Wisata Tanah Datar: Istana Pagaruyung, Replika Sejarah Abadi Suku Minangkabau

 

Istana Pagaruyung tampak depan
Istana Pagaruyung tampak depan


Pagaruyuang jo Batusangka
Tampek bajalan dek urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Oi takana juo

Sayup-sayup lagu Ayam den Lepeh yang dinyanyikan Ria Amelia membangunkan saya pagi ini. Sebagai peranakan Jawa-Minang, saya sedari kecil sudah terbiasa mendengarkan lagu-lagu Minang di pagi hari. Dan lagi-lagi suara uni Ria membuat saya teringat pada perjalanan empat tahun lalu ke Istana Pagaruyung.

Tahun 2016 lalu, saya berkesempatan untuk pulang kampung ketiga kalinya ke tanah kelahiran Ibu saya di Simaung, Nagari Nan Tujuah, Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Berbarengan dengan Idul Fitri, saya akhirnya merasakan Lebaran untuk pertama kali di Simaung, tempat Ibu saya dilahirkan.

Setelah tradisi kunjungan antar rumah yang membuat perut super gemuk dilakukan, saya mengajak sepupu saya, Sudir, untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata di Agam dan Bukittinggi, mumpung jadwal flight balik ke Jawa masih tersisa beberapa hari. Akhirnya saya dan Sudir sepakat untuk pergi ke Istana Pagaruyung yang terletak di Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar.

Rute Perjalanan Menuju Istana Pagaruyung

hamparan sawah perjalanan ke Istana Pagaruyung
hamparan sawah dan latar gunung Marapi

Sebagai manusia yang bermental mudah muntah saat naik mobil, saya mengajak Sudir untuk naik sepeda motor saja ke Istana Pagaruyung.

Nekat?

Memang, hahaha...

Beruntung Sudir yang berusia tiga tahun lebih muda daripada saya ini, menyanggupi permintaan uni-nya. Saya memang lebih terbiasa solo travelling dengan sepeda motor di sebuah kota, sehingga tidak gentar waktu Sudir bilang perjalanan Simaung-Istana Pagaruyung bakal menghabiskan waktu sekitar dua jam.

Berangkat di pagi hari, kami pun memulai perjalanan darat sepanjang kurang lebih 70 kilometer.

Baca juga: 'MULAN' (2020): Usaha Benci dan Cinta Untuk Disney

Satu hal yang membuat saya tidak bosan atau merasa lelah untuk duduk dua jam di sepeda motor adalah karena perjalanan kami menembus bukit dan dihiasai hamparan gunung serta sawah di Tanah Minang yang begitu mempesona.

Sepanjang perjalanan dari rumah Makuo (Ibu Sudir) ke Bukittinggi, kami menembus hutan Bukit Barisan yang begitu sejuk. Setelah melewati kota Bukittinggi dan membeli minuman, perjalanan menuju Batusangkar menghadirkan penampakan gunung Marapi yang menjulang begitu gagah. Semakin dekat dengan lokasi Istana Pagaruyung, hamparan sawah dan perkampungan rumah adat Minang semakin jelas terlihat yang membuat saya sungguh rindu waktu menulis cerita ini.

Berbeda dengan di Agam atau Bukittinggi yang lumayan sejuk, semakin dekat ke Tanah Datar cuacanya waktu itu mulai panas. Jadi saran saya buat kalian yang mau ke Istana Pagaruyung, jangan lupa membawa topi dan mengenakan pakaian santai, supaya bisa lebih leluasa.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk Istana Pagaruyung 

bangunan Istana Pagaruyung (1)
Berpose dengan latar Istana Pagaruyung

 

Saya dan Sudir tiba sekitar hampir Duhur di Istana Pagaruyung. Mungkin karena kami berkunjung setelah Lebaran, waktu itu kondisinya cukup ramai oleh wisatawan. Sudir pun memarkirkan motornya dan saya menuju loket untuk membeli tiket masuk. 

Buat kamu yang ingin ke Istana Pagaruyung, berikut informasi jam operasional sekaligus harga tiket masuknya (informasi per Maret 2020):

Jam Operasional: 08.00 - 18.00
Harga Tiket Masuk:
- Wisatawan Lokal = Rp15.000 (dewasa) dan Rp7.000 (anak-anak)
- Wisatawan Mancanegara = Rp25.000

Setelah membeli tiket, kami berdua pun masuk. Langkah saya langsung terhenti saat melihat bangunan megah Istana Pagaruyung. Bagian atap bagonjong yang merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau membuat saya kagum. Rumah panggung besar ini mau tak mau mengingatkan saya ke drama-drama Korea bergenre saeguk atau kerajaan di masa lampau. 

Jadi ingat juga kalau chef Gordon Ramsay sempat datang ke Istana Pagaruyung beberapa bulan lalu saat syuting program Gordon Ramsay: Uncharted di National Geographic Channel.

Mengagumi Arsitektur dan Ruangan Istana Pagaruyung

bangunan Istana Pagaruyung (2)
2016, ngehits pake Go Pro dong ah...
 

Bak rumah gadang raksasa, Istana Pagaruyung memang merupakan rumah panggung yang bertingkat tiga. Arsitektur tradisional Minangkabau jelas terlihat dari 11 gonjong yang menghiasi bagian atap bangunan. Keberadaan 72 tonggak penyangga membuat Pagaruyung terlihat benar-benar megah apalagi aneka ornamen ukiran penuh warna di seluruh dindingnya.

Baca juga: Air Terjun Watu Ondo, Si Kembar Cantik di Kaki Gunung Welirang

Oiya, kamu harus melepas alas kaki saat memasuki Istana Pagaruyung dan menyimpan sepatu sebelum memasuki bangunan. Entah sekarang masih seperti itu atau tidak, yang jelas empat tahun lalu waktu saya dan Sudir ke sana, harus wajib demikian. Untung saja pakai kaos kaki yang proper, tidak bau dan bolong, sehingga kepercayaan diri meningkat.

Pada tingkat pertama Istana Pagaruyung, ada ruangan sangat besar yang mempunyai area singgasana raja pada bagian tengah. Di belakang singgasana, ada tujuh buah kamar yang diperuntukkan kepada putri-putri raja yang sudah menikah. Sementara untuk tingkat kedua, merupakan ruangan bagi putri-putri raja yang belum menikah seperti saya.

bangunan Istana Pagaruyung (3)
Melihat rakyat jelata dari anjung peranginan


Di tingkat teratas, terdapat anjung peranginan yang berada tepat di bawah atap gonjong. Ruangan ini rupanya menjadi area raja dan permaisuri melihat kondisi di sekitar istana. Saat itu, ada banyak sekali orang yang ingin berfoto di jendela-jendela lebar dengan latar halaman Istana Pagaruyung. Saya pun harus antre untuk mendapat foto yang oke, meskipun tidak sesuai harapan.

Tak hanya anjung peranginan, beberapa koleksi senjata pusaka yang konon asli milik Kerajaan Pagaruyung seperti tombak, pedang dan senapan peninggalan Belanda juga tersimpan rapi. Bangunan utama ini juga memiliki jalur ke bangunan-bangunan lain yang kini diperuntukkan untuk fasilitas wisatawan seperti toilet, mushola, tempat istirahat sampai pusat kuliner.
 

Terbakar Berulang Kali, Istana Pagaruyung Sekarang Hanyalah Replika

bangunan Istana Pagaruyung (4)
Arsitektur bagian dalam Istana Pagaruyung
 

Saat berkeliling di tingkat pertama, terdapat sebuah layar yang menjelaskan mengenai sejarah Istana Pagaruyung. Saya jadi tahu kalau bangunan yang saya datangi ini adalah replika dari Istano Basa yang asli.

Istano Basa milik Kerajaan Pagaruyung sebetulnya berada di atas bukit Batu Patah yang bisa kamu lihat di perjalanan menuju Istana Pagaruyung. Sayang bangunan asli itu sudah terbakar habis pada tahun 1804 oleh kaum Paderi yang berperang melawan para bangsawan dan kaum adat. Sempat dibangun lagi, Istano Basa kembali terbakar pada tahun 1966.

Sepuluh tahun kemudian, Gubernur Sumatera Barat kala itu yakni Harun Zain memulai proyek pembangunan kembali Istano Basa. Namun kali ini bangunan baru itu tidak ada di atas bukit Batu Patah, tapi berpindah ke lokasi baru yang lebih ke selatan. Di akhir tahun 1970-an, Istana Pagaruyung kembali dibuka untuk umum dan jadi destinasi wisata.

Berbeda dengan Istana Pagaruyung asli yang dibangun dengan batang-batang kayu seluruhnya, Istano Basa yang saya datangi ini merupakan replika sejarah yang sepenuhnya dibangun dengan struktur beton modern. Namun penggunaan material kayu ukiran yang berciri budaya Minangkabau, membuat Istano Basa replika ini tampak bak aslinya.

bangunan Istana Pagaruyung (5)
Tampak samping bangunan Istana Pagaruyung



Sayang pada 27 Februari 2007, Istana Pagaruyung ini lagi-lagi terbakar hebat karena sambaran petir di puncak atap bagonjong. Kebakaran hebat membuat sebagian dokumen dan kain-kain hiasan sejarah musnah jadi abu, dan cuma menyisakan 15 persen peninggalan sejarah. Barang-barang yang tersisa itu bisa kamu temukan di Balai Benda Purbalaka Kabupaten Tanah Datar. Sementara untuk harta pusaka Kerajaan Pagaruyung, ada di Istano Silinduang Bulan yang berjarak dua kilometer dari Istano Basa.

Baca juga: Makna Lagu 'Donna Donna': Tak Cuma Anak Sapi dan Burung, Tapi Takdir Tuhan

Menelan biaya lebih dari Rp20 miliar, Istana Pagaruyung versi baru yang saya datangi ini diresmikan Presiden SBY pada Oktober 2013. Dengan usianya yang masih tiga tahun kala itu, fasilitas di obyek wisata ini cukup mumpuni dan terjaga kebersihannya. Semoga ketika saya bisa kembali lagi ke Bukittinggi, saya bisa datang lagi ke tempat ini.

Sampai ketemu, Istana Pagaruyung!

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin