Wisata Indonesia: 6 Masjid yang Ingin Kukunjungi Saat Ramadhan

Masjid Raya Hubbul Wathan © Dipinterin
Dibandingkan dengan dua tahun ke belakang, bisa dibilang memang Ramadhan tahun ini jauh lebih menyenangkan. Yah, meskipun kita masih berjibaku dengan pandemi Covid-19 yang belum juga usai, tapi bolehlah kita cukup berbangga kalau negeri ini berangsur-angsur bangkit kembali.

Bahkan dengan semakin meningkatnya tingkat vaksinasi di Indonesia, pemerintah sepertinya memberi cukup ‘lampu hijau’ untuk kalian yang mungkin ingin mudik tanpa harus ribet tes swab seperti dua tahun Lebaran sebelumnya.

Senang?

Sudah pasti.

Apalagi diriku yang sedang merangkai asa menjadi traveler abal-abal ini, bisa bepergian tanpa harus swab jelas bakal mengurangi pengeluaran. Sehingga mudik atau bahkan menikmati wisata religi saat Ramadhan, bakal bisa dilaksanakan lebih nyaman di tahun 2022 ini.

Yap, Ramadhan sejatinya adalah salah satu momen yang menurutku sangatlah tepat untuk berkunjung ke berbagai pelosok Tanah Air. Termahsyur sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, Indonesia jelas punya banyak sekali masjid-masjid indah nan luar biasa yang dijejali umat-Nya saat Ramadhan.

Belum bicara soal berbagai tradisi ketika menjalankan puasa, dari Sabang sampai Merauke kalian bisa menemukan hal-hal unik yang tentu menarik untuk diamati langsung. Berkunjung ke tempat-tempat asing, mempelajari sesuatu yang baru sambil tentunya tetap berpuasa dan beribadah ke berbagai masjid luar biasa, jelas merupakan wishlist yang sudah pasti ingin aku lakukan setiap Ramadhan tiba.

Dan jika disuruh memilih, berikut adalah enam masjid di seantero Indonesia yang benar-benar ingin kudatangi ketika Ramadhan tiba.

1. Masjid Raya Sumatera Barat – Padang

Masjid Raya Sumatera Barat
© sumbarprov.go.id
Alasan terkuat kenapa Masjid Raya Sumatera Barat ini masuk posisi teratas dalam daftar wishlist yang ingin kukunjungi saat Ramadhan adalah karena aku merupakan blasteran Jawa-Minang. Ya, Ibuku merupakan perempuan kelahiran Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Saat mudik ke rumah makuo (kakak perempuan Ibu) tahun 2016 lalu, aku sebetulnya ingin sekali melakukan shalat Idul Fitri di masjid yang memiliki atap bagonjong khas rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang itu. Setelah gagal, aku pun berencana mudik di tahun 2020, tapi harus tertunda dua tahun berturut-turut karena pandemi Covid-19.

kaligrafi dan arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat
© Randy/detikTravel
Beratap runcing bagonjong di empat sudut yang membuat arsitekturnya tak seperti masjid-masjid konvensional, Masjid Raya Sumatera Barat punya interior yang menawan. Mulai dari mihrab yang mengadaptasi konsep bak tempat hajar aswad di Kabah, hingga bagian plafon berhias Asmaul Husna berwarna emas. Sedangkan untuk bagian eksteriornya, masjid ini memilih ornamen kain songket Minang yang berhias kaligrafi.

Menghabiskan jam demi jam untuk melakukan sholat hingga bersenandung ayat suci Al-Quran di masjid yang dibangun dengan konstruksi tahan gempa hingga 10 SR ini, tentu membuat puasa makin nikmat. Apalagi saat adzan maghrib berkumandang kelak, aku bisa langsung memanjakan perut dengan menikmati manisnya bongko, lezatnya kalio atau rendang daging, legitnya gulai tunjang hingga tentunya segarnya minuman es aia aka.

2. Masjid 99 Kubah – Makassar

Masjid 99 Kubah
© Ahmad Fuad Morad
Saat berkunjung ke Toraja dan Makassar, Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2021 lalu, aku sebetulnya sudah melihat Masjid 99 Kubah ini dari dekat. Aku tidak sulit untuk terpesona dengan masjid yang berada tepat di tepi Pantai Losari ini. Sesuai dengan namanya, masjid ini punya puluhan kubah berbagai ukuran yang menghiasi bagian atasnya dengan warna-warna merah, kuning serta oranye.

Dirancang oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Masjid 99 Kubah ini tampak begitu menonjol dan makin cantik saat matahari terbenam menghiasi Pantai Losari. Aah, sangat menyenangkan pastinya, membayangkan usai shalat maghrib di masjid ini, lalu berjalan di tepian pantai Losari untuk menikmati aneka kuliner Makassar.

bagian dalam Masjid 99 Kubah
© Chairil/Berita Kota Makassar
Menyantap manis segarnya es pisang ijo atau es palu butung saat berbuka, disusul dengan lezatnya coto makassar atau pallubasa sebelum ibadah tarawih jelas menu yang sulit ditolak perutku. Hingga akhirnya aku akan menutup kuliner malam dengan memesan satu porsi pisang epe, sungguh momen Ramadhan yang tak akan terlupa.

3. Masjid Agung Jawa Tengah – Semarang

Masjid Agung Jawa Tengah
© Instagram @irvanhardri
Masjid berikutnya yang sangat ingin kukunjungi karena keunikan arsitekturnya adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Diresmikan pada 14 November 2006, masjid megah ini punya bangunan utama dengan atap limas khas rumah-rumah adat Jawa yang ditutup kubah besar. Yang menarik, Masjid Agung Jawa Tengah ini berhias arsitektur ala koloseum Roma berhias kaligrafi pada 25 pilar di pelatarannya, sebagai simbol 25 nabi dan rasul dalam agama Islam.

Masjid Agung Jawa Tengah saat malam hari
 © Instagram @tri.mega.w
Selain empat menara setinggi 62 meter di tiap penjuru atap bangunan utama, masjid megah ini punya satu menara terpisah bernama Menara Al-Husna setinggi 99 meter, sesuai Asmaul Husna. Seperti Masjid Nabawi di Madinah sana, masjid ini punya enam payung raksasa otomatis yang terbuka setiap salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha di area serambinya.

Melakukan berbagai ibadah sunnah di Masjid Agung Jawa Tengah, adalah pilihan terbaik untuk mengisi waktu puasa ramadhan. Nanti saat adzan maghrib terdengar, kamu bisa berbuka dengan es puter Cong Lik yang legendaris itu atau es dawet Kampung Kali. Baru kemudian untuk lambung yang sudah ‘berteriak’, berikan babat gongso, sego koyor yang mirip gudeg Jogja atau semangkuk soto Semarang.

4. Masjid Agung Demak – Demak

Masjid Agung Demak
Sudah sejak lama aku ingin berkunjung ke Masjid Agung Demak. Alasan terbesarnya tentu adalah salah satu masjid tertua di Indonesia ini diyakini sebagai tempat berkumpulnya para walisongo, sembilan ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa. Besar dengan berbagai cerita walisongo dari Ayahku, tidak ada tempat terbaik untuk melakukan wisata sejarah sekaligus religi selain di Masjid Agung Demak.

Seperti khasnya bangunan Jawa yang kala itu masih dipengaruhi oleh agama Hindu dan Kerajaan Majapahit, arsitektur Masjid Agung Demak memang kaya akan filosofi. Ada empat tiang besar setinggi 19,54 meter dengan diameter 1,45 meter yang disebut sistem struktur soko guru sebagai penopang bangunan utama. Konon, keempat tiang soko guru ini jadi perlambang empat walisongo paling berpengaruh di tanah Jawa.

empat tiang Soko Guru Masjid Agung Demak

Mulai dari Sunan Bonang untuk soko guru barat laut, Sunan Kalijaga untuk soko guru timur laut, Sunan Ampel untuk soko guru tenggara dan Sunan Gunung Jati untuk soko guru barat daya. Bahkan dari kisah Babad Demak, soko guru yang dibuat Sunan Kalijaga merupakan tiang yang disusun dari serpihan kayu. 

Puas menikmati sejarahnya dan beribadah sebelum berbuka, kamu bisa menyantap es buah atau wedang jamu coro sebagai takjil, sebelum akhirnya habiskan seporsi mangut kepala manyung, sop balungan, bothok telur asin atau ingkung bandeng yang luar biasa lezat itu.

5. Masjid Agung An-Nur – Pekanbaru

suasana malam Masjid Agung An-Nur
Ingin menikmati Taj Mahal tapi masih belum ada budget ke India sana? Maka kamu bisa jatuh hati pada Masjid Agung An-Nur sepertiku. Bukan tanpa alasan, karena masjid yang dibangun pada tahun 1962 ini memang mengadopsi gaya arsitektur budaya Melayu, Arab, Turki dan India. Seperti khasnya rumah-rumah panggung Melayu yang memiliki beranda, Masjid Agung An-Nur pun demikian.

bagian dalam Masjid Agung An-Nur
Ada empat menara utama pada bangunan masjid ini yang melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan lima kubahnya adalah simbol dari lima rukun Islam yang jadi pedoman hidup Muslim di seluruh dunia.

Untuk santapan berbuka, Pekanbaru punya banyak sekali kuliner pilihan mulai dari es laksamana mengamuk di Bengkalis yang berisi buah kuini dengan aroma sangat harum atau es campur kacang merah. Sedangkan untuk ‘makanan berat’, gulai ikan patin, gulai belacan, ikan kapiek bakar dan mieso sangat sulit untuk ditolak usai sholat maghrib.

6. Masjid Raya Hubbul Wathan – Mataram

Masjid Raya Hubbul Wathan
© Dipinterin
Ketika berkunjung ke Mandalika pada bulan Desember 2021 lalu, aku begitu terpesona dengan julukan Lombok sebagai pulau seribu masjid. Ya, pulau yang dihuni masyarakat Sasak ini memang punya banyak masjid tapi yang paling ikonik jelas Masjid Raya Hubbul Wathan di Kota Mataram. Dalam sekali kunjung saja, aku paham kalau bangunan masjid ini sangat megah karena konon luasnya mencapai 36 ribu meter persegi.

Dominasi warna-warna tosca, kuning dan putih membuat Masjid Raya Hubbul Wathan memang tampak indah dan menonjol dari kejauhan. Jika kamu jeli menatap kubahnya lekat-lekat, kamu akan menemukan hiasan bermotif batik sasambo, batik khas provinsi NTB yang merupakan singkatan dari tiga suku terbesar di NTB yakni sasak, samawa dan mbojo. Ada lima menara menjulang di area masjid dengan yang tertinggi mencapai 99 meter sesuai Asmaul Husna.

Masjid Raya Hubbul Wathan
© Dipinterin
Lantaran berada di pusat kota Mataram, tentu mencari kuliner untuk berbuka tidaklah sulit. Kamu bisa mempersiapkan diri memilih es sarang burung atau poteng isi sebagai takjil, baru kemudian santaplah dengan nikmat seporsi ayam taliwang lengkap dengan plecing kangkung, beberuk terong atau bebalung. Meskipun aku tetap merekomendasikan sate rembiga yang sulit terlupa lezatnya itu.

Internet Stabil, Tetap Terhubung dari Pelosok Nusantara

Tentu untuk mewujudkan wishlist-ku saat Ramadhan dengan berkunjung ke masjid-masjid itu, aku jelas tak bisa meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang blogger sekaligus scriptwriter pemula. Beruntung, pekerjaanku tidak membutuhkanku harus bekerja kantoran selama sembilan jam setiap hari. Aku hanya membutuhkan perangkat laptop serta tentunya jaringan internet stabil untuk mengirimkan hasil-hasil pekerjaanku sebelum deadline.

Bicara soal internet, ada satu penyedia yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun lamanya semenjak aku resign sebagai karyawan media online beberapa tahun silam. Yap, penyalur internet stabil anti bikin sebal itu adalah IndiHome.

Tak cuma bisa dinikmati saat berada di rumah, jaringan WiFi cepat yang ditawarkan IndiHome juga tetap bisa kuakses lewat Wifi.id Seamless. Melalui Wifi.id Seamless yang sudah tersebar di ribuan titik seluruh Indonesia, aku jelas tetap bisa memperoleh layanan internet stabil IndiHome ketika mengunjungi masjid-masjid yang sudah kutulis di atas, sebagai pilihan menikmati Ramadhan sekaligus wisata religi, sejarah dan kuliner.

Pastinya akan menjadi sebuah pengalaman Ramadhan yang tak akan terlupa jika seluruh destinasi yang ada dalam wishlist-ku itu dapat terwujud. Akupun tak perlu bingung bakal lepas kewajiban bekerja karena IndiHome tetap akan menghubungkanku dengan dunia meskipun berada di pelosok Nusantara.

Jadi, yuk wisata religi denganku dan berkeliling Indonesia sambil menikmati tradisi-tradisi luhur demi momen Ramadhan yang makin berkesan.

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin