Wisata Bromo: Yadnya Kasada, Bisikan Eksotis Tengger Kepada Tuhan

Pura Luhur Poten di kaki Bromo
Pura Luhur Poten di kaki Bromo
Kaki-kaki renta itu seperti tak peduli. 

Meski dipaksa oleh pemiliknya untuk berjalan menelusuri sekitar 270 anak tangga, dia tetap tabah. Sesekali kudengar napasnya yang terasa berat dan terengah-engah sambil menatap ke puncak tangga di atas sana. Matanya yang berbingkai kerutan kembali berkilau penuh keyakinan, bahwa dia tak boleh beristirahat terlalu lama. 

Keyakinan kuat yang mengalir di sepanjang tubuhnya, warisan sang leluhur Tenggernya. 

Kulihat otot-otot tangannya kembali menegang, mengangkat barang yang dia bawa di kedua tangan, hasil-hasil kebun kebanggaan keluarganya. Aroma bawang merah, wortel dan cabai memasuki hidungku karena aku berjalan tepat di belakangnya. Sesekali dia masih memberikan senyum, meskipun aku tahu napasnya beradu hebat antara menarik oksigen sebanyak mungkin dan membaginya dengan jantung yang sudah mengeluh.
suasana kaki tangga Bromo saat Kasodo
suasana Bromo saat Yadnya Kasodo 2022
Dia tetap melangkah menembus kabut, sama seperti ratusan hingga ribuan orang-orang Tengger lainnya yang berkeyakinan sama. Dibiarkannya tubuh tuanya dilewati angin-angin Bromo yang begitu menusuk tulang pagi itu. 

Ya, Bromo di puncak ritual Yadnya Kasada 2022 pada hari Kamis (16/6) dini hari kemarin memang tampak begitu mistis. Hujan yang mengguyur kawasan Mentigen tempatku menginap sejak malam sebelumnya, melahirkan selubung kabut tebal yang membuat area lautan pasir tampak terbelenggu tembok putih sejauh mata memandang. Bahkan sekalipun sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, matahari tampak enggan memamerkan sinarnya.

Bromo seolah-olah hanya mengizinkan mereka yang berani menembus kabut dan mendengar bisikannya, untuk bisa menjamah menuju kalderanya.
kabut tebal di Pura Luhur Poten
kabut tebal menyelimuti Pura Luhur Poten saat Kasodo

Sentuhan Sakral Sang Hyang Widhi Selama Tujuh Abad

situasi Pura Luhur Poten yang dipenuhi masyarakat Tengger
masyarakat Tengger tiba sejak pagi hari di malam Kasodo
Aku dan lima teman fotografer yang lain bisa dibilang adalah rombongan terakhir wisatawan di Bromo pada hari Rabu (15/6) pagi itu. Setelah kami turun berburu sunrise di Penanjakan 1 yang berada di wilayah Wonokitri, Bagas sang sopir jeep langsung memakirkan kendaraan tempurnya itu. Pria asli Tengger itu akan bergabung dengan masyarakatnya untuk melakukan persiapan jelang upacara Kasada di malam harinya.

Kami memang sengaja sudah memasuki wilayah Bromo sehari sebelum ritual upacara Kasodo dimulai. Memilih area penginapan di Mentigen, rasa-rasanya ini adalah tempat terbaik untuk menjadi saksi bagaimana ritual suci Tengger itu akan berlangsung. Sesuai dengan kesepakatan masyarakat Tengger, keempat pintu masuk ke Bromo mulai dari Penanjakan (Kabupaten Pasuruan), Cemoro Lawang (Kabupaten Probolinggo), Coban Trisula (Kabupaten Malang) dan Senduro (Kabupaten Lumajang) pun akan ditutup selama dua hari.
orang Tengger pulang usai dari Kawah Bromo
orang Tengger pulang usai dari Kawah Bromo
Ketika matahari semakin perkasa di atas Bromo, hilir mudik masyarakat Tengger pun makin ramai menuju Pura Luhur Poten. Terutama di Desa Ngadisari ini, hiruk-pikuk seolah tak berhenti sejak pagi hinggga malam. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, beragama Hindu atau tidak, semua menatap tujuan yang serupa. Ada yang menaiki sepeda motor, ada lebih banyak juga rombongan-rombongan yang naik jeep hardtop maupun mobil pick-up

Tubuh-tubuh mereka tertutup rapat dengan pakaian hangat mulai dari kepala, leher hingga tangan entah memakai sarung, beanie hat atau sekadar syal yang dikalungkan begitu saja. Meskipun datang dengan kendaraan berbeda, mereka semua sama-sama membawa hasil-hasil bumi. Ada kentang, pisang, jagung, kelapa, wortel, bawang, nasi-nasi campur bahkan ayam, kambing sampai sapi.
sesaji masyarakat Tengger di padmasari Mentigen
sesaji masyarakat Tengger di padmasari Mentigen
"Tidak ada kewajiban harus membawa hasil bumi seperti apa, hanya biasanya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga dan janji mereka. Misalkan saja keluarga saya adalah sehari-hari mengolah kebun pisang, maka nanti kami bakal membawa pisang ke kawah Bromo untuk larung sesajen," cerita Bagas, sopir jeep saat kami melintasi lautan pasir.

Sama seperti Bagas, pasangan suami istri Subur yang rumahnya kebetulan menjadi tempat menginapku juga sudah menyiapkan sesajen versi mereka. Ibu Subur rupanya lebih memilih membawa makanan pokok yang berupa nasi dan aneka lauk pauk seperti telur dadar serta mi goreng yang diletakkan dalam wadah-wadah daun pisang kecil, untuk menjadi sesembahan mereka saat Kasodo Bromo tahun ini.

Ketika aku berjalan dari pos masuk Mentigen menuju area lautan pasir, beberapa padmasari (pura kecil) bahkan sudah dipenuhi oleh sesaji dengan aneka jenisnya. Tak hanya makanan pokok, terlihat beberapa di antaranya adalah aneka sayuran seperti jangan benguk, jangan kentang atau sedap-sedapan berupa jajanan telesan semisal pepes, pasung, apem, jenang abang sampai juadah. Ada juga jajanan garingan seperti onde-onde.

Tak ketinggalan pula sesaji khas ritual adat masyarakat Jawa penganut Hindu pada umumnya yakni gedhang ayu serta cok bakal juga hadir dalam perayaan Kasada Bromo 2022 kali ini. Semua persembahan ini diletakkan sedemikian rupa serta tertata sangat rapi oleh orang-orang Tengger usai berdoa sejenak di padmasari mereka.
aneka sesaji di sepanjang tangga menuju Kawah Bromo
aneka sesaji di sepanjang tangga menuju Kawah Bromo
Sangat menakjubkan memang hadir di Bromo saat Yadnya Kasada berlangsung. Aroma kemenyan serta dupa yang berbaur dengan bunga-bungaan sesajen seperti kembang setaman dan kembang telon di udara seolah menjadi sebuah ritual yang begitu intim. Mau tak mau aku sepakat, ini adalah cara terbaik bagaimana masyarakat Tengger mengingat kembali legenda kehidupan mereka.

Sebuah kisah termahsyur yang sudah diceritakan secara turun-temurun sejak abad ke-14 silam.

Tentang pengorbanan putra bungsu pasangan leluhur mereka Roro Anteng sang putri Raja Brawijaya dan Joko Seger yang merupakan putri seorang Brahmana Kediri yakni Raden Kusuma, kepada Sang Hyang Widhi.

Kasodo, Momen Kembalinya Tengger ke Kesucian

doa bersama sebelum larung sesaji ke Kawah Bromo
doa bersama sebelum larung sesaji ke Kawah Bromo
Pria-pria dengan pakaian hitam itu tampak begitu serius menatap ke arah Kawah Bromo sore itu. Aroma belerang yang menguar dari perut Bromo tampak seperti bahasa kerinduan yang sangat dinantikan. Tak lama kemudian beberapa orang lainnya hadir sambil membawa ongkek yang langsung menuai senyum lebar dari para Marit, orang-orang yang siap menangkap sesaji di Kawah Bromo.

Ongkek memang menjadi salah satu sesaji khas yang hadir dalam setiap perayaan upacara Kasada. Dalam ritual yang digelar di setiap tanggal 14 atau saat bulan purnama Mangsa Ashada (Kasada) ini, keluarga-keluarga Tengger biasanya juga merangkai persembahan mereka dalam ongkek yang berupa hasil bumi itu dan ditopang oleh bambu tersebut.

seorang warga Tengger membawa ongkek kecil
seorang warga Tengger membawa ongkek kecil
Sebuah ungkapan syukur dan momen kembalinya masyarakat Tengger ke kesucian, adalah hakikat bagaimana Yadnya Kasada ini digelar.

Menurut Nicolaas Warouw dkk dalam Inventarisasi Komunitas Adat Tengger, ritual Kasada punya tiga tahapan utama. Pertama adalah mendhak tirta yakni mengambil air suci di Gunung Widodaren yang diikuti dengan makemit yaitu tidak tidur bergantian sampai Kasodo resmi dibuka, hingga melasti yang merupakan penyucian peralatan dan jiwa pelaku Kasodo di Pura Luhur Poten.

berdoa sejenak di Arca Ganesha sebelum larung sesaji
berdoa sejenak di Arca Ganesha sebelum larung sesaji
Lalu kemudian tahapan kedua Kasodo dimulai dengan pembukaan sendratari untuk mengingat legenda suku Tengger. Di mana di dalamnya akan ditampilkan bagaimana Penjaga Bromo murka dengan Roro Anteng dan Joko Seger lantaran mengingkari janji kepada Dewa. Hal itu akhirnya membuat putra kesayangan mereka, si bungsu Raden Kusuma, mengorbankan diri ke kawah Bromo demi menghentikan marabahaya.

Tak hanya sendratari, dalam tahapan kedua ritual Kasodo Bromo ini, juga akan dibacakan kidung-kidung religi yang diiringi gamelan sehingga membuat suasana lautan pasir Bromo semakin magis. Pembacaan Kitab Suci Weda juga dilakukan oleh para pinandhito dan pemuka agama dalam tahapan kedua di Pura Luhur Poten ini. 

persiapan sebelum larung sesaji ke Kawah Bromo
persiapan sebelum larung sesaji ke Kawah Bromo
Terdengar juga lima mantra berisi puji-pujian terhadap Sang Hyang Widhi berkumandang di acara puncak Kasodo yang memang tertutup untuk orang-orang luar Tengger tersebut. Barulah kemudian setelah muspa alias sembahyang ini selesai, pemilihan calon dukun adat tertinggi untuk menggantikan orang sebelumnya akan dilakukan. Umat yang hadir juga akan bersama membakar dupa di perapen sekaligus menempelkan bija di bagian wajah.

Rangkaian Kasodo ditutup dengan tahap akhir yakni melemparkan seluruh sesaji ke dalam kawah Bromo.

Lantaran tak bisa melihat langsung puncak ritual Kasodo, aku dan kelima temanku memilih kembali mendaki Kawah Bromo pada hari Rabu (16/6) pagi usai upacara itu selesai. Seperti dugaan kami, masih banyak warga Tengger yang bergantian mendaki Bromo meskipun tak seramai sehari sebelumnya.

Marit-marit yang berdiri di lereng bibir Kawah Bromo pun masih begitu antusias menangkap hasil bumi yang dilemparkan. Berulang kali hatiku mencelos saat para marit itu berlarian hingga hampir tergelincir lereng menuju kawah, saat berebutan sesaji yang dilempar. Sebuah kecemasan yang tampak sia-sia, karena para marit yang kakinya seolah menempel di tebing kawah itu yakin jika jiwa mereka sudah menjadi milik dan dilindungi oleh Sang Hyang Widhi.

para marit di tebing Kawah Bromo
para marit di tebing Kawah Bromo
Ada cukup banyak orang Tengger yang tampaknya melempar sesaji di luar pakem tradisi yakni beberapa lembar atau koin-koin Rupiah. Bahkan ada seorang anak yang melemparkan buku tulisnya ke dalam kawah sebagai janjinya saat keinginannya terwujud. Hingga akhirnya sesaji hewan ternak pun tiba seperti ayam, burung, kambing hingga sapi yang tentunya begitu dikejar-kejar oleh para marit

Aah, mau tak mau aku jadi teringat pada lagu Donna Donna yang dinyanyikan Joan Baez saat melihat seekor sapi muda berwarna hitam digendong naik ke Kawah Bromo.

sapi milik warga Tosari yang dilarung ke Kawah Bromo
sapi milik warga Tosari yang dilarung ke Kawah Bromo
Lagu yang bisa disebut sebagai kidung derita seekor sapi sebelum mencapai lokasi penjagalannya itu mungkin juga dirasakan betul oleh sapi kurban tersebut. Adalah seorang warga Tengger yang berasal dari Tosari, Pasuruan, sebagai orang yang siap melarung sesaji berupa seekor sapi ke Kawah Bromo.

Hanya saja lantaran ukuran sesaji yang cukup besar dan bisa membahayakan para marit, sapi tersebut hanya sebagai simbolisasi saja ketika pura-pura dilempar ke kawah. Menurut para pemangku adat, sapi itu akan dibawa turun kembali dan diolah untuk disantap bersama-sama warga kampung. Sebuah keputusan yang bijak karena masyarakat Tengger selalu yakin bahwa apa yang terjadi dalam Kasodo tak hanyalah melarung sesaji, tapi juga merengkuh banyak rezeki di Bromo.

Sebuah keteguhan bahwa apa yang diberikan Tuhan, tak hanya kembali pada-Nya, tapi juga seluruh umat-Nya.

Mendengar Bisikan, Mengingat Sabda Sang Bromo

turun dari Bromo usai mengumpulkan sesaji Kasodo
turun dari Bromo usai mengumpulkan sesaji Kasodo
Menghabiskan dua malam tiga hari di Mentigen, berbaur langsung dengan masyarakat Tengger dalam seluruh rangkaian Kasodo, mungkin bisa dibilang sebagai salah satu pengalaman yang tak pernah kuduga bisa dengan cepat terwujud. Di tengah cepatnya perputaran roda peradaban manusia di dunia, Bromo masihlah menjaga kesakralannya meskipun ratusan tahun telah berlalu sejak leluhur Tengger tiba di pelukannya.

Bromo sekali lagi mengingatkan pada kita, bahwa manusia hanyalah si kecil di hadapan Tuhan Sang Pemilik Mayapada ini.

Kasodo seolah menjadi lonceng panggilan, meminta semua rakyatnya terlepas dari keyakinan agama apapun yang dianut, untuk kembali ingat pada janji-janji duniawi mereka. Melepaskan jubah perbedaan yang selama ini dengan pongah dikenakan, untuk kembali bersujud pada Penguasa Makrokosmos di alam semesta ini. Karena pada dasarnya, sehebat apapun pencapaian setiap dari kita, ke pada Tuhan-lah kita akan kembali.

Terimakasih Bromo, sudah mengizinkanku mendengar bisikanmu yang begitu syahdu itu. Di tengah hamparan lautan pasir yang menakjubkan, sabdamu jelas akan selalu abadi terjaga hingga Bumi ini lelah berputar.

masyarakat Tengger berkumpul di Kawah Bromo

Posting Komentar

© Dipinterin. All rights reserved. Developed by Dipinterin