| teluk Bowele dari ketinggian |
Saat itu suasana begitu genting.
Negeri ini memang baru saja merayakan kemerdekaannya. Namun kabar indah itu tentu butuh waktu untuk sampai ke seluruh penjuru Nusantara, termasuk di Jawa Timur. Bahkan di Malang sendiri, gemuruh kebebasan itu harus menjalar lewat udara, setelah Syahrudin menyelundupkan bunyi teks Proklamasi di kantor berita radio Soerabaja Hosokyoku, dua hari usai 17 Agustus 1945.
Ya, perjuangan belumlah berakhir.
Terutama bagi masyarakat di kawasan Tapal Kuda seperti Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo dan Kabupaten Lumajang sana. Senjata-senjata laras panjang dan runcingnya bambu masih terus menemani mereka bergerilya, menjaga nyawa dari musuh-musuh di selatan.
Bagi mereka, terus bergerak adalah harga mati. Kaki-kaki lelah itu terus berjalan, menembus belantara dan melintasi perbukitan tak bertuan. Mencoba mencari peruntungan di daerah yang lebih nyaman, jauh dari ancaman serdadu Negeri Matahari Terbit maupun kaum kulit putih.
Hingga akhirnya para pejuang yang mengungsi dari tahan kelahiran mereka itupun berhenti. Lahan-lahan di lembah perbukitan Tirtoyudo yang menghunus langsung ke Samudera Hindia, dipilih menjadi tempat mereka bersemayam.
Sebuah tempat yang tanpa diduga akan menjelma menjadi potongan nirwana milik Kabupaten Malang di kemudian hari.
Tempat yang hingga saat ini tanpa henti merapalkan jampi-jampi perjuangan, untuk mereka yang mencari penghidupan di dalamnya.
Sang Pencuci Otak Tanpa Gelar Sarjana
Saya sendiri adalah orang yang terkendala pendidikan. Hanya lulusan SMP tapi motivasi saya sangat besar untuk mengenalkan desa. Saya ingin berkontribusi untuk tempat kelahiran saya ~ Agung Tri Ono, penggerak KBA Lenggoksono
Cuaca begitu terik siang itu di hari Rabu, 29 Desember 2021. Matahari sepertinya mengobarkan keperkasaannya tanpa ampun. Namun perempuan-perempuan tangguh itu sama sekali tidak terganggu. Galaknya sengatan matahari bukanlah alasan mereka beranjak.
Mereka semua bahkan bergeming di bawah sang mentari, saling bersandar dari bahu ke bahu, memotong sampah-sampah plastik hingga menjadi persegi seukuran kuku. Sesekali mengeluh bagaimana gunting yang dipakai tidak lagi tajam untuk memotong, atau plastik-plastik bungkus produk rumah tangga itu belum tercuci bersih.
Senda gurau terlihat dari kulit-kulit wajah sawo matang mereka yang tertarik kencang. Tidak ada jarak usia di sini. Mau lansia, setengah baya, baru berumah tangga hingga gadis-gadis belia. Tangan-tangan mereka begitu terampil menjejalkan ratusan persegi plastik kecil-kecil itu ke sebuah botol. Dihujam oleh kayu panjang hingga tak tersisa ruang di bagian dalamnya, botol-botol plastik bekas minyak atau air minum itupun berubah status menjadi ecobrick.
“Tiap hari Sabtu kita ada kegiatan bersih lingkungan sambil bawa sampah plastik. Nanti dikumpulkan sampah plastiknya karena memang kan misi kita untuk mengendalikan sampah di RW 01 ini. Baru nanti sampah-sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang itu kita bikin jadi ecobrick,” ungkap Hartining dan Yati bergantian.
Tidak ada raut rendah diri seperti khas masyarakat pelosok dari kedua Ibu Dasawisma di RT 02/RW 01, Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang ini. Bahkan bisa dibilang, sepasang mata mereka tampak berbinar percaya diri menatap saya dari balik lensa kamera, saat menjelaskan metode ecobricktersebut.
| proses dan hasil pengolahan ecobrick |
Tanpa ragu mereka memberitahu bahwa setiap botol ecobrick memiliki berat berbeda. ada yang 2,5 ons ada yang hingga empat ons. Semakin berat ecobrick itu, sudah jelas semakin besar beban yang harus ditumpunya.
Celotehan mereka terus berlanjut dengan kebanggaan. Memamerkan ecobrick-ecobrick itu yang sudah menjadi tiang-tiang gerbang rumah pengganti kayu, sampai ada yang sudah dirangkai menjadi tempat duduk dan aksesoris cantik seperti tas hingga dompet.
Tidak hanya mengolah sampah-sampah anorganik yang sulit terurai itu, warga Lenggoksono juga menyulap limbah-limbah rumah tangga menjadi POC (Pupuk Organic Cair). Limbah organik dengan aroma luar biasa tak sedap itu disimpan dalam wadah-wadah yang tertutup rapat.
Dibiarkan berfermentasi selama 15 hari sebelum akhirnya cairan yang sudah mengendap itu dibawa ke kebun-kebun mereka, sehingga menjadi lebih subur tanpa perlu pupuk kimia produksi pabrik besar.
| wadah-wadah POC di salah satu rumah warga Lenggoksono |
Saya terdiam.
Kepongahan orang kota benar-benar tidak berlaku di sini.
Rasa penasaran saya membuncah, meletup keluar dari tubuh saya yang sebetulnya sudah sedikit lelah usai menempuh 2,5 jam perjalanan darat dengan sepeda motor seorang diri dari Kota Batu.
Siapakah orang yang menjadi penggerak kesadaran perempuan-perempuan Lenggoksono ini?
Siapakah sosok yang mengobarkan api semangat bahwa sampah tidak harus berhenti dengan dibuang? Bahwa sampah haruslah dipilah dan diolah demi lingkungan?
Dan saya pun bertemu dengannya.
| Agung Tri Ono, penggerak Kampung Berseri Astra Lenggoksono |
Pria berusia 32 tahun itu tak muncul seperti pahlawan kesiangan. Pun seolah mengklaim kalau hanya berkat dirinya seorang-lah para perempuan Lenggoksono ini begitu lugas bercerita soal ecobrick,hingga pemanfaatan limbah dapur jadi pupuk kompos di lahan toga depan rumah, kebun-kebun cengkih dan kopi sampai areal persawahan.
Karena bagi Agung Tri Ono, kecintaan luar biasanya pada Dusun Lenggoksono jauh lebih besar daripada puja-puji dari semua orang.
Dia bahkan memilih berdiri menepi saat saya berkeliling lingkungan tempatnya tinggal. Agung membiarkan bapak-bapak, ibu-ibu dan kalangan muda sepertinya yang bergantian cerita. Dia hanya sesekali memberi tambahan informasi yang diperlukan, sambil mendengarkan para warga berganti mengurai kisah.
Ya, pria yang cuma berakhir di bangku SMP karena minimnya kesempatan menempuh pendidikan tinggi sebagai anak desa inilah sang ‘pencuci otak’ warga kampungnya.
Bersama Kasembadan, pakdhe yang begitu dekat layaknya seorang Ayah baginya itu, Agung mengubah peradaban dusun yang bisa dibilang dulu tertinggal, kini menjelma menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) dengan kualitas teratas.
Lenggoksono, Desa Para Pejuang dengan Semangat Tanpa Batas
“Saat awal melakukan perubahan itu sulit. Tanggapan mereka bahkan meremehkan, apakah anak muda seperti saya bisa dipercaya? Apalagi RW 01 tempat kami tinggal ini tidak punya gedung pertemuan. Kita memakai posyandu saat itu, sambil memulai program pertama yakni penghijauan,” papar Agung memulai ceritanya siang itu.
Bukan tanpa alasan kenapa Agung mengenalkan penghijauan kepada para warga. Karena baginya, penghijauan sesuai dengan salah satu tema yakni lingkungan selain budaya dan wisata kriya kala itu.
“Bagi saya, kalau kita melakukan perubahan untuk lingkungan, dampaknya juga akan ke wisata pula. Sehingga pastinya bakal lebih berkelanjutan,” tambahnya sambil memakan pisang goreng yang tentunya bahan didapat dari kebun warga sendiri.
Dan berawal dari penghijauan itu pula, kini hampir di seluruh enam RT dalam lingkup RW 01 di Dusun Lenggoksono sudah memiliki kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Kalian bisa dengan mudah menemukan tanaman jahe, kunyit, temulawak, kencur, sirih, temu ireng, lidah buaya, sambilata, binahong hingga beluntas di beberapa rumah.
| tanaman Toga dan jamu segar Lenggoksono |
Saya bahkan menghabiskan dua cangkir jamu kunyit asam, pun membawa satu botol untuk dibawa ke kota yang diberikan secara cuma-cuma oleh warga setempat. Tanpa pemanis buatan, jamu itu bahkan terasa begitu segar, sesegar bagaimana lingkungan Lenggoksono dalam ingatan saya.
Bak gadis remaja yang tahu caranya bersolek, dusun yang dikelilingi perbukitan hijau dan berpagar Samudera Hindia ini bahkan semakin bersih dalam kurun waktu satu tahun saja. Gereja dan Masjid yang berdiri berdampingan mungkin sebuah bukti yang tak perlu menjelaskan lebih lanjut, betapa toleransi telah mendarah daging dalam benak warganya.
“Desa kami ini dulu adalah daerah pengungsian tentara-tentara Indonesia yang melawan para penjajah. Mereka hidup di sini, saling bercocok tanam dan mencari hasil bahari di laut. Tapi karena ikan mulai sulit, beberapa di antara mereka mencari hewan buruan di hutan,” cerita Kasembadan saat kami sedang duduk bersantai di tepian sungai sambil melihat beberapa anak sedang asyik berenang.
Usianya memang tak muda lagi, sudah 65 tahun. Namun mata Kasembadan begitu berbinar saat bercerita mengenai cikal bakal kampung yang dia cintai ini. Saya mau tak mau menyadari betapa semangat membara yang dimiliki Agung, begitu mirip dengan yang terpancar dari kerut-kerut wajah tua Kasembadan.
| pakdhe Kasembadan dan tumpukan daun cengkih siap disuling |
“Konon dari cerita leluhur saya, ada orang yang tengah memburu babi hutan alias celeng di bukit. Celeng itu kemudian berhenti, lenggok di bawah pohon sono atau angsana (sono kembang). Dari situ dia bilang ‘ini nanti kalau zaman berubah, daerahnya bernama Lenggoksono’,” urainya sambil menatap hutan-hutan di dekat sungai.
Pandangan mata saya mencoba mengikuti Kasembadan. Menembus hutan mencari keberadaan pohon angsana itu. Tidak terlihat memang. Tapi saya tahu bahwa pohon yang kerap dijuluki raksasa rimba itu memang begitu besar. Mampu mencapai 3,5 meter tingginya, angsana memiliki dedaunan lebat mirip kubah dengan cabang-cabang merunduk hingga ke tanah.
Di dekat kami duduk, seorang anak mencoba melompat dari batu ke sungai. Tawa rekan-rekannya berderai saat tahu dia tak bisa melakukan lompatan secara sempurna.
“Penduduk kampung kan biasanya yang penting anaknya bisa baca tulis, tidak perlu sekolah tinggi karena bisa bekerja di kebun. Tapi bagi saya, pendidikan itu penting karena itulah yang bisa mengubah kualitas diri manusia,” ungkap Agung memecah keheningan yang menggelayut di antara kami.
“Orang-orang kota selalu berpikir bahwa masyarakat Lenggoksono ini punya banyak uang. Mungkin kami memang seperti itu karena kami memiliki banyak hasil bumi yang bisa jadi penghasilan. Tidak ada warga kami yang jadi buruh, kami semua berjuang untuk diri sendiri,” lanjut Agung sambil memanggil seorang anak yang sedang bermain di sungai, untuk sedikit menjauh dari area yang cukup dalam.
Saya terdiam, benar kiranya jika leluhur masyarakat Lenggoksono ini adalah para serdadu perang. Puluhan tahun semenjak moyangnya, perjuangan memang menjadi denyut kehidupan mereka.
Dan bunga api perjuangan itulah yang mengalir dalam pemikiran Agung. Gagal menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2017 bukanlah menjadi penghenti langkahnya. Pemuda dengan kulit terbakar matahari khas masyarakat pesisir ini tahu, bahwa perjuangannya demi Lenggoksono tidaklah terbatas pada piala.
Peradaban Berubah, Masa Depan Membuncah
Diletakannya ponsel Android yang sedari tadi dia pegang. Kaki kecilnya melangkah ke dalam rumah, mengambil sampur alias selendang tari yang sejurus kemudian sudah terikat di pinggangnya. Tubuhnya bergerak seiring dengan alunan kendang, kenong dan gong kecil yang ditabuh laki-laki dewasa, sesuai dengan tarian yang sudah tentu dia hapal di luar kepala.
Bersama tiga bocah perempuan dan satu orang anak laki-laki lainnya, tangannya gemulai menari. Suara gemerincing memenuhi udara ketika gongseng-gongseng di kaki kelima penari itu saling beradu dengan alunan irama gamelan.
| bocah-bocah penari Lenggoksono |
“Di sini semua anak bisa jadi penari, mau laki-laki atau perempuan. Mereka biasanya latihan di sanggar tiap Sabtu malam. Mereka juga siap ditanggap, tampil menari di Balai Desa Purwodadi,” jelas Agung dengan suara sedikit tenggelam oleh musik Jawa itu.
Sejak terpilihnya Lenggoksono sebagai salah satu KBA di tahun 2021 ini, perubahan besar memang terjadi. Perkampungan yang dalam benak masa kecil Agung sering ada sampah berserakan itu telah berubah 180 derajat. Jalan-jalannya sudah tertata rapi, pun dengan halaman-halaman rumah warganya.
Namun perubahan peradaban itu tidak serta-merta turut menghilangkan tradisi budaya kuda lumping yang sudah jadi ikon Desa Purwodadi dari generasi ke generasi.
Bahkan Ibu-Ibu kampung juga masih banyak yang melakukan tabuh lesung. Ya, tradisi klothekanini memang menjadi salah satu seni tradisional yang mulai tergerus zaman, padahal sebagai penanda sekaligus memperkuat betapa guyub dan rukunnya masyarakat.
| Ibu-Ibu asyik tabuh lesung. anak-anak bermain egrang |
Mereka paham betapa pentingnya kebersihan lingkungan, betapa pentingnya kesehatan dengan penanaman tanaman obat dan keberadaan posyandu yang rutin dihadiri bidan dari pusat kota itu. Mereka pun tetap menjunjung tinggi produktivitas dengan mengolah sampah-sampah anorganik menjadi bahan layak jual, olahan jamu-jamu segar, produksi kopi bubuk sampai keripik pisang yang diambil dari hasil bumi mereka sendiri.
Kita ini orang-orang desa. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau memperjuangkan Lenggoksono? Apa iya orang-orang dari Dampit atau dari Malang? Kita harus terus berjuang dan berubah menjadi kampung yang aman, indah serta damai, ~ Kasembadan
Dan ketika bola salju perubahan itu sudah mulai digelindingkan oleh Agung, Lenggoksono pun menatap asa baru di masa depan sebagai Desa Wisata.
Model pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata alias CBT (Community Based Tourism) ini memang sejalan dengan mimpi besar Agung, saat dia memilih tema lingkungan dengan program pertamanya yakni penghijauan kampung. Sekadar informasi, CBT ini pernah diwujudkan dalam PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Pariwisata oleh Pemerintah Indonesia Kabinet Bersatu era Presiden SBY.
Menurut Goodwin dan Santil (2009), CBT bisa menjadi konsep pengembangan destinasi wisata lewat pemberdayaan masyarakat lokal karena mereka semua turut andil dalam proses perencanaan, penyampaian pendapat hingga pengelolaannya kelak. Hal ini senada dengan pendapat Suansri (2003) mengenai CBT, yang merupakan pariwisata dengan aspek-aspek berkelanjutan lingkungan, sosial dan budaya.
| asrinya rumah-rumah di Dusun Lenggoksono |
Atau bisa saja Lenggoksono yang menawarkan suasana segar dan lingkungan sehat ini mengikuti jejak Dusun Pentingsari, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman yang sudah selama bertahun-tahun ini dikunjungi wisatawan menyaksikan rutinitas harian penduduk setempat sekaligus berkunjung ke obyek-obyek wisata yang ada. Keramahan yang terpancar jelas akan membuat siapapun nyaman berlama-lama di Lenggoksono.
| Agung (berbaju hita) dan penggerak KBA Lenggoksono lainnya |
Sebagai potongan Nirwana, Lenggoksono memang terletak di antara dua teluk besar Desa Purwodadi sana. Teluk itu memanjang dan melintasi tiga buah pantai cantik yakni Wediawu, Lenggoksono dan Bolu-Bolu. Adanya air terjun Banyu Anjlok di Bolu-Bolu membuatnya lebih menonjol dibanding pantai-pantai lain di pesisir selatan Malang.
Asa menjadikan Lenggoksono termahsyur seperti Desa Panglipuran di Kubu, Kabupaten Bangli pulau Bali sana tentu bukanlah pepesan belaka.
Bahkan meskipun para pemangku kekuasaan Kabupaten Malang belum banyak yang menjejak di Dusun Lenggoksono, warga kampungnya sudah melangkah bersama menjadi Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).
Mereka semua tahu bahwa berkembangnya Lenggoksono menjadi lebih baik akan mendatangkan multiplier effect. Dan gerbang perubahan itu telah dimulai oleh Astra saat mengajak serta Agung pada bulan Oktober tahun 2020 lalu.
Sayap Harapan itu Bernama Astra
| Agung (berbaju hitam) dengan warga Lenggoksono |
“Kami memiliki leluhur yang adalah para pejuang dan itu tetap menjadi tradisi hingga kini. Pihak Astra pernah bertanya kepada warga di Lenggoksono, apa yang akan mereka lakukan jika Astra tidak membantu? Dan mereka tanpa ada yang menyuruh serta meng-koordinir, memilih untuk tetap menjalankan dan memperjuangkan program-program yang menjadikan Lenggoksono lebih baik. Saya saat itu benar-benar haru dan sangat bangga,” kenang Agung sambil berjalan di sebelah saya.
Tatapan matanya berbinar dan penuh percaya diri. Kini dia tidaklah berjuang sendiri. Tepat di belakangnya langkah-langkah perubahan itu diikuti oleh masyarakat tempatnya tinggal.
Agung tak menampik bahwa kehadiran Astra yang memilih Lenggoksono sebagai salah satu KBA unggulan memang membuat masyarakat jadi lebih peduli pada alam. Baginya, Astra yang memiliki program kerja sangat besar dengan fokus pada kegiatan sosial demi masyarakat ini adalah wadah sekaligus jalan mereka untuk menjadi jauh lebih baik.
“Saya pernah gagal di SATU Indonesia Award, tapi itu tidak membuat saya berhenti. Saya hanya meragukan diri yang cuma seorang anak desa, tanpa gelar akademisi apa-apa. Saya berangkat dari konservasi lingkungan di laut lewat pemeliharaan terumbu karang. Saya yakin, kepedulian besar untuk alam adalah kunci perubahan yang diapresiasi betul oleh Astra,” lanjut Agung sambil menyapa beberapa warga untuk dikenalkan pada saya siang itu.
| gerbang KBA Lenggoksono |
Tentu perjalanan KBA Lenggoksono ini masihlah sangat panjang. Jika ada kekurangan yang boleh disebutkan, akses jalan adalah jawaban terbesar. Rusaknya jalan menuju Desa Purwodadi ini bahkan sudah lama didengungkan oleh para Pokdarwis Bowele (Bolu-Bolu, Wediawu dan Lenggoksono) sejak Agustus 2020.
Saya mau tak mau setuju memang. Karena setelah melewati kawasan Desa Sumbertangkil. jalanan berlubang hingga rusak parah benar-benar menguji kesabaran, meskipun akhirnya hamparan birunya laut di teluk Bowele dari ketinggian mempu membayar keletihan perjalanan itu.
Apalagi pada bulan Juni 2021 lalu, hujan deras yang mengguyur Malang Raya hingag semalam suntuk itu sempat membuat jembatan menuju pantai Lenggoksono terputus meskipun saat saya melintasi, jembatan itu sudah tersambung lagi.
Wahyu Hidayat selaku Sekda Kabupaten Malang sempat mengurai janji pembenahan akses jalan Lenggoksono itu kepada Malang Times pada tahun 2020 silam. Sudah menjadi salah satu program prioritas, rencana itu masih harus mengalami penundaan lantaran rasionalisasi dan refocusing sehingga diperlukan penetapan PAK (Perubahan Anggaran Keuangan) lagi.
| Agung (berbaju hitam) duduk di samping Kasembadan (berbaju biru) |
Namun seolah tidak berpangku tangan, Agung dan warga Dusun Lenggoksono tetap fokus pada mimpi mereka menjadi KBA dengan SDM yang jauh lebih baik. Kini dengan layar yang sudah dikembangkan Astra, Lenggoksono siap berlayar dari ujung lautan Malang selatan menuju samudera wisata dunia.
“Harapan saya ke depan adalah apa yang sudah kami lakukan ini bisa memberikan dampak yang lebih luas. Kami sebagai penggerak Kampung Berseri Astra akan terus mempertahankan konsistensi supaya masyarakat tetap semangat menjalankan kampung,” paparnya di penghujung perjumpaan kami di tepi pantai Lenggoksono sore itu.
Saya bisa melihat sepasang mata Agung menatap hamparan Samudera Hindia yang jauh di depannya sana. Tampak betul dia seolah bangga bahwa mimpinya itu kini mulai perlahan terwujud. Sedikit tergelak mengingat bagaimana warga desa pernah benar-benar tak tahu apa itu Astra ketika KBA ini memulai langkahnya.
| pesona pantai Bolu-Bolu, Lenggoksono, Banyu Anjlok |
“Semoga kami segera diketahui oleh para pemangku kekuasan. Kami ingin apa yang kami miliki ini mampu dilihat pihak luas. Lenggoksono punya potensi yang luar biasa, baik dari segi wisata, peternakan, perkebunan, lingkungan dan tentunya budaya,” tutupnya sambil tersenyum lebar.
Tetaplah bersolek hai Lenggoksono, kelak kita berjumpa lagi, pastikan keramahan kalian tidak pernah tergerus tipu-tipu dunia fana ini.