Pada dasarnya alasan utama saya membuat review THE TWO POPES ini adalah karena mengisi artikel baru di heyarai.com. Saya sendiri sudah menonton film yang dirilis di Netflix itu pada tahun 2019 lalu.
Namun karena kebetulan beberapa hari lalu saya mengikuti webinar Indonesia Script Writing Workshop yang digelar oleh Netflix, saya akhirnya memutuskan menulis review THE TWO POPES karena memang tugas sebelum webinar adalah menonton film tersebut. Selain THE TWO POPES, ada dua film lain yang juga kebetulan sudah saya tonton yakni SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER VERSE (2018) dan GLADIATOR (2000).
Meskipun sudah saya tonton sebelum Natal 2019, saya tetap merasa takjub saat kali kedua menikmati film arahan Fernando Meirelles itu. Saya jadi bingung, mana yang lebih saya sukai antara akting dua aktor utamanya yang memang benar-benar outstanding atau skenario buatan Anthony McCarten yang begitu brilian.
Dibuat berdasarkan buku karya McCarten sendiri, THE TWO POPES memang menyuguhkan cerita yang bahkan jauh lebih menarik daripada kisah aslinya. Bagi kamu yang sering menonton film, tentu tidak heran jika naskah THE TWO POPES memang sangat kuat. McCarten sendiri adalah orang yang bertanggung jawab membuat film-film Hollywood kelas A (yang juga sangat saya sukai) seperti THE THEORY OF EVERYTHING (2014), DARKEST HOUR (2017) dan BOHEMIAN RHAPSODY (2018).
Sebagai pria yang meraih nominasi Oscar untuk THE THEORY OF EVERYTHING dan THE TWO POPES, McCarten memang mampu meramu deretan dialog ajaib antara kedua Paus Agung. Tak heran kalau akhirnya THE TWO POPES menjadi salah satu film favorit saya di tahun 2019, selain AD ASTRA, ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD, 1917, THE LIGHTHOUSE, FORD V FERRARI, US, AVENGERS: END GAME, MARRIAGE STORY, LITTLE WOMEN, THE IRISHMAN, ONE CUT OF THE DEAD dan tentunya PARASITE.
Sinopsis Film ’THE TWO POPES’
Sebagai film bergenre drama biografi yang diambil dari kejadian nyata (meskipun ada tambahan unsur fiksi), THE TWO POPES mengajak kita mengikuti kehidupan dua sosok penting bagi umat Katolik di seluruh dunia. Mereka adalah Uskup Agung Buenos Aires, Argentina yakni Kardinal Jorge Mario Bergoglio (Jonathan Pryce) dan Kardinal Joseph Ratzinger (Anthony Hopkins) asal Jerman, yang akhirnya terpilih sebagai Paus Benediktus XVI.
![]() |
| Kardinal Bergoglio saat Konklaf di Kapel Sistina © Walks of Italy |
Bergoglio pada tahun 2005 dipanggil ke Vatikan untuk mengikuti Konklaf, yang bertujuan memilih Paus baru, karena Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia. Seperti yang sudah kita ketahui, dalam Konklaf yang digelar di Kapel Sistina tersebut, Ratzinger akhirnya terpilih sebagai pemimpin 1,2 miliar umat Katolik di seluruh dunia, sementara Bergoglio ada di posisi kedua.
The most important qualification for every leader is not wanting to be leader. Plato ~ Kardinal Turkson
Kisah berlanjut tujuh tahun kemudian saat dunia digegerkan dengan skandal kebocoran Vatikan (Vati-Leaks) yang membuat nama gereja Katolik dan Paus Benediktus XVI ternodai.
Bergoglio yang ada di Argentina, rupanya berniat untuk mengundurkan diri sebagai Uskup Agung, tapi permintaannya tak ditanggapi Vatikan. Hingga akhirnya Bergoglio memutuskan terbang sendiri ke Roma agar bisa berbicara secara pribadi dengan sang Paus. Sesampainya di Vatikan, Bergoglio justru dibawa ke kediaman musim panas Paus, Istana Puri Gandolfo.
Selama di Gandolfo, Bergoglio dan Paus saling berdebat mengenai peran Tuhan dan pandangan mereka soal gereja Katolik. Kedua pemuka agama ini memang salih berselisih paham soal tradisi Katolik yang menurut Bergoglio harus berubah, tapi sang Paus tetap setia pada aturan. Meskipun berdebat, mereka berdua tetap memperlihatkan kedewasaan dengan bercanda, menonton TV bersama atau bermain musik. Di sela-sela waktu, Bergoglio selalu mengambil kesempatan untuk menyodorkan surat pengunduran dirinya sebagai Uskup Agung, yang ternyata selalu enggan dibahas oleh Paus. Paus Benediktus XVI tegas menolak permintaan Bergoglio, karena hal itu bakal membuat umat Katolik melakukan mosi tidak percaya atas kepemimpinannya, sekaligus pelemahan gereja Katolik.
![]() |
| Paus Benediktus - Kardinal Bergoglio di Gandolfo © AP News |
Dengan tegas Bergoglio menolak gagasan itu dan menjelaskan bahwa dirinya bukanlah orang tepat. Dia bukanlah sosok suci dan justru pernah memiliki sejarah kelam, karena terlibat dalam kediktatoran militer Argentina yang membuat rekan-rekan Yesuit-nya diasingkan dan dibunuh seperti pastor Franz Jalics (Lisandro Fiks) dan pastor Yorio (German de Silva).
![]() |
| Paus Benediktus - Kardinal Bergoglio di Ruang Air Mata © New York Times |
Peristiwa itu bahkan membuat Bergoglio dicopot sebagai Kepala Serikat Yesuit Argentina dan memperoleh cukup banyak hujatan, sampai diasingkan dan menjadi pastor Paroki biasa bagi orang miskin, selama satu dekade.
Seiring dengan waktu dan penyesalan yang dia alami, Bergoglio pun bangkit dan berdamai dengan pastor Jalics. Paus Benediktus XVI mendengarkan pengakuan dosa Bergoglio dan menghibur rekan yang pernah jadi pesaingnya di Konklaf itu.
Kemudian secara mengejutkan, sang Paus juga membuat pengakuan dosa kepada Bergoglio, bahwa dia ternyata mengetahui pelecehan seksual yang dilakukan Marcial Maciel, sang pendeta Katolik Meksiko yang menjadi noda hitam gereja, lantaran terungkap sebagai pecandu narkoba dan pelaku pelecehan seksual sesama jenis serta pedofil dalam jangka waktu lama.
It's not easy to entrust oneself to God's mercy. I know He has a very special capacity for forgetting our mistakes. God forgets, but I don't ~ Kardinal Jorge Bergoglio
Setahun setelah peristiwa itu, yakni pada 28 Februari 2013, dunia dikagetkan dengan keputusan pengunduran diri Ratzinger sebagai Paus. Dalam sidang Konklaf yang digelar 13 Maret 2013, Bergoglio akhirnya terpilih sebagai pemimpin umat Katolik di Bumi ke-266 dan bergelar Paus Fransiskus.
Review ’THE TWO POPES’ Versi Saya
Menonton 125 menit film yang dipenuhi tradisi agama yang bukan saya yakini dan dialog-dialog panjang, THE TWO POPES jauh dari kata membosankan. Malahan, saya sangat menikmati seluruh suguhan akting serta adu dialog Pryce dan Hopkins yang lugas. Bahkan sekalipun Meirelles meramu film ini dalam adegan maju-mundur, Juan Minujin bisa menghidupkan karakter Bergoglio muda dengan sangat memuaskan.
Namun perhatian saya justru terpusat pada Pryce. Sebagai penyuka serial GAME OF THRONES, saya sebetulnya membenci Pryce kala memerankan The High Sparrow yang menyebalkan itu. Tetapi dalam THE TWO POPES, aktor berusia 73 tahun itu malah mendapatkan simpati penuh dari saya.
Tatapannya saat bercerita soal masa lalu, perilakunya yang begitu spontan, rendah hati dan bijaksana, membuat saya bisa bersimpati pada Bergoglio. Bahkan wajah Pryce yang mirip dengan Paus Fransiskus membuat saya cukup geli, sembari memuji betapa pemilih aktor dan aktris di Hollywood memang tak main-main.
