Review 'JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA' (2019): Sudah Adilkah Kita Kepada Minoritas?

JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA

Berstatus sebagai film pendek terbaik di ajang FFI (Festival Film Indonesia) 2020, JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA tentu sudah lebih dari cukup menjadi salah satu film buruan yang harus segera ditonton.

Dan saya pun cukup beruntung karena film pendek yang disutradarai oleh dosen IKJ (Institut Kesenian Jakarta) bernama Putri Sarah Amelia ini tayang gratis pada 10 Desember lalu. Yap, film yang diproduseri Jose Prabowo selaku dosen Multimedia Nusantara ini memang bisa dinikmati secara online dalam festival film di Laos, Luang Prabang Film Festival 2020.

Punya judul internasional GOLDEN FRAMES IN THE CLOSET, film ini memang sudah wara-wiri di berbagai festival internasional. Sebut saja seperti Short Shorts Film Festival and Asia 2020 di Jepang, Show Me Shorts Film Festival 2020 di Selandia Baru dan pemenang National Jury Competition dalam ajang Minikino Film Week 2020.

Jadi, apakah JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA layak mengantongi Piala Citra? 

Saya akan tegas menjawab, sangat layak!

Sinopsis 'JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA'

Jose Prabowo - Putri Sarah Amelia
Jose Prabowo - Putri Sarah Amelia membawa Piala Citra © instagram.com/jemari.film

JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA bercerita mengenai seorang perempuan yang berprofesi sebagai perias jenazah bernama Josephine (Wani Siregar). Suatu hari, Josephine dipanggil oleh Bu Artha (Bonita) untuk merias jenazah putrinya. Namun ternyata sang putri adalah seorang transgender dan sudah mengubah fisiknya menjadi laki-laki.

Sebagai perias jenazah profesional, Josephine jelas harus mengikuti permintaan klien yang meminta anaknya itu dirias sesuai kodratnya yakni sebagai perempuan dan mengenakan gaun. Dalam waktu 1,5 jam, Josephine merias jenazah yang sudah membiru itu dengan cekatan dan tampil begitu cantik selayaknya perempuan normal. Josephine menutup luka-luka kecelakaan dan bekas operasi dengan sempurna.

Namun Josephine menjadi gamang. Penuh pergulatan batin apakah ini yang diinginkan oleh sang mendiang? Apalagi Josephine melihat foto yang mendiang saat masih kecil bersama bu Artha, dia tampak tidak terlalu bahagia dalam tampilannya sebagai perempuan. Josephine pun melihat isi dari lemari baju yang hampir semuanya adalah baju-baju berpotongan maskulin.

cuplikan adegan JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA
cuplikan adegan JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA

Saat hendak mencoba menutup pintu lemari yang berulang kali terbuka, mendadak Josephine melihat foto-foto mendiang selama hidup saat dirinya sudah berubah menjadi laki-laki. Ekspresi yang terpotret dalam foto bisu itu memperlihatkan kegembiraan yang tak tampak dalam foto masa kanak-kanaknya sebagai perempuan.

Diburu oleh waktu, Josephine tampak menimbang apakah yang dilakukannya sudah benar. Dia lalu melihat meja rias mendiang yang sama sekali tak memiliki sentuhan perempuan. Bahkan parfumnya pun tampak sangat maskulin. Dan akhirnya Josephine pun membuat keputusan nekat, mengubah riasannya di detik-detik terakhir.

Josephine keluar dari kamar mendiang dengan guilty pleasure. Bu Artha yang merasakan keanehan pun masuk ke kamar putrinya dan kaget melihat jenazah putrinya tidak seperti yang diinginkannya, alih-alih gaun putih nan cantik, jenazah anaknya justru berbalut setelan jas dan tampak sangat tampan.

Bu Artha pun menangis histeris. Mencoba berdamai bahwa putrinya yang bernama Paola itu, sepertinya akan dimakamkan dalam tampilan laki-laki. Seperti pilihannya sebagai transgender bernama Mikael Putra.

All of us are put in boxes by our family, by our religion, by our society, our moment in history, even our own bodies. Some people have the courage to break free. ~ Geena Rocero

Review 'JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA' Versi Saya

Hanya berdurasi selama 16 menit, saya sebetulnya tidak butuh waktu lama untuk bisa jatuh hati pada JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA ini. Ditampilkan tanpa dialog sedikitpun, film produksi Bekantan Pictures ini memang telah memikat dan begitu menyentuh lewat gestur dan akting Wani serta Bonita, dua cast utama di film ini.

para pemain JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA
para pemain JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA

Wani tampak cukup meyakinkan sebagai seorang perias jenazah, serta menampilkan ekspresi yang jelas lewat wajahnya. Mulai dari tatapan gundah, kekuatiran, imajinasi dan sebuah dilema. Apalagi ketika dirinya akhirnya melihat foto-foto semasa hidup sang jenazah, pergulatan batin yang ditampilkan Josephine tampak begitu tersalurkan.

Putri Sarah tampaknya tak mau terlalu banyak bermain untuk filmnya kali ini. Hanya mengambil setting di sebuah kamar yang tidak terlalu luas, Putri menyuguhkan sinematografi minimalis yang justru malah memberikan kesan mendalam, bahkan sampai film ini usai.

Visual yang terbatas ini seolah menggambarkan benar kehidupan para transgender yang adalah kaum minoritas yang lepas dari berbagai pro-kontra, sebetulnya dijalani dengan minim, terbatas dan sangat sunyi. Putri seolah mengajak penonton untuk menjadi Josephine yang begitu perlahan, satu demi satu, mencoba memahami keinginan terakhir sang mendiang.

Adegan yang dibangun pun begitu natural, smooth dengan pace yang lembut tapi sangat kokoh menyuarakan keinginan sang sutradara dan penulis naskahnya, Perdana Kartawiyudha, sebagai simbolisasi pengakuan kaum transgender

Kredit cukup besar patut juga diberikan kepada Jason Obadiah selaku sound designer. Pilihan musik yang begitu tepat, membantu saya dalam membangun emosi hingga adegan klimaks ketika Josephine meninggalkan kamar si mendiang dan bu Artha menangis histeris saat melihat jenazah putrinya dirias menjadi laki-laki.

Lagu-lagu seperti I'll Take you Home milik Banda Neira, La M émoire hingga Nista-nya Tashoora sangat cocok untuk melengkapi kedangkalan dialog yang disuguhkan JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA. Terutama untuk Nista, saya rasa tak ada yang lebih sempurna mewakili apa yang dirasakan oleh mendiang Mikael Putra, selain lagu magis tersebut.

Jika mati kan berujung pada siksa, kan kuketuk pintunya. Jika api yang menungguku di sana, kan kudekap nyalanya ~ Nista (Tashoora)

Meskipun tampak sempurna, JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA tentu masih meninggalkan segudang pertanyaan di benak saya. Seperti, apakah Josephine tidak menerima keluhan dahsyat dari sang klien lantaran tidak mengerjakan tugas secara profesional, tapi justru mengikuti kata hati?

Atau mungkin, bagaimana jadinya jika sang mendiang meninggalkan pesan terakhir bahwa dirinya ingin dikebumikan sebagai Paola, alih-alih Mikael Putra?

Tidak ada yang tahu.

Dan mungkin, itu tidak akan terjadi.

Karena JEMARI YANG MENARI DI ATAS LUKA-LUKA adalah sebuah suara tulus dari transgender yang tentu sangat sulit diterima oleh masyarakat heterogen Indonesia. Bahkan ketika saya selesai menonton film ini, kesedihan masih menggantung di benak saya. Kesedihan mengenai kehidupan para minoritas yang selalu saja sunyi dan sendiri berjalan sampai akhir sambil menanti uluran tangan-Nya.

Karena Minoritas Memang Selalu Terbatas dan Mendamba Bebas

Melihat bagaimana sikap bu Artha yang begitu ingin memakamkan putrinya sebagai seorang perempuan, mengembalikan kodratnya lahirnya, tentu menjadi bukti bahwa memang transgender masih sangatlah sulit diterima di negeri ini.

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, transgender hanya memiliki dua pilihan di negeri ini, surga atau neraka.

Bahkan di dunia entertainment, mereka yang memilih menjadi transgender harus melewati jalan berliku sebelum bisa mendapat pengakuan dari masyarakat dan hukum negara. Beberapa di antaranya seperti Dorce Gamalama, Lucinta Luna, Dena Rachman, Dinda Syarif hingga yang terakhir adalah Millen Cyrus, yang meskipun belum resmi sebagai transgender, sudah menikmati penampilannya sebagai perempuan.

Tak hanya di Indonesia, fenomena transgender memang selalu menjadi kisah yang seksi untuk digarap.

Beberapa pekan lalu, saya bahkan cukup dikagetkan dengan pengakuan salah satu aktris Hollywood, Ellen Page, yang ternyata memilih jadi transgender bernama Elliot Page. Melalui akun Twitternya, Elliot cukup berani memberitakan perubahan statusnya. Mendobrak segala ketabuan yang akan dia terima atas nama Hak Asasi Manusia, dan menginginkan untuk dipanggil dalam bingkai baru, seorang laki-laki yang berprofesi sebagai aktor.

Ada sebuah film mengenai transgender yang sangat saya sukai, THE DANISH GIRL (2015). Film arahan Tom Hooper ini adalah sebuah biografi romantis pelukis asal Denmark, Lili Elbe (Eddie Redmayne). Elbe yang terlahir sebagai seorang laki-laki tulen bernama Einar Wegener ini diketahui sebagai orang pertama di dunia yang menjalani operasi transgender.

adegan film THE DANISH GIRL
adegan film THE DANISH GIRL
Dalam perjalanannya menemukan jati diri baru ini, Elbe ditemani oleh Gerda Wegener (Alicia Vikander) yang adalah istrinya. Dipenuhi pergulatan batin, hingga mendatangi psikologi mengenai keanehan dalam identitasnya, Elbe akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang perempuan. Atas bantuan Dr. Kurt Warnekros (Sebastian Koch), Elbe pun mengubah jenis kelaminnya.

Malang, Elbe akhirnya meninggal dunia karena komplikasi operasi yang dia jalani. Kematian yang mungkin dianggap orang lain sebagai kesunyian, tapi justru sebetulnya adalah sebuah pengakuan kemenangan atas dirinya sendiri, untuk menjadi insan yang bebas.

Transgender seperti kebanyakan kisah pilu minoritas, haruslah berjuang lebih keras. Langkah mereka harus lebih besar dan lebih panjang, meski kaki yang dipakai mungkin sudah cukup lelah, penuh luka dan terbatas. Serapah mengenai keengganan Tuhan untuk menerima selalu ditujukan kepada mereka.

Di Indonesia sendiri, transgender bersama dengan kelompok LGBT lainnya, dipandang bertentangan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak sedikit kisah pilu minoritas yang selalu terungkap dan menguap begitu saja. Mudah dilupakan dan mendapat label penista tanpa pernah berusaha mencari tahu kebenarannya.

Sebagai seorang Muslim, agama saya memang tidak pernah membenarkan transgender.

Namun, sebagai seorang Warga Negara Indonesia, saya coba memandang Pancasila secara utuh. Tak hanya fokus pada sila pertama, ada sila kedua yang cukup kuat memayungi para minoritas, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Mungkin pendapat saya memang terdengar cukup ambigu dan abu-abu. Tapi sebagai manusia yang masih penuh dosa, saya memilih untuk tetap menjabat tangan mereka sambil berharap kalau mereka akan menemukan jawaban dari Tuhan. Sama seperti yang setiap hari saya lakukan, berusaha mengetuk pintu hati-Nya dari Subuh hingga Isya.

Setiap dari kita berhak hidup maupun mati menjadi diri sendiri. Jika mati sebagai diri sendiri kan berujung pada siksa, kan kuketuk pintunya ~ Sammaria Simanjuntak 

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin