Melambung jauh terbang tinggi, bersama mimpi. Terlelap dalam lautan emosi. Setelah aku sadar diri, kau tlah jauh pergi ~ Mimpi (Anggun)
Ada dua film Indonesia yang perilisannya di bioskop sangat saya tunggu pada tahun 2021 ini. Pertama adalah SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS yang dibuat oleh Edwin, dan kedua adalah YUNI yang diarahkan oleh salah satu sutradara perempuan Indonesia favorit saya, Kamila Andini.
Dirilis secara global untuk kali pertama di Toronto International Film Festival 2021 pada bulan September, YUNI bahkan memboyong penghargaan Platform Prize. Tak berhenti di situ, YUNI juga terpilih sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang 94th Academy Awards untuk kategori Best International Feature Film. Kedua raihan yang semakin memperkuat alasan saya untuk membuat review YUNI ini.
Meskipun menonton sedikit terlambat sejak dirilis pada 9 Desember kemarin, saya cukup beruntung dan bisa dibilang luar biasa puas ketika akhirnya bisa menonton YUNI, beberapa hari sebelum serangan SPIDER-MAN: NO WAY HOME yang luar biasa epic itu.
Tak butuh waktu lama, film sepanjang 95 menit yang mengenalkan kita semua pada calon aktris masa depan bangsa yakni Arawinda Kirana itu, berhasil menyodok sebagai film Indonesia terfavorit versi saya. YUNI kini menempel bersama GIE(2005) yang sudah satu dekade lebih ada di posisi puncak.
Sinopsis Film ‘YUNI’
Sesuai dengan judulnya, kisah dalam film yang naskahnya ditulis oleh Kamila bersama Prima Rusdi, salah satu penulis skenario perempuan terbaik milik negeri ini memang fokus pada sosok Yuni (Arawinda Kirana).
Seperti layaknya pelajar tingkat akhir di SMA, Yuni juga memiliki harapan bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Namun kondisi Yuni berbeda dengan remaja kota-kota besar yang sudah sibuk dengan persiapan SNMPTN di berbagai bimbel. Yuni si gadis pinggiran Serang itu tahu bahwa melanjutkan kuliah seolah jadi 'khayalan babu' untuknya.
Menjadi anak tunggal yang Ayah (Rukman Rosadi) dan Ibunya (Nova Eliza) bekerja sebagai pembantu di rumah orang-orang kaya Jakarta, Yuni tidak memaksakan keinginannya itu meskipun sang guru, Lies (Marissa Anita) selalu memberikannya dorongan. Lies tahu jika Yuni adalah gadis cerdas dengan masa depan cerah, yang membuatnya menjadi pendukung utama agar Yuni mencari beasiswa kampus.
Hingga akhirnya Yuni dikejutkan ketika tetangga depan rumahnya yakni Iman (Muhammad Khan) mendadak melamar dirinya. Dibuai oleh status Iman sang pekerja proyek dengan pangkat mandor, tetangga-tetangga di sekitarnya pun memuji keberuntungan Yuni. Yuni kaget karena dia hanya sekali bertemu Iman saat sang Nenek (Nazla Thoyib) memintanya mengantarkan kue bolu kukus.
Bagaimana mungkin pria itu bisa jatuh cinta dan langsung mendambakannya sebagai istri?
Apakah hal tersebut lazim disebut sebagai cinta, alih-alih keinginan perluasan teritori kaum Adam?
| Yuni si gadis remaja dengan mimpi tak sempurna |
Sadar kalau menikah bukanlah citanya saat ini, Yuni yang suka bernyanyi inipun mendatangi Iman di lokasi kerja bersama sahabatnya, Sarah (Neneng Wulandari) untuk menolak lamaran itu. Namun rupanya pesona sang gadis remaja itu tak hanya dirasakan oleh Iman saja. Mang Dodi (Toto ST Radik) pun tak kuasa menolak keinginannya menjadikan Yuni sebagai istri keduanya, dengan iming-iming mahar puluhan juta Rupiah, meskipun lagi-lagi lamaran itu ditolak oleh Yuni.
Mulut lelaki katanya selalu begitu, apalagi dia yang masih suka dengan gadis remaja. Engkau lupakan anak cucumu, hanya demi kenikmatan ~ Tua Tua Keladi (Anggun)
Mendapatkan cemooh dari teman-teman di sekolah dan tetangganya, bahwa pamali menolak lamaran sebanyak dua kali, Yuni pun merasakan kegamangan.
Apakah sebuah dosa besar jika perempuan menolak lamaran?
Apakah seharusnya dia bersyukur ada laki-laki yang mau meminangnya sekalipun itu menjadi istri muda?
Dengan berbagai pikiran berkecamuk, takdir menggiring Yuni ke sosok adik kelas sekaligus teman masa kecilnya yang pemalu, Yoga (Kevin Ardilova). Lewat Yoga yang begitu jago puisi itu, Yuni merasakan lagi kehidupan remajanya yang begitu penasaran soal cinta dan masa depan.
Yoga pula yang membantu Yuni dalam berbagai tugas sastra dari Damar (Dimas Aditya), guru favoritnya tanpa menyadari kalau pemuda itu memendam cinta untuknya. Perjalanannya dalam menemukan eksistensi diri membawa Yuni berkenalan dengan Suci Cute (Asmara Abigail), janda muda cantik berbedak belang sekaligus pekerja salon yang hobi main Instagram.
| Yuni bersama Susi Cute bikin konten IG |
Kehadiran Suci seolah mengenalkan Yuni pada kehidupan perempuan dewasa yang tidak selamanya indah. Bukti bahwa pernikahan di usia muda belum tentu bermuara pada kebahagiaan, sama seperti yang dialami dua sahabatnya yakni Tika (Anne Yasmine) dan Sarah. Tika di usia yang seharusnya bersekolah justru harus menggendong bayi dan bahkan hidup berpisah dari sang suami.
Beda Tika beda pula Sarah yang bernasib miris karena dipaksa menikah dengan kekasihnya, hanya karena ketahuan sedang berdua oleh warga sekitar. Hingga akhirnya pergulatan Yuni dalam melintasi tradisi patriarki yang membelenggu gadis-gadis pinggiran sepertinya pun berujung kebuntuan, saat Damar tiba-tiba melamarnya jelang hari kelulusan SMA. Yuni tahu kalau lamaran itu bukanlah cinta karena Damar melakukannya saat Yuni mengetahui rahasia terbesarnya yakni orientasi seksual yang tak biasa.
Sekali lagi, bukti kepongahan laki-laki yang berlindung di balik label membahagiakan orangtua.
Tidak seperti lamaran pertama dan kedua, Yuni kali ini harus membuat keputusan yang sangat berat. Merasa bahwa tak ada lagi jalan keluar, lamaran Damar itu pun diterima. Namun di hari pernikahannya, ketika Damar dan Yoga menjanjikan masa depan berbeda, Yuni memilih melangkah sendiri. Di bawah hujan deras dan mengenakan gaun pengantin ungu, warna kebesarannya, Yuni untuk pertama kalinya menjadi perempuan bebas.
Review ‘YUNI’ Menurut Saya
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu ~ Aku Ingin (Sapardi Djoko Darmono)
Ditutup dengan para aktrisnya yang berkumpul di depan api unggun dengan Yuni yang menyanyikan lagu Mimpi-nya Anggun, saya tak bisa menahan air mata saat adegan ini ditampilkan.
Saya tak tahu apa yang membuat saya begitu emosionalkala itu.
Apakah karena alunan lirik demi lirik lagu Mimpi yang pernah begitu menemani saya bertahan di usia-usia remaja dan melewati quarter life crisis?
Atau karena bagaimana Yuni akhirnya bisa bebas memilih masa depannya sendiri, melepas rantai tradisi yang berhasil membelenggu banyak perempuan di luar sana?
Atau mungkin karena melihat bagaimana sang guru Lies yang tersenyum begitu lebar, Sarah dan Tika yang tampak begitu bahagia, hingga Asih (Mian Tiara) yang tampak begitu mesra dan nyaman bersama Suci?
Tanpa sadar, saya sepertinya terlalu terbawa perasaan dengan Yuni.
Kamila Andini sukses membawa saya mengingat kembali diri saya yang lebih muda. Ketika masih duduk di bangku SMA, ketika kasih berusia 20 tahunan awal, saat saya tahu bahwa dunia dewasa itu begitu mengerikan.
Ya, Yuni adalah potret perempuan-perempuan yang dalam seumur hidupnya selalu ditekankan bahwa lahir dan bertumbuh demi dapur, kasur dan sumur.
Perempuan yang cita-cita seolah menjadi barang mahal. Karena dalam lingkungan mereka, anugerah terindah dalam hidup adalah bertemu dengan pria baik-baik, menyodorkan lamaran alih-alih lama berpacaran.
| Yuni dan sahabatnya bicara soal hubungan intim |
Credit terbesar memang patut diberikan kepada Arawinda. Aktris 20 tahun yang masih seusia adik saya itu seolah terlahir sebagai Yuni. Saya menikmati visualnya yang begitu polos terutama ketika membicarakan soal having sex dengan teman-temannya, sebuah pengalaman yang masih juga membuat saya luar biasa penasaran hingga seusia ini.
Atau bagaimana beraninya dia melakukan adegan woman on top bersama Kevin yang begitu singkat. Bukan, jangan bayangkan adegan erotis menggebu, karena Yuni dan Yoga menggelorakan emosi purba itu tidak dengan birahi membara, tapi hanya sebuah rasa ingin tahu dan pelepas penat remaja yang begitu tersesat dalam hidupnya.
Selain Arawinda, pujian juga patut diberikan ke Asmara yang begitu memikat sebagai Suci Cute. Bagaimana pilihan make up dan bajunya yang ‘norak’, seolah mewakili pemikirannya yang dituntut terlalu cepat dewasa itu. Suci tipikal ‘korban’ nikah muda di negeri ini yang harus menjanda di usia saat tengah merekah itu. Mencoba menyambung nyawa setiap harinya meski terjerat masalah ekonomi, sambil tetap joget dan update status, satu-satunya pelarian atas kenyataan yang mungkin tak pernah dia inginkan.
Namun lepas dari mereka berdua, saya sangat takjub bagaimana YUNI bisa menyuguhkan dialog-dialog bahasa Jaseng (Jawa Serang), Bebasan dan Sunda Banten yang sangat natural. Jauh lebih baik daripada pesinetron atau aktor film Indonesia kelas B dan C yang suka berbahasa Jawa sok medok, membuktikan kalau produksi YUNImemang menargetkan level yang jauh lebih tinggi. Ya, YUNI tak bicara persaingan domestik, film ini adalah wajah perempuan Indonesia yang harus dibawa ke tingkat global.
Tak hanya menarik lewat visual dan shoot-shoot yang cantik, terimakasih kepada Teoh Gay Hian sebagai sinematografer, dan disunting sempurna oleh Cesa David Luckmansyah, pesona lain dari film YUNIada pada jajaran lagu yang mengiringi. Imajinasi Senja dari Alien Child memang memiliki peran dalam membangun emosi, tapi dua lagu Anggun adalah bintangnya yakni Tua-Tua Keladi dan Mimpi.
| Yuni bermanja dengan sang Ibu |
Tetapi jika disuruh memilih, apakah adegan yang paling memorable dari YUNI. Jawaban saya justru di penghujung film saat Yuni dan Ayahnya sedang memotong kuku. Buat saya, itu adalah adegan yang benar-benar murni memperlihatkan bagaimana seorang anak gadis, akan selalu menemukan kenyamanan lewat Ayahnya, meskipun tampil begitu singkat.
Saya bisa merasakan berkecamuk dan gamangnya Yuni saat bertanya bagaimana orangtuanya akan menerima dia jika hidupnya menjadi susah dan kacau. Bukannya marah, sang Ayah yang sudah pasti tipikal kepala keluarga pinggiran dan perekonomian rendah itu justru memberikan jawaban yang sangat hangat, sempurna dan 'kaya'.
Sebuah jawaban yang sangat ingin didengarkan oleh banyak anak di dunia ini.
"Ayah hanya sekali menjadi orangtuamu, jadi tak ingin membuat hidupmu susah,"
Hasilnya, YUNI menjelma menjadi film coming of age terbaik negeri ini yang dilihat dari kacamata perempuan. YUNI tak perlu berlebihan memasang tokoh sentral lulusan kampus bergengsi, hidup dan dibesarkan di kota besar dengan pikiran-pikiran open minded yang dijejali berbagai aktivitas feminisme. Kita tak akan dijejali kalimat demi kalimat ndakik soal pentingnya jadi perempuan yang berpikiran maju supaya lebih unggul daripada laki-laki.
Karena justru lewat kesederhanaan gadis SMA yang bingung menentukan masa depan, gaung emansipasi perempuan itu bergetar lebih kuat. Memasuki relung-relung hati para penonton yang mungkin bernasib sama seperti Yuni, terbungkam dalam keindahan patriarki.
Ungu dan Puisi Sapardi Djoko Darmono
Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu ~ Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Darmono)
Ada dua hal yang sangat menonjol sepanjang saya menonton film YUNI.
Pertama ialah warna ungu yang sangat disukai oleh Yuni sampai menghiasi seluruh benda-benda miliknya mulai dari ikat rambut, casing HP, tas, sepeda motor, pakaian dalam hingga deterjen. Kalau di Indonesia warna itu identik dengan status janda yang melambangkan pengorbanan dan kematian, dunia internasional memandang warna ungu sebagai simbol kesetaraan terhadap perempuan.
Adalah Serikat Sosial dan Politik Perempuan di Inggris yang pada tahun 1908 memilih warna ungu sebagai perwakilan atas keadilan dan martabat. Bahkan kalau kalian jeli, Hari Perempuan Internasional juga menggunakan warna ungu yang semakin memperkuat makna kenapa Kamila memilihkan warna ini sebagai favorit Yuni.
Lalu kedua keindahan puisi-puisi Sapardi Djoko Darmono.
Tidak hanya hadir sebagai tempelan, karya sang mendiang justru hadir sebagai denyut nadi YUNIdan menggerakkan ceritanya. Seperti kata Kamila dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia bahwa puisi merupakan cara Yuni melarikan diri ke ‘dunianya sendiri’maka itulah yang terlihat dalam filmnya.
Kalian tentu tahu bahwa Hujan Bulan Juni adalah mengenai sesuatu yang hadir tidak sesuai waktu. Tentang hujan yang mengkhianati musim panas. Sama seperti Yuni, anak remaja yang dituntut ‘terjatuh’ ke dunia orang dewasa yang sebetulnya belum tepat dia jalani. Tak heran kalau puisi ini hadir dalam klimaks filmnya.
Sementara itu tiga puisi lain seperti Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, Aku Ingin dan Yang Fana adalah Waktu juga tak gagal meletakkan diri dalam porsi yang tepat.
| puisi Sapardi Djoko Darmono |
Bagaimana Yuni mencari eksistensi dirinya lewat Yang Fana adalah Waktu, sampai betapa polos dan tulus rasa ketertarikan Yoga terurai lewat Aku Ingin., Kamila benar-benar memberikan penghormatan dan keadilan atas karya pujangga besar itu. Persis seperti apa yang Ayahnya, Garin Nugroho, lakukan lewat CINTA DALAM SEPOTONG ROTI (1991).
Kalau kalian menggila lewat syair yang dilontarkan Nicholas Saputra sebagai Rangga atau Gie, deklamasi bait demi bait puisi Sapardi di YUNI tak akan gagal membuat kalian terpikat pula.
Hingga akhirnya semua hal-hal indah itupun membungkus YUNI sebagai salah satu film terpenting dan terbaik negeri ini. YUNIadalah sebuah kegetiran yang menjadi kenyataan bagi mayoritas perempuan negeri ini. Patriarki jelas masih jadi rantai yang sulit diputuskan. Memperkuat fakta bahwa menjadi perempuan memang tak pernah mudah di dunia ini.
Film ini menyindir telak bagaimana perempuan harus bersikap, sesederhana tak boleh berdiri di depan pintu rumah karena sulit jodoh. Bahkan saat jodoh yang diharapkan itu tiba, belum tentu semua bahagia karena bisa saja seperti Tika yang ditinggalkan suami atau Suci yang menjadi korban KDRT hanya karena tak bisa mengandung, akibat rahim terlalu muda.
| Karena diam bukanlah jalan yang dipilih Yuni |
Bahkan sejak film bergulir, perempuan seolah sudah diletakkan dalam posisi pelik di mana keperawanan adalah satu-satunya bukti harga mereka. Memperkuat pendapat tanpa tedheng aling-aling jika urusan pernikahan, laki-laki menjadi pemegang kuasa absolute.
Padahal perempuan seharusnya berhak untuk merdeka dan memilih.
Karena sejauh dan segila apapun langkah mereka, perempuan akan tetap menjadi perempuan. Makhluk fana yang bekerja dengan sembilan perasaan dan satu logika.
Sama halnya seperti Asih yang memilih bertahan meskipun bukan sebagai anak yang didambakan sang Ibu. Tentu Asih jauh lebih beruntung daripada Sarah yang bahkan tak punya kuasa selain menerima pernikahan terpaksa.
Karena memang satu-satunya hal yang paling menyedihkan di dunia adalah hilangnya hak untuk bersuara.
Jadi, beruntunglah kita perempuan yang masih boleh memiliki harapan yang selalu dilangitkan setiap hari, mempunyai mimpi yang boleh dikejar sejauh mungkin dengan keluarga dan sahabat yang akan selalu ada di belakang memberi semangat.
Tuhan tahu, kita terlahir luar biasa istimewa.