Kalau disuruh memilih, apakah hal yang paling saya rindukan di masa pandemi Covid-19 ini, maka jawabannya adalah menonton di bioskop. Dan itu semua akhirnya terjadi pada 10 Desember 2020 malam lalu, ketika saya menonton THE SCIENCE OF FICTIONS.
Saya sebetulnya tidak ada masalah untuk menonton di bioskop menggunakan masker dan tanpa makan atau minum. Karena itulah yang sebetulnya saya rasakan waktu nonton di bulan suci Ramadhan saat siang hari.
Begitu pula dengan anjuran menjaga jarak sehingga setiap orang yang menonton tidak boleh berdempetan. Saya sungguh tidak bermasalah dengan itu. Lha wong biasanya juga nonton sendiri.
Sehingga ketika akhirnya ada kabar bahwa bioskop sudah buka kembali, saya seperti anak SMA yang begitu bahagia kembali ke sekolah. Bukan, bukan untuk bertemu guru atau belajar. Saya tidak semunafik itu. Tapi merindukan sensasi tertawa bersama para sahabat saat jam kosong.
Dan akhirnya film yang membuat saya bersedia kembali lagi ke bioskop adalah
THE SCIENCE OF FICTIONS.
Gunawan dan Anggi memang tampak seperti Dynamic Duo yang begitu dibutuhkan industri film Indonesia. Memikat saya lewat ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016), mereka berdua sudah cukup jadi magnet kuat dari THE SCIENCE OF FICTIONS, bahkan tanpa perlu saya membaca sinopsis film ini.
Sinopsis Film 'THE SCIENCE OF FICTIONS'
History is the version of past events that people have decided to agree upon ~ Napoleon Bonaparte
Punya judul asli HIRUK PIKUK SI AL-KISAH, karya ini adalah film panjang keenam dari Anggi yang secara kebetulan sudah tayang perdana di Festival Film Internasional Locarno 2019.
Melalui THE SCIENCE OF FICTIONS, kita akan diajak mengikuti kehidupan Siman (Gunawan Maryanto), seorang pria di pedalaman Bantul yang pada tahun 1960-an, menyaksikan sekelompok kru asing tengah melakukan syuting pendaratan manusia di Bulan yang ternyata diambil di area Gumuk Pasir Parangkusumo itu.
![]() |
| Adegan rekayasa pendaratan di Bulan oleh kru asing |
Dibungkam dan tak bisa bicara, hidup Siman pun berubah menjadi slow-motion. Seluruh gerakan tubuhnya mulai dari berjalan, mengambil minuman bahkan sampai bekerja, bergerak dengan sangat lambat, seperti para astronot di Bulan yang dia lihat.
Namun gerakan lambat Siman itu justru dimaknai sebagai orang gila oleh penduduk desa yang membuat Ibunya depresi lalu bunuh diri, lantaran anaknya tidak waras setelah datang ke tanah terlarang. Mungkin karena ketidak warasannya itulah, Siman juga lolos dari penculikan saat tetangga dan rekan-rekannya dituding sebagai PKI di medio 1965-1966.
![]() |
| Siman bekerja di pasar dengan slow-motion |
Apa yang Siman lakukan masih tetap sama, menyuarakan kebenaran yang tidak pernah digubris oleh banyak orang. Dan sama seperti orang-orang yang selalu mengatakan kebenaran, Siman pun tergerus oleh waktu ketika tahu kebenaran itu tak akan pernah mendarat di tempat yang tepat.
Review 'THE SCIENCE OF FICTIONS' Menurut Saya
History is a pack of lies about events that never happened told by people who weren't there ~ George Santayana
Menonton 106 menit THE SCIENCE OF FICTIONS, tentu adalah sebuah pengalaman sinematik yang bisa saya bilang terbaik di tahun 2020 ini. Saya jadi ingat ucapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ketika Anggi merilis trailer filmnya untuk kali pertama pada tahun 2019 lalu.
"Pas lihat premis filmnya Anggi Noen, gua jadi malas jadi sutradara. Biar dia aja deh bikin film, gua gali sumur aja!"
And I couldn't agree more!
Anggi memang cukup sinting dalam meletakkan batu standar perfilman Indonesia.
Bayangkan saja, setelah menggambarkan sosok Wiji Thukul sebagai seorang suami dan Ayah yang merindukan keluarga alih-alih buronan politik, Anggi kini bermain dengan salah satu teori paling populer dalam sejarah eksistensi manusia yakni pendaratan di Bulan.
Saya jadi curiga, jangan-jangan Anggi juga bisa bikin film soal Adolf Hitler yang dimakamkan di Surabaya dan menikah dengan gadis Sunda, atau soal Atlantis yang ada di lautan Indonesia.
Namun premis yang tak biasa itu justru menjadi bingkai dari pesan penting untuk direnungkan setiap orang, lewat sosok Siman yang selama film berlangsung, sama sekali tidak mengeluarkan dialog apapun (kecuali melenguh ketika sedang berhubungan intim).
Bagi kamu yang suka menonton film dengan dialog dan timeline waktu jelas (termasuk pesan moral atau bahkan plot twist), maka THE SCIENCE OF FICTIONS berhasil mengoyak itu semua dan bikin kening berkerut.
Kenapa begitu?
Karena THE SCIENCE OF FICTIONS hadir sebagai tontonan yang tidak linear dan penuh tanya. Anggi tidak banyak menjelaskan soal setting waktu kecuali penonton yang akan menyadarinya sendiri. Anggi tampak sengaja membungkam dan membuka di waktu yang tepat. Dimana kisah dalam masa lampau digambarkan dengan visual monokromatik dalam aspect ratio 4:3, sementara setting masa kini memperlihatkan visual penuh warna dengan aspect ratio 16:9.
![]() |
| Siman sesaat setelah kehilangan lidahnya |
Begitu pula dengan hadirnya tokoh-tokoh dalam masa lalu Siman yang seharusnya sudah ditelan oleh waktu.
Sebut saja Ndapuk (Yudi Ahmad Tajudin) yang merupakan tetangga Siman dan sudah ditangkap sebagai antek PKI di tahun 1965, mendadak muncul sebagai karakter baru bernama Tupon, si juragan pentas kuda lumping yang akan mengajak Siman sebagai badut astronot. Lalu ada juga Wanto (Alex Suhendra) yang adalah penjahit baju astronot dan pencuri uang simpanan Siman, sekonyong-konyong hadir sebagai Gun, anak buah Tupon.
Bahkan sosok pelacur bernama Nadiyah (Asmara Abigail) yang akhirnya membuat Siman berteriak beringas dan berperilaku normal itu juga hadir pada masa lampau sebagai salah satu warga kampung, ketika Siman baru saja kehilangan lidahnya. Belum lagi Ecky Lamoh yang menurut saya berperan sebagai karakter paling misterius, karena di tahun 1960-an dia hadir dalam syuting adegan rekayasa pendaratan di Bulan dan menyimpan file rekaman di dalam kaleng Khong Guan, tiba-tiba muncul lagi saat Siman pentas jadi badut.
Keajaiban-keajaiban itupun memuncak pada sosok Siman yang sama sekali tak bertambah tua mulai dari tahun 1960-an hingga akhirnya hidup di masa modern ketika smartphone telah muncul.
Begitu pula seluruh gerakan Siman mendadak normal ketika dirinya dipenuhi emosi. Dua emosi paling purba yang dimiliki oleh manusia yakni amarah dan birahi. Yap, ketika uangnya dicuri oleh Wanto atau nafsu birahinya tak tertahan dengan Nadiyah, Siman bersikap layaknya manusia biasa yang menggebu-nggebu dan siap tempur.
Perubahan perilaku Siman ini seolah mengingatkan saya pada sosok pelawak Bolot, yang berpura-pura tuli tapi ketika membahas soal uang dan wanita, langsung bisa mendengar dan diajak berbincang normal kembali.
Hingga akhirnya saya tiba pada muara, apakah yang dilihat Siman itu nyata? Ataukah semua yang terjadi ini hanya imajinasi Siman untuk menutupi fakta bahwa dia dalam kondisi tidak waras?
Namun bukan Anggi namanya jika tidak membuat film yang sangat terbuka dengan berbagai adegan puitik dan semiotika seperti ini.
Anggi seperti menikmati orang-orang yang sibuk berdebat soal apa yang dia paparkan dalam THE SCIENCE OF FICTIONS. Seolah-olah kita yang bingung, kita yang berdebat, ini adalah sebuah film, sementara Anggi dan Siman adalah penontonnya.
Hal inilah yang akhirnya membuat saya paham kenapa Anggi menutup THE SCIENCE OF FICTIONS dengan adegan orang-orang yang mendatangi rumah pesawat luar angkasa Siman sambil merekam lewat smartphone. Karena menurut saya, orang-orang itu tidaklah mengabadikan karya Siman, tapi mengabadikan kita para penonton yang terlalu hiruk-pikuk dengan kisah dalam THE SCIENCE OF FICTIONS.
Lantas, Siapakah Kita ini Manusia?
Siapakah kita ini, manusia
Yang dalam diam, riuh, ragu, dan tak mampu
Ada rahasia, tidak rahasia
Ada di sini ada di situ
Diseret-seret waktu ~ Lagu Pejalan (Sisir Tanah)
Jika disuruh memilih, apakah adegan yang paling saya sukai dalam THE SCIENCE OF FICTIONS? Maka jawabannya ada dua.
Yang pertama adalah adegan ketika Siman melihat rumah pesawat ruang angkasanya itu tertutup kepulan asap putih tebal, yang ternyata berasal dari alat fogging demam berdarah. Buat saya, itu adalah salah satu adegan tercantik dalam perfilman Indonesia.
![]() |
| Siman melihat asap putih menutupi rumah astronotnya |
Bagaimana Siman berdiri, bagaimana Siman melihat asap putih itu akhirnya menghilang dan rumahnya tampak kembali, bagaimana tukang fogging itu tiba-tiba meminta bayaran kepada Siman, seolah menganalogikan kalau kadang untuk melihat sebuah kebenaran, kita harus menghilangkan kepulan imajinasi yang menutupi pikiran kita.
Bahwa sebuah kebenaran, kadang muncul dari tempat yang tidak diduga. Tinggal kita yang bersedia menerima atau menolaknya.
Lalu adegan berikutnya yang saya sukai adalah ketika Siman tampil sebagai badut astronot dalam pentas kuda lumping. Suara gong yang berdentum berkali-kali itu seolah menendang gendang telinga saya, tampak seperti alarm penyadaran yang dibuat oleh Anggi kepada para penonton mengenai apa maksud dari kebungkaman Siman dan perilaku slow-motionnya itu.
![]() |
| Siman sebagai badut astronot di pentas kuda lumping |
Saya pun tak heran kalau Anggi menggunakan sedikit porsi peristiwa PKI dalam film ini, karena memang kejadian itu adalah pengejawantahan kalau sejarah memang bisa dilenturkan oleh pemenang. Dipadukan dengan teori pendaratan manusia di Bulan, Anggi berhasil menciptakan latar yang sempurna untuk peristiwa yang masih diperdebatkan kebenarannya itu.
Tarian slow-motion yang dilakukan Siman dalam upaya mengutarakan kebenaran atas berita palsu pendaratan di Bulan, tak ubahnya upaya masyarakat dalam menyuarakan kebenaran, yang kadang dibungkam paksa atau sengaja dibisukan oleh pemangku kuasa.
Namun bukan tak mungkin pula bahwa kita sama seperti warga di kampung Siman atau rekan-rekan kerja Siman yang sibuk tertawa dan memilih meyakini informasi palsu.
Bahkan lebih lanjut, mungkin juga kita sama seperti orang-orang yang mendatangi rumah Siman, sibuk memotret tragedi yang dialami Siman. Seperti kebiasaan masyarakat masa kini yang sibuk mengangkat smartphone untuk memperoleh konten paling gres, daripada sibuk menyelamatkan korban dari tragedi itu sendiri.
Atau mungkin, kita sendiri adalah Siman yang memilih bersikap lambat untuk hal-hal yang memiliki dampak bagi banyak orang, tapi kemudian langsung menggebu-nggebu dan tidak sabaran jika berkaitan dengan uang, serta tentunya hawa nafsu.
Apapun itu, THE SCIENCE OF FICTIONS adalah salah satu film terbaik di tahun 2020, sekaligus sepanjang sejarah industri sinema Indonesia itu sendiri.





