"Abuse is abuse; Be nice.. Harsh words don't break bones but they often break hearts." ~ Joseph Simmons
Hayo ngaku, siapa di antara kamu yang udah mengernyitkan dahi saat membaca kata lonte?
Apakah menurutmu saya akan ikut-ikutan ngebahas sese-seleb yang sedang berseteru dengan pemuka agama?
Tidak sheyenk.
Postingan ini sama sekali tidak membawa-bawa masalah selebritis yang terjerat perseteruan dengan sebuah ormas. Yah, memang saya akui pembahasan ini terinspirasi dari kata lonte yang sempat begitu rame beberapa terakhir. Namanya juga usaha yekan, maklum blog baru.
Nggak masalah kan saya nyebut kata lonte?
Apa ada di antara kamu yang cukup alergi mendengar kata tersebut?
Bagaimana kalau saya ganti dengan pelacur, PSK (Pekerja Seks Komersial), kupu-kupu malam, ayam kampus atau gundik?
Masih terdengar kasar dan tidak sopan dibaca sekaligus diucap?
Saya tidak menyalahkan. Karena memang sederet kata-kata di atas memiliki kesan negatif. Menggambarkan sebuah kondisi yang melanggar norma dan sebuah bentuk perilaku asusila. Kata-kata negatif entah lonte, pelacur, gundik, atau yang lain you-name-it, memang dianggap tabu sama seperti umpatan kasar.
Namun yang menarik, kata-kata yang berkesan negatif itu dan melanggar asusila itu justru muncul dalam banyak sekali karya seni entah film bahkan lagu. Salah satunya bahkan sangat populer yang dinyanyikan oleh musisi legendaris negeri ini.
Yap, Kupu-Kupu Malam milik Eyang Titiek Puspa.
Menyibak Asal-Usul Kata Lonte yang Sedang Populer
Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, kata lonte yang sekarang sedang sangat viral ini memang memiliki kesan yang sangat negatif. Bahkan menurut Wisnu Sasangka selaku Peneliti dan Penyuluh Badang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, kata ini tidak pantas untuk mengisi komunikasi di ruang publik.
Dilansir Suara, Wisnu menegaskan bahwa istilah lonte berasal dari ejaan dalam bahasa Jawa yakni lonthé yang memang berarti pelacur. Selain lonte, ada juga genggek, tarigu, balon dan tlembug yang kerap dipakai masyarakat Jawa.
Saya sebagai perempuan turunan Minang-Jawa, cukup asing dengan genggek, tarigu atau tlembug, tapi tak bisa menampik bahwa pernah mendengar balon dan lonte. Yang percayalah, jika saya ucapkan maka Ibu atau Ayah saya bakal langsung mendelik marah.
Sementara itu di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi online, lonte juga muncul dan semakin menegaskan kesan negatifnya karena bermakna perempuan jalang, wanita tunasusila, pelacur dan sundal. Tidak berbeda jauh dengan gundik.
Baca juga: Berkunjung ke Istana Pagaruyung, Replika Sejarah Abadi Suku Minangkabau
Kata Lonte Berasal Dari Serangga?
Ada satu hal yang unik sebelum akhirnya kata lonte identik dengan perempuan 'nackal'. Dalam kamus bahasa Jawa karya W.J.S Poerwadarminta yang berjudul Baoesastra Djawa (terbitan 1939), lonthé justru adalah nama seekor serangga yang mirip kumbang. Dimana lonthé merupakan wangwung kecil yang adalah hama pada tanaman kelapa.
![]() |
| wangwung si kumbang tanduk hama kelapa |
Karena wanita tunasusila identik keluar di malam hari, menggunakan parfum aroma semerbak dan gemar berada di tempat-tempat gemerlap untuk dugem, diyakini sebagai cikal bakal penyebutan mereka menjadi lonthé, mirip si hama kelapa.
Masyarakat Jawa sebetulnya bukan kali ini saja memiliki istilah-istilah ajaib yang akhirnya digunakan dalam peradaban populer. Bahkan beberapa di antaranya sangatlah kasar di masa kini, justru dulu merupakan hal yang biasa.
Sebut saja seperti sontoloyo (penggembala bebek), germo (pemburu harimau) hingga bajingan (kusir gerobak). Bahkan ada juga ciblek yang kini dianggap singkatan dari cilikan betah melek, merujuk pada sosok gadis-gadis ABG labil yang sering nongkrong di tepian jalan, menanti untuk di-booking pria hidung belang, seperti dilansir Suara.
Duh, Gusti...
Bahasa Minang Juga Mengenal Lonte
Lebih lanjut, sejarah kata lonte rupanya juga tak hanya menjadi dominasi masyarakat Jawa saja. Penduduk Minang konon juga mengenal istilah lonte ini dalam beberapa dialek bahasa daerah mereka, dan memang bermakna sangat negatif yakni seorang pelacur.
Dijelaskan oleh Prof. Gusti Anan selaku sejarawan Sumatera Barat dalam bukunya yang berjudul Sejarah Minangkabau, Loanwords dan Kreativitas Berbahasa Urang Awak terbitan tahun 2020, kata lonte diambil dari bahasa Belanda yang terdiri dari dua kata yakni lonn (upah) dan tje (kecil/disayang).
Lonntje lambat laun pun disebut dengan lonte, yang jika sesuai artian katanya, bisa diterjemahkan bebas sebagai seseorang yang diberi upah dan disayang. Istilah pelacur ini mulai ramai dipakai di tanah Minang pada abad ke-19 hingga abad ke-20, saat penjajahan Belanda sedang meradang di Tanah Air.
Seperti sebuah profesi yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat, perempuan-perempuan penghibur ini justru memiliki rumah bordil khusus dan harus terdaftar. Mereka bahkan mempunyai catatan medis dan mendapat perawatan kesahatan, lantaran bisa digunakan untuk menemani pejabat kolonial yang sedang butuh kasih sayang.
Baca juga: 8 Drama Korea Tentang Kesehatan Mental yang Wajib Kamu Tonton!
Lonte dan Gundik, Apakah Sama?
Jika membahas soal kata-kata yang menggambarkan perempuan nakal, lonte bukan satu-satunya yang populer. Selain lonte, ada juga gundik yang kebetulan juga pada tahun 2019, sempat sangat populer berkat skandal heboh yang melibatkan maskapai penerbangan plat merah.
Lagi-lagi kalau merujuk pada KBBI, lonte dan gundik sama-sama berakar pada satu kata yakni pelacur yang berarti perempuan yang melacur (berbuat lacur/melakukan hubungan seksual demi uang). Sinonim dari kata pelacur adalah wanita susila dan sundal. Tunasusila sendiri diartikan sebagai perempuan tak memiliki susila atau bisa disebut juga sebagai lonte dan gundik.
Namun yang menarik, jika kata gundik ditelusuri sendiri, memiliki dua makna yakni istri tidak resmi alias selir serta perempuan peliharaan (istri gelap). Gundik pun identik dengan praktik pergundikan yang ramai terjadi di masa kolonial, dimana perempuan yang disebut sebagai gundik menjalin ikatan di luar hubungan pernikahan dengan seorang laki-laki.
Asep Kambali selaku sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia kepada Kumparan menjelaskan bahwa gundik adalah istilah untuk perempuan yang dikawin tapi tak dinikahi. Istilah gundik muncul setelah praktek perbudakan hilang di abad ke-18.
Antara Gundik, Nyai dan Pelakor

konon merupakan gambar sosok gundik di masa kolonial © istimewa

Dirasa terdengar sangat buruk, pergundikan pun memunculkan istilah baru yakni Nyai. Dalam buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda yang ditulis Reggie Bay rilisan tahun 2010, kata Nyai diyakini berasal dari bahasa Bali.
Menurut penulis sejarah kolonial asal Belanda itu, sebutan Nyai jadi sangat populer saat banyaknya perempuan-perempuan Bali menjadi budak dan gundik orang-orang Eropa sekitar abad ke-17. Dua abad kemudian, orang Eropa yang menjajah Indonesia justru semakin menghina para Nyai itu dengan menyebut mereka sebagai inlandse huishoudster (pembantu rumah tangga).
Sebutan itu sendiri didasarkan bahwa meskipun para Nyai ini mengurusi urusan rumah tangga laki-laki kulit putih, derajat mereka tidaklah setara. Nyai harus patuh pada perintah tuannya dan cuma sekadar pemuas nafsu. Bahkan ketika jabatan sang tuan sudah usai dan kembali ke Belanda, Nyai si gundik akan diserahkan ke pejabat baru yang menggantikannya, seolah-olah seperti barang saja.
Nyai Ontosoroh, Gundik Simbol Perjuangan
Meskipun gundik tak ubahnya kata lonte yang memiliki kesan negatif, sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer justru menjadikan gundik sebagai 'jantung' dari Tetralogi Pulau Buru, lewat sosok Nyai Ontosoroh. Sejatinya jika kamu cukup menggemari karya-karya Pram, tentu sepakat bahwa peran Ontosoroh bisa dianggap lebih kuat daripada Minke, meskipun dirinya tak secantik si Bunga Penutup Abad, Annelies Mellema itu.
Ontosoroh digambarkan sebagai perempuan keras hati yang nantinya menjadi mentor Minke dalam mengungkapkan kegelisahan demi kegelisahan dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, di masa penjajahan Hindia-Belanda. Mulai dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, kita bisa melihat perjuangannya membalikkan penderitaan menjadi sebuah perjuangan.
![]() |
| adegan Nyai Ontosoroh di film BUMI MANUSIA |
Siapakah sosok yang menyuruh Minke untuk menulis?
Nyai Ontosoroh.
Siapakah orang yang berani menikahkan Annelies dengan Minke?
Nyai Ontosoroh.
Siapa juga yang tetap membiayai sekolah Minke sekalipun Annelies sudah meninggal?
Nyai Ontosoroh.
Pram begitu cerdik memperlihatkan keteguhan dan perjuangan seorang perempuan sekalipun dirinya dianggap durjana oleh masyarakat. Sang Nyai yang bernama asli Sanikem ini tak mau hanya menjadi perempuan simpanan pemuas nafsu pria saja, tapi justru ingin menjadi seorang pejuang dalam perlawanan relasi kuasa, memperjuangkan ketidak adilan yang memang identik dengan kehidupannya.
Meskipun Sanikem ini adalah tokoh fiktif, saya tak bisa tidak menghormatinya. Saya selalu menganggap Nyai Ontosoroh sebagai contoh perempuan Jawa yang hidup tidak menjadi seonggok daging di muka bumi ini. Sebuah bukti feminisme tanpa tedheng aling-aling!
Prostitusi dalam Rekaman Kamera Film
Kembali lagi, saya tak bisa menampik kalau kata lonte mau diucap dengan nada seperti apapun, tetap bakal berkesan negatif. Tak berbeda jauh dengan gundik yang selalu memberikan kesan tak baik, sekalipun tak semua Nyai hidup berkalang ranjang saja.
Sejatinya, kesan negatif ini memang tak lepas dari hasrat paling purba dari manusia, yakni mengenai urusan seksual. Bicara soal urusan seksual, film sebagai media budaya paling populer (selain lagu), justru paling sering membahas soal hal ini. Tak hanya fokus pada kata lonte saja, dunia prostitusi bahkan begitu seksi untuk digarap.
![]() |
| PRETTY WOMAN (1990) |
![]() |
| MEMOIRS OF GEISHA (2005) |
Lalu, apakah ada film yang membahas kata lonte dan dunia prostitusi berkualitas dari Indonesia?
Tentu saja ada dong!
Dan ini bukanlah film esek-esek yang tidak punya cerita menarik selain cuma memperlihatkan buah dada itu.
Rekomendasi saya adalah LOVELY MAN (2011).
![]() |
| LOVELY MAN (2011) |
Baca juga: Cerita Si Gembul, Kucing Sembuh Dari Virus Panleukopenia
Dan Kata Lonte, Tentu Akan Tetap Menjadi Sebuah Identitas Negatif
Kembali lagi pada pembahasan kata lonte. Meskipun sudah dipaparkan dengan sangat panjang lebar bahwa kemungkinan kata itu berasal dari seekor kumbang hama kelapa, tetap saja dalam perkembangannya lonte tidak memiliki hal yang bagus sedikitpun.
Kendati lonte juga bisa disebut sebagai gundik, masuk dalam budaya-budaya populer entah buku, novel, lagu sampai film, kata lonte seolah tidak akan pernah bangkit dari kasta terbawah.
Bahkan di masa kini, lonte tidak hanya menjadi julukan untuk perempuan penghibur dan PSK saja, tapi justru kerap dilontarkan untuk sosok perempuan genit yang mungkin mempunyai pekerjaan bergengsi, hanya saja perilakunya tidak dapat memuaskan sebagian orang.
Kalau sudah begini, siapakah yang justru mempermalukan dirinya sendiri? Si pengucap atau obyek dari kata lonte?





