Dibandingkan sekolah dalam waktu yang begitu panjang, saya mulai mengenali diri saya yang menganut prinsip apapun ilmunya, belajar gak ribet itu keharusan.
Hingga akhirnya masa sekolah menengah, saya tahu bahwa menjadi seorang seniman tepatnya di bidang film adalah keinginan. Asa saya begitu tinggi ingin menjadi penulis naskah alias scriptwriter. Namun seperti kata banyak orang, kadang kenyataan tak seindah harapan, lagi-lagi mimpi itu harus tertunda hingga saat ini.
Dan saat memasuki usia dewasa, saya mulai berdamai dengan keinginan-keinginan di masa muda itu.
Lalu kemudian pandemi Covid-19 meluluh-lantahkan banyak sektor kehidupan.
Namun jika banyak orang yang menyumpah serapah wabah corona, saya justru menemukan dunia yang membuat saya datang ke tempat-tempat luar biasa.
Sebuah dunia yang saya sebut kepenulisan.
Blogger Traveller yang Jadi Fokus Baru
Menulis sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan saya. Lima tahun bekerja sebagai penulis sekaligus editor di KapanLagi.com, membuat saya memiliki skill kepenulisan dan terbiasa merangkai ratusan kata setiap harinya. Setelah lepas dari one of the biggest entertainment site in Indonesia itu saya pernah putar haluan ingin fokus sebagai pengusaha kuliner.
Namun kehidupan yang ternyata berputar ke tempat berbeda, membuat saya yakin bahwa menjadi pebisnis bukanlah hal yang saya inginkan. Perkara ambisi untuk upskilling dan reskilling diri lewat dunia kuliner ternyata bukanlah jalan hidup saya.
Saya akhirnya kembali lagi ke dunia yang pernah begitu membesarkan diri saya.
Kepenulisan.
Ya, saya kembali lagi menjadi penulis tepat ketika pandemi Covid-19 mulai masuk di negeri ini pada tahun 2020. Hanya saja kali ini saya tidak bekerja di perusahaan besar, melainkan menjadi seorang blogger. Berkat sahabat saya, saya pun mulai membeli domaindan mengelola blog pribadi, sesuatu yang sebetulnya sudah saya tahu sejak lama, tapi sama sekali tak pernah saya sentuh.
Menjadi seorang blogger tentu berbeda saat menjadi karyawan di situs entertainment.
Saya harus menulis dan mencari sendiri para pembaca. Jika dulu saya mampu menghasilkan 10 juta pageview dalam satu bulan berkat ‘fundamental’ perusahaan yang baik, bersama heyarai.com, saya benar-benar seperti mantan koki restoran Michelin sukses di ibukota dan akhirnya memulai usaha lalapan pinggir jalan di sebuah desa kaki gunung yang jauh dari pusat keramaian. Inilah fase upskilling dan reskilling yang sama sekali tak pernah saya bayangkan akan melakukannya seorang diri.
Sulit.
Apakah saya mampu?
Apakah saya masih bisa menulis?
Apakah tulisan-tulisan saya masih bisa menarik perhatian orang?
Beruntung, semua terjawab sesuai harapan.
Juara III dalam lomba Golongan Hutan pada awal 2021 ini adalah bukti yang ditunjukkan oleh Tuhan bahwa kemampuan saya dalam menulis tidaklah karatan.
Lalu kemudian berlanjut sebagai salah satu dari 35 finalis Bank IndonesiaDigital Content Competition 2020. Dan yang paling membuat saya luar biasa bangga sekaligus terkejut adalah masuk sebagai 15 finalis Anugerah PewartaAstra 2020.
Untuk event yang terakhir, bisa dibilang itu merupakan impian masa lalu.
Ya, dulu ketika masih jadi pegawai situs gosip, saya pernah melempar asa untuk menjadi salah satu finalis ajang bergengsi tersebut. Bagi saya, Anugerah Pewarta Astra seperti bentuk pengejawantahan seseorang mampu menghasilkan karya tulisan feature yang mampu memberikan inspirasi sekaligus menggetarkan hati.
Saat itu saya sadar bahwa menulis memang hal yang sangat saya sukai.
Sebagai blogger, saya bisa bebas menulis apapun sesuai kata hati dan pikiran.
Namun saya masih cukup gamang, menulis seperti apakah yang saya inginkan?
Soal film? Soal kucing? Soal makanan? Soal hal-hal viral?
Atau soal traveling?
Dan jawabannya ada pada pilihan terakhir.
Sama seperti menonton film, travelingadalah delusi-delusi masa muda yang terpaksa dimatikan karena kehidupan dewasa. Namun keberhasilan saya menjadi juara I dalam lomba yang digelar Blogger Perempuan Network bertajuk #IndonesiaBikinBangga pada bulan Agustus 2021, seolah menjadi titik balik kalau Tuhan mengizinkan saya menjelajah Zamrud Khatulistiwa-nya.
