Asa Konser Coldplay dalam Kentut Sapi

Coldplay dan kentut sapi
© Chelsea Lauren/Variety/Shutterstock

When she was just a girl, she expected the world. But it flew away from her reach, so she ran away in her sleep. In the night, the stormy night, away she’d fly ~ Paradise (Coldplay) 

Xylobands itu mengeluarkan pendar berwarna putih, lalu berubah dalam berbagai kilau warna pelangi seolah tunduk pada sang dirigen yang berada di tengah panggung. Perlahan histeria mulai terdengar, saat jemari tangan frontman kebanggaan mereka itu berlarian di atas tuts-tuts piano.

Namun gemuruh langsung pecah, berkali-kali desibel meningkatnya saat Johnny Buckland memetikkan gitar listriknya. Tak perlu aba-aba lagi, puluhan ribu penonton yang memenuhi seluruh jengkal udara Bercy Arena (Accor Arena sekarang) itu tahu apa lagu yang akan dilantunkan oleh Chris Martin setelah ini.

Paradise.

Bak mantra yang wajib dirapal oleh para pengikutnya, Chris jelas bukanlah memenuhi tugasnya sebagai vokalis. Dia adalah sang misionaris yang seluruh lantunan liriknya disambut dan diikuti begitu antusias. Menandakan betapa besar kekuatan yang dimiliki band asal London, Inggris itu dalam memberikan pengaruh. Bahkan termasuk aku yang cuma bisa menikmatinya dari layar-layar gawai dengan resolusi total 1080p itu.

Ya, salah satu tampilan live Coldplay dalam rangkaian Mylo Xyloto Tour itu memang tak pernah gagal membius dan menjadi salah satu yang terfavorit sejak aku mendengarkan Paradise hampir satu dekade lalu itu, saat usia-usia sekolah.

Sejak kutonton di kanal YouTube resmi Coldplay, video konser mereka di Paris pada 14 Desember 2011 itu selalu membuncahkan harapan, ‘Kapan ya kira-kira bisa nonton konser Coldplay secara langsung?’

Lalu impian itu kemudian menguap begitu saja saat aku sadar, aku tinggal di Indonesia.

Cerita dari Belahan Bumi Utara

kapal pesiar AIDAnova
kapal pesiar AIDAnova via Cruise Industry News

“Makin ke sini itu cuaca Eropa makin nggak normal. Udah aku rasain sejak sekitar tahun 2017. Peralihan musim jadi mundur, kayak di Jerman itu pernah dingin doang dan nggak ada salju. Bahkan di 2021 ini, summerkayak cuma bulan Juni-Juli aja, matahari hampir nggak ada, cuaca berangin,”

Aku diam mendengarkan ocehan temanku. Deni Cahyadi namanya. Hampir lima tahun terakhir ini, dia bekerja di AIDA Cruises. Kami bertemu dalam satu rombongan belajar Kelas Inspirasi 2017 lalu di Malang, dan aku langsung merasakan kedengkian luar biasa mengetahui betapa seru pekerjaannya, mengelilingi samudera belahan bumi utara dan singgah di negara-negara Eropa yang entah kapan bisa kudatangi.

“Siapa bilang jalanan Eropa itu selalu bersih? Sama aja kok. Di sini juga ada bau-bau pesing gitu, sama kayak di Indonesia,” kelakarnya waktu kami berbincang lewat video call WhatsApp beberapa hari lalu. Aku melihatnya begitu ceria di bawah sinar matahari siang Santa Cruz de Tenerife di Kepulauan Canary, Spanyol sana, sedangkan aku menahan dingin malam kota Malang.

Sebagai pekerja kapal pesiar, Deni memang bisa mendatangi negara-negara Skandinaviayang sudah sejak lama dianggap sebagai kota-kota yang layak huni. Islandia, Finlandia, Swedia dan Denmark adalah beberapa negara Eropa utara yang pernah dipijaknya, saat kapal pesiarnya merapat.

Namun kali ini perbincangan kami bukan mengenai pongahnya atas bentang alam Norwegia, sungai-sungai super jernih di Islandia atau mungkin kebiasaannya meminum secangkir kopi sambil menatap senja samudera Atlantik. Kali ini aku penasaran dengan kondisi climate change di Eropa sana.

Pada bulan Januari 2020 lalu, dilaporkan bahwa wilayah barat Norwegia mengalami gelombang panas dengan suhu mencapai 19°C. Sebagai masyarakat negara tropis, aku bertanya pada Deni apakah memang orang-orang Norwegia terbiasa dengan suhu di bawah titik beku sampai-sampai temperatur kota Malang saat dini hari yang menusuk itu dianggap terpanas?

gletser mencair di Norwegia
gletser mencair di Norwegia, ungkap peninggalan Viking © Adventure

Deni mengangguk. Meskipun orang-orang Norwegia merasakan kehangatan, tetap saja ini merupakan alarm dari alam bahwa perubahan iklim sebagai dampak global warming (pemanasan global) memang terjadi dan nyata adanya.

Menguatkan penuturannya, Yvonne Wold selaku Walikota Rauma, Norwegia kepada BBC menyebutkan kalau pencatatan suhu 19°C itu adalah rekor baru untuk cuaca hangatdi sana. Karena di bulan Januari 2020 itu, orang-orang yang seharusnya bermain ski malah mengenakan kaos bahkan berenang di laut.

Deni juga menyinggung soal beberapa wilayah di Eropa yang turut mengalami perubahan cuaca ekstrim. Termasuk dengan bagaimana banjir katastropik terjadi di Jerman pada pertengahan Juli 2021 lalu. Terparah dalam 50 tahun terakhir, banjir yang melanda sebagian besar negara bagian Rhineland Palatinate dan North Rhine-Westphalia itu disebut menewaskan sedikitnya 133 korban jiwa, seperti dilansir Tempo.

banjir bandang di Rhineland Palatinate
banjir bandang di Rhineland Palatinate © CNN

“Bahkan sekarang kalau kapal lagi lewat samudera atlantik, lapisan-lapisan es itu banyak yang lenyap. Beda dengan beberapa tahun lalu waktu awal kerja. Sengeri itu emang perubahan iklim,” tegas Deni.

Ucapannya mengingatkanku pada kabar menggetarkan bahwa bongkahan es raksasa di perairan Antartika yakni A68a tengah sekarat dan pecah kembali pada awal 2020 lalu. Sebagai bongkahan es terbesar di dunia yang pernah setara luasnya dengan pulau Bali, membelahnya A68a ini jelas disebabkan Bumi yang makin hangat karena global warming.

Lagi-lagi, perubahan iklim ini memang nyata dan bukan dongeng masa lampau.

Kentut Sapi yang Lebih Berbahaya dari Karbondioksida

‘Apa sih Rai yang memicu pemanasan global sampai-sampai iklim ini berubah?’

Jejak karbon alias carbon footprint.

‘Emang jejak karbon itu apaan sih?’

Jejak karbon adalah jumlah gas buangan alias emisi yang dilakukan oleh manusia dan binatang. Ya, secara ilmiah aku dan kalian ini tidak bisa tidak mengeluarkan emisi. Bahkan waktu kita bernapas saja, sudah ada CO2 alias karbon dioksida yang dikeluarkan. Dengan fakta ada 7,8 miliar manusia di Bumi ini, bisa kamu bayangkan berapa besar CO2 yang keluar ke udara dalam satu menit saja?

Namun masalah utamanya bukanlah di situ, karena CO2 bukan satu-satunya emisi yang ada di udara, meskipun memang memiliki porsi terbesar. Ada zat-zat lain yang dianggap jauh lebih beracun yakni nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4) , nitrous oksida (N2O), hydroperfluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (CFCs) dan sulfur heksaflorida (SF6). Nah, gas-gas berbahaya ini rupanya bisa menangkap panas matahari di atmosfer yang akhirnya menimbulkan fenomena efek rumah kaca.

infografis emisi gas rumah kaca
© has-environmental

Disebut demikian karena gas-gas itu memang bekerja selayaknya rumah kaca yang mampu ‘menangkap’ panas hari pada siang hari sehingga ketika malam, suhu di dalam rumah kaca itu tetap hangat. Dalam konteks atmosfer bumi, efek rumah kaca ini sebetulnya berfungsi untuk menjaga suhu bumi supaya temperatur siang dan malam tak berbeda jauh. Tapi karena jumlah emisi makin tinggi, akhirnya sinar matahari yang terperangkap di dalam atmosfer memicu global warming.

Imbasnya, es-es di kutub mencair.

Ekosistem dan keanekaragaman hayati hancur.

Naiknya suhu permukaan laut.

Perubahan iklim ekstrim dan akhirnya memicu bencana.

Di Indonesia sendiri, Berton Panjaitan selaku Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB kepada Liputan6 menyebutkan kalau tujuh dari sepuluh bencana dalam kajian BNPB terkait perubahan iklim. Bencana-bencana itu adalah banjir bandang, longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

‘Waduh, ngeri amat! Terus kita harus gimana dong, Rai’

Kurangi jejak karbon.

‘Maksudnya berhenti bernapas, gitu?’

Hmm. Bagaimana kalau kalian kuajak untuk mulai membatasi kentut sapi?

‘...’

Aku tidak bercanda. Ini adalah sesuatu yang sudah seharusnya kalian tahu.

Kalau selama ini kalian mengira CO2 yang dikeluarkan manusia adalah satu-satunya biang kerok emisi dan menyebabkan pemanasan global, maka itu salah besar. Ada gas metana yang dianggap jauh lebih mengerikan karena metana adalah gas yang 23 kali lebih berbahaya daripada CO2. Metana adalah zat yang lebih baik dalam hal mengikat panas, apalagi jika dibandingkan dengan CO2. Metana bahkan mampu bikin bumi hangat 21 kali lipat dari karbon dioksida.

Dan penghasil metana ini bisa kamu temukan di sekitarmu yakni sapi. Terungkap bahwa emisi metana pada sapi ini setara dengan industri bahan bakar fosil. Sapi mengeluarkan metana dari hasil fermentasi saluran pencernaan dan kotoran.

infografis gas metana kentut sapi
© Twitter @kelaspintar_id

The Sun melaporkan jika seekor sapi dalam satu harinya menghasilkan 160 – 320 liter gas metana dan mencapai 200 kilogram dalam setahun. Metana-metana yang keluar dari sendawa dan kentut sapi ini rupanya memiliki porsi sebesar 14% atas gas-gas rumah kaca penggerak global warming. Sebagai hewan pemamah biak seperti domba dan kambing, proses pencernaan sapi melewati serangkaian fermentasi yang dipenuhi bakteri penghasil gas metana di dalam organnya.

Jika Kementerian Pertanian mencatat ada sekitar 18 juta sapi di Indonesia pada Maret 2021 kemarin, bisa bayangkan berapa banyak metana yang dilepaskan ke udara?

Tentu luar biasa masif dan terbang di atmosfer sebagai gas rumah kaca.

Perlahan tapi pasti, kentut-kentut sapi inilah yang turut menggiring bumi menjadi oven raksasa dan akhirnya mengancam kehidupan manusia di dalamnya.

Coldplay dan Mimpi Panjang Zero Emisi

Membuat emisi metana dan gas-gas rumah kaca hilang dari Bumi ini tentu adalah sesuatu yang luar biasa mustahil. Anggap saja semua orang berhenti mengonsumsi daging sapi sehingga populasi sapi di Bumi menjadi nihil dan tak ada metana yang keluar dari kentut-kentut mereka, apakah artinya global waming tinggal cerita dongeng?

Jelas tidak, sayang.

Masih ada pabrik-pabrik yang beroperasi, kendaraan-kendaraan bermotor mengeluarkan polusi dan manusia yang menghembuskan napas.

Hal inilah yang akhirnya membuat pegiat iklim mencanangkan NZE (Net-Zero Emission) sebagai puncak harapan masa depan, di mana emisi karbon sepenuhnya diserap oleh Bumi lewat berbagai kegiatan manusia supaya pemanasan global tak akan terjadi. Gagasan atas NZE ini rupanya sesuai dengan COP 21 di Paris tahun 2015 lalu, yang akhirnya melahirkan Paris Agreement (Perjanjian Paris). Di mana setiap negara di Bumi wajib menurunkan emisi mereka yang sudah dimulai sejak tahun 2020 lalu.

Kamu harus ingat bahwa dalam penerapan NZE ini, bukan berarti menjadikan tak ada sama sekali emisi karbon terlepas ke udara. NZE bertujuan membuat karbon negatif yang artinya emisi karbon yang diproduksi bisa diserap sepenuhnya sehingga tak perlu menguap ke atmosfer.

Apa yang bisa menyerap karbon-karbon tersebut?

Benar. Tumbuhan.

Si hijau yang kerap dilupakan, ditebang dan bahkan dibiarkan mati itulah pemegang kunci masa depan peradaban manusia. Tumbuhan seperti kodratnya melakukan fotosintesis dengan menyerap karbondioksida, tentu akan membantu mengurangi jejak karbon di Bumi. Semakin banyak tumbuhan yang ada, semakin besar peluang kita untuk menang dalam peperangan melawan global warming.

Mangrove, jawara penyerap CO2
Tapi-tapi kan jejak karbon tidak hanya karbon dioksida? Bukankah tumbuhan tak bisa menyerap metana dan gas rumah kaca lainnya?

Tepat sekali.

Untuk mengurangi yang lainnya, ini adalah tugas manusia

Termasuk bagaimana para peternak sapi mulai menggunakan teknologi NMR (Natural Methane Reducing) lewat dedaunan yang mengandung tannin, sebagai pakan hewan-hewan pemamah biak. Daun-daun seperti daun jati, kaliandra dan mahoni diyakini bisa menekan gas metana yang keluar dari sapi-sapi itu.

Atau mungkin bagaimana dorongan untuk menggunakan biogas yang berbahan baku gas metana dan karbon dioksida, sebagai energi alternatif utama pengganti LPG di masa depan.

Namun sebagai #MudaMudiBumi, aku mengajak kalian dalam suasana Sumpah Pemuda kali ini. Melakukan sebuah hal kecil #UntukmuBumiku. Dan inilah Sumpah Pemuda versiku!

Aku bersumpah untuk memperbanyak jalan kaki baik sehari-hari atau saat solo travelling. Bahkan meskipun sedikit mengkhianati darah Minangku, aku akan mencoba mengurangi konsumsi daging sapi yang kuharap bisa memberikan sumbangsih menurunnya kentut sapi

menjadi traveller yang hobi berjalan
Aku saat menjelajahi Toraja dengan jalan kaki © Hamri W

Sebuah langkah mungil yang kuharap bisa bergabung dalam gelindingan bola salju raksasa yakni menghentikan peluang kenaikan suhu bumi sebesar 2°C di tahun 2100 nanti, demi mencapai NZE.

Tenang saja, saat ini seluruh belahan Bumi, ada banyak sekali upaya yang telah dilakukan untuk menjadikan nol-bersih emisi dari berbagai pihak. Aku ingat bagaimana Deni bercerita melalui WhatsApp beberapa waktu lalu.

“Kebetulan kapal pesiarku, AIDAnova itu adalah kapal pesiar pertama di dunia yang pakai tenaga full LGN (Liquified Natural Gas). Kapal itu bahkan udah dapet sertifikat blue angel, sertifikat dari Uni Eropa untuk perusahaan-perusahaan yang emang konsisten go green. Dari 13 kapal milik AIDA Cruises, baru tiga yang udah pakai bahan bakar LGN, ada satu kapal lagi yang nyusul,”

Sekadar informasi, LGN sendiri adalah gas alam cair. Di mana LGN ini sudah diproses sedemikian rupa sehingga bagian impuritas (pengotor) dan hidrokarbon fraksi berat telah hilang. Kemudian gas alam ini melewati tahapan kondensasi pada tekanan atmosfer dan didinginkan hingga -160°C, sehingga jadi cairan.

Melihat makin banyak perusahaan yang paham pengurangan jejak karbon, aku jadi ingat pada komitmen Coldplay. Ya, band yang kusukai tapi sangat sulit ditonton itu bahkan sudah memikirkan sebuah tur konser yang tidak merusak lingkungan. Kamu bisa menonton track list mereka di album EVERYDAY LIFE yang dirilis pada November 2019 lalu, di mana menurut Chris, ini merupakan gambaran atas perasaan mereka terhadap lingkungan.

Sementara untuk tur konser dunia mereka di tahun 2022 untuk promosi album MUSIC OF THE SPHERES, Coldplay bahkan berikrar memangkas emisi karbon dioksida hingga 50%, jika dibandingkan konser-konser mereka di tahun 2016-2017 lalu.

Sampai melakukan konsultasi dengan pakar lingkungan di Universitas Oxford, aku termasuk yang cukup takjub dengan komitmen itu.

Kamu tentu tahu bahwa selama ini konser Coldplay selalu identik dengan teknologi tinggi yang menghiasi panggung mulai dari lampu-lampu gemerlap hingga arsitekturnya. Demi mewujudkan pengalaman konser yang tak terlupa, Coldplay siap menggunakan sumber energi terbarukan termasuk panggung kinetik.

suasana konser Coldplay di Prancis
suasana konser Coldplay di Prancis

Ya, di saat kita jingkrak-jingkrak menonton Coldplay, panggung kinetik itu akan menghasilkan energi gerak. Tak  berhenti di situ, konser ini juga akan menggunakan lampu bertenaga surya, minyak goreng bekas dan tentunya penerbangan dengan pesawat yang memakai energi bersih meskipun itu artinya anggota Coldplay harus membayar tiket lebih mahal. Coldplay juga siap menanam satu pohon untuk setiap satu tiket konser yang terjual, sebagai upaya penghentian deforestrasi.

Lantas adakah harapan Indonesia bisa menggelar konser Coldplay?

Promotor tentu harus bekerja keras. Selain karena negeri ini masih berjuang mengurangi emisi karbon, Coldplay menyebutkan salah satu syarat dalam konsernya untuk menggunakan bahan-bahan lokal negara di lokasi saat konser, demi mengurangi emisi pengangkutan barang seperti dilansir Forest Digest.

Demi memuaskan pengalaman penonton, Coldplay juga meminta pihak promotor menyiapkan kembang api dan konfeti yang bisa terurai di udara. Termasuk juga keberadaan alat-alat penangkap karbon besutan perusahan asal Swiss, Climeworks.  

Sebuah syarat yang bisa dibilang sangat sulit dilakukan oleh promotor Indonesia untuk saat ini.

Tentu akan menjadi sebuah pengalaman luar biasa bisa menyaksikan Paradise, Fix You, Viva La Vida, Adventure of a Lifetime, Hymn for the Weekend, The Scientist, Yellow, A Sky Full of Stars, In My Place sampai Biutyful dan My Universe secara langsung di negeri ini. Apakah itu bisa terjadi? Sudah pasti bisa, seiring dengan pengurangan jejak karbon hingga 90% yang memang direncanakan pemerintah terjadi pada tahun 2050 nanti.

Sambil menanti konser Coldplay terwujud di Indonesia, yuk bareng-bareng kurangi emisi karbon. Tidak hanya berharap sapi-sapi berhenti kentut, coba lakukan hal-hal kecil dari dirimu sendiri, seperti semudah mencabut charger ponsel dan laptop yang tidak terpakai. Karena, inilah momen yang tepat untuk #TimeforActionIndonesia!

 

Sumber:

Forest Digest, Mongabay, Kompas, Tempo, CNN, BBC, CNBC, VOI, Tirto, Pertamina

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin