Wisata Solo: De Tjolomadoe, Pabrik Gula yang Jadi Wisata Instagrammable

De Tjolomadoe
Akhir Januari 2020 kemarin, sebelum pandemi Covid-19 mewabah di negeri ini dan membuat keluar rumah menjadi hal yang mahal, saya dan ketiga sahabat saya berkesempatan datang ke De Tjolomadoe.

Sebetulnya sih, kami berempat tidak kepikiran untuk datang ke De Tjolomadoe. Awalnya kami hanya mau travelling ke Yogyakarta dan mampir Solo sebentar saat kembali ke Malang. Maklum perjalanan darat, udah nge-list destinasi wisata jauh-jauh hari.

Tapi sehari sebelum kami balik dari Yogyakarta, Lintang mengusulkan untuk ke De Tjolomadoe karena lokasinya yang sekalian dilewati saat memasuki tol Trans Jawa dari Solo-Malang. Setelah membeli sejumlah oleh-oleh khas Yogyakarta di Sleman, kami kemudian langsung lanjut ke Solo.

Oiya, kami berempat ada di dua mobil yang berbeda waktu itu. Lintang bersama suami, adik laki-laki dan ketiga anaknya di mobil pertama, sementara saya dan Lely bersama Jihan serta suami dan putrinya di mobil kedua.

Perjalanan Sleman-Solo yang cukup lama akhirnya membuat saya yang memang mudah ngantuk di manapun berada ini pun tertidur di bangku belakang. Saya terbangun selepas Dhuhur dalam kondisi perut lapar. Awalnya kami sepakat untuk makan siang di Selat Solo Mbak Lies. Namun karena kondisi jalan yang macet dan perut terlalu lapar, akhirnya kami di mobil kedua memilih belok ke KFC Harlin Malangjiwan.

Kami di mobil kedua inisiatif makan duluan dan tak jadi mengikuti Lintang sekeluarga ke Solo, karena dengan kekhawatiran datang di Malang terlalu malam. Saat itu mobil kedua adalah mobil rental yang artinya kalau terlambat dikembalikan, bakal kena biaya tambahan. Sebagai manusia yang nggak mau rugi, kami pun memutuskan makan fast-food saja, lalu mampir ke De Tjolomadoe lebih dulu tanpa rombongan Lintang.

Sejarah Pabrik Gula Colomadu

Tampak depan gedung De Tjolomadu
Tampak depan gedung De Tjolomadoe

Sebelum menjadi destinasi wisata De Tjolomadu, bangunan ini adalah Pabrik Gula (PG) Colomadu. Meskipun berlokasi di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Colomadu pernah menjadi pabrik gula terbesar di kawasan Asia.

Berdiri pada tahun 1861, Colomadu adalah salah satu pabrik gula tertua di Indonesia yang menjadi bukti bahwa gula pernah menjadi salah satu komoditas terpenting di negeri ini. Melihat waktu pembanguannya, bisa disimpulkan kalau Colomadu beroperasi saat era penjajahan Belanda. Bahkan bisa dibilang, industri gula termasuk salah satu primadona di zaman kolonial, terutama setelah berakhirnya era cultuurstelsel (tanam paksa) pada tahun 1830-an.

Sebagai sumber kekayaan orang-orang Eropa di Tanah Air, pabrik-pabrik gula pun tumbuh dengan subur terutama di pulau Jawa. Namun yang unik, Colomadu dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV, seorang Adipati dari Kadipaten/Praja Mangkunegaran. Selama hidupnya di masa 1853-1881, Mangkunegara IV adalah salah satu pribumi terkaya di masa kolonial.

Pembangunan Colomadu berawal dari keputusan Mangkunegara IV untuk tidak memperpanjang kontrak sewa tanah dengan pengusaha Eropa, karena dianggap tak menguntungkan. Dia pun akhirnya menanam tebu di tanah-tanah milik Kadipaten Mangkunegaran, dan mendirikan Colomadu.

Setelah meminjam 400 ribu gulden dari Be Biaw Tjwan, seorang pengusaha Tionghoa di Semarang, Colomadu pun berdiri di pinggiran kota Solo, tepatnya desa Malangjiwan. Nama Colomadu smdipilih karena bermakna gunung madu, sebagai harapan agar kehadiran pabrik gula itu menghasilkan gunungan kekayaan berupa gula pasir.

Benar saja, Colomadu pun mampu mencatat hasil penjualan gula yang fantastis hingga mencapai 3.700 kuintal dari sekitar 95 hektar lahan tebu, di tahun 1863, 12 bulan setelah resmi berdiri Penghasilan Colomadu saat itu mampu menutup seluruh pengeluaran Kadipaten Mangkunegaran. Puncak produksi Colomadu terjadi pada 1936, ketika menghasilkan 219 ribu kuintal gula. Namun ketika Jepang masuk ke Indonesia, Colomadu jadi terlantar karena tenaga kerja dipaksa jadi romusha yang menanam padi, jarak dan kapas untuk militer Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Colomadu menjadi milik pemerintah lewat PPRI (Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia) dan kemudian dikendalikan PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) pada 1957. Sejak itu, produksi gula Colomadu justru makin turun karena kesulitan pasokan tebu, lantaran Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar berkembang pesat yang membuat lahan-lahan tebu berkurang drastis.

Hingga akhirnya Colomadu benar-benar berhenti pada tahun 1998 karena mesin yang sudah tua dan krisis ekonomi melanda Indonesia. Barulah Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan revitalisasi Colomadu pada tahun 2017 dan
 rebranding menjadi tempat wisata bernama De Tjolomadoe.

Apa yang Bisa Dilakukan di De Tjolomadoe?

Sejujurnya, tanggapan pertama saya saat datang di De Tjolomadoe adalah tempat yang benar-benar luas dan tak seperti bekas bangunan pabrik gula pada umumnya. 

Di Malang ada dua pabrik gula yang terkenal yakni Kebon Agung dan Krebet yang cuma berupa bangunan besar begitu saja. Namun De Tjolomadoe terlihat megah dengan bangunan berarsitektur kolonial yang gagah, berwarna kuning gading dan cerobong asap menjulang tinggi.

Sebagai tempat wisata yang dikelola konsorsium PT Sinergi Colomadu, pabrik gula ini benar-benar berubah total hingga 180 derajat. Ada lahan parkir kendaraan yang sangat luas sebelum akhirnya masuk ke gedung pabrik. Bahkan untuk masuk, harus melewati sejumlah pemeriksaan tiket digital, menandakan kalau pengelolaan De Tjolomadoe memang tak main-main.

tampilan dalam Stasiun Gilingan
tampilan dalam Stasiun Gilingan

Kekaguman saya bermula dari ruangan di dalam pabrik saat melihat sebuah mesin giling tebu dan ketel uap raksasa yang telah direvitalisasi bernama Stasiun Gilingan. Mesin ini dicat kembali dengan warna abu-abu yang membuatnya tampak kokoh dan terawat. Lantai pabrik diubah menjadi dominan ubin kuning-hitam yang membuatnya semakin menarik.

mesin-mesin gilingan tebu
mesin-mesin gilingan tebu

Selain Stasiun Gilingan, ada beberapa ruangan lain di De Tjolomadoe seperti Stasiun Karbonatasi, Stasiun Ketelan dan Stasiun Penguapan. Pengelola De Tjolomadoe membiarkan mesin-mesin produksi gula raksasa itu tetap ada di posisinya masing-masing, seolah menanti untuk dioperasikan kembali. Hal ini menunjukkan kalau Colomadu memang pernah menjadi tempat pengolahan tebu besar dengan serangkaian mesin canggih pada masanya.


maket miniatur produksi gula Colomadu
maket miniatur produksi gula Colomadu

Namun tempat yang paling menarik di De Tjolomadoe justru adalah ruangan Museum yang menyimpan sejarah PG Colomadu. Kamu bisa menemukan maket miniatur kegiatan penggilingan tebu di masa lampau, seragam jadul karyawan pabrik, dokumen dan benda-benda saat pabrik masih berdiri, hingga ruangan khusus berisi instalasi seni interaktif dua dimensi yang begitu menarik.

benda-benda sisa PG Colomadu
benda-benda sisa PG Colomadu

Menggunakan konsep penataan modern minimalis nan classy, Museum De Tjolomadoe justru berhasil menjadikan wisata sejarah menjadi tidak membosankan. Sebuah usaha yang tentunya bisa dipertimbangkan oleh pengelola-pengelola museum lainnya di Indonesia.

Lokasi dan Akses Menuju De Tjolomadoe

Bertempat di Jl. Adi Sucipto No.1, Paulan Wetan, Malangjiwan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, lokasi De Tjolomadoe tidaklah sulit ditemukan. Berada di pinggir jalan raya, De Tjolomadoe bisa diakses mudah dari Solo, Yogaykarta, Klaten bahkan Boyolali.

Bahkan tempat wisata ini tidak jauh dari Stasiun Purwosari atau Bandara Adi Soemarmo, Solo, karena membutuhkan waktu 15-20 menit saja untuk tiba. Kamu bahkan bisa datang dengan kendaraan umum atau transportasi online, baik roda dua atau roda empat untuk menikmati De Tjolomadoe.

Fasilitas di De Tjolomadoe 

Stasiun Penguapan De Tjolomadoe
Stasiun Penguapan De Tjolomadoe

Kamu yang merasa lelah karena berkeliling gedung pabrik, bisa beristirahat sejenak di Besali Cafe dan Tjolo Koffie, yang memang berada di dalam De Tjolomadoe, tepatnya di sebelah Stasiun Penguapan. Tentu sangat unik ketika kita nongkrong di dalam pabrik yang bernuansa kolonial, sambil menyantap kuliner modern.

Melihat sentra kuliner yang cukup besar, membuat saya berpikir apakah ini adalah ruangan di mana karyawan pabrik Colomadu dulu beristirahat dan mengambil jatah makanannya?

Pengelola De Tjolomadoe juga menyediakan Concert Hall megah di ujung Stasiun Penguapan. Meskipun saat saya berkunjung Concert Hall itu tertutup, di dalamnya terdapat dua tribun kursi berwarna merah, yang pastinya sangat elegan dan menyenangkan menonton pertunjukan di dalam De Tjolomadoe.

Selain fasilitas di dalam gedung, De Tjolomadoe juga menawarkan tempat ibadah Muslim yakni Mushola di lahan parkir yang cukup luas. Sayang waktu itu Mushola yang saya kunjungi penuh dengan nyamuk, sehingga saya memutuskan untuk tidak jadi beribadah. 

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk De Tjolomadoe

  • Jadwal Operasional

Senin libur
Selasa-Kamis pukul 10.00 - 18.00 WIB
Jumat-Minggu (Hari Libur Nasional) pukul 10.00 - 21.00 WIB

  • Harga Tiket Masuk (HTM)

Rp35.000 per orang

Ketika pandemi Covid-19 menggila di Indonesia, De Tjolomadoe sempat berhenti beroperasi selama beberapa bulan. Namun kabarnya sejak September 2020 lalu, destinasi wisata ini sudah bisa dikunjungi lagi, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan.

Nah, jadi kapan kalian mau datang ke De Tjolomadoe?

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin