengeluhkan nasib buruknya. Bukannya mendengarkan, si petani justru menyuruh si anak sapi untuk berhenti mengeluh dan berkata, 'Siapa suruh kau jadi anak sapi? Kenapa kau tak punya sayap dan terbang seperti burung walet?'
Namun lagi-lagi ketika usia saya bertambah, saya sadar kalau dialog sentimental antara si anak sapi dan petani itu bukanlah sekadar kisah tanpa makna. Apa yang dialami anak sapi, seolah jadi analogi kehidupan manusia.
Tentu ada, orang-orang yang terlahir dan berada di lingkungan yang kurang menyenangkan, penuh tekanan hidup, dan akhirnya cuma bisa meratapi nasib 'menuju pembantaian'. Bersedih melihat orang-orang lain mampu 'terbang tinggi' dan akhirnya semakin terpuruk karena lingkungan tempatnya berada justru menertawakan nasibnya.
Berada dalam kondisi di titik terendah dan tak bisa melakukan apa-apa selain cuma meratapi nasib bukanlah sesuatu yang asing. Setiap manusia pasti memiliki cobaannya masing-masing, bukan? Ada yang bisa bangkit, tapi ada yang akhirnya cuma pasrah. Bukan karena tak berani, tapi karena memang merasa Tuhan sudah memberikan takdir seperti itu.
Seperti kata si petani, kenapa tak punya sayap dan terbang seperti walet? Benarkah demikian? Benarkan Tuhan memberikan takdir sekejam itu kepada manusia dan menjadikannya bak anak sapi yang tidak tahu apa-apa lalu dibantai? Tentu tidak!
Apalagi sebagai manusia yang terlahir dalam kondisi Muslim, saya menyadari kalau sejatinya manusia bisa mengubah nasib mereka seburuk apapun itu, sehingga Tuhan pun bergerak untuk mengubah takdir.
Baca juga: Air Terjun Watu Ondo, Si Kembar Cantik di Kaki Gunung Welirang
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡؕ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'd ayat 11)
Sama seperti lirik terakhir Donna Donna, 'But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly', begitu pula yang diucapkan Gie dalam filmnya bahwa,
'Kalau kita ingin hidup bebas, kita harus belajar terbang'
Karena pada dasarnya setiap manusia, selemah apapun posisinya dan seterpuruk apapun lingkungannya, dia masih punya pilihan untuk mengubah nasibnya. Percayalah, Tuhan tahu, tapi menunggu.
