Membuka postingan bulan Juni 2021 ini, izinkan saya untuk melakukan promosi tanpa malu-malu kepada MOVE TO HEAVEN. Meskipun tahun ini baru berjalan lima bulan, saya sudah menemukan serial drama Korea (drakor) terbaik di tahun ini. Karena itulah, review MOVE TO HEAVEN ini lahir sebagai bentuk penghormatan.
Mungkin kalau kamu termasuk yang mengikuti perkembangan drakor seperti saya, tentu sepakat jika bulan-bulan awal di tahun 2021 ini banyak berisi serial drakor yang bikin kepala pening. Mulai dari tema pembunuhan, balas dendam, psikopat pembunuh berantai, misteri, kematian hingga perselingkuhan. Rasanya cukup membuat dunia Hallyu diwarnai dengan suasana kelam.
Saya pun merasa emosi tidak stabil setelah menonton BEYOND EVIL, VINCENZO, SISYPHUS: THE MYTH, TAXI DRIVER, THE PENTHOUSE 2 yang bangsat itu atau MOUSE yang sukses membuat saya tampak bodoh. Demi membuat mental kembali sehat, saya pun berniat mencari drakor yang punya cerita ringan dan manis-manis manja. Di waktu itulah, Netflix merilis MOVE TO HEAVEN pada 14 Mei 2021 kemarin.
Sama seperti SWEET HOME (2020), MOVE TO HEAVEN dirilis Netflix langsung lengkap dari episode awal hingga akhir, sehingga kamu nggak perlu lagi menanti layaknya drakor ongoing. Lantas, MOVE TO HEAVEN berapa episode sih? Cuma 10 episode dengan durasi masing-masing sekitar 45-50 menitan saja, membuat drakor ini cocok banget kamu tonton waktu weekend seharian.
Ada beberapa alasan kenapa saya langsung tancap gas menonton MOVE TO HEAVEN ketika Netflix merilisnya. Yang paling utama tentu karena ada sosok Lee Je Hoon yang sudah memikat saya sejak jadi Park Hae Young di SIGNAL (2016). Saya sudah menonton beberapa judul drakor dan film yang pernah dibintangi Je Hoon seperti TOMORROW WITH YOU (2017), WHERE STARS LAND (2018), COLLECTORS (2020) dan tentunya TAXI DRIVER (2021).
Nah, supaya kamu makin tertarik, berikut ini adalah review MOVE TO HEAVEN lengkap dengan spoiler-nya. Jadi buat kamu yang pengen nonton dan nggak mau dapet bocoran, bisa skip ke artikel lain yaa!
Sinopsis 'MOVE TO HEAVEN'
Kisah dalam MOVE TO HEAVEN ini fokus pada seorang pemuda berusia 20 tahun bernama Han Geu Ru (Tang Joon Sang) yang mengalami sindrom Asperger. Kalau kamu tak tahu, penderita sindrom Asperger ini berbeda dengan spektrum autisme lain seperti gangguan autistik yang mengalami kemunduran kecerdasan. Geu Ru justru memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan mampu menghapal berbagai hal sangat mendetail.
Geu Ru hidup bersama sang Ayah, Han Jeong U (Ji Jin Hee) si pemilik Move to Heaven, bisnis yang bergerak di bidang layanan jasa pengumpul barang peninggalan orang yang meninggal dunia. Di suatu malam usai memberikan barang peninggalan klien mereka, Kim Seon U (Hong Jin Gi) yang meninggal karena kecelakaan kerja, Jeong U justru meninggal dunia karena penyakit jantung sehingga Geu Ru hidup sebatang kara.
![]() |
| Geu Ru dan mendiang Jeong U |
Sosok Sang Gu yang super cuek, sembarangan dan kasar membuat Geu Ru kesulitan beradaptasi. Namun karena tak punya pilihan, Sang Gu pun bersedia menjadi pegawai Move to Heaven bersama Geu Ru, demi bisa hidup nyaman. Terlibat membersihkan barang-barang peninggalan sang mendiang, membuka pemahaman baru Sang Gu atas kehidupan, Jeong U dan juga Geu Ru
![]() |
| Sang Gu dan Geu Ru on duty sebagai pegawai Move to Heaven |
![]() |
| Tingkah Sang Gu dan Geu Ru saat hidup bersama |
![]() |
| Geu Ru memberikan barang peninggalan nenek Yeong Sun |
Kisah dalam MOVE TO HEAVEN ditutup dengan Geu Ru yang kabur ke Busan, karena tak ingin abu kremasi Ayahnya dimakamkan. Sang Gu yang sudah tahu jika Geu Ru adalah anak adopsi Jeong U dan mendiang istrinya, Min Ji Won (Kim Ju Yeon) pun mencari Geu Ru sekuat tenaga. Di Busan, Sang Gu mengetahui kisah pilu jika Geu Ru yang masih bayi dibuang di saluran air saat musim dingin sebelum diselamatkan oleh Jeong U. Demi sang kakak yang sangat mencintai Geu Ru, Sang Gu pun akhirnya bertekad hidup dan menjaga Geu Ru seumur hidupnya.
Review 'MOVE TO HEAVEN' Versi Saya
Dengan premis cerita yang tak biasa yakni profesi pengumpul barang-barang orang yang meninggal, MOVE TO HEAVEN justru sukses memikat saya hanya beberapa menit saat menonton episode pertama. Meskipun mayoritas dibintangi oleh aktor dan aktris pendatang baru, MOVE TO HEAVEN sama sekali tidak terlihat murahan dan digarap amatiran.
![]() |
| salah satu shoot adegan MOVE TO HEAVEN |
Hat's off untuk sutradara Kim Sung Ho, pengambilan gambar di dalam ruang-ruang sempit yang begitu estetik membuat MOVE TO HEAVEN memberikan ruang luas untuk penonton berimajinasi. Saya bahkan bisa dengan mudah merasakan amarah, tawa, kegetiran, kepiluan dan kepedihan luar biasa dari cerita-cerita kematian klien Move to Heaven. Saya seperti hadir di dalam TKP bersama Geu Ru dan Sang Gu, ikut meraba seperti apa pesan terakhir yang ingin disampaikan mendiang.
Satu hal yang menarik, cerita MOVE TO HEAVEN ini terinspirasi dari esai non-fiksi yang ditulis Kim Shae Byeol berjudul Ddeonan Hooe Namgyeojin Geotdeul. Esai itu diterbitkan pada 20 Juli 2015 oleh Chungrim. Sekadar informasi, Shae Byeol adalah orang Korea pertama yang bekerja sebagai pengumpul barang-barang peninggalan orang yang meninggal dunia.
Kalau disuruh memilih kisah mendiang manakah yang memberikan banyak makna, pilihan saya justru pada kisah cinta sesama jenis dokter Jung dan Ian. Bukan karena saya sangat menyukai Soo Hyun si pemeran dokter Jung atau saya pro-LGBT, tapi buat saya, kisah asmara mereka berdua begitu pilu. Dokter Jung dan Ian hanyalah dua orang yang jatuh cinta di saat yang tidak tepat. Seperti muramnya kisah asmara yang tak mendapat restu, perjuangan mereka begitu berat, apalagi karena sesama jenis yang sepertinya masih belum bisa diterima publik Korea. Tanpa adegan romantis berlebihan bikin jijik, saya bahkan bisa merasakan cinta dokter Jung yang begitu tulus kepada Ian.
Namun kalau soal kisah mana yang paling menyentuh hati dan bikin saya kepikiran hingga menangis tanpa akhir, jatuh pada kisah masa lalu Sang Gu dan Geu Ru. MOVE TO HEAVEN bikin air mata mengucur lama hanya karena melihat kotak-kotak sepatu Nike, ketika Sang Gu akhirnya menyadari kesalahpahamannya kepada sang kakak Jeong U. Setiap kali kehadiran Jeong U di layar sukses membuat saya sesenggukkan, 'kok bisa ada orang setulus, itu?'
![]() |
| Geu Ru yang begitu menyukai ikan |
Saya menonton 10 episode MOVE TO HEAVEN dalam waktu sehari saja dan cukup yakin kalau serial ini layak menjadi drakor terbaik di tahun 2021 (sejauh ini). Selayaknya menikmati masakan yang sangat lezat dengan porsi luar biasa tepat mengenyangkan, itulah yang saya rasakan saat menyelesaikan MOVE TO HEAVEN. Tawa dan tangis hadir dengan bagian yang sama kuatnya selama menonton, tanpa ada yang berlebihan.
Tak ada rumah-rumah mewah, potongan baju aktor atau aktris yang begitu mahal, jajaran karakter chaebol yang rupawan hingga deretan mobil sport berseliweran di drakor ini. Namun kesederhanaan itulah yang membuat MOVE TO HEAVEN begitu luar biasa. Kita sebagai penonton, memperoleh pelajaran kehidupan tanpa berusaha menggurui dari karakter-karakter yang sudah meninggal dunia, terutama Jeong U.
Ya, bisa dibilang magnet dari MOVE TO HEAVEN adalah Jeong U. Meskipun meninggal dunia di episode pertama, Jeong U seolah selalu hadir hingga di episode pamungkas meskipun hanya dari ingatan-ingatan Geu Ru dan Sang Gu.
![]() |
| Kocaknya Namu yang sulit akur dengan Sang Gu |
Jeong U mungkin hanyalah mantan pemadam kebakaran. Tapi siapa yang tidak menangis melihat video pesan terakhirnya kepada Geu Ru? Siapa yang bisa membantah bahwa dia memiliki ilmu parenting yang luar biasa sehingga berhasil membesarkan anak dengan sindrom Asperger? Jeong U seolah menyadarkan kita, bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain.
Bahwa sebuah pencapaian tertinggi manusia adalah ketika mereka sudah meninggal, masih bisa membuat orang lain menjadi lebih baik. Jeong U tidak hanya sukses sebagai manusia, dia menyelesaikan tugasnya dengan sempurna sebagai suami, Ayah, tetangga, rekan kerja dan seorang kakak.
Bahkan hingga saya menulis akhir dari review MOVE TO HEAVEN ini, saya masih bisa merasakan kehangatan yang begitu menyenangkan. Perasaan yang sama seperti ketika saya menonton REPLY 1988 (2015) atau HOSPITAL PLAYLIST (2020). Sebuah tontonan yang memang wajib dinikmati dalam kondisi pandemi Covid-19 yang begitu bikin mental tertekan.
Akhir kata kalau boleh mengutip kata seniman Norwegia, Edvard Munch, 'Dari tubuhku yang membusuk, bunga-bunga akan tumbuh dengan aku ada di dalamnya. Dan itulah yang disebut keabadian'. Mungkin seperti itulah kematian impian bagi setiap manusia, tetap mewangi dan memberikan arti kepada mereka yang masih hidup, sehingga kisahnya abadi.







