Review 'HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! (2020): Saat Tuhan Nge-Vlog dan Jadi Netizen

HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!

HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! 

Bagi kamu yang doyan berselancar di internet dan nonton vlog di Youtube atau media sosial lainnya, kalimat sapaan di atas mungkin bukan hal aneh.

Yap, maraknya konten-konten vlog memang membuat profesi vlogger jadi diminati oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Mau tua, muda, selebritis, warga biasa, laki-laki, perempuan, pekerja kantoran, pengangguran tanpa acara, banyak yang menjalani kehidupan sebagai vlogger.

Dengan kalimat sapaan yang khas yakni 'Hai, guys!', sang vlogger pun membagikan kegiatannya sehari-hari agar ditonton netizens, entah belasan orang atau sampai jutaan pasang mata yang mengamati seperti Raffi Ahmad-Nagita Slavina hingga keluarga Gen Halilintar.

Vlog bahkan dianggap sebagai 'pembunuh' TV karena kini para pesohor lebih suka membagikan secara eksklusif kegiatannya lewat vlog, dan langsung mendapat penghasilan dari para viewers. Jangan diremehkan, seorang vlogger dengan jutaan subscriber di Youtube dan total tayangan total jutaan kali, bahkan bisa mengantongi pundi-pundi sampai puluhan juta Rupiah per bulan!

Fakta inilah yang membuat banyak orang mulai ingin menjadi content creator di Youtube, karena tergiur dengan penghasilannya.

Namun bagaimana jadinya jika kali ini yang nge-vlog adalah Tuhan?

Ide menggelitik dan cukup berani itulah yang ditawarkan Winner Wijaya dalam HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! 

Sinopsis Film 'HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!'

Seperti premis utamanya yakni bagaimana jika Tuhan adalah seorang vlogger? Maka itulah yang diperlihatkan Winner dalam film pendek sepanjang 4:36 menit ini. Kamu akan mengetahui keseharian Tuhan dengan diajak melihat umat-Nya dari langit, melalui penggambilan gambar ala aerial.

Film dibuka dengan Tuhan yang pagi ini ingin mengamati manusia di kompleks Bougenville. Seperti layaknya kawasan perumahan, kita akan diajak melihat keseharian manusia di pagi hari yang ribet. Ada yang terlambat pergi ke kantor dan menyumpah serapah, ada yang sedang menjemur pakaian, ada yang sedang asyik olahraga dengan istrinya sampai membuang sampah ke tong sampah.

Tuhan selayaknya seorang vlogger profesional, mengamati satu-persatu apa yang dilakukan para manusia di Bumi, sekaligus memahami rahasia dan keinginan terdalam mereka sambil terus memberikan komentar-komentar julid layaknya netizen.

Hanya saja karena memang Tuhan adalah Sang Maha Benar, tentu tidak akan yang bisa menolak atas ketetapan-Nya pada hari itu. Termasuk dengan bagaimana jika Dia akhirnya memilih memberikan karma, hingga menetapkan jadwal kiamat.

Hasil Maksimal Untuk Film Pendek Banyak Aturan

Menonton HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! ternyata cukup membuat saya tersenyum dan tergelitik sambil manggut-manggut sepanjang durasi. Jujur, ini adalah kali pertama saya menonton karya Winner, dan ketika memperoleh tautan resmi film pendek ini secara privat, saya mencoba untuk tidak mengharapkan apa-apa.

Namun ketika film pendek ini usai, saya akhirnya memahami kenapa film ini menjadi nominasi kategori Film Cerita Pendek Terbaik di ajang perfilman paling bergengsi di Indonesia, Festival Film Indonesia 2020. Tak hanya itu saja, Winner sebelumnya sudah mengantongi gelar juara di ajang Begadang Filmmaking Competition dalam Minikino Film Week 2020, bulan September lalu.

Memang, dalam 4:36 menit, masih ada beberapa kekurangan dalam hal dubbing sampai ending. Namun jika mengetahui syarat pembuatan film di Begadang Filmmaking Competition, saya justru semakin salut dengan usaha Winner dalam meraih gelar juara.

Dilansir Media Indonesia, dalam kompetisi Begadang Filmmaking Competition, filmmaker hanya diberi waktu 34 jam saja untuk membuat film. Tak hanya itu, untuk gelaran 2020 ini ada beberapa syarat khusus seperti cuma diperbolehkan tiga shot selama film, pelarangan scoring dengan instrumen musik karena wajib pakai instrumen sehari-hari, hingga adanya scene wajib saat benda terjatuh yang menimbulkan bunyi, dan adegan menyalakan sumber penerangan.

Saya jadi ingat masa-masa saya waktu rajin ikut Kine dan terlibat langsung dalam sebuah produksi film profesional, pembuatan film itu sangatlah rumit dan takes times sekali. Jangankan film panjang di level bioskop, film pendek ecek-ecek saja, bisa menghabiskan waktu seharian untuk syuting, berjam-jam untuk editing dan revisi naskah.

Belum lagi berbagai syarat khusus yang diterapkan, filmmaker biasanya cenderung tidak bebas jika harus membuat film dengan banyak aturan. Namun Winner bisa memperlihatkan hasil yang cukup maksimal dalam HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!

Lewat wawancaranya, Winner berujar bahwa dirinya kembali lagi ke masa kecil selama proses produksi. Film ini seolah mengingatkan pada hal penting saat membuat film dengan tujuan untuk bersenang-senang. 

Kini tinggal dua pekan sebelum malam puncak Festival Film Indonesia/Piala Citra 2020, HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! akan bersaing dengan empat film pendek lainnya. Ada FITRAH (Yulinda Dwi Andriyani), JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA (Puti Sarah Amelia), KEMANTEN (Imam Syafi'i) dan LANTUN RAKYAT (Dwi Cahya).

nominasi Film Cerita Pendek Terbaik FFI 2020
nominasi Film Cerita Pendek Terbaik FFI 2020
Cukup berat karena JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA juga menang sebagai National Jury Competition dalam Minikino Film Week 2020. Namun apapun itu, semoga HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN! bisa melaju dengan cukup jauh di ajang yang bakal digelar awal Desember itu. 

Bagi kamu yang ingin menonton HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!, bisa langsung mengirimkan DM (Direct Message) kepada sang sineas, ko Winner Wijaya di Twitter ya!

'HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!', Karena Mungkin Saja Tuhan Memang Seasyik Itu 

Bisa dibilang, kalau ide yang diusung Winner dalam film pendeknya ini cukup berani. Bagi masyarakat majemuk Indonesia, penggambaran Tuhan yang suka nge-vlog dan bertingkah sedikit julid mungkin akan cukup sulit diterima.

Akan ada orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak seperti itu. Tuhan tidak akan semudah itu dalam menetapkan kiamat, termasuk urusan mengambil nyawa manusia.

Benarkah demikian?

Tentu pertanyaan retoris seperti ini akan memunculkan debat kusir yang tidak usai.

Namun bagi seseorang yang menghargai proses kreatif dalam produksi karya seni ini, sah-sah saja jika seorang filmmaker memperlihatkan Tuhan dalam imajinasinya sendiri. Bahkan jika melirik perfilman di luar negeri, mereka justru cukup lebih berani dalam memperlihatkan sosok Tuhan.

Sebut saja seperti THE ACID HOUSE (1998) saat Tuhan digambarkan sebagai pria tua berjambang yang suka marah dan mengumpat kasar, DOGMA (1999) yang menampilkan Tuhan sebagai seorang perempuan dan tentunya BRUCE ALMIGHTY (2003) yang memilih aktor Morgan Freeman sebagai Tuhan yang ramah, dan menyerahkan kekuasaannya kepada Bruce (Jim Carrey). 

Tuhan dan Bruce di film BRUCE ALMIGHTY
Tuhan dan Bruce di film BRUCE ALMIGHTY

Apakah saya, sebagai umat beragama, emosi ketika Winner memperlihatkan Tuhan sebagai sosok yang suka nge-vlog?

Tentu tidak.

Bagi saya, konsep Ketuhanan setiap manusia memang berbeda. Masing-masing dari kita tentu punya interpretasi tersendiri soal Tuhan. Namun sebagai Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Memutuskan, Tuhan jelas punya hak prerogatif untuk menetapkan sesuatu, seperti halnya kematian dan Hari Akhir. Karena mungkin saja, Tuhan justru seasyik itu dalam memutuskan hal-hal terpenting dalam kehidupan manusia.

Tuhan bisa saja membuat kiamat datang hari ini juga, saat saya sedang menangis karena nonton serial drama Korea. Atau mungkin Tuhan juga bisa memutuskan kiamat datang minggu depan, saat kalian hendak mengucap Ijab Kabul. Berbagai ketetapan itu akhirnya kembali kepada kita manusia, apakah akan tetap menjadi umat yang taat pada-Nya, atau justru menganggapnya tidak ada?

Tentu pertanyaan yang cukup mendalam ini bisa mengembalikan kita untuk menjadi sebaik-baiknya manusia. Karena entah sedang diamati dari langit atau tidak, berbuat baik dan tidak merugikan orang lain tentu adalah hakikat manusia, sebagai makhluk hidup paling sempurna. Bukan karena ketakutan akan ganjaran neraka dan merindukan surga, tapi karena menyadari bahwa ada Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang mengajarkan itu semua.

Karena itulah tinggal kembali pada kita, apakah merasa ketakutan atau merindukan saat ajal itu tiba. Mungkin benar kata pujangga, bagi umat yang mengaku beragama, bertemu Sang Pencipta adalah sebuah kerinduan mendalam yang lebih baik dirayakan dengan suka cita, seperti saat Tuhan menyapa setiap umat-Nya di pagi hari.

Jadi siapkan diri kalian untuk menyapa dengan semangat saat mendengar, HAI GUYS BALIK LAGI SAMA GUE, TUHAN!"

"All religions, arts and sciences are branches of the same tree. All these aspirations are directed toward ennobling man's life, lifting it from the sphere of mere physical existence and leading the individual towards freedom" ~ Albert Einstein

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin