Naik gunung adalah salah satu kegiatan yang sangat saya sukai dalam lima tahun terakhir.
Semua bermula di tahun awal tahun 2016, saat saya dan lima rekan kerja saya merasa bosan dengan rutinitas kantor. Kami pun iseng untuk mendaki gunung Panderman.
Kebetulan kami tinggal di Malang, hiking ke Panderman yang ada di Batu tentu bukanlah perjalanan jauh. Dengan persiapan yang amat singkat, kami berangkat Sabtu sore itu, ketika hujan turun deras sedari pagi.
Ini adalah kali kedua saya ke Panderman setelah sebelumnya cuma sampai di Latar Ombo. Kali ini kami berenam langsung fokus untuk mencapai puncak Basundara. Membentang setinggi 2.045 meter di atas permukaan laut, Basundara adalah pilihan terbaik membuka tahun 2016 yang saat itu masih hujan deras di bulan Januari.
![]() |
| Menuju Basundara saat hujan badai mulai usai |
Tapi perjalanan santai itu berubah menjadi sebuah perjuangan kala hujan deras mengguyur Panderman, ketika kami bermalam di Latar Ombo. Tenda yang basah, hawa yang dingin, suara serangga hutan dan aroma pepohonan pinus seolah mengejek kami. Masih kuatkah tekad kami sampai Basundara?
Kami cukup lega ketika hujan berhenti esok paginya, dan kami memutuskan untuk lanjut ke Basundara. Namun di tengah perjalanan, hujan badai mengguyur. Saya sangat ingat waktu itu kala batas antara ketakutan dan kematian begitu tipis, karena jarak pandang membuat saya tak bisa menemukan rekan. Hanya doa yang bisa dipanjatkan saat saya duduk di tengah lebatnya hutan Panderman.
Sambil menunggu rekan yang mungkin entah ada di depan atau di belakang, saya cuma bisa bersandar di batang pohon rasamala yang menjulang kokoh tak bergeming meskipun hujan badai. Ditemani cacing-cacing hutan yang gemuk dan jatuh di aliran air, saya bersyukur karena masih banyak pohon-pohon besar di sepanjang jalur pendakian.
Bagaimana jika pepohonan ini tak ada?
Bagaimana jika di sepanjang jalur itu gundul?
Bagaimana jika perlindungan hutan di Indonesia tak berjalan sebagaimana mestinya?
Mungkin saja, saya akan tergelincir di lereng Panderman.
Pengalaman di Panderman itu seolah membuka mata saya, bahwa mendaki gunung bukan cuma sekadar melangkahkan kaki menuju puncak. Empat bulan berselang, kini giliran gunung tertinggi di Jawa yang saya datangi.
Menjulang hingga 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru memang jadi impian bagi para pecinta alam. Kali ini saya menuju Mahameru dengan rombongan yang lebih besar yakni delapan orang, yang masih sama-sama rekan kerja.
| perjalanan menuju Ranu Pane |
Perjalanan dari pasar Tumpang menuju Ranu Pane pun kami lewati dengan jeep terbuka. Ketika mobil memasuki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), saya disuguhkan pada hamparan hutan rimbun, yang sangat sejuk. Pemandangan yang mungkin tak akan pernah saya lupakan. Pemandangan yang membuat saya sadar, kalau saya mencintai Indonesia.
Sebagai kawasan dengan tipe ekosistem sub-montana, jalur TNBTS menuju Semeru memiliki kekayaan flora yang mungkin membuat siapapun rindu. Aroma khas kawasan hutan dengan suara serangga, seolah menyeruak di balik rimbunan cemara gunung, rasamala atau jamuju. Pepohonan seolah menyambut kami yang ingin menyapa Mahameru di bulan Mei itu.
Masihkah terbesit asa, anak cucuku mencumbui pasirnya? Di sana, nyalimu teruji. Oleh ganas cengkeraman hutan rimba ~ Mahameru (Dewa 19)
Ada kesedihan yang saya rasakan jika mengingatnya. Apalagi jika mengingat Semeru saat itu baru saja mengalami kebakaran hutan. Kepedihan yang muncul di balik banyak pertanyaan.
Sampai kapan hamparan hutan ini bisa membentang dengan damai?
Sampai kapan kami para manusia bersikap sombong dan melupakan hutan yang selalu memberikan kehidupan?
Haruskah saya menjadi pemimpin negeri ini untuk melakukan perlindungan hutan di Indonesia?
Baca juga:
- Air Terjun Watu Ondo, Si Kembar Cantik di Kaki Gunung Welirang
- Makna Lagu 'Donna Donna': Tak Cuma Anak Sapi dan Burung, Tapi Takdir Tuhan
- Review 'THE SCIENCE OF FICTIONS' (2019): Hiruk-Pikuk Sejarah yang Belum Tentu Benar
Jika Saya Jadi Pemimpin, Saya Akan Belajar dari Fans Kpop
Menjadi pemimpin lebih dari 200 juta orang Indonesia, tentu bukan hal mudah. Jangankan 200 juta orang, memimpin rombongan naik gunung yang cuma setengah lusin saja tidak pernah saya lakukan.
Satu-satunya kegiatan kepemimpinan yang pernah saya lakukan hanyalah saat memimpin rombongan ELF (fans Super Junior) ketika menonton konser di Jakarta, beberapa tahun silam.
Mungkin banyak di antara kamu yang akan mencibir perilaku saya. Menyukai kok idol K-Pop. Suka kok sama laki-laki plastik, nge-fans kok sama cowok cantik.
Percayalah, kalimat-kalimat itu sudah saya dengarkan ratusan kali.
Tapi bagaimana kalau saya mengajak kalian untuk belajar dari fans KPop dalam hal mencintai hutan? Mencintai alam? Mencintai Indonesia?
Lah, kenapa harus fans KPop?
Karena para fans KPop itu, anak-anak muda yang kalian anggap tidak berguna itu, pernah membuktikan kepedulian mereka kepada alam, atas nama cintanya pada sang idola.
![]() |
| Kado hutan Always-GD untuk G-Dragon © Koreaboo |
Tahun 2014, sekelompok fans G-Dragon memberikan hadiah kepada leader Big Bang sebuah hutan bernama G-Dragon Forest di Yeouido, Seoul. Hutan itu hasil kerjasama Always-GD (kelompok fans G-Dragon) dengan Tree Planet, organisasi yang fokus menanam dan memelihara ruang hijau di kawasan Metropolitan. Hutan ini dibeli Always-GD berkat donasi yang terkumpul.
Lalu pada 2017, Always-GD kembali bekerjasama dengan Tree Planet untuk membeli sebuah hutan di pulau Jeju. Hutan yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun G-Dragon ke-29 itu ditanami 50 pohon jeruk.
![]() |
| Kado hutan Always-GD untuk G-Dragon |
Leader dari boyband KPop yang tengah populer saat ini, BTS, yakni RM juga mendapatkan kado hutan di tahun 2019 dan 2020 ini. Hutan pertama yang bernama BTS RM Forest No.1 ini terwujud berkat donasi sekitar 250 penggemar dan mengumpulkan uang 11,1 juta won (sekitar Rp133 juta). Terletak di depan menara jam Taman Jamsil Hangang, ada sekitar 1.250 tumbuhan jenis spirea prunifolia ditanam di hutan tersebut.
![]() |
| RM Forest No.1 © Yonhap |
Saya tak akan memaksa kamu atau kalian untuk ikut menjadi fans Kpop, tidak, tak usah, tak perlu.
Yang saya mau hanyalah mencoba mengikuti kegiatan positif para fans dalam hal perlindungan hutan di Indonesia. Terutama jika kamu adalah milenial atau generasi Z, inilah saatnya peran generasi muda sangat penting dalam menyelamatkan hutan.
Coba jawab, berapa banyak uang dari kantongmu yang mengalir untuk membeli barang branded entah kosmetik atau item fashion? Berapa besar uang saku untuk beli boba dan nongkrong di coffee shop?
Memang, itu semua adalah hak kalian. Kalian bebas mau menggunakan uang bahkan untuk beli produk lucu di markeplace.
Tapi bagaimana jika sedikit dari sejumlah uang itu dialirkan untuk donasi kebutuhan hutan? Bagaimana jika sekian persen dari itu dimanfaatkan untuk menanam hutan seperti yang dilakukan oleh fans KPop? Bagaimana jika di setiap gelas es kopi boba, di setiap struk pembelanjaan kosmetik branded ada sejumlah donasi wajib untuk konservasi hutan?
Inilah fokus paling utama seorang pemimpin.
![]() |
| infografis by: Arini Maulidia |
Seorang pemimpin harus sadar bahwa hutan memiliki fungsi yang sangat vital di seluruh dunia. Sekitar 1,6 miliar manusia di Bumi, bergantung pada hutan. Kembali ke pelajaran IPA saat SD, hutan dalam hal ini tumbuhan, menggunakan CO2 (karbondioksida) yang berbahaya bagi manusia dan hewan untuk menjadi O2 (oksigen) yang dibutuhkan manusia dan hewan lewat proses fotosintesis.
Bahkan lewat penelitian terungkap bahwa satu pohon besar bisa menghasilkan 1,2 kilogram oksigen per hari untuk kebutuhan bernapas dua orang manusia.
Bayangkan, jika mendapatkan oksigen setiap hari secara gratis berkat pepohonan yang ada di sekitar. Bagaimana jika pohon-pohon itu lenyap seluruhnya? Haruskah kita membawa tabung oksigen di ransel untuk bepergian?
Haruskah kita membeli oksigen untuk bernapas jika pepohonan tak lagi rimbun?
75 Kali Luas Yogyakarta Sudah Hilang Dari Indonesia
Ide seperti fans KPop yang membelikan hutan itu sebetulnya bukanlah hal baru. Dalam perayaan Hari Hutan Indonesia pada 7 Agustus 2020 kemarin, sebuah program Adopsi Hutan dirilis sebagai gerakan gotong royong menjaga hutan. Memanfaatkan platform Kitabisa, kalian bisa menyalurkan donasi semampunya untuk konservasi hutan. Program ini jadi bukti penting akan peran generasi muda pada negeri ini.
Namun sebagai seorang pemimpin, menjadikan Adopsi Hutan sebagai program yang memiliki aturan wajib selayaknya pajak, bukanlah hal berlebihan. Sudah saatnya kita ajak milenial dan generasi Z untuk terlibat aktif dalam mencintai hutan Indonesia.
Andai saja Rp500 dipotong untuk donasi perlindungan hutan di Indonesia dari pembelian es kopi boba atau skincare, bayangkan saja jika ada 100 transaksi dalam sehari, sudah Rp50 ribu terkumpul. Kalau satu bulan? Jadi Rp1,5 juta. Ini dari 100 transaksi saja yang mungkin dibukukan oleh sebuah coffee shop.Berapa jumlah coffee shop di Indonesia? Berapa jumlah penjual barang branded favorit anak muda? Ratusan? Ribuan? Tentu saja artinya akan ada dana yang luar biasa besar terkumpul dari kantong generasi muda. Yang mana bisa menghijaukan kembali ratusan hektar hutan di Indonesia yang semakin lama semakin berkurang.
Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country ~ John F Kennedy
Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat selama 75 tahun Indonesia merdeka dengan tujuh kali Presiden berganti, hutan alam di negeri ini sudah berkurang lebih dari 23 juta hektar. Jumlah itu bahkan setara dengan 75 kali luas provinsi Yogyakarta. Yang lebih mengerikan, data ini mencatat kehilangan di kurun waktu 2000-2017 saja.
Lebih lanjut, FWI melakukan kajian di periode 2013-2017 dan menemukan fakta bahwa angka deforestasi hutan alam Indonesia mencapai 5,7 juta hektar yang entah disebabkan oleh illegal loging, atau memang sudah 'direncanakan menghilang'.
Kini dengan data Direktorat Jenderal PKTL KLHK bahwa luas lahan berhutan di seluruh Indonesia pada tahun 2019 tinggal 94,1 juta hektar, maka itulah yang harus kita selamatkan. Jumlah itulah yang harus dijaga dan semakin dikembangkan untuk generasi Alpha dan seterusnya.
Seolah berpacu dengan waktu, kini semakin gawatnya tingkat deforestasi, hutan-hutan Indonesia jelas akan makin gundul yang artinya bencana bisa datang kapanpun. Banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan adalah tiga bencana alam paling mengerikan sebagai dampak berkurangnya hutan. Bagaimana kalau ketiga hal itu terjadi di gunung-gunung favorit anak muda seperti Semeru, Lawu, Penanggungan, Merbabu, Kerinci hingga Rinjani?
Negeri ini akan kehilangan generasi yang mencintai Indonesia.
Negeri ini akan kehilangan generasi yang suka mendaki gunung karena hutan-hutan telah tiada.
Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ~ Berita Kepada Kawan (Ebiet G. Ade)
Karena itulah, supaya kita bisa bernapas, supaya kita bisa merasakan mencumbui Indonesia dengan mesra, mari kita terlibat dalam perlindungan hutan di Indonesia. Jika memang itu semua bisa saya lakukan lebih baik ketika menjadi pemimpin, kenapa tidak? Saya akan menjadi pemimpin yang mengajak kamu semua, untuk semakin mencintai pohon dan tentunya hutan.
Satu pohon, bisa memberi napas sepasang manusia. Dengan 200 juta penduduk Indonesia yang sadar akan pentingnya menanam atau melindungi satu pohon, kita akan menyelamatkan peradaban seluruh umat manusia di dunia.
Jadi teman-teman, yuk bareng-bareng menjadi bagian GOLONGAN HUTAN, buktikan kalau milenial dan generasi Z penggemar K-Pop punya sumbangsih besar pada lingkungan dunia.