Tetapi pujian yang cukup besar juga layak diterima oleh Hopkins. pemeran Odin, Ayah dari Thor itu bahkan menunjukan kelasnya sebagai Paus Benediktus XVI. Hopkins tampak sangat meyakinkan sebagai Paus yang tegas, begitu dogmatis, bijaksana, konservatif, dan fisik yang melemah.
Apakah saya terganggu menonton film yang berunsur Katolik ini?
Sama sekali tidak!
Karena THE TWO POPES bukanlah film yang mengupas prinsip atau aturan agama Katolik, tapi sisi manusiawi sang pemuka agama, dalam hal ini Paus. THE TWO POPES hadir sebagai suguhan karya seni bersifat universal, memuaskan, dan sangat layak ditonton oleh pemeluk agama apapun.
Lagipula menurut saya, sebuah hal yang tak mungkin jika kadar keimanan seseorang bisa runtuh hanya dalam waktu 125 menit saja, bukan?
Selain itu, pujian juga layak diberikan ke bagian editing dan sinematografi, karena film ini menampilkan beberapa footage dari kejadian nyata, sehingga membuatnya semakin meyakinkan. Belum lagi teknik pengambilan gambar semi dokumenter dan sinematografi memanjakan mata, menjadikan THE TWO POPES makin sempurna.
![]() |
| Paus Benediktus - Kardinal Bergoglio saat bermain piano © America Magazine |
Karena Pemimpin Agama Juga Seorang Manusia Biasa
Say, ˹O Prophet, that Allah says,˺ “O My servants who have exceeded the limits against their souls! Do not lose hope in Allah’s mercy, for Allah certainly forgives all sins.1 He is indeed the All-Forgiving, Most Merciful. ~Surah az-Zumar [39]:53
Lepas dari suguhan akting kelas Oscar, THE TWO POPES memang menjadi bukti bahwa pemimpin agama adalah seorang manusia biasa. Mereka juga pernah bertanya-tanya kepada Tuhan, apakah doa mereka didengarkan, apakah perbuatan mereka benar sampai ketakutan telah melakukan dosa besar yang tak terampuni.
Lewat dua sosok Paus Agung yang berbeda doktrin, kita tahu bahwa agama juga berproses. Agama turun dari Tuhan secara sempurna kepada utusan-Nya yang terpilih. Hanya saja ketika agama itu disampaikan dan disebarkan dari manusia ke manusia, ketidak sempurnaan seringkali muncul. Bukan dari ajaran agamanya, begitu pula bukan dari Tuhan yang adalah Dzat Maha Sempurna, tapi dari manusianya, sebagai makhluk yang tidak sempurna.
Hal inilah yang akhirnya muncul dalam skandal Vati-Leaks yang menggemparkan gereja Katolik, sekaligus menjadi salah satu pemicu Paus Benediktus XVI mundur dari tahta. Dalam skandal itu, sejumlah dokumen Vatikan bocor ke publik. Dokumen-dokumen itu berisi laporan korupsi, sekaligus aksi pemerasan dan pelanggaran seksual yang dilakukan Maciel. Skandal ini makin panas pada Mei 2012, ketika seorang wartawan Italia bernama Gianluigi Nuzzi, menerbitkan buku berjudul His Holiness: The Secret Papers of Benedict XVI.
![]() |
| Paus Fransiskus dan Paus Benediktus asli © The Times |
Namun lepas dari itu semua, THE TWO POPES seolah memperlihatkan sisi kemanusiaan seorang pemuka agama. Meskipun seringkali dianggap sebagai Orang Suci, doa-doa mereka juga tidaklah selalu dikabulkan langsung oleh Tuhan. Mereka juga bisa melakukan kesalahan yang mengerikan, mereka juga sah-sah saja meminta pengampunan kepada umat. Bahkan mereka juga seringkali melakukan berbagai kesenangan seperti kita, semisal menonton TV, bermain alat musik atau makan pizza.
Menganggap pemimpin agama adalah seseorang yang suci tanpa dosa, adalah hal mustahil. Sebagai umat beragama, kita sepatutnya menghormati mereka, tetapi juga ikut mengkritisi dan tak selalu mengikuti anjurannya, apalagi jika sudah tak sesuai dengan yang tertulis dalam kitab suci.
Religion is the clearest telescope through which we can behold the beauties of creation ~ William Scott Downey





