Review ‘SPIDER-MAN: NO WAY HOME (2021)’: Nostalgia Terindah Fans Spidey

Review Spider-man

Banyak orang berpikir bahwa bioskop itu hanyalah sebuah tempat untuk menonton, mengisi waktu atau mungkin bermesraan dengan kekasih. Tapi bagi saya, bioskop adalah salah satu kotak kebahagiaan. Melihat adegan demi adegan dipancarkan lewat pita film seluloid (ya, ini jadul saya tahu), adalah cara saya menemukan kepuasan.

Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa saya begitu terbawa perasaan saat menonton film, sehingga jauh lebih nyaman saat harus menonton bioskop sendirian.

Karena hey, kalian serius merasa kesepian dengan layar besar dan suara yang memenuhi gendang telinga itu? Bukankah dengan orang-orang asing di dalam sebuah studio, kalian tetap bisa merasakan gempita yang luar biasa?

Mulai dari franchise HARRY POTTER, STAR WARS, ADA APA DENGAN CINTA bahkan sampai superhero MCU (Marvel Cinematic Universe), bioskop membuktikan kalau dia adalah tempat paling tepat untuk menggelorakan perasaan yang sama. Kalian bisa tertawa, terkejut, ketakutan sampai menangis lewat adegan demi adegan yang diproyeksikan di layar besar itu.

Namun sayang semua berubah saat pandemi Covid-19. Industri bioskop dan perfilman seolah mati suridengan badai corona yang entah kapan berakhir itu.

Bukankah ada layanan streaming?

Benar. Tapi percayalah, se-HD apapun tayangan di layanan streaming (you named it), tak ada yang sanggup mengalahkan suasana menonton di bioskop.

Hingga akhirnya kerinduan atas cinematic experience itu kembali lagi pada 15 Desember 2021 ini. Ini memang bukanlah kehadiran saya ke bioskop untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19. Namun saya tak bisa menolak fakta bahwa perilisan SPIDER-MAN: NO WAY HOME seolah mengembalikan denyut dan napas bioskop. Menyadarkan bahwa ternyata saya dan jutaan orang lainnya, serindu itu dengan bioskop.

SINOPSIS ‘SPIDER-MAN: NO WAY HOME’

PERINGATAN: KONTEN INI MEMUAT SPOILER!!

NO WAY HOME langsung dibuka dengan kelanjutan adegan akhir SPIDER-MAN: FAR FROM HOME (2019) saat Mysterio (Jake Gyllenhaal) mengungkap identitas Peter Parker (Tom Holland) sebagai manusia laba-laba. Tak butuh waktu lama, seluruh dunia pun heboh dengan sosok Parker termasuk jurnalis sekaligus pemimpin The Daily Bugle yang menyebalkan, J. Jonah Jameson (J.K. Simmons).

Tak terbongkarnya kejahatan Mysterio membuat banyak orang mengolok dan menolak kehadiran Spiderman. Peter sampai harus berurusan dengan badan intelijen dan membuatnya, sang kekasih Michelle Jones-Watson alias MJ (Zendaya) dan sahabatnya, Ned Leeds (Jacob Batalon) tidak diterima oleh MIT (Massachusetts Intitute of Technology).

Strange merapalkan mantra agar dunia melupakan Parker
Strange merapalkan mantra agar dunia melupakan Parker

Merasa bersalah, Peter pun menemui Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) dan memintanya merapal mantra agar orang-orang lupa bahwa dirinya adalah Spiderman. Namun mantra itu gagal karena permintaan Peter yang terlalu banyak, sehingga pintu gerbang antar semesta terbuka dan mengundang musuh-musuh Spiderman dari universe lain.

You’re flying out into the darkness to fight ghosts ~ Otto Octavius

Dalam usahanya menemui perwakilan MIT supaya MJ dan Ned bisa dipertimbangkan diterima, Peter bertemu dengan dua musuh terbesarnya dari semesta berbeda. Kedua super villain itu adalah Otto Octavius (Alfred Molina) alias Doctor Octopus dan Norman Osborn (Willem Dafoe) sang Green Goblin.

Spiderman lari dari kejaran Doc Ock
Spiderman lari dari kejaran Doc Ock

Tak hanya mereka berdua, Strange rupanya sudah menangkap Lizard (Rhys Ifans) terlebih dulu. Menyalahkan Peter, Strange pun memintanya mengumpulkan tamu-tamu tak diundang dari dimensi lain itu, sebelum akhirnya dikembalikan ke dunianya agar multiverse tak terganggu. Lewat usahanya bersama MJ dan Ned, Peter pun berhasil menangkap Electro atau Max Dillon (Jamie Foxx) dan Sandman (Thomas Haden Church).

Namun saat Strange hendak mengembalikan musuh-musuh Spiderman agar menghadapi takdir tewas di semesta mereka masing-masing, Peter menolaknya. Peter dan Strange bahkan sempat bertarung di Dimensi Cermin dan berhasil menjebak sang Sorcerer Supreme. Peter rupanya ingin menyembuhkan para super villain itu, supaya bisa mengubah takdir kematian mereka.

Peter, Ned dan MJ mencari keberadaan musuh dari universe lain
Peter, Ned dan MJ mencari keberadaan musuh dari universe lain

Hanya saja rencana Peter tidak berakhir dengan mulus. Tipu daya Green Goblin membuat kehancuran di gedung apartemen Happy Hogan (Jon Favreau). Electro bahkan berhasil mencuri energi murni peninggalan mendiang Tony Stark (Robert Downey Jr). Pertarungan mati-matian Peter melawan Green Goblin harus dibayar dengan mahal yakni kematian sang bibi, May Parker (Marisa Tomei). 

With great power comes great responsibility ~ Ben Parker/May Parker

Menyalahkan dirinya sendiri dan keputusan polos ingin menyembuhkan musuh Spiderman, Peter jatuh ke jurang kepiluan. MJ dan Ned pun berupaya menemani Peter yang terpuruk, tetapi Ned yang memegang cincin portal milik Strange ternyata mengundang tamu lain lagi. Dua orang tamu yang menggemparkan MCU itu adalah Spiderman yang berasal dari dua semesta terdahulu yakni versi Tobey Maguire dan Andrew Garfield.

Seperti layaknya kakak laki-laki yang menyadari adik kecil mereka tengah terpuruk, Peter Two (Maguire) dan Peter Three (Garfield) pun membantu Peter One (Holland) untuk bangkit. Ketiga Spiderman yang sama-sama menanggung luka dari semesta mereka masing-masing itupun bersatu untuk mengembalikan multiverse ke jalurnya.

musuh Spiderman
Electro, Sandman dan Lizard melawan tiga Spiderman

Pertarungan pamungkas trio Spiderman dari generasi berbeda ini terjadi di Patung Liberty. Satu persatu para musuh ‘disembuhkan’ lewat obat yang sudah mereka bertiga buat di laboratorium sebelumnya. Namun Green Goblin yang licik membuat kekacauan dan menjatuhkan MJ, sebelum akhirnya Peter Three yang dihantui kematian Gwen Stacy(Emma Stone)  menyelamatkannya.

Dipenuhi dengan dendam dan amarah luar biasa, Peter One hampir saja membunuh Goblin sebelum akhirnya Peter Two menghalanginya. Namun lagi-lagi Goblin yang licik tega menusuk perut Peter Two dengan pisau. Untung tidak luka parah, di saat itu Peter Three langsung melempar obat penawar pada Peter One dan jiwa Goblin dalam diri Osborn pun musnah.

It’s their fate. You can’t change that anymore than you can change who they are ~ Stephen Strange

Mengetahui kalau semua kekacauan ini adalah ulahnya, Peter One pun meminta Strange merapal mantra terakhir yakni supaya semua orang melupakan dirinya. Perlahan para musuh dan kedua Spiderman itupun kembali ke semestanya. Namun bersamaan dengan itu,tak ada satupun orang di dunia yang akhirnya mengingat Peter Parker, meskipun sosok Spiderman itu eksis.

Review SPIDER-MAN: NO WAY HOME’ Versi Saya

Stephen Strange mengamati Spiderman
PERINGATAN: KONTEN INI MEMUAT SPOILER!!

Berjalan sepanjang 148 menit, NO WAY HOME bisa dibilang memenuhi hampir seluruh ekspektasi saya.

Sejak dulu hingga saat ini, saya selalu merasa bahwa film Spiderman terbaik adalah SPIDER-MAN 2 (2004) baik dari segi pemilihan villain, adegan pertarungan, alur cerita sampai pengembangan karakter Peter Parker dan orang-orang di dalamnya. Meskipun memang sosok Spidey favorit saya adalah Garfield, tak ada yang bisa menolak betapa kerennya SPIDER-MAN 2.

Dan ketika SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE (2018) rilis, saya pikir tak akan ada lagi film Spidey yang bisa menyaingi kedua karya ini. Namun ketika NO WAY HOME dirilis, pemikiran itupun terpental.

Tak ada lagi sosok Parker yang terlalu menempel pada Avengers dan begitu cerewet sepanjang waktu.

Tak ada lagi sosok remaja laki-laki yang ingin jadi superhero.

Tak ada lagi aksi laga fantasi penuh CGI yang dijejalkan kepada penonton.

Peter dan Ned kembali sekolah setelah kematian Mysterio
Peter dan Ned kembali sekolah setelah kematian Mysterio

Parker yang kita lihat di NO WAY HOME adalah anak lulusan SMA yang akhirnya dihadapkan pada betapa mengerikannya pendewasaan itu. Betapa seluruh keputusannya bukanlah tentang dia lagi, tapi tentang sesuatu yang lebih luas dan liar. Betapa dirinya sadar bahwa kekuatan besar yang dia miliki, harus diikuti dengan tanggung jawab yang besar.

Kita sudah melihat betapa Spiderman era Sam Raimi begitu terpuruk karena kematian Ben Parker (Cliff Robertson) dan Harry Osborn (James Franco), sampai mengalami krisis identitas karena harus hidup dalam dua identitas berbeda. Lalu juga betapa Spiderman era Marc Webb yang harus dihadapkan pada tiga kematian langsung yakni Ben Parker (Martin Sheen), George Stacy (Denis Leary) dan Gwen sampai membuatnya sulit memaafkan dirinya sendiri.

Dibandingkan kedua Spiderman terdahulu, Parker era MCU bisa dibilang ‘tidak terlalu menderita’.

Benar dia memang sempat dihilangkan oleh Thanos (Josh Brolin) dan ditinggal Tony Stark, tapi selebihnya? Parker di semesta MCU masih didukung oleh berbagai peralatan canggih Avengers.

Namun di NO WAY HOME, Parker mengalami penderitaan terbesarnya.

Peter dan MJ lari dari kejaran jurnalis helikopter
Peter dan MJ lari dari kejaran jurnalis helikopter

Sutradara Jon Watts mencoba mengajak penonton bersimpati pada sosok remaja yang baru keluar SMA dan akhirnya membuat keputusan yang berdampak fatal. Kita semua mungkin pernah ada di posisi Peter Parker. Kesombongan masa muda sering membuat kita tak mendengar apa kata orang-orang yang lebih dewasa. 

Dan akhirnya ketika semua berdampak fatal, apa yang bisa kita lakukan selain hanya terpuruk lalu menanti uluran tangan orang lain?

If you expect disappointment, then you can never really be disappointed ~ Michelle-Jones (MJ) Watson

Memang, ada yang bilang bahwa pendewasaan Parker di NO WAY HOME tidaklah terlihat sempurna karena justru tertutup para pemeran dari film-film Spiderman terdahulu. Terutama pada para scene stealer yang begitu membuat bioskop (termasuk saya) histeris yakni hadirnya Garfield, Maguire serta betapa cemerlang dan menakutnya Dafoe sebagai Green Goblin.

But IMHO, porsi pendewasaan ini sudah tepat. Semenjak menonton SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017), saya selalu merasa Holland terlalu muda menjadi Spiderman. Namun seiring trilogi ini berjalan dan penampilannya di dua installment pamungkas AVENGERS, saya baru sadar kalau pemuda ini juga sudah bertumbuh baik secara fisik, suara dan tentunya kemampuan akting.

Saya yakin, pendewasaan itu hanyalah masalah waktu. Meninggalkan Parker sebagai Spiderman yang tak diingat siapapun adalah keputusan yang tepat. MCU menyelamatkan semesta sang manusia laba-laba, sekaligus memberikan jeda agar Holland berpamitan dengan ‘masa mudanya’ itu.

Tak heran kalau NO WAY HOME bagi saya, menempel ketat kesan SPIDER-MAN 2 serta INTO THE SPIDER-VERSE.

The part of the problem is not Mysterio. It’s you, trying to live two different lives. The longer you do that, the more dangerous it becomes ~ Stephen Strange

Nostalgia, Kado Terindah Bagi Fans

ilustrasi tiga Spiderman dari tiga semesta berbeda

PERINGATAN: KONTEN INI MEMUAT SPOILER!!

Ada yang bilang bahwa jika kalian ingin sukses dan kaya raya, berikan semua yang diinginkan oleh para penggemar.

Ungkapan itu sepertinya dipegang betul oleh para petinggi MCU termasuk sang bos besar, Kevin Feige.

Menutup rapat-rapat mulut para aktor mereka termasuk pemeran utama, MCU berhasil memberikan kado yang terindah bagi fans lewat NO WAY HOME. Tak lain karena hadirnya dua Spiderman terdahulu, Maguire dan Garfield. Cukup menarik karena sejak produksi NO WAY HOME, kedua aktor itu begitu menolak dengan lantang keterlibatan mereka dalam semesta MCU.

Garfield bahkan harus rela dihantui pertanyaan apakah dia akan kembali menjadi Peter Parker dalam setiap wawancaranya sepanjang tahun, sampai membuatnya terlihat frustasi dan akhirnya membuat fans yakin kalau memang mereka berdua tidak muncul.

tiga spiderman dari tiga generasi
tiga spiderman dari tiga generasi

Kalau kalian termasuk orang yang tumbuh besar dengan film-film superhero terutama Spiderman, kehadiran Maguire dan Garfield dalam dunia MCU ini sangatlah menggetarkan hati.

Bahkan menurut saya, momen saat Peter Two dan Doc Ock berjumpa, kalimat yang mereka ucapkan seperti seolah menyapa kita semua, para penonton yang dulu masih begitu kecil dan kini kembali sebagai orang dewasa. 17 tahun berselang sejak SPIDER-MAN 2 rilis, melihat Maguire dan Molina bertemu kembali, melakukan adegan dan dialog yang sama, menjadi sebuah nostalgia yang sulit menahan rasa haru di dada.

Peter? Nice good to see you, dear boy. You're all grown up. How are you? ~ Otto Octavius

Saya masih ingat saat kecil dulu, menonton Maguire sebagai Spiderman di Bioskop Trans TV. Membayangkan kalau pria itu benar-benar bisa berayun di gedung-gedung tinggi, membuat saya sadar kalau sebetulnya sosok superhero pertama yang saya kenal adalah Spiderman, bukanlah Superman, Batman atau bahkan Iron Man.

Namun saya baru benar-benar memperhatikan Spiderman justru lewat dua installmentTHE AMAZING SPIDER-MAN pada tahun 2012 dan 2014.

Saya bahkan benar-benar tak terima ketika Sony tidak melanjutkan film itu dan membiarkan Parker dalam bayangan saya, selamanya tak akan bisa memaafkan dirinya berkat kematian Gwen yang begitu sadis itu.

Tetapi lewat NO WAY HOME, Marvel benar-benar menunjukkan belas kasih dan keadilannya bagi Parker versi Garfield.

detik-detik kematian Gwen Stacy
detik-detik kematian Gwen Stacy di THE AMAZING SPIDER-MAN 2

Saya tak bisa menahan emosi ketika Parker meloncat begitu saja saat MJ terjatuh di langit berkat ulah Goblin. Dalam beberapa detik, saya langsung teringat adegan kematian Gwen dan ikut histeris kala dia berhasil menggapai tubuh MJ dan menyelamatkannya.

Bagi saya, luapan emosi Garfield ketika melihat MJ baik-baik saja di pelukannya seolah mengangkat beban tujuh tahun lalu saat dirinya tak berhasil menyelamatkan Gwen, ketika bertarung dengan sahabatnya Harry (Dane DeHann) sang Green Goblin itu.

I lost Gwen, my... She was my MJ ~ Peter Parker

Hasilnya, saya begitu senang karena MCU membuat sosok Peter Three sebagai Parker yang begitu ceria, konyol, serba ingin tahu dan bahagia. Karena kita semua tahu betul, Webb beserta para penulis skenaronya begitu kejam memberikan takdir kepada Parker versi Garfield itu.

Sementara untuk Maguire, rasa-rasanya pujian bahwa dia adalah Spiderman sekaligus Peter Parker terbaik banyak orangadalah jawaban kenapa saya tak perlu menjelaskan lebih jauh.

Saya hanya ingin berterima kasih karena penulis skenario Chris McKenna dan Erik Sommers karena sudah memberikan beberapa dialog di film terdahulu untuk diucapkan lagi pada NO WAY HOME.

Dafoe sebagai Green Goblin di 'NO WAY HOME'
Dafoe sebagai Green Goblin di 'NO WAY HOME'

Mulai dari Osborn yang menyebutkan dirinya adalah seorang ilmuwan, sampai bagaimana Peter Two memberikan jawaban yang sama kepada Octavius saat ditanyakan kabarnya, lengkap dengan iringan musik sentimentil itu.

Saya benar-benar merasakan sebuah nostalgia yang gila-gilaan saat menonton NO WAY HOME

Sebuah perasaan bahagia, membawa saya seperti layaknya bocah yang pertama kali menonton film Hollywood. Pengalaman yang bahkan tak bisa diperoleh ketika AVENGERS: END GAME (2019) rilis. Kini saya akan menunggu dengan tenang dengan berbagai teori gila bahwa Sony akan melanjutkan THE AMAZING SPIDER-MAN. Akankah ada kesempatan melihat Garfield bertarung dengan para Sinister Six secara Venom (Tom Hardy) dan Morbius (Jared Letto) sudah hadir?

Percayalah, harapan itu pasti ada.

Karena MCU sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah penggerak utama industri perfilman dunia. Menggunakan bahan bakar nostalgia, NO WAY HOME seolah jadi antidote atas kondisi dunia yang makin tak menentu dan kerinduan banyak orang akan sebuah wahana hiburan berselimut cinematic experience.

Dengan penghasilan menembus US$260 juta, NO WAY HOME yang dirilis di masa pandemi bahkan sudah mengalahkan raihan AVENGERS: INFINITY WAR (2018) di pekan pertamanya. Sebuah pencapaian gila yang mungkin tidak disangka oleh para petinggi Marvel.

Rasa-rasanya kini hanya tinggal menanti waktu sampai akhirnya NO WAY HOMEmampu mencatat raihan satu miliar dolar AS, dan menahbiskan Spiderman sebagai superhero favorit dari generasi ke generasi.

Sekali lagi, terimakasih MCU untuk kado akhir tahunnya.

Terima kasih membuat anak kecil dalam diri saya kembali bahagia. 

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin