Dua Jam dari Kita, Dunia Untuk Mereka

aksi padamkan listrik © serperm73/POND5
© serperm73/POND5

Menonton film dokumenter TIME TO CHOOSE (2015) sebetulnya adalah salah satu pengalaman sinematik yang begitu mencekam dan tidak menyenangkan. Jangan harap ada protagonis yang bakal mencapai hidup bahagia setelah mengalahkan sang antagonis, dalam film karya sutradara peraih Oscar, Charles Ferguson ini.

Karena Ferguson dengan begitu lihainya, bergerak sebagai perpanjangan tangan Tuhan menyadarkan kita para penonton, bahwa kitalah sang antagonis.

Seolah melihat rekaman perilaku kita selama hidup di Hari Penghakiman, suara lembut aktor Oscar Isaac yang menarasikan TIME TO CHOOSE mulai mencabik kesadaran diri manusia tentang apa-apa saja yang telah dilakukan untuk Bumi. Semesta tempat kita berpijak hingga Kiamat tiba itu, mengalami banyak luka karena ulah makhluk-makhluk berdaging yang bernapas dan berjalan di atas permukaannya.

Film berdurasi 100 menit ini dibagi dalam tiga pembabakan utama yakni ‘Coal and Electricity’, ‘Oil and Gas’, dan ‘Land and Food’. Ketiga tema besar yang selalu dikaitkan dalam sebab akibat perubahan iklim atau climate change yang sudah sejak lama didengungkan, tapi banyak dari kita yang memilih untuk tuli menjawabnya.

TIME TO CHOOSE tak berlebihan disebut sebagai upaya menelanjangi manusia bahwa sejatinya, kita adalah predator untuk kaumnya. Bagaimana industri-industri batubara berdiri demi ambisi energi, justru mematikan makhluk hidup di sekitarnya secara cepat atau perlahan. Upaya menemukan EBT (Energi Baru Terbarukan) yang memberi harapan untuk manusia, lagi-lagi dihadang oleh manusia-manusia lain yang menjadi penguasa sektor-sektor energi fosil.

Hingga akhirnya seolah berkhianat pada judulnya itu sendiri, TIME TO CHOOSE bukanlah film yang menyajikan pilihan atau advokasi. Film ini adalah sebuah penyadaran diri bahwa kita manusia, benar-benar sudah hampir tak punya pilihan selain sesegera mungkin menyelamatkan Bumi.

Listrik yang Perlahan Mengoyak Bumi

PLTU Paiton saat malam hari
PLTU Paiton saat malam hari © PT. Paiton Energy

Tak berlebihan kiranya jika listrik kini disebut sebagai oksigen kedua’ bagi umat manusia. Rasa-rasanya sejak kita bangun hingga tertidur kembali, 24 jam yang dimiliki hampir tak bisa lepas dari listrik.

Aku, kamu, kalian dan kita semua akan butuh listrik untuk menyalakan berbagai perangkat elektronik mulai dari AC, kipas angin, lampu-lampu, penanak nasi, mesin cuci, kulkas, pembersih debu, laptop, serta tentunya smartphone. Ini belum dihitung dengan sektor industri, bisnis dan instansi-instansi yang tentunya menggunakan energi listrik dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Tak heran kalau akhirnya Kementerian ESDM menyebutkan jika konsumsi listrik Indonesia mencapai 1.109 kWh (kilowatt jam) per kapita pada kuartal III/2021. Sejak tahun 2015, konsumsi listrik Indonesia per kapita memang terus melonjak. Bahkan pada tahun 2017, tercatat yang tertinggi hingga 6,8%.

Meningkatnya konsumsi listrik mungkin menjadi tanda jika peradaban manusia di Tanah Air berdenyut dengan sangat cepat.

Namun tahukah kamu bahwa setiap watt yang mengalir ke perangkat charger pada ponsel-ponsel kita itu mengoyak Bumi?

Dilansir Forest Digest, setidaknya 63% energi listrik global (termasuk di Indonesia) bersumber dari energi fosil. Bahkan di Indonesia, batubara masih jadi primadona PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk menghasilkan listrik murah lewat PLTU (Pembangkit ListriK Tenaga Uap). Setidaknya hingga tahun 2020, sekitar 66,81% dari total 275 tWh listrik yang dialirkan PLN bersumber dari batubara.

Dari penggunaan batubara itulah, emisi karbondioksida (CO2) terus melambung. Karena batubara adalah penghasil CO2 terbesar dengan perhitungan 1.006 gram setiap satu kWh listrik yang diproduksi. Jika gas-gas karbon ini dibiarkan terus dalam atmosfer bumi, sinar matahari pun terjerat dan Bumi semakin panas.

Sebuah situasi yang menggiring kita ke skenario kematian terhoror, pemanasan global (global warming).

infografis BMKG
Ancaman pemanasan global memang tak boleh lagi ditanggapi dengan kelakar. Sebagai makhluk-makhluk berakal, pemanasan global membawa kita ke level yang lebih mengerikan yakni perubahan iklim. Bahkan menurut Peni Susanti selaku Kepala BPLHD DKI Jakarta kepada Detik, 50% perubahan iklim terjadi karena penggunaan energi yang tak efisien seperti berlebihan pakai listrik.

Seolah tinggal menunggu waktu saja, bencana-bencana alam ekologis seperti badai siklon tropis, air pasang, banjir, kenaikan suhu ekstrim, kekeringan bahkan hingga wabah penyakit akan segera dialami oleh Bumi akibat perubahan iklim.

Matikan Listrik, Hidupkan Harapan Baru

Ajakan menghentikan penggunaan listrik sepenuhnya mungkin bisa menjadi simalakama bagi umat manusia.

Karena sektor kelistrikan selama ini sudah mempengaruhi hajat hidup orang banyak, sehingga berharap PLN menutup seluruh PLTU di Indonesia demi menyelamatkan Bumi, akan berimbas pada banyak orang kehilangan pekerjaan. Belum lagi penggunaan listrik dalam sektor-sektor industri baik skala kecil, menengah hingga besar, menjadikan penghentian listrik akan memicu efek domino yang tak terbayangkan.

Lantas, apakah kita harus membiarkan Bumi berdiri sendiri menghadapi kematiannya karena dihujam pemanasan global?

Tentu tidak!

Bagaimana, kalau kita mulai menghemat listrik dari kita sendiri?

Tidak harus lama-lama, hanya dua jam setiap pekan selama bulan April ini.

Yap, ajakan kecil ini adalah salah satu yang kulakukan bersama-sama dengan Team Up for Impact (TUFI). 

aksi Team Up for Impact
aksi kecil matikan listrik untuk Indonesia

Dalam website resmi mereka, setidaknya ada tujuh pilihan aksi sederhana yang bisa kamu pilih seperti:

  • Berhenti Membeli Makanan/Minuman Kemasan – Senin
  • Mengurangi Pemakaian Listrik Selama 2 Jam – Selasa
  • Tidak Makan Daging Merah – Rabu
  • Tidak Menggunakan Tissue – Kamis
  • Tidak Naik Kendaraan Berbahan Bakar Bensin – Jumat
  • Tidak Menyalakan TV – Sabtu
  • Tidak Menghasilkan Sampah Makanan – Minggu

Dan kini pertanyaan terbesarnya, apakah aksi sederhana ini bisa memberikan dampak untuk Bumi?

Sudah pasti!

Sama seperti kampanye Earth Hour yang sudah dikenalkan WWF (World Wide Fund) sejak tahun 2007 dan dilakukan setiap pekan terakhir bulan Maret setiap tahunnya, tindakan sederhana mematikan listrik selama dua jam jika dilakukan bersama-sama, akan memberikan dampak besar.

Dari data WWF Indonesia, setiap 10% warga Jakarta yang mematikan lampu selama Earth Hour (pukul 20.30 – 21.30) digelar, energi listrik yang dihemat itu bisa memenuhi 900 desa lainnya, serta menyumbang oksigen (O2) ke 524 orang lantaran ada sekitar 267 ton emisi CO2 yang berkurang di udara.

infografis Earth Hour
Dan untuk lingkup dunia, penghematan listrik selama satu jam Earth Hour itu mencapai 754,8 juta ton setara CO2. Jika dibandingkan dengan pohon trembesi yang tiap batangnya mampu menyerap 28 ton setara CO2, maka emisi yang dihindarkan berkat Earth Hour setara dengan ‘menanam’ 26,95 juta pohontrembesi.

Anggap saja satu pohon itu bisa menghasilkan oksigen untuk 177 orang, maka setidaknya jika kita bersama memadamkan litrik untuk satu jam saja, sudah memperpanjang nyawa untuk 4,8 miliar manusia di seluruh dunia.

Sungguh luar biasa kan?

Dan itu semua diperoleh lewat satu jam tanpa listrik yang kita sisihkan.

Bayangkan jika kita bersama-sama menghentikan pemakaian listrik selama dua jam di setiap hari Selasa selama bulan April ini, bukankah aksi kecil itu akan memberikan dampak yang lebih besar untuk Bumi?

Bukankah itu artinya kita sama-sama memberikan harapan hidup baru untuk generasi penerus kelak lewat warisan Bumi yang lebih baik?

Jadi tunggu apalagi, yuk bareng-bareng denganku gabung di Team Up for Impact dan pilih aksi sederhana kalian sendiri.

Karena jika bukan kita manusia yang mengubah roda takdir Bumi, siapa lagi?

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin