Kalau ngomongin soal sinetron Indonesia, sebetulnya saya bukanlah penonton setia. Saya pernah ngikutin PARA PENCARI TUHAN terutama jilid-jilid awal, meskipun makin ke sini sudah berbeda komposisi pemainnya, tetap one of the best Indonesian television soap operas . Tapi kayaknya kali ini saya pengen ngungkapin uneg-uneg di hati perihal sinetron ZAHRA Indosiar.
Sebagai anak yang Ibunya demen banget semaleman nonton IKATAN CINTA demi mas Aldebaran, ZAHRA bukanlah sinetron yang sering tayang di TV rumah. Kalau kata Ibu saya sih, jajaran cast di ZAHRA ini kurang menarik, pun begitu ceritanya.
I'm so proud of ma motha
Ibu, sama seperti saya, memang nggak terlalu suka dengan kisah soal poligami. Tapi ketika kontroversi sinetron ZAHRA Indosiar ini makin ramai dibicarain di media sosial, Ibu punya alasan lagi untuk nggak terlalu ngikutin yakni kisah pernikahan usia dini, yang tentunya juga sangat saya antipati.
Sebagai orang yang lagi merintis mimpi di dunia skenario, saya sebetulnya sepakat kalau sinetron Indonesia itu masih banyak 'cacatnya'. Tapi di lain pihak, saya juga menghormati para scriptwriter senior yang begitu luar biasanya bertahan di tengah pergulatan batin dalam membuat naskah sinetron.
Kalian harus tahu, bahwa sebetulnya tidak ada penulis skenario sinetron yang mau karya mereka jadi bulan-bulanan netizens. Namun untuk kasus sinetron ZAHRA dihujat kali ini, saya mau tak mau setuju karena menurut saya, Indosiar sudahlah sangat keterlaluan.
Dan untuk mengetuk hati para produser sinetron yang cuma mendewakan rating ini, saya harus membuat perbandingan sekali lagi mengenai kondisi industri serial TV di Indonesia dengan industri serial TV di Korea Selatan. Sebuah alasan kenapa sinetron-sinetron Tanah Air masihlah sangat panjang perjalanannya jika ingin bersaing dengan serial drama Korea (drakor).
Alasan Saya Ikut Menghujat Sinetron 'ZAHRA'
Ada tiga alasan utama kenapa saya akhirnya sampai mau ngebahas panjang lebar soal sinetron SUARA HATI ISTRI: ZAHRA ini.
Yang pertama adalah poligami

Zahra - Putri - Tirta - Ratu

Sebagai seorang Muslim, saya paham bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang melakukan poligami dalam pernikahannya. Berbagai literatur yang menyebutkan kalau istri Muhammad mencapai 11 orang. Hal ini yang akhirnya membuat banyak laki-laki masa kini yang melegitimasi poligami dengan dalih sunnah.
Padahal tahukah kalian? Meskipun ilmu Agama Islam saya ini dangkal, saya tahu kalau Rasulullah melakukan poligami dengan pertimbangan panjang dan tujuan pasti, bukan cuma sekadar tertarik pada kecantikan fisik.
Hal inilah yang membuat saya tak pernah bisa menerima poligami di masa kini dengan alasan apapun. Membagi cinta itu hanyalah sesuatu yang bisa dilakukan secara sempurna oleh Rasulullah di era yang relevan. Bagi saya, perceraian jauh lebih baik daripada harus poligami. Janji surga untuk istri yang bersedia dipoligami? Silahkan. Tapi saya tak pernah merindukan surga lewat jalan seperti itu, periodt.
Dan ketika tema poligami ini masih jadi miskonsepsi di masyarakat, Indosiar tanpa tedheng aling-aling justru dengan bangga mengusung ZAHRA. Dikisahkan karena kondisi ekonomi keluarganya, Zahra (Lea Ciarachel) si bocah SMA harus rela dinikahkan dengan Tirta (Panji Saputra), seorang juragan kampung kaya raya. Namun ternyata Tirta sudah memiliki dua orang istri sebelumnya yakni Ratu (Zora Vidyanata) dan Putri (Metta Permadi). Akhirnya Zahra si bocah SMA polos itu harus merelakan mimpi dan cintanya kepada Alsyad (Bryan Andrew) karena memilih jadi istri ketiga Tirta.
Problem kedua adalah pernikahan di usia dini

cuplikan adegan ZAHRA

Percayalah, saya termasuk yang tak pernah yakin kalau pernikahan usia muda itu bisa membawa kebahagiaan.
Berdasarkan riset dari tim peneliti Sekolah Medis Pittsburgh seperti dilansir Independent, masa dewasa secara sains dimulai pada usia 25 tahun. Artinya, manusia bisa dibebankan tanggung jawab kehidupan dewasa termasuk pernikahan dan berumah tangga setidaknya di umur 25 tahun, ketika bagian-bagian otak seperti striatum yang berfungsi dalam hal motivasi, interaksi sosial dan daya ingat sudah bekerja optimal.
Tapi dalam sinetron ZAHRA Indosiar ini, si Zahra masihlah duduk di bangku SMA yang setidaknya dia berusia 16-18 tahun dan sudah dinikahkan sebagai istri ketiga! Bukankah itu glorifikasi dan romantisasi PUA (Perkawinan Usia Anak) yang sudah jelas dilarang oleh pemerintah Indonesia?
Cobalah itu para produser sinetron Indosiar mempelajari UU No.16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berlaku sejak 15 Oktober 2019. Dimana sekarang Indonesia sepakat bahwa batas usia pernikahan untuk perempuan minimal 19 tahun, bukannya 16 tahun lagi, ah elah si Bambang!
Dan alasan ketiga yang terakhir adalah gap usia

Lebih cocok jadi Bapak - Anak?

Tentunya gap usia ini antara Lea Ciarachel si pemeran Zahra dan Panji Saputra si pemeran Tirta.
Kalau kamu tidak tahu, Lea Ciarachel ini terlahir pada 5 Oktober 2006 yang artinya dia masih berusia 14 tahun saat ini! Sementara Panji Saputra lahir pada 16 September 1981, alias berusia 39 tahun. Artinya, gap alias jarak usia mereka berdua adalah 25 tahun!
Yeah my darling, fu**ing twenty five years!
Saya nggak habis pikir kenapa si produser, sutradara, even her parents, ngebolehin bocah 14 tahun beradegan mesra dengan bapak-bapak usia 39 tahun? Termasuk aneka adegan romantis mulai dari ucapan-ucapan mesra, scene malam pertama hingga elus-elus perut hamil.
Apakah sesama pemain di lokasi syuting ZAHRA tidak menganggap itu semua janggal? Pernah nggak mereka melihat bagaimana ekspresi dan perasaan si Lea melakukan berbagai adegan itu? Apa yang ada di benak Lea saat harus melakukan adegan-adegan tersebut? Ke mana ini KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)? Jangan cuma pas audisi badminton Djarum aja vokal banget pak, bu!
cuplikan adegan ZAHRA
Nggak ngerti lagi.
'ZAHRA' yang Dibully dan 'GOBLIN' yang Dipuja
Sedikit banyak kontroversi gap usia dalam sinetron ZAHRA Indosiar ini mengingatkan saya pada serial drakor favorit, GOBLIN (2016). Meskipun inti ceritanya berbeda, GOBLIN juga mengusung kisah seorang gadis SMA yakni Ji Eun Tak (Kim Go Eun) yang jatuh hati pada ahjussi super tampan, Kim Shin (Gong Yoo) yang ternyata adalah seorang Goblin alias Dokkaebi berusia 900 tahun++.
Tapi, tapi kenapa GOBLIN dipuja orang-orang di seluruh dunia termasuk saya, sementara saya malah menghujat ZAHRA padahal karakter utama perempuannya sama-sama duduk di bangku SMA?
Sebelum saya jelasin, kalian harus tahu bahwa GOBLIN juga sempat diserang oleh netizens Korea yang merasa hubungan asmara gadis SMA dengan ahjussi bukanlah hal yang layak dipertontonkan saat itu. Bahkan tak sedikit yang menuding kalau GOBLIN turut mempromosikan pedofilia.
![]() |
| Kim Shin dan Eun Tak di Quebec |
GOBLIN juga jelas dibuat dengan departemen cerita yang jauh lebih baik daripada ZAHRA. Adegan-adegan romantis yang terjadi antara Kim Shin dan Eun Tak tidaklah sevulgar Tirta dan Zahra yang diperlihatkan sudah menikah, padahal Eun Tak merupakan seorang mempelai Dokkaebi dengan usia asli 10 tahun lebih tua daripada Lea.
Alih-alih fokus pada sentuhan fisik, GOBLIN mengusung jalinan kisah yang kuat mengenai perjuangan makhluk abadi yang ingin mengakhiri kehidupannya, tapi justru jatuh cinta dengan sosok yang bisa membuatnya musnah. Belum lagi saya sebut dengan berbagai soundtrack yang membekas di hati, rasa-rasanya membandingkan ZAHRA dengan GOBLIN adalah sebuah tindakan yang tidak layak.
Tapi, tapi bukankah serial drama Korea juga ada yang dibuat dengan gap usia lebih jauh besar daripada antara Gong Yoo dan Go Eun?
adegan kocak dalam GOBLIN
Oh, Anda benar sekali.
Ada I CAN HEAR YOUR VOICE (2013) yang bercerita tentang bocah SMA bernama Park Soo Ha (Lee Jong Suk) yang jatuh hati dengan pengacara Jang Hye Sung (Lee Bo Young). Saat itu Jong Suk berusia 24 tahun dan Bo Young berumur 34 tahun. Atau yang lebih jauh si Lee Byung Hun dan Kim Tae Ri di MR. SUNSHINE (2018) dengan gap usia 20 tahun, Yoo Ah In dan Kim Hee Ae di SECRET AFFAIR (2014) berjarak usia 19 tahun, Lee Sun Kyun dan IU di MY MISTER (2018) berselisih umur 18 tahun, hingga Ji Chang Wook dan Kim Yoo Jung di BACKSTREET ROOKIE (2020) yang gap usia 12 tahun dan juga sempat kontroversi.
Tapi semua judul serial drakor yang saya sebutkan itu sama sekali tak melakukan hal konyol seperti ZAHRA. Meskipun gap usia para pemeran cukup jauh dan karakter yang dimainkan lebih muda, tak ada adegan-adegan perkawinan anak yang ditonjolkan.
adegan I CAN HEAR YOUR VOICE
Jadi, sudah paham kan kenapa saya tetap memuja GOBLIN?
Solusi Cerdas Indosiar: Ganti Pemain Lewat Kecelakaan!
Seperti kebiasaan di Indonesia yaitu nunggu viral baru diselesaikan, hal serupa juga terjadi pada sinetron ZAHRA Indosiar ini. Saat berbagai hujatan sudah ramai di media sosial sampai jadi trending di Twitter, barulah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Indosiar mencari solusi meredam emosi netizens.
Apakah mereka menghentikan kisah Zahra?
Oh tentu tidak saudara-saudaraku se-Tanah Air.
Indosiar mengambil solusi yang luar biasa cerdas lewat Zahra ganti pemain.
Seperti kebanyakan adegan klise di sinetron Indonesia saat pemerannya tak bisa lanjut tapi si produser ogah menghentikan tayangan karena rating tinggi (entah karena hujatan atau memang kisahnya menarik), Zahra terlibat dalam kecelakaan parah hingga jatuh ke jurang dan harus...operasi plastik lalu berganti wajah.
Dalam bumper iklan ZAHRA terbaru, sosok Lea Ciarachel akhirnya resmi digantikan oleh Hanna Kirana. Berbeda dengan Lea yang memang masih piyik, Hanna diketahui lahir pada tahun 1997 yang artinya dia berumur 24 tahun pada 2021 ini sehingga jarak usia dirinya dengan pemeran Tirta adalah 15 tahun.

Hanna Kirana si pemeran Zahra terbaru
Apakah saya puas?
Tentu saja tidak.
Seperti yang saya bilang, ada tiga hal yang membuat saya sangat nyinyir dengan sinetron ZAHRA Indosiar ini. Jika alasan ketiga yaknigap pemain sudah diselesaikan oleh Indosiar, masih ada dua alasan lain yakni soal normalize poligami dan perkawinan anak.
Lea bolehlah diganti dengan Hanna.
Tapi ini tak menutup fakta kalau kisah ZAHRA ini dari awal sudah bermasalah. Indosiar sudah terlanjut mengotori tangannya dengan mengusung kisah poligami yang masih menuai kontroversi di Indonesia, serta secara tidak langsung memberikan suguhan romantisasi pernikahan dini gadis-gadis SMA. Mau cuci tangan seperti apa? Cuma Indosiar dan Tuhan Yang Maha Esa yang tahu jawabannya.
Jadi Sampai Kapan Sinetron Indonesia Seperti Ini?
Melihat bagaimana perkembangan sinetron ZAHRA Indosiar hingga saat ini, sepertinya jawaban dari pertanyaan di atas masihlah muram. Meskipun begitu, judul-judul seperti PREMAN PENSIUN, TUKANG OJEK PENGKOLAN atau SI DOEL ANAK SEKOLAHAN masihlah bisa menyelamatkan wajah sinetron Tanah Air masa kini.
Rasa-rasanya ingin kembali ke beberapa tahun lalu. Seperti saat LORONG WAKTU, DI SINI ADA SETAN, KIAMAT SUDAH DEKAT, CANDY, PERNIKAHAN DINI, LUV, RATU MALU DAN JENDERAL KANCIL, ANGEL'S DIARY, KELUARGA CEMARA, CINTAKU DI RUMAH SUSUN dan LUPUS MILENIA tayang.
Saya pernah ikut dalam sebuah webinar bulan Mei lalu yang digelar oleh Logos ID bertajuk Di Balik Ikatan Sinetron. Dalam webinar via Zoom itu turut mengundang dua penulis naskah sinetron populer yakni Keke Mayang dan Venerdi Handoyo. Sedikit banyak, saya akhirnya tahu betapa kerasnya dunia skenario sinetron Tanah Air.
Keke dan Venerdi bergantian menyebutkan bahwa para penulis skenario sinetron di negeri ini tidaklah seburuk tudingan netizen. Mereka juga memiliki kapasitas untuk membuat kisah berkualitas tinggi. Namun tahukah kalian, keinginan itu selalu saja gagal terwujud karena kekuatan dari sinetron adalah rating TV.
Selama penonton Indonesia masih menyukai kisah-kisah tangisan para istri, konflik perebutan harta, tokoh hilang ingatan dan anak yang tertukar, maka panjang nafas sinetron Indonesia masihlah akan berkutat pada hal-hal tersebut. Kamu mungkin bisa menghujat kenapa kok sinetron Indonesia sampai ada adegan boneka Hello Kitty direbus? Pihak TV jelas dengan bangga akan menjawab, 'penonton suka, kok!'
Jadi ngapain repot-repot bikin cerita ala MY LOVE FROM THE STAR (2013), REPLY 1988 (2015), DESCENDANTS OF THE SUN (2016), PENTHOUSE (2020) atau VINCENZO (2021) yang buang-buang banyak uang ketika kisah istri yang tersakiti dan menangis di bawah air hujan masih bisa menghasilkan uang banyak?
Ya, nikmati sajalah sinetron ZAHRA Indosiar sementara saya lebih baik melipir ke layanan streaming yang juga menawarkan aneka judul serial Indonesia berkualitas. Rekomendasi saya, cobalah nonton IMPERFECT: THE SERIES (2021) dan KISAH UNTUK GERI (2021) yang sama-sama di WeTV, serta ANGKRINGAN THE SERIES (2021) di Mola TV.




