Mata perempuan itu berbinar. Mengerjap menatap pemandangan yang tak pernah diduga akan dia temui lagi. Jantungnya terpompa begitu cepat, seiring dengan laju roda-roda burung besi yang siap mengepakkan sayap ke angkasa.
Dan ketika sensasi lepas landas itu kembali menjalari tubuhnya, senyuman di balik masker berwarna hijau itu melebar. Seolah berkhianat pada air mata yang meleleh pelan membasahi pipinya.
Dia kembali terbang.
Dia kembali bertemu dengan awan-awan putih yang bergumul di langit.
Benda langit yang paling dia sukai itu menyapanya penuh rindu. Sekali lagi tak percaya kalau akan kembali berjumpa setelah hampir lima tahun lalu ucapan selamat tinggal itu dirapalkan.
Bak ditampar oleh tangan Tuhan, perempuan itu sadar bahwa dia belumlah usai. Butuh waktu lama memang untuk membuatnya kembali berharap. Namun saat perjalanan-perjalanan luar biasa itu terpampang nyata di depannya, dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk mengejar ketertinggalan.
Dan perempuan itu, adalah aku.
Sihir-Sihir Sinematik dan Penyesalan Pertama
| menanti senja di Bukit Merese, Lombok |
Sebagai normalnya anak Indonesia, aku jelas menjawab dokter saat mendengar pertanyaan itu ketika masih duduk di bangku SD. Bukan karena aku takjub pada kepintaran mereka atau status bergengsi di masyarakat, profesi dokter tampak menarik bagiku karena jas-jas snelli putih itu.
Dalam pikiranku saat kecil, dokter adalah seorang penyihir. Jas-jas snelli putih itu seolah menyembunyikan tongkat-tongkat sihir yang dirapal dengan mantra, sehingga siapapun yang datang berkunjung akan langsung sembuh bahkan tanpa perlu diberi obat.
Namun sebetulnya jika bisa kembali ke masa lalu, ada hal yang jauh lebih menarik perhatianku daripada dokter, pilot, tentara, atau polisi.
Hal itu, adalah film.
Terbiasa menonton film-film kartun Disney saat masih TK dan SD seperti LION KING, ALADDIN, BEAUTY & THE BEAST, PETER PAN, CINDERELLA, LITTLE MERMAID, SNOW WHITE sampai MULAN, dunia film sudah menarikku sampai ke pinggir jurang imajinasi.
Seiring bertambahnya usia, pemahamanku soal film pun semakin luas. Aku beruntung karena memiliki orangtua yang juga suka nonton film, sehingga judul-judul film yang kutonton pun makin beragam bahkan untuk anak seusiaku kala itu. Dan hingga akhirnya saat aku memasuki bangku SMP, akupun mantap mengikuti teater.
Tiga tahun menggeluti teater hingga akhirnya mewakili Kota Malang di tingkat provinsi, aku akhirnya benar-benar tahu sesuatu yang sangat kuinginkan.
Aku ingin, jadi pekerja seni yang bisa bercerita melalui film.
Dan di saat memasuki bangku SMA banyak teman-teman mengikuti sejumlah les pelajaran, aku dengan keras kepalanya tidak membutuhkan hal itu.
Tujuanku hanya satu, lolos dan masuk sebagai mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta).
Bagiku, IKJ bukanlah sekadar perguruan tinggi. IKJ adalah kawah candradimuka, tempat di mana banyak sineas-sineas hebat negeri ini ditempa hingga rasanya ingin mati saja. Berangkat dari Malang dengan semangat menggebu, aku tahu bahwa sebagian diriku sudah berada di lorong-lorong kampus IKJ.
Seperti dugaanku, aku pun lolos sebagai calon mahasiswa baru.
Namun sayang, aku tak pernah sekalipun mengetahui bagaimana rasanya jadi mahasiswa IKJ.
Telepon dari orangtuaku di hari pendaftaran ulang bagi calon mahasiswa yang lolos tes masuk, seperti suara bertalu yang membangunkanku dari tidur panjang. Alasan bahwa anak-anak sekolah seni tampak liar dan terlalu bebas hanya terdengar seperti pepesan kosong, saat akhirnya aku tahu bertahun-tahun kemudian, bahwa perekonomian yang membuat mimpi kecilku itu terenggut.
Dan itulah penyesalan pertama yang telah kulakukan seumur hidupku.
Dunia Gelap Dipinterin
![]() |
| menikmati keindahan Pantai Pall, Likupang, Sulawesi Utara |
Di saat kekecewaan itu terlalu besar, takdir justru membawaku bergabung ke salah satu situs entertaimnent terbesar di negeri ini. Bertemu dengan orang-orang baru yang kala itu semuanya lebih tua dariku, aku mulai menikmati keseharian sebagai seorang penulis sekaligus jurnalis.
Bisa dibilang kalau pekerjaanku sebagai karyawan media online itu adalah yang membentuk kemampuan menulisku saat ini. Berada di tempat itu membuatku memilih untuk mengunci kotak kecil berisi mimpi jadi pekerja seni, dan membuang kuncinya di tempat sampah.
Hingga akhirnya tahun 2016 pun tiba.
Aku dengan segala kemapanan pekerjaanku, memilih keluar dari media onlinetersebut. Kubiarkan diriku melangkah jauh ke jalan yang benar-benar baru bagiku yakni berjualan kuliner.
Berhasilkah?
Tidak.
Bahkan aku justru terperosok jauh ke dalam lubang gelap yang tak pernah kuduga bakal terjadi dalam hidupku.
Aku divonis menderita depresi oleh psikiater di salah satu rumah sakit jiwa kotaku.
Duniaku yang begitu benderang pun berubah total menjadi kegelapan pekat yang sama sekali tidak tembus cahaya. Keberanianku seolah hilang karena hari demi hari kulalui dengan pernyataan yang sama, ‘aku adalah orang yang tidak berhak untuk bahagia’.
Jangan anggap aku update status sedih mencari perhatian di media sosial saat itu, atau bercerita dengan orangtua hingga sahabat dekatku. Aku justru benar-benar menarik diri dari kehidupan sosial selama 2017-2019 itu. Kubiarkan diriku cuma mendapat penghiburan lewat lamunan, sambil berusaha tetap memegang nyawa hari demi hari.
Bagiku, hukuman terbaik untukku adalah berhenti bermimpi.
Harapan, Kekuatan Terbesar Manusia
| menulis skenario saat menunggu boarding di Makassar |
Ada satu alasan kenapa aku begitu menyukai karakter Charles Xavier dalam semesta X-MEN. Bukan karena dia adalah salah satu mutan terkuat dengan kemampuannya membaca sekaligus mengendalikan pikiran orang lain, tapi karena Xavier justru mampu terlihat benar-benar hebat saat sisi kerapuhannya sebagai manusia terlihat.
Ya, Xavier dalam X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST (2014) tak ayal seperti manusia yang kehilangan arah. Dunianya berantakan saat satu-satunya kekuatan terbesar dalam dirinya, justru menjadi kelemahan terbesarnya. Kehilangan dan kekecewaan menghempaskan Xavier ke titik terendah sampai akhirnya orang yang memahami keterpurukannya hanyalah dia sendiri, sang Professor X.
Bukankah kita semua seperti itu?
Saat tak ada yang mengerti, penghakiman terbaik justru datang dari diri sendiri. Tinggal kita mau memilih maukah berubah atau justru nyaman tinggal di lubang tersembunyi yang akan melindungimu dari dunia luar.
Dan itulah yang kuambil di tahun 2020. Ketika banyak orang mulai mengeluh atas pandemi Covid-19, aku justru memberanikan diri mengikuti semburat cahaya yang berpendar sangat lemah dari lorong-lorong gelap kehidupanku.
Cahaya yang begitu tipis itu adalah kepenulisan.
Ya, aku kembali ke dunia yang sudah lama sekali kutinggalkan.
Aku mulai membeli domain heyarai.com dan menguji kemampuan menulisku, apakah masih bisa diharapkan atau tidak. Hingga akhirnya pada awal 2021, aku mendaftarkan diri pada kelas-kelas skenario. Sesuatu yang sudah sejak lama ingin kulakukan, tapi terlalu pengecut untuk kumulai.
Tak ada yang menduga bahwa heyarai.com dengan luar biasanya membawaku mencapai sesuatu yang sama sekali tak pernah kuduga, menjadi juara III dalam kompetisi blog tentang hutan. Bahkan aku pun berhasil menuliskan namaku sebagai finalis Anugerah Pewarta Astra, sebuah kompetisi jurnalisme bergengsi yang bahkan sudah sejak lama ingin kuikuti, saat aku masih menjadi karyawan media online dulu.
Hingga akhirnya perjalananku semakin bertambah seru saat tulisan-tulisanku sanggup menyabet juara pertama. Bahkan melalui kata demi kata yang kutuliskan, takdir membawaku pergi secara cuma-cuma ke Toraja dan Makassar di Sulawesi Selatan sana, Kuta-Mandallika di Lombok, hingga Manado-Likupang di Sulawesi Utara pada Maret 2022 ini.
Namun puncaknya bukanlah liburan gratis. Karena pada awal 2022 ini, namaku sudah tercatat sebagai penulis skenario dalam setidaknya empat judul miniseries milik Indonesia Sinema Persada. Dan jika memang Tuhan masih sangat mencintaiku, satu judul film panjang akan menjadi tujuan yang menyenangkan hingga paruh awal 2023 nanti.
Sungguh, berbagai pencapaian dalam waktu singkat yang sama sekali tak berani kuharapkan terjadi.
Raihan demi raihan yang tak pernah berani kuimpikan di hari-hari gelapku kala itu.
Menemukan A Vision of Brilliance Lewat ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)
Seperti seorang nelayan yang mengarahkan jukung menembus samudera berombak pasang, bisa dibilang itulah perjalanan yang kupilih saat ini. Aku tahu bahwa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang, sehingga langkahku harus lebih lebar untuk menggapai apa yang pernah kulepaskan bertahun-tahun lalu.
Dan demi mewujudkan asa baru itu, aku membutuhkan tandem yang sama-sama bisa memandang visi cemerlang yang sama yakni ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).
Bicara soal ASUS, sebetulnya brand ini bukanlah sesuatu yang asing. Karena sejatinya saat aku memutuskan untuk fokus menjalani hidup sebagai seorang blogger, laptop yang kubeli dari hadiah-hadiah lomba di tahun 2021 adalah ASUS BR1100CKA. Di usianya yang belum genap setahun, kami bahkan sudah bepergian ke berbagai tempat, dari hotel ke hotel dan menemani di malam-malam saat sel otakku beradu menulis skenario.
Hanya saja dengan target kehidupan yang jauh lebih tinggi, aku tentu berharap adanya upgrade untuk tandem perjalananku. Ada sejumlah alasan yang membuatku benar-benar jatuh hati pada Zenbook 14X OLED (UX5400).
Dinamis dengan Desain Ringkas dan Ringan
Hanya saja ketika aku sudah memutuskan diri menjadi penulis skenario, mau tak mau aku harus tetap membawa laptop untuk mengerjakan revisian saat rehat malam di hotel. Tentu laptop yang kubutuhkan tidak boleh terlalu berat nan tebal yang bakal merepotkan, sehingga Zenbook 14X OLED (UX5400) akan jadi piihan yang sangat tepat.
Dengan bodi setebal 16,9mm dan berat hanya 1,4kg, Zenbook 14X OLED (UX5400) tentu sangat mudah disimpan di ransel sehingga aku tetap bisa menulis beberapa adegan di sela-sela menanti boarding pesawat. Bahkan berkat teknologi NanoEdge Display, bezel layar Zenbook 14X OLED (UX5400) menjadi sangat tipis yakni 3mm yang membuatnya punya dimensi bodi sekelas laptop 13-inci, padahal ukuran asli layarnya 14-inci.
Layar Sentuh dan Makin Produktif Tanpa Mata Lelah
Teknologi layar ASUS OLED membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) mengantongi sertifikasi low blue-light dan anti-flickerdari TUV Rheinland. Artinya, layar laptop ini tak hanya aman dipakai dalam jangka waktu lama, tapi juga bikin nyaman lantaran tak membuat mata gampang lelah. Namun sejujurnya bukan itu saja yang membuat layar Zenbook 14X OLED (UX5400) ini sangat menarik.
Kamu harus tahu bahwa kualitas visual laptop ini benar-benar premium berkat tingkat akurasi warna yang sangat tinggi. Ditambah dengan fitur touchscreenalias layar sentuh, Zenbook 14X OLED (UX5400) bahkan punya mekanisme 180º ErgoLift Hinge, sehingga kamu bisa membuka layar dan bagian keyboard sampai sejajar 180º.
Si Ultraportable dengan ScreenPadTM 2.0
Sebagai laptop premium, Zenbook 14X OLED (UX5400) mempunyai fitur ScreenPadTM 2.0 sehingga layar kedua sekaligus touchpad-nya dapat meningkatkan produktivitas penulis skenario yang hobi jalan-jalan sendiri ini. Kamu bahkan tak perlu menghapal berbagai kombinasi tombol di keyboard berkat fitur Quick Key. Oiya, screenpad-nya juga bisa kamu jadikan layar kedua untuk menampilkan aplikasi apapun.
Tentu akan sangat membantu saat aku mengerjakan skenario, tapi juga disuruh menonton series atau film luar negeri, supaya kemampuan menulisku terus berkembang.
Konektivitas Canggih Bikin Mudah Berbagi Data
Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, proyek kepenulisan skenario ini membuatku harus terbiasa saling berbagi file baik secara online maupun offline. Supaya pertukaran fileberjalan lancar, Zenbook 14X OLED (UX5400) rupanya menawarkan berbagai pilihan konektivitas. Kamu bisa memilih portHDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, USB Type-C, microSD sampai 3,5mm combo audio jack.
Jelas berbagai pilihan ini membuat aku tak akan kesulitan jika terburu-buru memindahkan data dari laptop atau komputer, bahkan hingga smartphone. Karena memang WiFi 6 sudah ditanam di dalam Zenbook 14X OLED (UX5400) membuat kecepatan transfer data sangatlah tinggi dan stabil.
Multitasking Powerful Lewat Hardware Modern
Bagaimana tidak tinggal kenangan, karena laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® CoreTM generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xe graphics. Dengan prosesor yang begitu powerful, aku bisa dengan bebas melakukan aksi multitasking mulai dari mengerjakan job blog dari klien, melanjutkan menulis dan merevisi skenario, hingga akhirnya nonton drama Korea sejenak.
Bahkan kegiatan menonton film atau serial TV akan terasa makin istimewa berkat chip grafis yang berkualitas tinggi. Khusus untuk urusan multitasking, Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa dibilang yang sangat superior. Tak main-main, laptop ini punya sudah dibekali memori hingga 16GB, serta ruang penyimpanan PCle SSD perfoma tinggi yang punya kapasitas hingga 1TB!
Spesifikasi Lengkap ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)
| Main Specification | Zenbook 14X OLED (UX5400) |
| CPU | Intel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz) |
| Operating System | Windows 10 Home |
| Memory | 16GB LPDDR4X |
| Storage | 1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD |
| Display | 14" (16:10) OLED 2.8K (2880x1800) 90Hz 400nits DCI-P3:100% NanoEdge display, PANTONE Validated Display, VESA TrueBlack HDR, TÜV Rheinland eye care certified, 92% screen to body ratio ScreenPad™ 2.0 (FHD+ (2160 x 1080) IPS-level Panel) |
| Graphics | Intel® Iris Xe Graphics, NVIDIA® GeForce® MX450, 2GB GDDR6 |
| Input/Output | 1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display and power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, Micro SD card reader |
| Camera | 720p HD camera |
| Connectivity | Wi-Fi 6 (802.11ax) + Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2 |
| Audio | Built-in speaker, Built-in array microphone, harman/kardon certified |
| Battery | 63WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion |
| Dimension | 31.12 x 22.12 x 1.69 ~ 1.69 cm |
| Weight | 1.4Kg |
| Colors | Lilac Mist, Pine Grey |
| Price | Rp23.999.000 |
| Warranty | 2 tahun garansi global |
Aah, membayangkan diriku berjalan-jalan di Takengon Aceh, menembus belantara hutan Tangkahan di Taman Nasional Gunung Leuser, berburu kuliner lezat di Singkawang Kalimantan Barat serta menikmati eksotisnya Labuan Bajo, rasa-rasanya tak ada sahabat yang lebih menyenangkan selain ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).
Desain yang ringkas dan ringan dibawa serta kemampuan multitaskingyang bikin terpana, membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) adalah jawaban dari tandem tangguh yang selama ini kucari-cari.
Pertanyaannya, apakah mungkin aku bisa memiliki laptop ultraportableini?
Tak ada yang tahu, karena Tuhan mungkin saja mengamatiku sambil tersenyum.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com
.jpg)