Seperti celetukan saya saat masih remaja dulu yang ingin liburan gratis, itulah yang saya dapatkan. Lewat tulisan di blog, saya pun akhirnya terbang ke Toraja Utara, Sulawesi Selatan dan Mandalika-Lombok, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2021 ini.
Dua tempat yang pernah saya dambakan ingin datangi, tapi sengaja saya lupakan.
Dengan berbagai pencapaian yang saya dapat hanya dalam waktu satu tahun saja, saya akhirnya benar-benar yakin bahwa menulis memang adalah jalan yang sudah dipilihan Tuhan untuk saya. Lebih detail lagi, Tuhan sepertinya ingin saya menjelajah tempat-tempat luar biasa di negeri ini dan menuliskannya dalam rangkaian aksara yang cantik.
Kenapa Harus Jadi Traveler Content Creator?
| berkunjung ke Toraja Utara |
Dalam perjalanan saya ke Mandalika-Lombok di awal Desember 2021 kemarin, saya menghadiri International Conference Mandalika, Infinity Experiences of Nature and Sport Tourism yang digelar oleh Kemenparekraf RI dan Kompas. Saat itu saya sadar bahwa banyak pelaku wisata saat ini memang benar-benar strugglekarena pandemi Covid-19.
Demi menghidupkan kembali denyut wisata di Indonesia, memang diperlukan upaya oleh banyak pihak termasuk dari kalangan content creator.
Ya, content creator saat ini memang menjadi profesi menjanjikan bagi banyak orang, terutama milenial dan gen Z.
Siapapun bisa jadi content creatorbaik sebagai blogger, YouTuber, TikTokeratau bahkan influencer Instagram.
Hanya saja, saat ini Indonesia sedang membutuhkan traveler content creator. Terbentang seluas lebih dari 1,9 juta kilometer persegi, mempunyai lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar di sekitar 17 ribu pulau, negeri ini terlalu indah jika tidak disebarkan ke seluruh penjuru Bumi. Melalui upaya para traveler content creator, Indonesia jelas akan jauh lebih dikenal dan dicintai.
| berada di dalam Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat |
Hanya saja sebagai traveler content creator, cara meningkatkan personal brandingjelas wajib dilakukan. Karena memang konten yang dihasilkan bukan hanya sekadar tempat-tempat wisata yang indah, tapi juga makanan-makanan lezat serta bagaimana merangkainya menjadi cerita menggetarkan hati yang mampu membuat siapapun ingin segera berkemas dan menjelajah Indonesia.
Benar, Tuhan memang sedang bahagia saat menciptakan Nusantara.
Dengan fakta bahwa internet kini hampir sama pentingnya bagi manusia setelah makanan, entitas ini memang harus dimanfaatkan betul untuk kebutuhan wisata Indonesia. Di tangan-tangan traveler content creator yang memang menghasilkan karya secara online itulah, Ibu Pertiwi punya pesan agar pesonanya mampu diserbarluaskan.
Berbeda dengan saat saya bekerja sebagai pekerja website entertainment yang banyak bercerita soal seluk-beluk selebritis dan isu viral global, menjadi bloggerdengan niche traveling tentu jauh lebih kompleks. Saya harus memiliki kemampuan memotret tempat wisata atau kuliner lezat yang tak hanya eyegasm, tapi juga bellygasm. Namun seindah-indahnya visual foto atau video yang saya miliki, tentu semua akan sia-sia jika saya tak bersedia meningkatkan kemampuan merangkai kata menarik sehingga branding diri dapat terbentuk.
| teknik food photography membuat makanan makin lezat |
Dengan banyaknya waktu yang sudah terbuang sia-sia, di manakah lagi saya bisa memperoleh cara meningkatkan personal branding tersebut?
Beruntung, saya akhirnya mengenal QuBisa yang membuktikan bahwa belajar gak ribet itu memang bisa diwujudkan.
Cara Belajar Efektif Soal Content Traveler di QuBisa
| pengalaman pakai aplikasi belajar online, QuBisa |
Pandemi Covid-19 memang adalah sebuah momen yang membuat banyak orang menyumpah serapah. Namun di lain sisi, wabah corona justru turut berperan sebagai akselerator teknologi. Kewajiban pembatasan sosial menjadikan sekolah-sekolah berubah menjadi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan pekerjaan kantoran jadi WFH (Work From Home).
Dalam momen ini pula, nama QuBisa pun muncul sebagai aplikasi belajar online bagi semua pihak.
Ya, tak hanya mereka yang masih sekolah atau kuliah, QuBisa juga bisa jadi pilihan kalangan profesional hingga masyarakat umum dalam memperoleh skill-skill baru yang berkaitan dengan dunia internet. Termasuk saya yang juga menambah kualifikasi sebagai traveler content creator pemula lewat aplikasi belajar online karya anak bangsa ini.
Hanya bermodalkan laptop atau smartphoneyang sudah terpasang aplikasi QuBisa, saya memilih materi-materi yang memang mampu meningkatkan kemampuan sebagai traveler content creator. Seperti bagaimana memotret foto kuliner yang tepat, membangun branding image sebagai traveler blogger yang berpengaruh hingga menyunting materi-materi media jadi video yang menarik untuk dilihat banyak orang.
| belajar gak ribet dengan webinar fotografi bareng Dian Mayori |
Bahkan pada hari Rabu (1/12) malam ini, di sela-sela perjalanan saya di Mandalika-Lombok, saya menyempatkan diri untuk mengikuti webinar Ini Dia Rahasia Food Photography yang Kece bersama Dian Mayori. Selama 1,5 jam, saya bersama ratusan peserta lain belajar bagaimana foto bisa mengubah makanan yang sederhana menjadi luar biasa. Sebuah ilmu yang tentunya bakal sangat membantu kebutuhan saya sebagai traveler content creator.
Mentor Dian memang salah satu yang jadi favorit saya, termasuk bagaimana saya belajar banyak cara membuat foto yang baik lewat kelas kursusnya yang bertajuk Teknik Dasar Fotografi untuk Hasilkan Foto Like Pro. Karena bagaimanapun juga, sebagai manusia penganut auto focus dan asal jepret, saya harus meningkatkan kemampuan memotret sebagai seorang traveler content creator.
Jika kelas fotografi itu mengharuskan saya membayar harga kursus sebesar Rp75 ribu (sudah diskon 25%), ada banyak lagi kursus online gratis di QuBisa yang dapat kamu ikuti.
| meningkatkan kemampuan edit video bareng Su Rahman |
Salah satu kursus online gratisyang saya sukai adalah milik Su Rahman, seorang Web Master, SEO Expert sekaligus content creator. Materinya mengenai Tutorial Movavi Video Editor untuk Konten Kreator Pemula adalah salah satu yang jelas dibutuhkan oleh traveler content creator, terutama jika kalian memang fokus menjadi seorang traveling vlogger.
Jujur, QuBisa yang menurut saya dulu hanyalah aplikasi siap kerja khusus hard skill, ternyata juga mampu memperkuat soft skill sampai upgrading skill, sehingga saya makin percaya diri membangun profesi ini.
Karena bagaimanapun juga soft skill adalah pendukung kualitas diri seseorang, terutama bagi mereka yang ingin terjun ke dunia pekerjaan profesional. Bersama QuBisa, peningkatan kemampuan diri lewat berbagai materi yang ditawarkan menjadikannya lebih dari sekadar aplikasi siap kerja biasa.
Tertarik juga memperoleh ilmu baru seperti saya? Tenang, kalian juga bisa kok mendapatkannya secara gratis hanya lewat QuBisa. Unduh saja langsung aplikasi sejutar umat ini hanya di App Storeatau Play Store sekarang juga.
Apalagi saat ini QuBisa tengah menggelar program Kompetisi Blog bertajuk Memulai Karir Lebih Percaya Diri bersama Aplikasi Siap Kerja QuBisa pada periode 20 September – 10 Desember 2021. Ajang ini semakin memperkuat diri QuBisa sebagai platform belajar online yang menemani rakyat Indonesia mewujudkan mimpi-mimpi mereka hanya lewat layar smartphone.
Memang tak ada yang tahu masa depan, pun bagaimana jalan hidup saya di 2022 nanti setelah di penghujung 2021 ini memutuskan jadi seorang traveler content creator. Hanya saja seolah ingin memberikan keadilan pada diri saya yang pernah begitu terpuruk dan merasa benar-benar tak berdaya, ini adalah profesi yang ingin saya kejar.
Saya tahu mungkin ada banyak waktu-waktu dalam hidup yang terbuang sia-sia, termasuk bagaimana titik awal saya dimulai terlambat, tapi saya mencoba memberanikan diri untuk benar-benar mengejar keinginan itu kali ini. Saya memilih QuBisa sebagai solusi menemukan cara belajar efektif yang tepat karena memang bisa diakses di mana saja lewat smartphone kesayangan.
Apakah 2022 akan jadi lebih baik? Seharusnya demikian.
Karena saya tahu, Tuhan masih menyimpan tempat-tempat indah di negeri ini untuk saya datangi. Saya percaya, Tuhan selalu mendengarkan mimpi-mimpi kita, hanya saja Dia menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkannya.
Terimakasih QuBisa, terus jadilah saksi perjalanan saya mewujudkan impian itu.